Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
47. Biarkan dia mati


__ADS_3

"Om Ganteng!"


Ya, dia adalah Steven. Citra membulatkan matanya saat melihat suaminya itu kini tengah duduk di atas tubuh Udin lalu mencekik lehernya dengan kedua tangan.


"Sudah pernah kuperingati untuk menjauhi Citra ... tapi kau justru masih mendekatinya!" teriak Steven murka. Rahangnya terlihat mengeras, wajahnya merah padam dan matanya melotot tajam pada laki-laki yang kini sudah mendelikkan matanya lantaran rasa sakit di lehernya.


Cepat-cepat Citra turun dari kursi, lalu menarik tangan Steven sekuat tenaga demi menghentikan aksi kekerasan suaminya. "Om lepaskan Udin, dia bisa mati!"


Dilihat wajah Udin sudah mulai pucat, Citra tak mau jika ada sesuatu yang terjadi dan itu akan membahayakan Steven juga.


"Biarkan dia mati!" teriak Steven yang tak peduli akan nasib lelaki itu. Yang jelas, kini seluruh jiwanya sudah terpenuhi rasa emosi, dadanya terasa panas seperti terbakar. Begitu pun dengan kedua telurnya, berkedut-kedut seperti ingin pecah.


"Astaga, apa yang Bapak lakukan?" tanya seorang pria yang baru saja lewat dengan keterkejutannya. Dia orang pertama yang melihat kejadian itu dan membuat beberapa orang ikut melihat dan langsung berkemurun mendekati Steven.


Mereka langsung membantu menghentikan aksinya. Empat pria menarik lengan Steven, satu lengan dua orang hingga akhirnya berhasil melepaskan cengkraman kuat tangannya.


"Ayok bawa dia ke rumah sakit," ujar salah satu pria itu yang mana dianggukan oleh yang lain.


Wajah Udin benar-benar pucat, matanya yang mendelik itu kini perlahan terpejam. Entah dia sudah kehilangan nyawa atau tidak, tetapi yang jelas kini tiga orang pria itu mengangkat tubuhnya lalu berlari pergi.


Steven langsung berdiri sambil mengatur napasnya yang tersenggal, lantas dia pun menoleh pada Citra. Wajah gadis itu tampak syok, terlebih seluruh tubuhnya bergetar, takut jika Udin tiada.


"Kamu pergi nonton dengan Udin tanpa izin dulu padaku? Kenapa kamu tega sekali padaku, Cit!" teriak Steven seraya mengenggam tangan Citra yang terasa bergetar. Genggaman tangannya terasa lembut meskipun wajahnya terlihat begitu sangar.


"Aku nggak pergi dengan—"


"Selamat malam," sela seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri. Citra dan Steven menoleh padanya dan seketika mata Citra membulat kala orang tersebut adalah seorang polisi. Dia datang tidak sendiri, melainkan bersama temannya yang memakai seragam sama, berdiri di sampingnya.


"Apa saudara yang tadi mencekik seorang pemuda berkulit hitam?" tanyanya sambil menatap wajah Steven. Pria tampan itu hanya mengangguk lalu mengusap wajahnya yang berkeringat.


"Apa Bapak bisa ikut saya ke kantor polisi?"

__ADS_1


"Jangan penjarakan Om Ganteng, Om Polisi!" Citra langsung menyahut dengan wajah ketakutan dan gelengan cepat.


"Kami mau minta keterangan beliau, Nona. Mari ikut kami." Pria berseragam itu langsung mencekal pergelangan tangan kiri Steven, dan polisi yang satunya mencekal pergelangan kanan hingga tangan Steven yang mengenggam tangan Citra terlepas begitu saja. Lantas keduanya menarik Steven, membawanya melangkah bersama.


Citra segera berlari lalu memeluk tubuh Steven dari belakang. Tak berselang lama dia pun menangis.


"Aku mohon jangan penjarakan Om Ganteng, Om Polisi. Aku nggak mau hidup sendirian."


"Nona tenang dulu, Anda bisa ikut bersama kami ke kantor polisi."


Salah satu polisi itu hendak menarik lengan Citra yang melingkar pada perut Steven, tetapi dengan cepat Steven berkata, "Biarkan seperti itu, dia sedang nangis!"


Polisi itu mengangguk. Akhirnya mereka pun berjalan bersama. Steven sebenarnya merasa kesusahan dalam langkahnya sebab Citra berada di belakang dan terasa erat memeluknya. Tetapi rasanya untuk melepaskan pelukan itu Steven tak rela.


