
Ali membelalakkan matanya, kaget mendengar alasan Aldi yang menurutnya aneh. "Di, kapan aku kapicit? Nggak pernah deh kayaknya," ujarnya pelan sambil menoleh ke arah Aldi.
Aldi langsung melototinya dan mengangguk samar, seolah memberikan isyarat.
"Apa ampas yang Bapak keluarkan? Apa paku?" tanya pria berpeci itu sembari menatap Ali.
"Memang ada orang yang kentut keluar ampas paku?" Ali justru bertanya balik. Keningnya mengerenyit.
"Lho, kok Bapak malah tanya saya. Saya justru bertanya."
"Ah, iya, iya, Pak." Aldi langsung mengangguk cepat. Dari pertanyaan pria berpeci itu, membuat rasa penasaran di hatinya bertambah. "Apa Mbah Yahya bisa mengobatinya?" imbuhnya lagi.
"Tentu bisa. Itu mungkin dapat kiriman santet. Sekarang Bapak tulis saja di sini." Pria berpeci menunjuk selembar kertas yang tadi dia berikan.
Ali dan Aldi langsung melayangkan pandangan kala mendengar kata 'santet' mereka pernah dengar istilah itu dan sangat berbau mistis sekali.
Aldi mengangguk samar sambil memejamkan mata. Temannya itu langsung mengangguk, dia paham sebuah isyarat Aldi. Kemudian, Ali pun segera menuliskan keluhannya pada selembar kertas. Setelah itu, kertas tersebut dia berikan pada pria berpeci hitam.
"Itu dipegang saja, Pak. Nanti kalau ketemu Mbah Yahya bisa langsung diberikan," kata pria tersebut.
"Oh, oke." Ali mengangguk.
"Sekarang isi pendaftaran nama Bapak ke buku ini dan siapkan uang untuk daftar 200 ribu dan 10 juta saat bertemu Mbah Yahya," katanya sembari menyodorkan sebuah buku panjang yang dia ambil dilaci meja.
Kedua pria itu langsung melotot kala mendengar nominal itu. Meskipun memang gaji mereka besar, tetapi bagi mereka—nominal 10 juta cukup besar.
"10 juta? Besar sekali, Pak," kata Ali dengan wajah syoknya.
"Bapak mau sembuh nggak?"
"Ah, iya. Tentu saja, Pak." Yang menjawab Aldi. Dia menepuk-nepuk pundak Ali. Temannya itu segera mengisi pendaftaran, tetapi bukan nama asli yang dia tulis. Kemudian, memberikan uang 200 ribu kepadanya.
"Silahkan Bapak masuk ke dalam dan tunggu, sesuai nomor urut, nanti akan dipanggil." Pria berpeci hitam memberikan kupon bernomor 20 kepada Ali. Pria itu pun mengangguk, lalu dia dan Aldi melangkah masuk ke dalam sana.
"Di, aku sudah rugi 200 ribu. Aku nggak mau sampai rugi 10 juta. Kita 'kan nggak ada urusan dengan Mbah Yahya," ujar Ali sambil menoleh ke kanan dan kiri menatap sekeliling.
"Kamu nggak akan rugi 10 juta, Al. Kita nggak perlu masuk. Yang penting kita sekarang sudah dapat informasi kalau Mbah Yahya itu siapa."
__ADS_1
Ali terdiam dan mendengar ucapan temannya.
"Kalau dari perkataan pria berpeci tadi ... aku yakin Mbah Yahya itu dukun. Berbahaya sekali ini, siapa tahu Fira itu mau berbuat jahat kepada Pak Angga," tambah Aldi.
"Ah benar juga kamu. Aku akan kasih tahu Pak Angga sekarang." Ali mengambil ponselnya di dalam kantong celana, baru saja dia hendak mengetik, tetapi tiba-tiba seseorang merampas ponselnya.
"Mohon maaf. Disini tidak diperbolehkan untuk menggunakan hape," kata seorang pria. Dia salah satu penjaga di depan pintu. Pria tersebut menunjuk sebuah poster yang bertuliskan.
...'DILARANG MENGGUNAKAN HAPE DAN MEROKOK'...
"Oh begitu. Maaf, Pak. Saya nggak tahu," ujar Ali sambil tersenyum.
