
Ya, pria itu ternyata Tian, Omnya Citra. Dan sekarang wajah terlihat merah lantaran malu. Namun bercampur senang juga sebab Nissa masih mengenalinya. Padahal sudah beberapa tahun mereka tak bertemu.
Memang benar Tian kutuan. Bahkan sangking banyaknya kepalanya sampai di botak supaya kutunya hilang. Dia juga dulu terlihat begitu culun dan selalu memakai kacamata. Namun, itu dulu saat dia masih duduk di bangku SMA. Sekarang tentu tidak.
Banyaknya kutu lantaran dia ketularan teman tongkrongan. Tian sering bergaul dengan anak-anak jalanan yang tidak pernah mandi dan tidak pernah mencuci rambut. Maka dari itu, kutunya banyak.
Dan ketahuilah, kutu itu memang menular, sebab punya kaki dan bisa berpindah tempat.
Tian sendiri sedari kecil hidup tanpa kasih sayang orang tua. Saat dirinya lahir ke dunia, di saat itu pula ibunya meninggal dunia. Kemudian sekitar dua bulannya sang Ayah menyusul. Meninggal dunia karena depresi akibat ditinggal istri.
Yang mengurus Tian sejak kecil selain pengasuh adalah Danu. Pria itu amat menyayangi Tian mau pun Tegar melebihi apa pun. Dan sebenarnya, alasan mereka mempunyai perusahaan adalah hasil jerih payah Danu awalnya.
Ditinggal sang Ayah pada usia 13 tahun dan menemani adik-adik yang berumur satu tahun dan masih bayi tentu bukan hal yang mudah. Sejak umur belasan tahun Danu sudah belajar bisnis dibantu oleh asisten ayahnya, demi mempertahankan perusahaan.
Dan saat usianya matang, dia berhasil membuka cabang dua perusahaan sekaligus. Yaitu yang sekarang dikelola oleh Tian dan Tegar.
Awalnya, Tian ini sangat dekat dengan Danu bahkan penurut. Namun, saat Danu sudah mulai sibuk di kantor sedangkan dia sekolah bersama Tegar, semuanya seolah berubah. Tian lebih dekat dengan Tegar dan malah makin menjauh dengan Danu.
Dia juga menjadi anak yang pembangkang. Suka segala-galanya. Dari mulai rokok, mabuk, cewek, semuanya dia suka. Mungkin cuma n*rkoba saja hal yang belum pernah dia rasakan.
Pernah suatu ketika dia ingin mencoba g*nja, karena dikasih teman. Namun sayangnya, belum sempat dihisap tapi keburu ketahuan oleh Danu.
Jika Nissa yang terlihat hampir tak ada celah, bahkan nyaris sempurna, tapi Tian justru kebalikannya. Wanita itu juga populer di sekolah, sedangkan Tian tidak sama sekali. Bahkan dia sering sekali kena bully yang entah apa sebabnya. Dan tak ada yang mau berteman dengannya, itu juga alasannya dia lebih memilih berteman dengan anak jalanan.
"Sekarang aku nggak kutuan, Nis," bantah Tian.
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong mobilmu kenapa?"
"Nggak tahu, tiba-tiba mogok." Tian melangkah menuju badan depan mobil, lalu membuka bagasi dan mengeceknya. Ternyata setelah dicek—bensinnya habis dan sontak membuat Tian membulatkan matanya. 'Kenapa pakai habis segala? Bagaimana ini?'
Dia kaget sebab merasa bingung. Di dalam dompet hampir tak ada uang sepeser pun, berikut dengan kartu ATMnya. Kosong melompong isinya.
Kedatangannya ke kota Serang adalah untuk meminjam uang kepada saudara Kakak iparnya, istri dari Tegar. Atas permintaan Fira juga tentunya, karena dia ingin dibelikan ponsel baru.
__ADS_1
Namun, belum juga sampai tujuan, Tian justru kehabisan bensin.
"Kenapa?" Nissa melangkah menghampiri.
"Bensinnya ternyata abis," jawabnya dengan mimik wajah sedih.
"Oh habis." Nissa menoleh ke kanan dan kiri, di ujung barat terlihat ada SPBU. Lantas dia pun menunjuk. "Itu ada pom bensin, pakai saja mobilku untuk membelinya." Tangannya terulur memberikan kunci mobil.
"Nggak usah, terima kasih, Nis. Aku mau pergi naik taksi saja." Tian menutup bagasi mobil kemudian mendorong mobil putihnya itu supaya berada di sisi jalan.
"Nggak usah naik taksi, 'kan cuma dekat. Mending pakai mobilku saja. Ini." Nissa kembali memberikan kunci mobilnya, namun pria itu tak mengambil.
