
"Mami, aku mau ajak Kevin sama Janet juga, ya?" pinta Juna seraya menatap Nissa.
"Mami nggak yakin si Kevin sama Janet dibolehkan masuk ke bioskop."
"Kok nggak yakin? Memang kenapa? Nanti Kevin sama Janet sekalian Mami beliin tiket saja."
"Bukan masalah tiket. Tapi 'kan mereka hewan." Nissa menatap dua burung Kakatua itu. "Setahu Mami, di bioskop nggak boleh bawa hewan peliharaan."
"Tapi 'kan Janet sama Kevin bukan hewan peliharaan Juna."
"Iya, tapi 'kan tetep mereka hewan peliharaan. Hewan peliharaannya Opa," jelas Nissa.
"Ya coba saja dulu. Siapa tahu sekarang boleh."
"Kalau nggak boleh gimana? Kevin sama Janet ditinggal gitu?"
"Kita nggak jadi nonton. Orang akunya mau nonton sama mereka." Juna merengut.
"Bukannya awalnya kamu mau nonton sama Mami, ya?"
"Iya, tapi Mami saja mau ngajak teman Mami, terus Juna izinkan. Tapi masa giliran Juna ... Mami nggak mengizinkan? Padahal Kevin sama Janet pengen ikut banget. Iya, kan?" Juna mengerakkan dagunya ke arah Kevin dan Janet. Dua burung itu langsung mengangguk cepat.
Nissa menghela panasnya dengan berat. Anak semata wayangnya itu kalau berkeinginan harus selalu dituruti. Jika tidak, bisa marah dan marahnya bisa berkepanjangan.
"Ya sudah, ayok! Tapi Kevin sama Janet dilarang berak sembarangan, ya!" tegur Nissa saat melihat anaknya itu membuka pintu sangkar burung. Dua Kakatua itu lantas terbang dan berdiri pada bahu kanan dan kiri Juna.
"Siap Mbak Nissa yang cantik!" jawab Kevin penuh semangat.
Tian yang berada di dalam mobil itu mendadak merasa kepanasan. Padahal AC di dalamnya cukup dingin. Perasaannya juga tiba-tiba tak enak, entah apa sebabnya.
'Semoga semuanya baik-baik saja,' batinnya sambil mengelus dada.
Tak lama, terdengar suara ketukan kaca yang berada di kursi penumpang. Tian langsung menoleh, dan ternyata ada Nissa di sana. Gegas dia pun menurunkan kaca mobilnya, lalu mengulas senyum.
"Selamat ma ...." Ucapan Tian mengantung kala tiba-tiba ada seekor burung Kakatua masuk begitu saja tanpa permisi. Dia adalah Kevin. Burung itu langsung duduk di pangkuan Tian namun sontak membuat pria itu terkejut.
'Kevin? Kenapa dia malah ke sini dan menghampiriku?' batin Tian dengan mata yang membelalak.
"Om Hidung Belang ke sini mau apa? Mau ikut nonton juga?" tanya Kevin dengan ramah.
Nissa segera membuka pintu mobil, lalu duduk di sana. Juna yang bersama Janet juga ikut masuk dan bocah laki-laki itu duduk di atas pangkuan Nissa.
"Kamu kenal sama Om ini, Vin?" tanya Juna sambil menatap Tian sebentar.
"Kenal! Dia dulu Papaku!" Kevin merentangkan sayapnya, lalu memeluk tubuh Tian. Sepertinya Kevin rindu pada mantan papanya itu.
"Om dulunya nikah sama burung?" tanya Juna.
__ADS_1
Tian menggeleng cepat. "Nggak, masa burung."
"Tapi kenapa tadi Kevin bilang Om Papanya?"
"Itu karena dulunya Kevin burungnya Om, Jun."
"Oh, Om menjual Kevin sama Opaku?"
"Iya." Tian mengangguk.
"Kenapa dijual?"
"Karena saya tidak betah tinggal di rumah Om Hidung Belang!" serunya. Kevin yang menjawab.
"Kenapa kamu nggak betah, Vin?"
"Karena dia tinggal sama Fira! Cewek matre!"
"Katanya kamu duda, Ti?" Sekarang Nissa yang bertanya. "Oh, apa mungkin pacarmu?"
"Dia punya istri, Mbak! Namanya Fira!" Kevin lagi-lagi menyahut.
Di sini Tian benar-benar merasa terpojokkan. Wajahnya itu sudah merah menahan emosi, juga berkeringat dingin.
Namun meski begitu, dia berusaha bersikap tenang. Supaya tak membuat Nissa curiga. Senyuman manis itu mengulas jelas di bibirnya.
"Jangan ganjen! Dasar hidung belang!" celoteh Kevin, lalu terbang menghampiri Nissa. Berdiri didekatnya. "Jangan dipercaya, Mbak! Om Tian tukang bohong."
