
"Ajak si kembar juga berarti, Pa?"
"Nggak usah." Angga menggelengkan kepalanya. "Nanti mereka gangguin kamu dan Steven. Mereka biar sama Suster Dira saja, Mama juga kayaknya nanti sore juga udah dibolehkan pulang sama dokternya."
"Bagaimana, Pa? Apa kata Dokter?" tanya Sofyan saat melihat mertua dan menantu itu sampai. Dia langsung berdiri berikut dengan yang lain.
"Steven terkena amnesia, tapi sekitar 6 atau 5 tahun ke depan. Jadi yang dia ingat 6 sampai 5 tahun ke belakang, Yan," jawab Angga menjalankan, kemudian memberitahukan tentang apa yang dokter tadi sampaikan.
"Oh gitu." Sofyan dan Tian berucap bersama sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya terlihat paham, berbeda dengan Rizky dan Juna. Apalagi Jordan yang tak mengerti apa-apa.
"Lebih baik ... kita sekarang tanyakan saja berapa umur Steven, Pa," usul Sofyan. "Biar enak nanti ... kita memberitahukan ditahun kapan yang tidak dia ingat," tambahnya kemudian.
"Iya." Angga mengangguk setuju. "Tapi di mana Mama dan yang lain? Si kembar juga ke mana?"
"Si kembar dibawa sama Maya ke kamar inap Mama, Pa. Nella, Jihan sama Nissa juga ikut ke sana," jawab Sofyan.
"Oh, tapi sebaiknya ... kita nanya Steven sekalian memberitahukan beberapa foto juga, Yan. Papa berencana ingin meminta Dono untuk mengambil buku nikah sama album foto nikahan Steven dan Citra di rumah. Biar lebih meyakinkan Steven."
"Ide yang bagus, Pa." Sofyan mengangguk sambil tersenyum. "Sekalian juga sama video pas pestanya. Kan sempat direkam juga."
"Iya." Angga pun melepaskan tangannya dari bahu Citra kemudian merogoh ke dalam kantong celana untuk mengambil ponsel.
"Opa, memangnya Om Dono sudah ada di Jakarta? Bukannya kata dia ... dia pulang kampung karena adiknya meninggal, ya?" tanya Juna. Mendengar nama pria itu, dia langsung memikirkan Silvi. Rindu rasanya, ingin bertemu dengan bayi cantik itu.
"Sudah, dari kemarin pagi pas Om Steven mau dikubur, Jun. Sebentar ... Opa telepon dia dulu." Angga melangkah menjauh sedikit sambil melakukan panggilan, lalu menempelkan benda pipih itu ke teling kanan.
"Papi ...." Juna mendongakkan wajahnya ke arah Tian. Papinya itu langsung mengangguk dan menatapnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Tian.
"Juna mau main ke rumah Dedek Silvi, kangen. Sekalian mau buka puasa bareng sama dia, Pi."
"Cilvi siapa, Jun?" tanya Jordan kepo.
__ADS_1
"Adiknya Juna, Dan." Tian yang menyahuti.
"Adik?" Kening bocah itu tampak mengernyit. "Kan Ante Nissa belum lahilan, Om?"
"Udah deh. Kamu nggak perlu kepo, Dan!" omel Juna kesal, sambil mencebik bibir. "Lagian, ya, kalau dijelasin juga kamu nggak musti paham! Kamu 'kan bocil!" tambahnya dengan sinis.
"Ih Juna ngeselin, Papa!" teriak Jordan sambil menunjuk ke arah Juna. Kedua kakinya itu bergerak-gerak dan dia seperti hendak menangis.
"Jun, kamu nggak boleh kayak gitu lho sama Jordan!" Rizky yang menegurnya. Lalu mengendong adik iparnya. "Kamu sama Jordan juga sama-sama bocil. Jadi nggak boleh berantem."
"Siapa juga yang ngajakin dia berantem?" Juna melirik sebentar ke arah Jordan, kemudian beralih pada Rizky. "Ah Kak Rizky mah, mentang-mentang sama adik sendiri. Jadi dibelain mulu." Dia mendengkus, kemudian menarik tangan Tian untuk melangkah pergi dari sana.
"Aku pamit dulu sama Juna, Pa, Kak, Citra, Rizky!" seru Tian sebelum dirinya dan Juna melangkah jauh.
