
Sindi hanya menghela napasnya sambil geleng-geleng kepala, tak menanggapi ucapan Angga yang menurutnya ngelantur.
Tak lama ponsel Bejo di dalam kantong celana Angga berdering. Nomor baru yang tertera di sana.
Namun, Angga tak mengangkatnya. Dia lebih memilih memberikan ponsel itu pada istrinya. Entah siapa saja yang mau mengangkat.
Dua wanita itu tengah duduk berdampingan, tapi berjarak dan Dono mengawasi supaya mereka tak kembali berantem.
"Ini, ada yang telepon," ucap Angga dengan tangan yang terulur. Susi dan Yuna saling berebut mengambil ponsel itu, akan tetapi yang berhasil mengambil adalah Susi.
Segera dia pun mengusap layar, kemudian mengangkat panggilan itu dan menempelkannya ke telinga kanan.
"Halo."
"Selamat pagi, apa ini nomornya Pak Bejo Santoso?" tanya seorang pria dari seberang sana. Suaranya terdengar begitu berat.
"Pagi. Ya, benar. Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?"
"Saya seorang dept collektor, Bu. Ingin menagih hutang Pak Bejo yang sudah jatuh tempo. Saya tadi datang ke rumah Pak Bejo, tapi nggak ada siapa pun di sana."
"Hutang?" Susi membulatkan matanya dengan lebar. Kaget sekaligus tak menyangka. "Hutang apa, Pak? Setahu saya dia nggak punya hutang."
"Dia punya hutang di bank, Bu. Totalnya sepuluh juta beserta bunganya."
Jantung Susi langsung berdegup kencang. Nominal itu sungguh besar, apalagi saat ini dia tak punya tabungan. Mungkin hanya uang yang dari Steven. Akan tetapi, semua uangnya akan dia pakai untuk biaya sehari-hari dan kebutuhan 2 orang anaknya. Anak yang satunya sudah bekerja, hanya saja gajinya kecil.
"Tapi suami saya sekarang sedang sakit, Pak. Dia ada di rumah sakit karena keracunan," jelas Susi pelan.
"Oh begitu, boleh beri tahu di mana alamat rumah sakitnya? Saya ingin memastikan sendiri. Benar atau tidak, Pak Bejo masuk rumah sakit."
"Iya, saya akan mengirimkan alamat rumah sakitnya." Susi langsung mematikan sambungan telepon, kemudian mengirim alamat rumah sakit.
'Sejak kapan Mas Bejo punya hutang sebanyak itu? Ah ini pasti gara-gara istri mudanya,' gerutu Susi dalam hati.
Lantas dia pun menatap ke arah Angga, pria itu baru saja berdiri bersama istrinya sambil mengandeng lengan. Sepertinya mereka akan pergi.
"Aku dan Sindi pulang dulu, ya. Nanti sore aku ke sini lagi," ucap Angga.
"Tunggu sebentar, Pak!" Susi langsung berdiri. Dua orang yang hendak melangkah itu langsung menoleh. "Boleh saya minta nomor pria yang tampan tadi, Pak? Dan siapa namanya?"
"Steven. Tapi buat apa?"
"Jika saya butuh sesuatu. Kan dia yang bertanggung jawab, jadi saya akan meminta tolong padanya."
"Oh." Angga mengangguk. "Aku kirim nomornya lewat nomor Bejo, ya?"
"Iya, Pak." Susi mengangguk. Kemudian, tak lama ada chat masuk. Nomor itu berhasil terkirim.
"Aku juga mau dong, Pak. Nomor Mas tadi. Takutnya aku butuh apa-apa," pinta Yuna ikut-ikutan.
Angga langsung memberikan ponselnya, supaya wanita itu mencatat sendiri nomor Steven.
"Tapi kalian jangan mencoba-coba untuk menggoda Steven, ya!" tegur Angga. "Dia sudah punya istri. Yang unyu-unyu tadi istrinya."
Mereka berdua mengangguk cepat.
__ADS_1
***
"Kenapa kamu cemberut terus dari tadi, Cit? Ada apa?" tanya Steven seraya menatap Citra dalam. Perlahan lengan kanannya merangkul bahu.
Mereka menaiki mobil menuju kampus.
"Aku kecewa sama Om."
"Kecewa kenapa? Gara-gara aku berniat membunuh Kevin?" tebak Steven. Gadis itu pun mengangguk samar. "Lagian dia juga selamat kok, kan Bejo yang keracunan."
"Tapi aku nggak mau Om mengulanginya. Dan kenapa Om sangat membenci Kevin? Dia nggak genit sama aku kok, dia hanya ingin kenal dekat saja. Sama Mama dan Papa juga begitu, Om," jelas Citra.
"Ah nggak. Beda," bantah Steven sambil menggelengkan kepala. "Dia itu sudah naksir padamu sejak pertama kali bertemu. Aku tahu itu."
"Tapi dia 'kan cuma seekor burung, Om. Kalau pun naksir dia nggak akan menikahiku. Om ini aneh." Citra merengut sebal.
"Memang nggak akan menikah, tapi perhatianmu teralihkan. Kamu juga selau ngelus-ngelus jambulnya. Aku nggak suka." Steven mendengkus kesal. "Burungku saja nggak pernah kamu elus tuh."
"Setiap malam bukannya sudah dielus, ya? Om lupa?"
"Kapan? Nggak." Steven menggeleng.
"Kan setiap malam kita bercinta, Om. Bukannya itu sama saja dielus, ya?"
"Nggaklah beda. Aku maunya dielus pakai tangan, kan belum pernah."
"Ya sudah, sini aku elus sekarang."
