
"Tapi aku tetap ...." Ucapan Fira menggantung kala melihat Steven yang tiba-tiba menabrak seorang pelayan yang membawa piring kotor di atas nampan. Untungnya tidak sampai jatuh.
"Maaf maaf, Mbak, aku nggak sengaja," ucap Steven. Alasannya menabrak lantaran hendak pergi dari sana.
Lantas, gegas pria itu pun melangkah cepat keluar dari restoran. Tian yang melihatnya sontak membulatkan mata, dia langsung berlari mengejar menantunya itu.
"Stev! Tunggu dulu!" Tian mencekal pergelangan tangan Steven. Saat pria itu hendak menyebrang jalan. "Om sama Fira nggak ada hubungan apa-apa lagi. Om cuma ngobrol sebentar sama dia tadi." Yang Tian pikirkan, Steven pasti akan salah paham dengan pertemuan di antara dia dan Fira.
Tian juga tak mau, jika nanti Steven berpikir kalau dia tidak benar-benar mencintai Nissa.
"Om sangat mencintai Nissa, Stev, Fira hanya mantan ...."
"Awas!" tegas Steven seraya menepis kasar tangan Tian. Setelah itu dia pun berlari menyebrang jalan.
Tian yang hendak menyusulnya seketika urung terjadi, lantaran mendengar Nissa yang memanggil namanya.
"Tian!"
Tian memutar kepalanya ke belakang. Wanita itu baru saja melangkah menghampiri.
"Kamu mau ke mana? Kok ninggalin aku?" tanyanya yang tak tahu apa-apa.
"Tadi aku ketemu Steven, Nis. Aku takut dia salah paham padaku."
"Salah paham kenapa?" tanya Nissa bingung.
"Saat kamu ke toilet, aku nggak sengaja bertemu mantan istriku. Kami sempat mengobrol sebentar di meja, dan aku nggak tahu sejak kapan Steven ada di restoran," jelas Tian memberitahu.
Nissa menatap ke arah pintu kaca. Melihat ke dalam sana. "Mana mantan istrimu? Dan memangnya, selain mengobrol kamu ngapain? Apa sambil cipika cipiki?"
Tian menggeleng cepat. "Demi Allah nggak, Nis. Mana mungkin aku cipika cipiki sama perempuan lain. Nggak berani aku."
"Nggak berani kenapa?" Nissa menatap serius Tian dengan mata yang memicing.
"Ya nggak berani. Kan aku hanya milik kamu seorang," jawabnya dengan malu-malu. Wajahnya langsung merona.
"Ah gombal kamu. Terus kenapa musti takut Steven salah paham? Aneh-aneh saja."
"Barang kali, Nis. Namanya pikiran orang 'kan nggak tahu. Kita langsung ke rumah sakit saja deh, yuk!" ajaknya seraya mengenggam tangan Nissa. Tetapi wanita itu menahan kakinya.
"Kita sudah pesan makanan tadi. Makan dulu saja, aku laper."
"Tapi kalau Steven marah gimana, Nis? Dan makin membenciku?"
"Nggak akan. Nanti aku akan jelaskan. Udah ayok masuk."
Pada akhirnya Nissa lah yang menarik lengan Tian, mengajaknya untuk masuk ke dalam restoran.
***
"Halo, pagi Pak Steven." Suara Dika terdengar dari ponsel Steven. Pria itu melakukan panggilan suara kepadanya.
"Pagi. Apa kamu menyimpan nomor Pengacara Harun, Dik?" tanya Steven.
__ADS_1
"Menyimpan, Pak. Ada apa memangnya?"
"Kirimkan nomornya kepadaku dan sekalian kabari dia, aku mengajaknya ketemu di Rumah Sakit Harapan."
"Baik, Pak. Tapi kenapa Bapak ada di rumah sakit? Bapak sakit?"
"Istriku melahirkan."
"Alhamdulillah. Laki-laki atau perempuan, Pak?"
"Kembar laki-laki."
"Masya Allah. Pasti lucu banget." Suara Dika terdengar begitu antusias sekali. "Selamat ya, Pak. Semoga kedua bayi Bapak sehat, panjang umur dan menjadi anak yang sholeh. Berbakti kepada kedua orang tuanya."
"Amin. Terima kasih, Dik."
"Sama-sama. Nanti pulang kerja saya dan Arif datang menjenguk ya, Pak."
"Boleh. Tapi jangan bawa tangan kosong, ya, belikan buah naga dan apel yang manis."
"Anak Bapak sudah bisa makan buah? Hebat sekali. Kan baru lahir."
"Bukan buat anakku. Tapi buat istriku. Udah cepat kirim nomornya."
"Iya, Pak."
Steven mematikan sambungan telepon, lalu sebuah chat masuk. Nomor Harun sudah dikirim oleh Dika.