"Aku ada urusan dan harus pergi ke rumah saudaraku, Nis."
"Oh begitu. Ya sudah, tapi mobilmu bagaimana?"
"Biarkan saja, nanti aku balik lagi. Eh, tapi kamu di sini mau ngapain?" Tian mendongakkan wajahnya, menatap papan nama penangkaran burung Kakatua dan dia baru sadar jika dirinya berhenti di tempat itu. "Kamu mau beli burung?"
"Bukan aku yang mau beli, tapi Papaku. Aku hanya mengantar."
Meskipun terkadang mulut burung Kakatua itu lemes, namun kadang dia juga lucu. Dan yang paling Tian rindukan adalah sikap penurut jika disuruh.
Kevin juga sering membuatkan Tian kopi. Sayangnya semua sudah berlalu dan Kevin sendiri dengan terang-terangan tak mau tinggal bersamanya lagi.
"Kenapa dijual? Butuh duit?" tebak Nissa.
"Nggak," elak Tian dengan gelengan kepala. Malu berkata jujur. "Tapi aku ...." Ucapannya menggantung kala ponselnya berdering, Tian pun segera mengambilnya di dalam kantong jas. Tertera nama 'Istri Tercinta'
Jantung Tian rasanya ingin copot, kaget bercampur takut. Sebab Fira pasti menghubungi karena bertanya masalah duit.
"Aku pergi dulu deh, Nis." Tanpa menjawab panggilan, benda pipih itu dimasukkan kembali ke dalam saku jas. Lalu melambaikan tangan kepada taksi yang baru saja lewat. "Oh ya." Tian menoleh pada Nissa sebelum masuk mobil. "Senang bertemu kembali denganmu. Kamu tambah cantik, Nis."
Nissa hanya menjawabnya dengan senyuman manis, lalu menatap Tian yang berlalu pergi dengan menunggangi taksi.
__ADS_1
Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah yang begitu cepat menghampirinya, dan membuat Nissa langsung menoleh.
"Nissa, ayok pergi ke dokter hewan!" perintah Angga dengan wajah cemas sambil membawa Kevin yang tengah berbaring dalam gendongannya. Burung Kakatua itu tampak lemas tak berdaya.
Tanpa menjawab atau pun bertanya, Nissa langsung membukakan pintu untuk Angga masuk. Kemudian dia juga masuk ke dalam dan rupanya pemilik penangkaran burung juga masuk ke dalam mobil Nissa. Duduk di kursi belakang.
"Kenapa dengan Kevin, dan di mana Dokter hewan, Pa?" Sembari mengemudi, Nissa menoleh sebentar ke arah Angga. Dia ikut-ikutan panik jadinya.
"Nanti Pak Dayat yang memberitahu," jawab Angga sambil memutar kepalanya ke belakang, tepat di mana pria yang memakai belangkon itu berada.
Nissa mengangguk, kemudian mempercepat arus kendaraan.
Ketidak berdayaan Kevin—Angga sendiri tak tahu jelas awalnya. Sebab itu terjadi setelah dia dan Dayat kembali menuju kandang, setelah hampir tiga puluh menit lebih Kevin di masukkan ke dalam sana.
Angga langsung terkejut lantaran mendapati Kevin sudah berbaring, sedangkan semua burung betina menjauhi Kevin dan mengumpul jadi satu.
"Astaghfirullah, kenapa kamu, Vin!" seru Angga seraya berjongkok. Kemudian meraih tubuh Kevin dan langsung menggendongnya.
"Papa ... saya mau pulang. Mereka memaksa saya kawin, tapi saya tidak mau," ucap Kevin lirih.
Entah apa yang telah para burung betina itu lakukan padanya, namun yang jelas mereka semua diam saja dan hanya melihat Kevin dari kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author mau ngasih info perihal giveaway. Berhubung banyak akun tuyul yang bertebaran, jadi ada tambahan syarat untuk pemenang peringkat 1, 2 dan 3 ya temen-temen.
Tapi syaratnya mudah. Yaitu pembaca setia.
Apa sih pembaca setia? Pembaca setia itu adalah pembaca yang baca novel ini dari awal sampai akhir. juga meninggalkan jejak berupa like dan komentar perbabnya, tapi tidak ada bab yang diskip atau pun istilah BoomLike.
Yang menilai pembaca setia itu sendiri adalah Author dan Author berharap pemenang adalah asli pembaca setia, bukan akun tuyul yang hanya mau dapat hadiah aja.
Memang hadiahnya ga banyak, tapi ini wujud tanda terima kasih aja dan Author juga mau bagi-bagi rezeki karena bisa gajian di novel ini 😘
__ADS_1
Oke hanya itu,
yuk like dan komentarnya, jangan lupa, ya~