Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
252. Perutku sakit banget


__ADS_3

"Berbesanan itu apa, Om?" tanya Juna yang tak mengerti.


"Besan itu orang tua dari pengantin," jelas Tian. "Misalnya begini. Om Steven 'kan menikah sama Tante Citra. Ya itu Opa sama Omamu berbesanan sama orang tua Tante Citra."


"Ohh ...." Juna manggut-manggut. "Tapi kok, Juna nggak pernah tahu orang tua Tante Citra. Ke mana mereka, Om?"


"Sudah meninggal."


"Dua-duanya?"


"Iya."


"Innalilahi." Juna mengusap dadanya. "Kasihan banget Tante Citra, senasib kayak Om. Sebatang kara."


"Iya. Mangkanya kamu musti bersyukur masih mempunyai orang tua lengkap, banyak diluar sana yang masih kecil ditinggal orang taunya," tegur Tian menasehati.


"Orang tua Juna 'kan nggak lengkap, Om. Kan Mami sama Papi bercerai."


"Iya. Tapi 'kan mereka masih hidup, masih sehat dan masih muda."


"Oh gitu. Iya, Juna bersyukur kok." Juna mengulum senyum seraya menyentuh lengan Tian.


***


Sementara itu di dalam kamar apartemen.


Siang bolong Steven dan Citra tengah bergulum panas di atas kasur. Citra di bawah dan Steven di atas.


Selama 2 bulan terakhir, Steven memutuskan untuk libur pergi ke kantor. Begitu pun dengan Citra yang libur kuliah.


Steven tak mau, jika nantinya Citra melahirkan tidak dia dampingi. Sebab Citra sendiri sudah berpesan kalau Steven harus selalu ada.


"Aahh ... kenapa milikmu selalu terasa nikmat. Malah makin legit saja, Cit," desah Steven sembari menguncang tubuh Citra. Kedua paha istrinya itu terbuka dengan lebar.


"Milik Aa juga enak." Citra menangkup kedua pipi Steven. "Si Elang tambah gede."


"Iya ...." Steven meraih punggung Citra, lalu mengangkatnya hingga tubuhnya itu duduk di atas pangkuan. Setelah itu Steven kembali menghentakkan bokongnya. Kasur itu terguncang oleh ulahnya.


"Aku mencintai Aa." Citra melingkari lengannya pada tengkuk Steven, lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Aku juga mencintaimu, Cit." Steven meraih kedua agar-agar yang makin bulat dan montok itu. Segera dilahap salah satunya, menyesapnya bagaikan bayi yang kehausan. Pucuknya itu terasa lebih menonjol sekarang, mungkin efek hamil sekaligus ulahnya.


Setelah menempuh waktu 10 menit diposisi seperti itu, akhirnya keduanya pun berada dipuncak tertinggi. Meraih pelepasan secara bersama.


Gerakan itu seketika terhenti. Steven dan Citra mengatur napasnya yang terengah-engah sambil menyeka keringat di dahinya masing-masing.


"Aku nggak bisa bayangkan kalau aku puasa, kasihan burungku, Cit," ucap Steven saat sudah melepaskan dada Citra dan sekarang mengecup bibirnya sekilas.


"Puasa apa maksudnya?"

__ADS_1


"Bercinta. Kan kalau orang habis melahirkan nggak boleh bercinta kata Mama."


"Oh. Kan bisa pakai tangan, atau mulut, A."


"Memang kamu mau? Kemarin aku minta diemut kamu nolak."


"Kan kemarin. Nanti kalau habis melahirkan aku coba." Citra tersenyum.


"Bener, ya? Oh ya, Cit. Nanti setelah melahirkan ... anak kita nyusu pakai susu formula saja. Jangan langsung dari sini." Steven menyentuh dua agar-agar Citra. Kedua aset itu benar-benar favorit Steven.


"Kenapa memangnya?"


"Nanti aku nggak bisa nyusu dong. Kan anak kita lahir langsung dua."


"ASI itu 'kan penting kata Mama, A. Nanti Aa masih bisa nyusu kok, kalau anak kita sudah kenyang." Citra mengusap perut buncitnya yang mendadak terasa kram.


"Nanti dihabisin lagi." Steven mengerucutkan bibirnya.


"Nggak mungkin habis lah. Mereka 'kan kecil-kecil," jawab Citra. "Gendong aku ke kamar mandi, A. Perutku kram. Ada mules juga, pengen berak kayaknya."


Steven mengangguk. Dia pun perlahan mengendong Citra, lalu membawanya menuju kamar mandi.


Tepat di depan kloset, Citra diturunkan pelan-pelan sembari melepaskan penyatuan.


"Kalau sudah selesai beraknya terus mau mandi, kamu bilang sama aku. Aku tunggu diluar, ya?" Steven mengambil selang lalu menyemburkan air pada inti tubuhnya, begitu pun pada inti tubuh Citra.


