
Citra menoleh dan seketika matanya berbinar kala melihat dia adalah Angga. "Opa Ganteng, kok Opa ada di sini? Masih sakit?" Citra menatap tubuh pria paruh baya itu, masih dalam kondisi yang sama.
"Nggak." Angga menggeleng cepat. "Opa datang karena ingin menemui anak Opa, dia habis kecelakaan."
"Oh, kasihan sekali. Eemm ... kalau begitu aku pergi dulu ya, Opa. Aku mau salat isya." Citra merasa kepalanya sudah agak lebih baik. Dia pun perlahan hendak berdiri, tetapi pergelangan tangannya dengan cepat digenggam Angga.
"Tunggu sebentar Cantik!" Angga merogoh kantong celananya, lalu mengambil ponsel. "Opa mau minta nomor hapemu dong, Sayang. Boleh nggak?" tanyanya seraya memberikan benda pipih itu ke tangan Citra.
"Bapak inget umur, ngapain minta nomor hape?" cibir pria yang berdiri di belakang Angga. Dia bernama Bejo, pria berusia 46 tahun yang menjadi satpam sekaligus asisten pribadinya.
"Diam kau!" sentak Angga sambil mendongakkan wajahnya, meloloti Bejo. Lalu setelah itu dia kembali menatap Citra dan tersenyum manis. "Ini Sayang." Dia memberikan lagi ponsel itu sebab belum diterima oleh Citra.
"Maaf, Opa. Tapi aku nggak ingat nomor hapeku," jawab Citra sambil menggeleng samar.
"Kalau hapemu mana? Kalau begitu Opa saja yang mencatat nomor di hapemu."
"Hapeku ada di asisten Ayahku, Opa."
"Eemm ya sudah. Tunggu sebentar." Angga menaruh ponselnya di atas paha. Kembali dia pun merogoh kantong celana tetapi dia mengambil sebuah dompet kulit berwarna coklat. Dia membukanya dan mencari-cari kartu nama, tetapi sayangnya tidak ketemu. "Bejo, di mana kartu namaku?" tanyanya. Mungkin menurut Angga, dia bisa memberikan kartu nama yang pasti akan ada nomor hape. Supaya Citra bisa menghubunginya.
"Kartu nama apa? Bapak nggak punya kartu nama."
"Dih, aku punya, aku pernah bikin."
"Itu dulu saat Bapak masih kerja, kan Bapak sekarang pengangguran, jadi nggak bikin kartu nama lagi," jawab Bejo apa adanya.
"Enak saja kamu kalau bicara. Siapa yang pengangguran? Aku kerja!" protes Angga emosi. Tetapi dia baru ingat jika memang dia tak punya kartu nama lagi semenjak pensiun. "Sekarang ambilkan kertas dan pulpen!"
"Untuk apa?"
"Catat nomor!" berangnya sambil melolot. "Bodoh sekali kau ini, cepat pergi!" Angga mengibaskan tangannya. Dan Bejo langsung berlari mencari apa yang pria itu inginkan.
"Opa mau minta nomorku untuk apa?" tanya Citra bingung.
"Ya buat kabar-kabaran. Masa buat pasang togel. Aneh-aneh saja kamu." Angga terkekeh.
__ADS_1
Tak lama Bego pun kembali, napasnya terdengar tersengal-sengal. Kemudian Angga memintanya untuk menuliskan nomornya pada kertas itu dan setelahnya dia memberikan pada Citra.
"Pokoknya kamu harus chat atau telepon Opa, ya? Jangan lupa. Jangan biarkan Opa merindukanmu, Sayang," katanya menggombal sambil mengedipkan salah satu matanya dengan genit.
"Bapak apaan, sih? Sudah tua. Ingat istri, anak, cucu, bahkan Bapak sudah punya cicit!" tegur Bejo yang entah mengapa tiba-tiba dia merasa mual mendengar apa yang Angga katakan barusan.
"Jangan dengarkan Bejo, dia sirik. Opa ini masih perjaka, Sayang. Cuma sudah tua." Angga terkekeh dan sama halnya seperti Citra. Dia tahu jika pria tua itu hanya bercanda.
"Iya, aku akan hubungi Opa nanti. Kalau begitu aku pergi dulu. Salam buat anak Opa, ya? Semoga cepat sembuh." Citra membungkuk, lalu mencium punggung tangan Angga. Pria tua itu dengan cepat mencuri-curi kesempatan untuk mencium rambut Citra. "Dah!" Citra melambaikan tangan, begitu pun dengan Angga. Seketika pipi yang sudah keriput itu tiba-tiba merona, juga tak lama terdengar bunyi detak jantung yang berdebar kencang.
"Bapak parah, sih. Tadi namanya mencuri kesempatan dibalik kesempitan!" seru Bejo yang mengetahui tingkah bosnya tadi. Dia tampak begitu kesal.
"Cuma rambut ini yang aku cium. Lagian nggak ketahuan, aman."
