Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
307. Boleh aku mencicipinya, Yang?


__ADS_3

"Boleh aku mencicipinya, Yang?" tanya Nissa dengan suara manja. Dilihat Tian sudah merem melek. Merasakan sentuhan lembut tangan itu dan seketika membuat miliknya mengeras sempurna.


"Mencicipi bagaimana maksudnya? Yang ... Hhmmm?" Tian berbicara dibarengi desaahan tertahan. Pelan-pelan dia memindahkan laptopnya di atas nakas, tanpa menggeser tubuhnya. Dia tak mau kalau Nissa menghentikan aktivitas enak itu.


"Masa nggak ngerti? Begini, Yang." Nissa menarik punggungnya untuk tidak menyandar pada dada Tian. Dengan masih menggenggam benda itu, Nissa pun membungkukkan badannya sembari membuka mulut.


Tian sontak membulatkan matanya kala istrinya melahap miliknya. Jelas dia kaget, sebab selama ini dia menilai Nissa adalah perempuan alim. Ternyata dia bisa agresif juga.


"Kam-kamu ... ter-ternyata nakal juga, Yang," ucap Tian terbata, lalu dia meraih rambut panjang Nissa dan menggenggamnya dengan erat. Sentuhan wanita itu juga sama sekali tak kaku. Cukup handal menurut Tian. "Ini sungguh enak, Sayang ...," erang Tian.


Sungguh luar bisa sekali apa yang Nissa lakukan padanya. Seumur-umur menikah dan sudah beberapa kali, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini yang dilakukan oleh istri sendiri.


'Aku benar-benar pria beruntung. Aku makin mencintaimu, Nissa,' batin Tian.


Kalau sudah seperti itu, pastinya akan ada ronde-ronde yang berlangsung hingga mereka lupa waktu.


***


Keesokan harinya di rumah Dono.


Juna mengerjapkan matanya secara perlahan kala mencium semerbak aroma sabun bayi. Tak lama, Della masuk ke dalam kamarnya bersama Silvi yang memakai handuk putih. Bayi mungil itu baru saja selesai mandi.


"Wah, Dedek Silvi sudah mandi, ya, Tante? Eemm ...." Juna menarik tubuhnya untuk bangun, hidung kecilnya itu kembali mengendus aroma wangi yang paling dia sukai.


"Iya dong, Kak Juna," jawab Della tersenyum sembari merebahkan tubuh Silvi di samping Juna. Bocah laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke arah pipi kiri. Akan tetapi langsung Della halangi. "Jangan dicium, Jun."


"Lho kenapa? Kok Tante pelit?" Juna langsung merengut dan menatap Della dengan tatapan tajam.


"Bukan pelit. Tapi kamu 'kan belum mandi. Masih bau jigong. Mandi dulu baru boleh cium Dedek Silvi," tegur Della.


"Oh iya." Juna langsung menutup bibirnya. "Juna lupa kalau belum mandi. Takutnya Dedek Silvi mual ya, Tante?"


"Iyalah. Sekarang kamu ke dapur sana. Mandi sama Om Dono. Dia lagi nyuci kamar mandi."


"Juna udah gede kok. Udah bisa mandi sendiri." Juna beringsut turun dari ranjang.


"Ini handuknya, Jun." Della memberikan handuk merah yang baru saja dia ambil di dalam lemari.


"Juna mau handuk bekas Dedek Silvi saja Tante. Boleh, nggak?" Juna menunjuk handuk yang masih berada di tubuh bayi kecil itu. Sekarang tubuhnya tengah Della elap pelan-pelan.


"Boleh. Tapi basah nggak apa-apa?"


"Enggak apa-apa. Yang penting wangi." Juna tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah Silvi. Bayi perempuan itu langsung tersenyum sambil menggerakkan tangannya ke udara. Perlahan handuk itu dilepas oleh Della, kemudian diberikan padanya. "Lho, perut Dedek Silvi kenapa ini, Tan? Kok hitam?" Juna menyentuh perut Silvi.


"Ini tanda lahir kayaknya, Jun."


"Tanda lahir itu apa?" Kening Juna mengerenyit.

__ADS_1


"Bawaan pas lahir. Seperti tahi lalat saja begitu."


"Oh. Apa sakit?"


"Nggak, Tante juga punya di perut juga, sama." Della menyentuh perutnya sendiri. "Tapi kecil. Nggak segede ini."


"Coba lihat punya Tante."


Della menarik bajunya sedikit. Di atas puser ada tanda lahir berwarna hitam tetapi hanya sejari kelingkingnya.


"Om Dono punya tanda lahir juga nggak?"


"Ada, di tengkuk. Hitam juga."


"Kok Juna nggak ada?"


"Nggak tahu. Sudah sana kamu mandi. Tante sudah buat nasi goreng, takutnya keburu dingin."


"Ya sudah. Juna mandi dulu." Juna berlari keluar dari kamar itu. Kemudian menuju dapur sebab letak kamar mandi ada di sana.