Steven melangkah keluar, lalu menutup pintu. Kemudian menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti untuknya dan Citra.


"Aa! Aku berdarah!" teriak Citra dari dalam sana yang mana sontak membuat Steven terperanjat.


Pakaian yang ada di tangannya itu langsung dia lempar ke atas kasur, lalu gegas berlari membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam.


"Astaghfirullah!" Steven membelalakkan matanya saat melihat pangkal paha Citra mengeluarkan darah segar. Mengalir hingga betis.


"Perutku sakit banget, A. Mules, seperti ada yang mau keluar." Citra meringis kesakitan sembari menyentuh perut bagian bawahnya.


Segera, Steven pun meraih tubuhnya. Mengendongnya lalu berlari keluar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di atas kasur.


"Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan, Cit?" tanya Steven gelagapan. Cepat-cepat dia pun memakaikan Citra dress panjang ibu hamil berwarna cream, lalu memakai stelan kaos lengan panjang berwarna hijau tosca ke tubuhnya sendiri.


"Aku nggak tahu, tapi sakit banget, A."


"Kita ke rumah sakit sekarang." Steven menyambar kunci mobil. Kemudian menggendong tubuh Citra dan berlari membawanya keluar dari kamar apartemen lalu masuk ke dalam lift.


Tepat di lantai dasar, mereka bertemu dengan Tian dan Juna. Kedua mata Tian sontak terbelalak, kala melihat pakaian Citra banyak sekali darah.


"Citra kenapa, Stev?" tanya Tian.


Bukannya menjawab, Steven justru berlari menuju parkiran. Tian yang ikut panik segera menggendong Juna lalu berlari mengejarnya.

__ADS_1


"Biar Om yang menyetir!" Tian menahan Steven yang hendak memasukkan Citra ke kursi depan. "Kamu duduk di belakang sama Citra, Stev."


Tak ada waktu untuk menolak. Situasinya begitu genting. Tanpa banyak bicara Steven pun masuk ke dalam kursi belakang saat Tian membukakan pintu untuknya.


Kemudian, Tian dan Juna langsung masuk ke kursi bagian depan. Tian yang mengemudi langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi. Namun tetap berkonsentrasi.


"Jun, kamu punya hape nggak? Tolong telepon Opa," pinta Steven sambil meringis. Dia merasakan sakit pada lengannya sebab Citra mencengkeramnya dengan kuat.


"Juna nggak punya hape, Om. Nggak boleh sama Mami."


Tian merogoh saku dalam jas, lalu memberikan ponselnya kepada Juna. "Pakai hape Om. Telepon kontak nama Cintaku, Jun."


"Cintaku itu siapa?"


"Nomor Mamimu."


"Mau apa telepon Mami?"


"Beritahu dia kalau Tante Citra mau melahirkan."


Juna membelalakkan matanya. "Oke." Bocah itu mengetik-ngetik layar ponsel Tian, lalu menghubungi Nissa. "Tapi, Om. Mami 'kan bukan Dokter kandungan. Nggak bisa bantuin Tante Citra." Juna menoleh ke arah Tian dengan kening yang mengerenyit.


"Bukan mau bantuin. Tapi supaya—"


"Udah telepon aja! Banyak bicara kamu!" sentak Steven marah. Dia menyela ucapan Tian.


"Iya, sabar. Galak amat." Juna mengerucutkan bibirnya, lalu mengelus dada yang berdebar akibat kaget dengan bentakan Steven. "Halo, Mi," ucapnya saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Iya, Jun."


"Tante Citra mau melahirkan. Om Stevennya marah-marah."


"Kok bisa marah-marah? Kenapa? Dan sekarang Tante Citra ada di mana?" tanya Nissa.


"Iya. Galak banget Om Steven, padahal Juna cuma nanya kenapa—”


"Tante Citra ada di mana?" sela Nissa cepat. Kalau diteruskan ucapan Juna tadi, bisa-bisa memakan waktu yang cukup lama.


"Sekarang Juna sama Om Tian, Om Steven dan Tante Citra berada di dalam mobil. Mungkin mau ke rumah sakit."


"Rumah sakit mana?"


"Mami tanya rumah sakit mana Om?" Juna bertanya pada Tian sambil menoleh


"Rumah Sakit Harapan," jawab Tian.


"Rumah Sakit Harapan kata Om Tian, Mi. Nanti Mami datang sama Opa dan Oma, ya! Eh, ajak Kevin, Janet dan kedua anaknya juga. Siapa tahu mereka mau lihat Dedek bayinya Tante Citra yang mau lahir."


...Eh, buset Jun. Tante Citra mau lahiran, bukan mau karnaval 🤣 yang ada Opa Angga sekeluarga di usir sama satpam karena bawa-bawa keluarga burung 🤭...

__ADS_1


__ADS_2