
Rama memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus, setelah turun dari sana lantas dia masuk ke dalam gedung hotel sambil memberikan undangan pada para penjaga.
"Eh, Ram. Kamu datang sendiri? Di mana Daddymu?" tanya Angga. Datangnya pria itu bertepatan dengan dirinya.
"Daddy bilang nggak datang, Om. Dia mungkin hanya titip amplop saja sama asistennya."
"Oh begitu. Ya sudah, ayok makan. Tuh ... makanan banyak menantimu." Angga merangkul bahu Rama, lalu menunjuk prasmanan.
"Aku mau lihat si kembar, tapi sebelum itu aku mau ketemu Nissa dan Tian. Mau mengucapkan selamat sama mereka." Rama menatap ke arah kursi pelaminan. Ada Nissa yang duduk bersama Tian yang memangku Juna.
"Oh, boleh. Ayok Om antar," ajaknya. Mereka pun melangkah menuju ke sana. Sepasang pengantin itu langsung berdiri. Begitu pula dengan Juna yang langsung turun dari paha Tian.
"Selamat ya, Nis, Tian. Semoga kalian langgeng," ucap Rama sambil bersalaman dengan mereka secara bergantian.
"Amin, terima kasih. Tapi maaf, Bapak ini siapa, ya?" tanya Tian yang menatap asing Rama.
Sejujurnya Rama juga tak mengenalnya, hanya saja dia tahu Tian dari Mbah Yahya, yang mengatakan kalau pria itu akan menjadi suaminya Nissa.
"Ini Om Rama, Pi. Yang burungnya nggak bisa berdiri. Kan Juna pernah ... eemmmpppt!" Bibir Juna yang tanpa rem itu langsung dibungkam oleh Angga. Cepat-cepat dia menggendongnya dengan masih menutup mulut kecilnya.
"Ini Rama, anaknya Yahya. Temenku, Ti. Ah maksudnya, teman Papa." Angga segera meralat. Walau bagaimana pun Tian sudah menjadi menantunya, jadi akan lebih pantas jika dia memanggil kediri sendiri dengan sebutan 'Papa'
"Oh, yang waktu itu ketemu di cafe ya, Pa?" tebak Tian. Angga mengangguk.
Juna langsung menarik tangan Angga pada bibirnya, sebab dia menghirup aroma pesing pada telapak tangan sang Opa. "Tangan Opa bau pesing, pasti habis pegang burung," tuduhnya.
"Enak saja pegang burung. Nggak lah," bantah Angga sambil menggeleng. Dia sendiri tak ingat tangannya habis memegang apa.
"Terima kasih sudah datang, Pak, ayok makan dulu," tawar Tian.
"Iya. Nanti saja, aku mau lihat si kembar anaknya Steven," ucap Rama. Kemudian dia beralih menuju ke tempat duduk Steven dan Citra. Angga yang menggendong Juna pun ikut menemani Rama.
"Wah, kamu ke sini, Ram? Sama siapa?" tanya Sindi yang ada di sana. Dia langsung berdiri sambil tersenyum menatap pria di depannya.
"Sendiri, Tan. Mau lihat si kembar aku."
"Oh ini, mereka baru saja tidur." Sindi mengerakkan dagunya ke arah si kembar Al. Dua bayi mungil itu tengah tertidur pulas di dalam boxs bayi. Rama mengulas senyum dengan tangan yang menjulur. Dia hendak mengelus pipi salah satu dari mereka, tetapi tak jadi sebab merasa tak enak.
"Lucu sekali mereka. Namanya siapa?" tanya Rama menatap ke arah Steven.
"Alvaro dan Alvano. Panggilannya Vano dan Varo, Pak," jawab Steven.
"Nama yang bagus, cocok buat mereka."
__ADS_1
"Oh ya, Bapak ini Ramaditya bukan, sih? Kayaknya kita pernah ketemu deh, tapi di mana, ya, kira-kira?" Steven mengerutkan keningnya. Wajah Rama tampak familiar menurutnya, hanya saja dia lupa.
"Iya, namaku Ramaditya, Ramaditya Ardiansyah. Oh, apa kita pernah satu kuliah dulu. Kamu kuliah di mana?"
"Universitas Bina Nusantara," jawab Steven.
"Tuh 'kan bener. Aku juga kuliah di sana. Tapi kayaknya aku seniormu deh."
"Bapak umur berapa memangnya?"
"Kayaknya lebih tua aku sedikit. Tapi jangan bahas umur deh, aku malu." Wajah Rama tampak merah.
"Aku juga kuliah di sana, Om," kata Citra memberitahu.
"Oh, sama juga berarti. Bagus itu, Cit."
"Ajak Rama makan, Stev. Dia ke sini sendirian lho," pinta Angga.
"Kebetulan aku juga belum makan siang, ayok, bareng, Pak." Sebelum berdiri, Steven mengecup bibir Citra dulu sekilas. Kemudian setelah itu dia mengajak Rama pergi menuju prasmanan.