'Menyebalkan sekali si Kevin. Tahu gini mah aku sate saja dia dari dulu. Dasar lemes!' geram Tian dalam hati. Kedua tangannya itu mengepal kuat. Ingin rasanya dia mencekik Kevin untuk tidak ikut campur, namun nyatanya situasinya tak memungkinkan.
"Sudah, ayok kita pergi, Ti. Nanti tiketnya keburu abis," titah Nissa.
Tian mengangguk cepat. Lalu menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarai. Namun sesekali dia memperhatikan Nissa, takut jika wanita itu mempercayai ucapan Kevin.
Juna memperhatikan seisi mobil Tian, mobil itu aromanya wangi dan terlihat bersih. Sepertinya habis dicuci. Namun menurutnya, mobil Tian terlalu sederhana.
"Mobil Om jelek, lebih bagus mobil Mami dan Om Steven," celetuk Juna. Ucapannya itu langsung menusuk hati Tian. Dan yang menyebalkannya Kevin justru tertawa. Seolah senang melihat Tian menderita.
"Jun! Jangan ngomong kayak gitu," tegur Nissa seraya mengusap rambut anaknya. "Nggak baik, jaga ucapanmu. Mami nggak pernah tuh mengajarimu bicara seperti itu."
"Aku 'kan cuma jujur, Mi. Memang salah?"
"Jujur juga nggak boleh, itu menyakiti namanya."
"Nggak apa-apa, Nis." Tian tersenyum dengan wajah merah karena malu. Malu karena mobilnya dibilang jelek. "Ini bukan mobil Om kok, ini pinjam. Mobil Om kebetulan rusak dan lagi dibetulin di bengkel."
"Oh pantes, terus mobil Om mereknya apa?"
__ADS_1
"Merek ...." Tian terdiam beberapa saat, lalu memikirkan nama mobil yang paling mahal. Namun belum sempat dia menjawab, tetapi disela oleh Kevin.
"Jangan percaya Om Tian, Jun. Ini sebenarnya mobilnya. Dia hanya berbohong," ujar Kevin yang lagi-lagi bocor.
"Oh, kok bohong dia, Vin? Kenapa?"
"Tidak tahu, mungkin malu."
'Ah sialan banget si Kevin! Aku baru ketemu calon anakku. Tapi harga diriku sudah dijatuhkan. B**ngke emang!' gerutu Tian dalam hati.
***
Tak lama mereka pun sampai di gedung bioskop, Nissa langsung menghampiri seorang sekuriti, ingin bertanya perihal Kevin dan Janet.
"Pak, apa boleh hewan peliharaan ikut nonton?" tanya Nissa.
"Maaf, Bu. Nggak boleh." Pria itu menggeleng.
Juna bertanya, "Kenapa memangnya, Pak?"
"Takutnya burung Adek menganggu penonton yang lain." Sekuriti itu melihat ke arah Janet dan Kevin yang tengah berdiri di bahu kanan kiri Juna.
"Tapi mereka nggak akan berisik kok, Pak. Mereka penurut," ujar Juna.
"Kalau Adek mau, sebaiknya Adek booking satu film saja," usul sekuriti itu. "Kalau begitu boleh, Dek."
"Maksudnya, nanti yang nonton hanya aku bertiga terus sama dua burungku, Pak? Orang lain nggak?"
"Iya." Sekuriti mengangguk.
Juna menoleh ke arah Tian yang tengah membereskan rambut. Perlahan dia pun mengenggam tangannya. "Om, tolong booking satu film untuk kita nonton malam ini dong. Aku ingin mengajak Kevin dan Janet juga soalnya," pintanya.
"Lho, kenapa minta sama Om Tian?" tanya Nissa binggung. "Biar Mami yang bayar, ayok masuk," ajaknya seraya mengenggam tangan Juna. Lalu menariknya untuk sama-sama masuk.
Tian segera menyusul dan melangkah di samping Nissa.
"Aku nggak mau Mami yang bayar, tapi Om Tian saja!" rengek Juna.
"Kenapa memangnya? Mau Mami atau Om Tian itu sama saja, yang penting kita bisa nonton."
Mereka sudah berdiri di depan tempat pembelian tiket, namun mangantre.
"Tapi 'kan Om Tian cowok, Mi. Namanya cowok harus modal kata Opa juga. Masa mau ikut doang terus nggak bayarin?" sindir Juna seraya melirikkan matanya ke arah Tian.
...Iya, nih, si Om. Ngikut doang tapi ga mau bayar 🤣 Mang enak, disindir calon anak ðŸ¤...
vote sama hadiahnya jangan lupa kasih, Guys. biar semangat up 🙈
__ADS_1