"Tapi kalau Bu Sindi tahu pasti dia marah, Pak. Dan untuk apa juga Bapak meminta nomor Dedek Gemes? Bapak ini sudah tua dan keriput."
"Iya, aku tua dan keriput. Kamu ini ngomong terus!" Angga mengertakkan giginya, geram dengan mulut Bejo yang ceplas-ceplos itu. "Aku minta nomornya untuk Steven, biar mereka berkenalan."
"Katanya Pak Steven susah didekati wanita? Nona Fira saja dia nggak mau, kan?"
"Ya mungkin saja dia cari yang imut-imut, Jo. Eeemm ... kalau Steven nggak mau juga nggak apa sih, nanti si Dedek untukku saja."
"Dih, enak saja kamu! Mesinku masih kuat!" protes Angga.
"Kuat apanya? Setiap Jum'at Bapak memintaku untuk membeli obat encok."
"Itu karena encokku kumat."
Bejo langsung geleng-geleng kepala, lalu mendorong kursi roda yang Angga duduki.
"Tapi kamu jangan ceritakan masalah tadi ke Sindi, ya? Aku nggak mau nanti dia cemburu terus bunuh diri, Jo," pinta Angga.
"Iya, saya nggak akan cerita. Tapi saya minta uang tutup mulut ya, Pak. Rokok saja sebungkus."
"Oke."
__ADS_1
Mereka pun tiba di depan ruang operasi. Ada Sindi dan Fira di sana, mereka tengah duduk bersebelahan. Dan dilihat istrinya itu tengah menangis.
"Bagaimana keadaan Steven, Ma?" tanya Angga.
Sindi sedikit kaget melihat kedatangan suaminya itu, padahal dia sudah berpesan padanya supaya dia tidak perlu ikut. Sindi mau Angga istirahat supaya cepat sembuh.
"Papa ngapain ke sini? Pulang sana!" ujarnya dengan nada mengusir.
"Dih, ditanyain bener-bener malah ngusir. Papa mau lihat kondisi Steven."
"Steven baik-baik saja, Papa sana pulang!" Sindi menatap Bejo dengan tajam. "Bawa Kakek Tua ini pergi, Jo! Cepat!" pekiknya yang entah mengapa tiba-tiba emosi.
Bejo mengangguk, dia pun cepat-cepat memutar balik kursi roda itu lalu mendorong Angga untuk pergi dari sana.
"Pelit banget, mau lihat kondisi anak sendiri tapi malah diusir," gerutu Angga kesal.
*
*
Setelah menyelesaikan salatnya, Citra pun kembali menuju ruang operasi. Tetapi masih dalam jarak yang lumayan jauh langkahnya tiba-tiba terhenti kala melihat Sindi dan Fira ada di sana.
Dia bertanya-tanya pada diri sendiri siapakah mereka? Wajah Sindi tak dapat Citra lihat sebab duduk membelakangi. Sedangkan wajah Fira tampak jelas dia lihat.
"Siapa mereka? Kok nangis di depan ruang operasi Om Ganteng?" gumam Citra dengan kening yang mengerenyit.
"Tante ... Tante sudah jangan menangis. Pak Steven akan baik-baik saja," ujar Fira seraya mengelus punggung Sindi, mencoba menenangkannya. Wanita paruh baya itu sejak tadi tak ada henti-hentinya menangis dan memeluk tubuhnya.
"Bagaimana Tante nggak nangis, Fir? Kamu 'kan dengar sendiri apa kata Dokter. Steven kritis!" Sindi langsung menangis tersedu-sedu lalu mengusap air mata di pipi. "Tante takut dia meninggal, Fir. Tante nggak mau, Tante mau dia panjang umur dan menikah denganmu. Tante mau punya cucu dari kalian," tambahnya yang kian terisak dalam tangis.
Degh!
Perkataan yang Sindi lontaran itu seketika membuat dada Citra berdenyut nyeri. Begitu menusuk hingga terasa sesak.
Sakitnya itu bukan hanya karena mendengar Steven kritis saja, tetapi mendengar Sindi yang mengatakan Steven menikah dan ingin mempunyai anak dari perempuan yang berada di sampingnya sekarang. Lantas, di manakah posisi Citra saat ini?
__ADS_1
'Apa mereka adalah Safira dan Mama Sindi?' batin Citra. Perlahan buliran air matanya lolos membasahi pipi. Dia menangis tanpa suara. 'Jadi ... Mama Sindi mau kalau Safira yang menjadi istrinya Om Ganteng? Apa mungkin itu juga alasan Om Ganteng belum siap mengenalkanku padanya? Karena ada Safira yang sempurna. Dan itu berarti posisiku sama sekali nggak dibutuhkan di sini?'
...Jangan banyak bertanya dalam hati deh, Cit. Sana samperin dulu terus kenalan 😠ngomong kamu itu menantunya, kok aku ikut kesel😩...