"Mau Om Dono mandikan, Jun?" tawar Dono yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Juna bisa mandi sendiri kok, kayak kemarin sore juga bisa."


"Oh ya sudah, sana mandi. Nanti habis mandi Om antar kamu pulang, ya?"


"Juna pulangnya kalau Papi sama Mami jemput. Ya syukur-syukur sih nggak, soalnya Juna betah tinggal di sini. He ... he." Juna nyengir kuda kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.


"Pagi, Pak,” sapa Dono saat mengangkatnya.


"Pagi. Si Tian sama Nissa udah jemput Juna belum?"


"Belum, Pak. Ini si Junanya juga baru mandi."


"Oh gitu. Ya sudah, nanti aku kirim sarapan untuk dia, ya."


"Nggak usah, Pak. Della bikin nasi goreng."


"Oh ya sudah kalau begitu. Nanti kalau Juna sudah dijemput sama orang tuanya ... kamu datang ke sini, ya?"


"Iya, Pak." Dono mengangguk kemudian matikan panggilan. Langkah kakinya kini menuju dapur, dia ingin membuat kopi untuknya dan susu untuk Juna.


***


Kembali lagi ke hotel.


Terdengar suara dering panggilan masuk yang begitu menggema pada kamar hotel itu. Tian yang tengah tertidur pulas bersama Nissa langsung mengerjapkan matanya.

__ADS_1


Segera dia duduk lalu mengambil jasnya sebab ponsel itu ada di sana. Sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Angga.


"Tian. Ada di mana kamu?" Tanya Angga.


"Di hotel, Pa. Baru bangun. Ada apa?" Tian mengucek kedua matanya.


"Ada apa ada apa, kan Papa sudah bilang kalau hari ini kamu dan Nissa jemput Juna ke rumah Dono. Kenapa sudah siang bolong begini kalian masih di hotel? Astaga." Terdengar suara napas Angga yang begitu kasar.


"Siang bolong?!" Tian langsung menatap ke arah nakas. Sontak matanya itu melotot kala melihat jam weker di sana menunjukkan pukul 12 siang.


Sebenarnya dia dan Nissa sudah bangun saat Subuh. Sayangnya karena mata keduanya masih mengantuk, jadilah mereka tidur lagi. Untungnya ini hari Sabtu, jadi Tian libur kerja.


"Maafin aku, Pa. Aku kesiangan. Aku akan jemput Juna pulang sekarang."


"Ah dasar kalian ini. Dikasih enak berduaan dari kemarin malah lupa waktu!" omel Angga. Tian langsung memutuskan panggilan. Kemudian berlari menuju kamar mandi.


Sengaja dia mandi duluan, sebab kalau bersama takutnya dia dan Nissa kembali melanjutkan ronde-ronde yang lain.


***


40 menit kemudian. Mobil Tian pun sampai pada halaman rumah Dono. Alamat rumah pria itu dikirimkan oleh Angga.


Terlihat, ada Juna dan Dono di sana. Mereka berdua tengah berjongkok sambil bermain kelereng. Ada Kevin juga di sana, ikut main.


"Aku saja yang turun, kamu di sini." Tian mencekal lengan istrinya saat hendak membuka pintu mobil.


Sejak bangun tidur tadi, Nissa sudah mengeluh kalau tubuh dan miliknya terasa sakit. Jadi Tian tak tega rasanya.


"Iya, Yang." Nissa mengangguk pelan. Sebelum turun, Tian lebih dulu mengecup bibir merah istrinya. Kemudian tersenyum.


"Papi!!!" seru Juna seraya menghamburkan pelukan. Tak dipungkiri, Juna juga merasakan rindu karena baru bertemu lagi dengan Tian. "Juna kangen Papi. Papi ke sini sama Mami, nggak?" Mendongakkan kepalanya menatap Tian. Pria itu membungkuk untuk bisa mencium kening.


Cup~


"Siang Pak Tian," sapa Dono yang baru saja berdiri.


"Siang, Pak." Tian tersenyum, lalu mengelus rambut anaknya. "Mami ada di dalam, Jun. Ayok masuk ke dalam, kita pulang. Undangan ulang tahunmu hari ini sudah disebar, lho."


"Papi bawa satu nggak? Juna mau dong." Juna menadahkan telapak tangan kanannya.


"Buat apa? Papi nggak pegang, itu sudah disebar sama orang suruhan Papi."


"Dih, harusnya Papi bawa satu buat Dedek Silvi. Juna mau mengundangnya untuk datang juga."


"Dedek Silvi itu siapa?"


"Anaknya Om Dono dan Tante Della."

__ADS_1


"Oh. Nanti Papi bilang deh sama orang suruhan Papi buat sisakan satu, nanti dikirim ke sini."


Juna mengangguk senang. "Eemm ... Sebelum pulang, Juna mau kenalkan Papi sama Dedek Silvi dulu. Ayok, Pi!" Juna menarik lengan kanan Tian, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah Dono. "Wajahnya mirip Papi versi cewek lho."


__ADS_2