Angga pun segera mendudukkan bokongnya di sofa bekas bokong Steven, sedangkan Juna memilih untuk berdiri di dekat boxs bayi sambil menoel-noel pipi Vano.
"Safira tadi Papa bawa ke mana? Kok bisa dia ngamuk, Pa? Kayak orang kesurupan," tanya Citra bingung.
"Citra ...," panggil seorang gadis yang baru saja datang bersama pria di sampingnya. Mereka adalah Sisil dan Gugun, yang datang dengan memakai pakaian senada. Yakni Sisil dress brokat berwarna merah maroon, Gugun stelan jas rapih dengan dasi kupu-kupu.
"Eh, Sil. Kamu ternyata ke sini? Aku kira kamu nggak datang." Citra berdiri dan langsung memeluk sebentar tubuh temannya.
"Dateng dong, kan Kakakku diundang sama mertuamu. Masa nggak?"
"Ini ada hadiah untuk si kembar, mohon diterima Nona." Gugun memberikan paper bag besar yang dia bawa ke tangan Citra. Gadis itu mengambilnya dengan senang hati.
"Terima kasih, Om. Sil. Kok jadi repot-repot begini."
"Sama-sama, nggak kok," jawab Sisil seraya menyentuh perut. "Oh ya, aku mau numpang ke toilet boleh nggak? Aku mau pipis banget soalnya."
"Boleh dong, masa nggak." Yang menjawab Sindi. Wanita itu pun lantas berdiri. "Ayok Tante antar, kebetulan Tante juga mau pipis," ajaknya.
"Kakak tunggu di sana ya, Sil." Gugun menunjuk kursi kosong yang berada agak dekat dengan Rama. Pria itu dan Steven tengah makan sambil mengobrol dengan serius.
"Iya, Kak." Sisil mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki Sindi yang sudah lebih dulu berlalu pergi.
Di seberang, Tian tengah duduk di kursi sambil menatap arloji pada pergelangan tangan. Sudah menunjukkan pukul 12 siang.
__ADS_1
Dia memperhatikan beberapa tamu undangan. Dari banyaknya orang-orang di sana, Tegar sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Padahal sejujurnya, kehadiran pria itu sangat ditunggu-tunggu.
"Kamu cari siapa, Yang?" tanya Nissa yang sejak tadi memperhatikan suaminya. Tian langsung menoleh sambil merangkul bahunya.
"Aku nungguin Kak Tegar datang, Yang."
"Kak Tegar itu siapa?"
"Kakakku."
"Oh, kamu masih punya Kakak? Juna bilang kamu sebatang kara."
"Masih punya. Selain Citra, dia keluargaku. Tapi semenjak aku banyak hutang ... aku merasa dia seperti menjauhiku sampai sekarang, Yang. Kalau telepon juga jarang diangkat, bilangnya selalu sibuk."
"Kok gitu? Berantem nggak kamu tadinya?"
"Nggak." Tian menggeleng. "Cuma mungkin gara-gara aku punya hutang terus nggak bayar-bayar, jadi dia kesel sama aku."
"Sampai sekarang belum dibayar juga?"
"Udah."
"Mungkin memang dia lagi sibuk, tunggu sampai malam saja, mudah-mudahan dia sebentar lagi datang, Yang."
"Iya, mudah-mudahan. Kamu laper nggak, Yang? Mau makan sekarang atau entar?" tawar Tian seraya mengelus perut. Tetapi dia bukan merasa lapar, melainkan mules.
"Nanti deh, aku belum pengen. Coba ajak Juna saja. Dia daritadi kebanyakan ngemil, tapi belum makan." Nissa menatap ke arah Juna. Bocah itu tengah duduk di kursi sambil makan pisang bareng Kevin.
Ya, burung itu ikut hadir bersama Janet. Hanya saja tidak dengan kedua anaknya. Sebab tidak diizinkan oleh Angga, takut kalau makanan dan minuman untuk para tamu terkena beraknya. Sebab mereka belum bisa diatur.
"Nanti deh, aku mau ke toilet dulu. Mules aku, Yang. Kamu aku tinggal dulu sebentar, ya?" Tian mengecup pipi kiri istrinya, lantas berdiri.
"Iya." Nissa mengangguk.
Tian pun melangkah turun dari pelaminan. Juna yang melihatnya langsung berdiri dari kursi, kemudian berlari menghampiri. Meninggalkan Kevin yang masih sibuk makan.
"Papi mau ke mana? Kok Mami ditinggal?" tanyanya seraya menggenggam tangan Tian.
"Papi mau berak, Jun. Mules," jawab Tian sambil menyentuh perutnya sambil menahan ingin kentut.
Bola mata bocah itu sontak berbinar, dia langsung mengulum senyum. "Ayok bareng kalau gitu, Pi!" serunya dengan semangat. Kakinya sampai loncat-loncat.
...Ngajak bareng emang situ mules, Jun? nggak usah ngarang deh 🤣...
__ADS_1