"Papa! Joldan au ikut Om Tian sama Juna!" rengek Jordan sambil menunjuk tangannya ke arah mereka. Tapi dua laki-laki berbeda generasi itu sudah menghilang sekarang.
"Jangan ikut, kamu di sini saja sama Papa dan Kak Rizky," larang Sofyan sambil menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja ikut mainnya bareng sama Mama. Sekalian bareng sama Johan dan Jihan juga, ya?" rayu Sofyan, lalu meraih tubuh kecil anaknya. Dan mencium kening.
"Sama Dede kembal juga, ya, Pa, diajak?"
"Iya. Sama Dedek kembar juga." Sofyan mengangguk.
*
*
*
"Stev, coba lihat beberapa foto dan rekaman pas pesta pernikahanmu. Supaya kamu bisa mengingat Citra dan si kembar," saran Angga.
Dia menaruh sebuah laptop pada pangkuan Steven, pria itu sekarang sedang duduk selonjoran. Dan di samping kanannya ada Sofyan.
__ADS_1
Selain mereka, ada Citra dan Jordan juga di kamar inap Steven. Hanya saja mereka berada di sofa.
Citra tengah mengupas buah mangga serta memotongnya menjadi beberapa bagian untuk Steven dan menaruhnya di atas piring. Sedangkan Jordan ikut mencicipinya, sebab dia memang belum dibolehkan puasa oleh Sofyan dan Maya.
"Buahnya anis, Ante. Kayak Ante," ucap Jordan sambil tersenyum.
"Kamu juga manis, Dan," jawab Citra sambil tersenyum.
"Ini beneran aku sama Citra, Pa?" tanya Steven yang tampak tak percaya melihat fotonya sendiri di sana bersama Citra, pasalnya wajah keduanya itu terlihat beda dalam penglihatannya.
"Iya, cantik banget 'kan Citranya di sini?" tanya Angga, lalu menyenggol lengan Steven. Mencoba menggodanya. "Kata kamu, dia mirip bidadari."
"Tapi kenapa aku di sini tua banget? Kayaknya ini editan deh." Steven menggeleng tak percaya.
"Mana ada editan sih, Stev, ini asli," jawab Angga.
"Tapi masa wajahku setua ini, Pa?" Steven menatap Angga heran, lantas menunjuk bawah mata pada fotonya. "Lihat deh, ini ada lipatan kayak semacam kerutan gitu. Aku yakin ... ini semua rekayasanya Papa dan Kak Sofyan."
"Rekayasa apanya, Stev? Itu asli dan memang wajahmu seperti itu," balas Sofyan.
"Nggak, Kak!" bantah Steven yang tampak kekeh. Baginya, wajahnya sangatlah muda. Berbeda jauh dengan foto itu. "Lihat wajahku sekarang. Aku masih imut-imut, difoto itu seperti umur 40 tahunan." Lantas menunjuk wajahnya sendiri.
Angga dan Sofyan langsung memerhatikan wajah Steven dengan seksama, dan tak ada bedanya menurutnya. Steven sama seperti difoto.
"Sama kok," sahut Angga. "Dan lagian kamu menikah juga sudah dewasa sama Citra. Umur 35 tahu ."
"Dih ...." Steven menggeleng cepat. "Umurku saja sekarang baru 30 tahun, Pa, mana ada 35. Papa sama Kak Sofyan ngarang."
"Sebentar ... Kakak ambil cermin dulu, biar kamu percaya dengan wajah tuamu." Sofyan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dan tak berselang lama, dia kembali dengan membawa cermin besar persegi empat. "Ini. Pandangi wajahmu yang katanya masih imut, padahal aslinya sudah amit-amit," tambah Sofyan yang melangkah mendekat, lalu mengarahkan cermin tersebut ke wajah Steven.
Pria tampan itu langsung menatap cermin yang memantulkan wajahnya. Namun sontak, dia terperanjat dengan mata melotot. Merasa terkejut dengan wajahnya. "Astaghfirullahallazim! Siapa yang ada dicermin? Jelek dan tua sekali dia!" serunya beristigfar sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Matanya juga terpejam, dia merasa seram sendiri melihat wajah di sana.
...Lha, muka sendiri itu Om 🤣🤣...
__ADS_1