Steven langsung menyentuh resleting. Hendak dia turunkan namun tak jadi lantaran ditahan oleh Citra.
"Ada Om Jarwo, aku lupa, Om."
Lengan Citra Steven tarik, lalu menuntunnya pada si Elang.
"Sssttt!" Steven mendesis seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibir Citra. Dilihat gadis itu membulatkan matanya. Dia mungkin kaget bercampur syok saat untuk pertama kalinya memegang si Elang.
Wajah Steven sudah merona, padahal baru menempel pada telapak tangan.
"Kok diem? Ayok elus dong," pinta Steven manja.
"Malu, ada Om Jarwo." Citra menggeleng cepat. Dia hendak menarik lengannya dari dalam jas itu, tetapi ditahan oleh Steven.
Jarwo melirik sebentar ke arah kaca depan. Kemudian geleng-geleng kepala. Dia tahu apa yang dua orang itu lakukan.
Meskipun percakapan mereka terdengar samar, tapi dia paham dengan gerak gerik di antara keduanya. Apalagi wajah Steven yang mesum itu. Tergambar jelas jika birahinya bergejolak.
'Apa Pak Steven akan mengajak istrinya bergulat?' batin Jarwo. 'Tapi masa di mobil? Kan mereka mau ke kampus dan ke kantor."
"Malu ah, Om, aku ...." Ucapan Citra menggantung tatkala tangan Steven kembali menuntunnya. Bergerak di bawah sana, mengelus-elus.
"Nah begitu, Cit. Iya ... begitu." Steven merem melek. Sentuhan tangan Citra terasa lembut dan nikmat. Seluruh tubuhnya langsung meremang tak karuan.
Segera dia pun menyambar bibir Citra, melumattnya dengan kasar.
Citra mendorong-dorong dada Steven yang menghimpit di pintu, akan tetapi Steven justru memeluknya. Membawanya ke dalam dekapan dan memperdalam ciuman.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil itu berhenti disisi jalan raya. Kemudian Jarwo turun dari mobil.
Melihat pria itu sudah tak ada, ini memberikan akses untuk Steven berbuat lebih. Gegas dia pun menurunkan celana. Pelan-pelan membaringkan tubuh Citra di kursi mobil.
"Om mau ngapain?" Citra menahan tangan Steven yang hendak menurunkan celananya. "Katanya cuma minta dielus, kok malah buka celanaku?"
"Ngecas dulu deh aku, Cit. Pengen kayaknya."
"Tapi ini di mobil, Om." Citra melihat ke arah kursi depan yang kosong. Dia juga sempat melihat Jarwo turun dari mobil. "Nanti malam saja, Om. Seperti biasa."
"Lama nunggu malem. Aku juga lembur. Sekarang saja deh, ya, biar aku semangat kerjanya." Steven menarik kuat celana Citra hingga akhirnya berhasil terlepas. Setelah itu, Steven langsung melakukan penyatuan.
"Aaahhh!"
Jarwo berada di warung yang berada dipinggir jalan. Dia membeli minuman soda yang diambil pada lemari pendingin. Sengaja dia turun dan mengehentikan mobil, sebab sepertinya akan ada adegan dewasa.
Hanya menebak saja, sih, dan ternyata memang benar. Sekarang dia melihat mobil putih itu goyang-goyang sendiri.
"Mobil Bapak kenapa? Kok goyang-goyang?" tanya pemilik warung seraya memberikan kembalian. Jarwo segera mengambil uang receh itu, lalu duduk di bangku plastik.
"Mobil saya memang begitu, Bu, kalau mesinnya mati. Ini juga saya mau membawanya ke bengkel," jawab Jarwo berbohong.
***
Di kantor Steven.
Pria itu baru saja duduk di kursi putarnya, melepaskan dua kancing jas dan membuka laptop. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok ... Tok ... Tok.
"Pak! Saya Dika!" pekik pria dari luar. Steven langsung menyahut,
"Masuk!"
Ceklek~
Pintu itu dibuka dan dilebarkan. Masuklah Dika bersama seorang pria berjas hitam yang mungkin seumuran dengan Dika. Yakni 28 tahun. Tinggi, putih dan tampan.
Steven menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Sopan dan rapih penampilannya.
Namun, Steven merasa heran. Sebab bulu mata pria itu terlihat begitu tebal seperti memakai bulu mata palsu, manik matanya biru dan bibirnya agak merah seperti memakai lipstik. Tadi saat jalan pun Steven memperhatikan sekilas, seperti berlenggak lenggok.
"Dia sekertaris baru Bapak. Namanya Arif Ramdani," ucap Dika mengenalkan. Pria bernama Arif itu lantas memberikan map coklat kepada Steven sambil tersenyum manis.
"Dia sekertaris dari Kak Sofyan?" tanya Steven dengan tatapan aneh. Tangannya membuka map dan melihat seluruh isi di dalamnya.
"Iya, Pak. Dia juga sudah berpengalaman dalam bekerja," jelas Dika.
Tak lama terdengar suara ponsel Steven berdering. Dia yang tengah membaca beberapa lembar kertas itu langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari satpam kantornya.
"Halo," ucap Steven.
"Halo, maaf saya menganggu Bapak. Saya ingin memberitahu kalau ada dua orang yang mencari Bapak. Mereka menunggu dihalaman kantor," papar pria dari seberang sana.
"Siapa?"
__ADS_1
"Yang satu bilang tukang kredit panci, dan yang satunya tukang kredit daster, Pak."
...Wkwkwk 🤣 tambah semangat dong kerjanya, Om. Tadi abis ngecas, terus sekarang didatengin tukang kredit ðŸ¤...