*


Di dalam perjalanan, Citra yang kini duduk di kursi belakang mobil polisi bersama Steven tak henti-hentinya menangis. Dia merasa sangat takut jika nanti suaminya di penjara.


"Nona, jangan menangis," ujar salah satu polisi yang berada di depan. Duduk di samping rekannya yang mengemudi. Dia pun mengulurkan sebuah kotak tissue ke arah Citra tetapi dengan cepat Steven mendorongnya.


"Tapi aku takut, Om." Citra segera memeluk tubuh Steven lalu menciumi dadanya. Steven langsung membalas dan mencium puncak rambutnya. Dadanya yang sempat panas itu kini terasa lebih baik, juga dengan telurnya.


***


"Langsung saja tidak perlu basa-basi. Apa alasan Bapak mencekik saudara Udin Jamaluddin?" tanya polisi yang duduk di depan Steven. Di samping pria itu adalah rekannya, dan di samping Steven ada Citra. Gadis itu sudah tak menangis, hanya saja sejak tadi tak lepas memeluk tubuh suaminya.


"Aku benci padanya," jawab Steven datar.


"Bapak benci jadi berniat membunuhnya?"


"Aku tidak berniat membunuhnya, tapi aku sudah pernah memperingatinya untuk supaya jangan mendekati Citra. Tapi dia justru mendekatinya dan mengajaknya pergi!" jelas Steven dengan kedua tangan yang mengepal di atas paha.

__ADS_1


"Apa Citra adalah Nona ini?" Polisi itu mengedikkan dagunya ke arah Citra yang mana dianggukan oleh Steven. "Apa hubungan Bapak dan Nona ini? Pacar?"


"Suami istri."


"Oh, jadi Nona Citra berselingkuh di belakang Bapak dan Bapak cemburu lalu mencekik leher saudara Udin?" Pria itu langsung menyimpulkan sebuah perkara tersebut, tetapi dengan cepat keduanya langsung protes.


"Aku nggak selingkuh!" tegas Citra, dia langsung melepaskan pelukannya pada Steven dan menatap polisi di depannya.


"Aku nggak cemburu!" tegas Steven. Kedua berbicara secara bersamaan dan langsung saling melayangkan pandangan. "Tega sekali kamu selingkuh dariku, Citra!" teriaknya.


"Aku nggak selingkuh!" tegas Citra sambil menggeleng cepat. "Apa lagi sama Udin, aku nggak suka padanya."


"Jangan bohong! Jelas aku sudah memergokimu dan kamu sendiri pergi tanpa izin dariku!" berang Steven sambil melotot.


"Tanpa izin apanya? Om Tegar sudah menelepon Om dan aku juga pergi dengannya," jelas Citra apa adanya.


"Nggak usah bawa-bawa Ommu yang gila harta itu! Sudah jelas kamu pergi dengan Udin dan aku melihatnya secara langsung!" pungkas Steven dengan penuh emosi, sama sekali dia tak percaya dengan Citra. Yang dia percaya adalah apa yang dia lihat tadi.


"Sumpah demi Allah, Om. Aku pergi sama Om Tegar. Kalau Om nggak percaya Om bisa telepon dia."


"Aku nggak punya nomornya, kamu saja yang telepon."


Citra mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu memberikan pada Steven. "Hapeku lowbet dan dihapeku nggak ada nomornya Om Tegar."


"Nggak usah alasan kamu, Cit!"


"Bener, ini 'kan hape dari Om. Kalau Om nggak percaya cek aja—"


"Hadeeeh ...!" keluh salah satu polisi itu sembari menepuk jidat. Telinganya terasa berdengung dan panas akibat percekcokan di antara keduanya. "Di sini masalahnya adalah saudara Udin dicekik. Kenapa kalian malah ribut?"


Polisi itu menatap Citra dan Steven silih berganti, lalu menghentikan pandangan pada Steven. "Apa Bapak tahu ... sekarang saudara Udin berada di rumah sakit. Kondisinya kritis dan kata dokter ada dua gigi atas sebelah kirinya yang patah," terang polisi itu yang mana membuat Citra membulatkan matanya.

__ADS_1


Tidak seperti Citra yang lagi-lagi tampak syok menanggapi kondisi Udin, Steven justru bersikap biasa saja, bahkan tak ada ekpresi sama sekali.


...Ya ampun kasihan banget Udin 🤧...


__ADS_2