
"Om Ganteng nyebelin!" gerutu Citra seraya menghentakkan kedua kakinya dengan emosi.
"Kenapa marah-marah?" tanya seseorang yang baru saja menghampirinya. Dia laki-laki yang mungkin seusai Udin, tetapi wajahnya tampan dan berbulu mata lentik. Putih, juga tinggi.
Dia memakai hoodie berwarna putih, serta dengan kupluk di atas kepalanya. Tas ransel berada di punggung. Sejak tadi dia memperhatikan Citra yang tengah mengomeli benda pipih pada genggamannya.
Citra menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum canggung.
"Kamu nungguin siapa? Jemputan?" tanyanya lagi sembari mengulurkan tangannya ke arah Citra. Mengajaknya berkenalan. "Namaku Arya, kamu?"
Citra segera membalas uluran tangan itu, tetapi hanya sebentar. "Namaku Citra, Kak. Iya nih, aku sedang nunggu jemputan."
"Terus kenapa tadi marah-marah? Apa nggak jadi dijemput? Mau bareng nggak denganku? Aku bawa motor." Laki-laki bernama Arya itu menunjuk motor gedenya yang berwarna merah pada parkiran motor, yang hanya tersisa motornya sendiri di tempat itu.
Citra menggeleng lalu tersenyum. "Nggak, terima kasih, Kak. Aku jadi dijemput kok. Sekarang lagi di jalan orangnya."
"Oh begitu, oke deh." Arya mengangguk-angguk.
Mungkin sudah ada lima menit, Arya yang sejak tadi berdiri di samping Citra masih saja setia diposisinya. Gadis itu lantas menoleh dengan wajah bingung menatap Arya yang belum pergi.
"Kakak nungguin siapa?"
"Kamu."
"Kok aku?" Citra menunjuk wajahnya sendiri. "Aku 'kan sudah bilang nggak mau ikut dengan Kakak."
"Iya, aku tahu. Tapi aku mau menemani kamu tunggu jemputan."
"Kok begitu? Memangnya kenapa?" Alis mata Citra bertaut. "Aku sendirian juga nggak apa-apa kok. Kakak pulang saja."
"Dih, kok kamu ngusir? Aku 'kan mau temenin kamu karena takut ...."
Tit ... tit ... tit.
Ucapan Arya terhenti lantaran bunyi klakson mobil putih yang baru saja berhenti di depan mereka.
Keduanya langsung menatap seseorang yang turun dari mobil tersebut, dia adalah Gugun. Pria itu tersenyum menatap Citra.
"Maaf kalau menunggu lama, Nona. Tadi macet dijalan. Silahkan masuk." Pria itu membukakan pintu belakang mobilnya.
"Aku duluan ya, Kak. Sampai jumpa." Citra berlari kecil menuju mobil itu. Sebelum masuk dia melambaikan tangannya ke arah Arya.
"Iya, hati-hati, Citra!" Setelah melihat mobil itu keluar dari gerbang kampus, Arya langsung pergi menuju motornya.
*
__ADS_1
*
"Laki-laki tadi siapa, Nona?" Gugun bertanya sambil menatap kaca depan mobilnya yang memantul ke arah wajah Citra.
"Bukan siapa-siapa Om."
"Kok tadi mengobrol?"
"Iya, tadi sempat kenalan saja."
"Sebaiknya Nona jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain, selain Pak Steven. Apa lagi yang bernama Udin."
"Memangnya kenapa?"
"Nona 'kan sudah menikah dengan Pak Steven."
"Ah, Om Ganteng saja nggak mau dekat-dekat denganku, Om. Dia sombong." Citra mendengus kesal saat mengingat suaminya mendorong tubuhnya, baginya itu perlakuan yang kasar meskipun memang dia mendapatkan kesenangan karena bibirnya saling bertabrakan.
"Sombongnya bagaimana?"
"Ya sombong. Tiap aku peluk dia seperti risih dan nggak mau. Bahkan tadi siang aja dia sampai mendorongku hingga terjatuh," jelasnya memberitahu.
"Apa?" Gugun membulatkan matanya dengan lebar. "Pak Steven sampai mendorong Nona? Nona nggak berbohong, kan?"
"Dih, kapan sih aku berbohong. Aku 'kan jujur anaknya."
"Nggak ada. Malah tadi kita sempat ciuman."
"Apa?!" Kembali Gugun membulatkan matanya, merasa terkejut dengan apa yang Citra ucapan. Dia sampai refleks mengerem dadakan hingga membuat ponsel yang berada dalam genggaman Citra terjatuh di kolong kursi.
Ckitttt ....
Prang!