Setelah menyimpan nomor tersebut, Steven melangkah cepat menghampiri Angga yang tengah duduk di kursi panjang di depan kamar inap sambil menyentuh perutnya. Sejak tadi pria itu kelaparan, menunggu Steven membeli sarapan untuk mereka berdua.
Steven melihat dari kaca pintu, ada Nurul di dalam sana tengah mengobrol dengan Sindi. Gegas dia pun masuk ke dalam sana.
"Kamu nggak mau sarapan berang Papa?" tanya Angga.
"Nggak, Papa saja." Steven menggeleng. Lalu melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti di ambang pintu.
"Aa kok lama beli sarapannya?" tanya Citra. Perempuan itu tengah duduk menimang-nimang Vano dengan gerakan kaku. Bayi mungil itu baru saja tertidur setelah kenyang menyusu.
"Iya, tadi ngantre." Steven tersenyum. Lalu melangkah mendekati dan duduk di samping Citra. "Kok bobo lagi dia, Cit?" tanyanya seraya mengecup kening Vano, lalu beralih mengecup pipi Citra.
"Iya, dia tadi habis nyusu, A."
"Nyusu mulu kerjaannya." Menoel lembut hidung mancung Vano.
"Namanya bayi ya begitu, Stev," jawab Sindi. "Kalau lompat-lompat 'kan nggak mungkin." Wanita tua itu tengah duduk di sofa bersama Nurul. Dia mengendong Varo yang sama-sama tengah tertidur habis ditimang-timang.
"Selamat buat kamu yang sudah jadi Ayah ya, Stev," ucap Nurul menatap Steven. Pria itu mengangguk dengan wajah datar. "Maaf Tante baru tahu sekarang kalau istrimu sudah melahirkan."
"Nggak masalah," jawab Steven.
"Si Fira ke mana? Kok lama banget dia nggak datang-datang, Nur?" tanya Sindi.
"Nggak tahu, dia bilang tadi beli minum ke restoran. Tapi nggak tahu deh, ke mana perginya."
__ADS_1
"Waktu itu bukannya Tante Safira ... ah, maksudku Mbak Safira." Citra meralat ucapannya. Sebab teringat jika status wanita itu sudah bukan Tantenya lagi. "Dia hamil ya, Tan? Sekarang sudah melahirkan belum?"
"Dia keguguran," jawab Nurul.
"Innalilahi," ucap Citra.
"Yang sabar, ya, Nur." Sindi merangkul bahu Nurul, lalu mengelus punggungnya. Dia sudah tahu sebab Nurul memang cerita. "Nanti kamu juga akan punya cucu lagi, kalau Fira menikah lagi."
"Iya." Nurul mengangguk. "Terima kasih, Bu."
*
*
Sekitar tiga puluh menit, pengacara Harun akhirnya datang. Steven pun mengajaknya bertemu di kantin rumah sakit. Ditemani Angga.
Menurutnya, apa yang akan dia lakukan Angga wajib tahu. Meskipun pria itu terkadang menyebalkan.
"Siang Pak Steven, Pak Angga," sapa Harun seraya menjabat tangan Steven dan Angga bergantian.
"Siang." Angga dan Steven menjawab secara bersamaan.
Setelah jabatan tangan itu terlepas, ketiganya pun lantas duduk di salah satu meja kantin. Harun duduk di depan Angga dan Steven.
"Kamu mau ngapain bertemu Pengacara Harun, Stev? Mau cerai sama Dedek Gemes?" tebak Angga yang tak tahu menahu.
"Sembarang aja Papa kalau bicara!" omel Steven sambil melolot. Harun juga sempat terkejut dengan apa yang Angga ucapkan. "Citra itu cinta sejatiku. Mana mungkin kami bercerai," tambahnya.
"Kirain. Papa 'kan nggak tahu."
"Kita pesan minum dulu," kata Steven seraya melambaikan tangan pada pelayan. Seorang pria berkemeja merah itu melangkah cepat menghampirinya.
"Mau pesan apa, Pak?" tanyanya seraya menyodorkan buku menu.
"Aku mau es susu," jawab Steven tanpa melihat buku tersebut.
"Aku kopi latte," jawab Harun yang sudah melihat buku.
"Aku luwak," jawab Angga.
Pelayan itu mencatat pada buku kecil yang dia pegang. "Makan atau cemilannya apa, Pak?"
"Kacang dan—"
"Nggak usah, itu saja," potong Steven cepat. Menyela ucapan Angga.
"Dih, Papa mau kacang, Stev. Masa minum kopi nggak ada temennya," ujar Angga.
"Kita akan bicara serius, Pa. Kalau sambil ngemil nanti Papa ngelantur ngomongnya," tegur Steven.
Angga langsung berdecak kesal.
...Ada yang bisa nebak, nggak? Om Steven mau membicarakan apa? 🤔...
__ADS_1
...btw kasihan Opa, ya, minta kacang aja ampe nggak boleh 🤣...