Pria tersebut memberikan ponselnya lagi ke tangan Ali. "Sebaiknya matikan saja, Pak."
"Baik." Ali mengangguk.
Penjaga itu pun tersenyum, lalu melangkah meninggalkan mereka.
"Sekarang bagaimana, Di?" tanya Ali sambil duduk pada kursi tunggu. Aldi sudah duduk duluan. Disekitar mereka banyak sekali orang yang mengantre. Tetapi mereka duduk agak jauh.
"Kamu pergi ke toilet saja. Beritahu Pak Angganya di sana. Biar aku yang mencari Fira di sini."
"Disini kalau mau ke toilet dilarang membawanya hape, Pak. Serahkan ke saya dulu, baru setelah itu Bapak bisa mengambilnya."
Ali berdecak, dia pun segera mengambil ponselnya pada di kantong celana, lalu memberikan kepadanya. Dan setelah itu dia masuk ke dalam.
'Ya kalau begini mah, buat apa aku ke toilet? Kenapa pelit banget mereka, sampai memakai hape aja nggak boleh,' gerutu Ali dalam hati.
Saat sudah keluar dari toilet, Ali menceritakannya kepada Aldi. Kemudian, mereka pun memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Aldi juga tak dapat menemukan Fira, mungkin saja perempuan itu sudah masuk ke dalam ruangan Mbah Yahya.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Ali segera menelepon Angga. Tak menunggu waktu yang lama, panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Halo, Pak," kata Ali.
"Bagaimana?"
"Ternyata Mbah Yahya itu seorang dukun, Pak. Dan bisa dipastikan ... saat ini Fira sudah bertemu dengannya," jelas Ali memberitahu.
__ADS_1
"Dukun?!" Suara Angga seperti kaget. "Dukun apa?"
"Saya nggak tahu dia dukun apa, tapi beliau bisa menghilangkan orang yang kena santet."
"Apa?!" pekik Angga. Suaranya menghilang beberapa saat, lalu dia pun bertanya, "Sekarang kalian ada di mana?"
"Masih ditempat Mbah Yahya. Tapi kami menunggu di mobil. Dan saya tadi sempat daftar 200 ribu untuk bisa masuk ke dalam, Pak."
"Kalian nggak bisa masuk dan seret si Fira untuk keluar?"
"Nggak bisa, Pak. Penjagaannya sangat ketat. Menggunakan hape saja nggak boleh."
"Ya sudah. Setelah melihat Fira keluar dari sana ... kalian bawa dia kesebuah kontrakan kosong. Intinya culik saja dulu, tapi jangan sampai ibunya tahu kalau dia diculik. Nanti aku akan berikan instruksi lagi setelah kalian berhasil menculik Fira," titah Angga.
"Baik, Pak."
*
*
"Assalamualaikum, Mbah," ucap Nurul yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama Fira.
Hawa di dalam ruangan itu terasa begitu mistis, bulu kuduk Fira langsung menegang apa lagi ketika melihat seorang pria tengah duduk bersila di atas tikar berbahan daun pandan. Matanya terpejam. Mungkin pria itu yang bernama Mbah Yahya, dia memakai peci berwarna putih dan memakai jubah berwarna hitam.
Usia pria itu seperti 70 tahunan. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih. Di depan pria itu ada kendi, sepiring bunga melati dan prapen yang sudah ada menyan yang menyala. Aroma menyan itu membuat pernapasan Fira tak enak.
"Walaikum salam. Duduk," titah Mbah Yahya.
Keduanya langsung duduk lesehan di depannya.
"Namamu Fira?" tebak Mbah Yahya seraya membuka matanya. Lalu menatap Fira.
"Iya, Kek," jawab Fira sambil menganggukkan kepalanya. Lantas dia pun mengambil foto Steven dan amplop coklat di dalam tasnya.
"Panggil saja, Mbah. Katakan apa tujuanmu?"
"Aku ingin Mbah membuat pria ini jatuh cinta padaku. Bila perlu sampai tergila-gila dan dia meninggalkan istrinya," pinta Fira sembari menaruh apa yang ada di tangannya di samping kendi. Juga dengan selembar kertas yang dia tulis saat pendaftaran tadi. Berisi tujuannya datang, nama lengkap dan tanggal lahir Steven.
__ADS_1
...Bohong, Mbah, jangan mau 🙈...