Tubuh Citra ikut tertarik ke depan. "Ih, kenapa Om mengerem dadakan? Ada apa, sih?" gerutunya. Dia mengulurkan tangannya ke bawah kolong kursi, lalu mencari-cari ponselnya.
"Maaf Nona, saya tadi kaget." Gugun menoleh ke belakang, dilihat gadis itu berhasil mengambil ponselnya lalu menyalakannya sebab tadi mati.
Gugun menarik gasnya pelan-pelan, kemudian kembali mengemudi.
"Selain berciuman ... Pak Steven melakukan hal apa lagi?" tanya Gugun penasaran.
"Ah Om kepo. Lagian itu 'kan bukan urusan Om." Citra tak menjawabnya, lantas dia pun bermain ponsel.
'Itu jelas urusan saya juga, Nona. Pak Steven nggak boleh berbuat macam-macam, apa lagi sampai membuat Nona hamil,' batin Gugun.
__ADS_1
***
Steven menghentikan langkahnya saat baru saja keluar dari ruang rapat. Dia telah menyelesaikan rapat dan tak sengaja bertemu Gugun di depan lalu menghampirinya. Wajah pria itu terlihat datar dan seperti memendam sesuatu.
"Eh, Gun. Kamu kok ke sini? Sudah jemput Citra, kan?" tanya Steven sambil tersenyum.
"Sudah. Apa Bapak ada waktu? Saya ingin bicara berdua."
"Ayok masuk ke ruanganku." Steven berjalan lebih dulu ke ruangannya, lalu Gugun mengekori.
Steven langsung duduk menyilang kaki di sofa panjang saat tiba di ruangannya, sedangkan Gugun di sofa single.
"Tadi kamu mengantar dia ke salon, nggak?" tanya Steven.
"Apa Bapak habis mendorong Nona Citra sampai jatuh?" Bukannya menjawab pertanyaan Steven, pria itu justru mengajukan pertanyaan. Wajahnya terlihat masam.
"Mendorong?" Steven mengerenyit dahi, dia terdiam beberapa saat seperti tengah mengingat-ingat. Tampaknya dia lupa.
"Ya, tadi pagi Bapak mendorongnya sampai terjatuh, kan? Dan setelah itu Bapak menciumnya?" Tebakan Gugun tepat sasaran. Steven yang mendengarnya pun lantas membulatkan matanya. Dia baru ingat.
"Kamu kata siapa?"
"Bapak nggak perlu tahu saya tahu dari siapa. Tapi coba jelaskan apa maksud Bapak? Kenapa Bapak menyakiti Nona Citra lalu melecehkannya? Apa Bapak lupa dengan janji Bapak sendiri?" Gugun menyerang beberapa pertanyaan bertubi-tubi kepada pria itu.
Terlihat Steven hanya geleng-geleng kepala saat mendengarnya. Tetapi dia sendiri benar-benar bingung mengenai dari siapa pria itu dapat mengetahui.
'Apa mungkin dia tahu dari Citra?' batin Steven.
"Pak, jawab!" tegas Gugun yang mana membuat pria itu terhenyak dalam lamunannya.
"Kamu jangan salah paham dulu. Aku mendorong Citra karena aku nggak sengaja. Soalnya dia memelukku dan nggak mau terlepas sampai pintu lift terbuka," jelas Steven ala adanya. "Apa kamu tahu ... gara-gara Citra aku sampai diledeki beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat. Aku malu, Gun."
"Kok bisa diledeki? Kenapa?"
"Ya karena mereka melihat. Dan mereka malah mengatakan aku nggak tahan."
"Nggak tahan apanya?"
"Mana kutahu, ya mungkin mereka berpikir kita habis berbuat mesum di lift, padahal 'kan nggak."
"Terus tentang berciuman dengannya itu apa? Jangan bilang Bapak mencari kesempatan dibalik kesempitan?" tebak Gugun curiga.
Steven terkekeh. "Nggak lah. Enak saja kamu kalau bicara. Kita itu tadi pagi nggak ciuman. Hanya nggak sengaja saling menabrak bibir. Soalnya saat Citra mau terjatuh ... dia menarik dasiku." Steven menyentuh dasi yang dia pakai.
"Apa Bapak berbohong?" Gugun menatap Steven dengan penuh selidik. Nampaknya dia belum percaya dengan apa yang pria itu sampaikan.
__ADS_1
"Nggak lah. Aku jujur, ngapain berbohong."
Gugun terdiam sebentar, lalu membuang napasmua kasar. "Tapi selanjutnya Bapak nggak boleh melakukan hal-hal seperti itu. Apa lagi sampai berbuat kasar pada Nona Citra. Saya harap ... Bapak nggak lupa dengan janji Bapak dan membuat kecewa almarhum Pak Danu," tegurnya serius.