
"Ya ...." Angga bersedekap.
"Tapi kenapa, Pak? Apa karena saya belum bisa melunasi hutang? Saya minta waktu, Pak. Minimal saya akan bayar nyicil kalau Fira sudah gajian," pinta Nurul dengan wajah memohon.
"Ini semua karena anakmu membuat ulah, dia mengacak-acak pesta pernikahan Nissa dan acara syukuran si kembar. Dia membuat aku dan seluruh keluargaku malu. Aku juga akan menyeretnya ke dalam penjara!"
Nurul kembali membulatkan mata. "Penjara? Jangan! Jangan, Pak!" cegah Nurul panik seraya mencekal pergelangan tangan Angga. Ketika pria itu hendak masuk ke dalam mobilnya. Melihat Angga menatap tangannya yang tengah dia pegang—segera Nurul melepaskan dan menarik tangannya. "Maaf, Pak. Tapi jangan penjarakan Fira, saya mohon ...," pintanya dengan kedua tangan yang mengatup.
Fira yang masih ada di dalam mobil Angga langsung tersentak, mendengar apa yang sang Mama katakan. "Penjara?" katanya dengan mata yang melebar sempurna. "Aku nggak mau masuk penjara, Om. Jangan penjarakan aku!" Mimik wajahnya langsung berubah menjadi pucat kala melihat Angga masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil itu pun melaju.
"Mama! Aku nggak mau dipenjara, Ma!" teriak Fira sambil memutar kepalanya ke belakang. Menatap Nurul yang berlari mengejar mereka. "Om Angga, aku minta maaf dengan apa yang telah terjadi. Tapi jangan penjarakan aku, Om. Aku mohon," lirihnya dengan sendu. Dia menatap Angga dari kaca depan. Pria itu terdiam tanpa ekspresi. 'Nggak. Aku nggak mau dipenjara. Dipenjara nggak enak. Aku nggak mau.'
*
*
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mobil Angga sampai di depan kantor polisi. Segera, pria itu turun dari mobilnya.
"Kalian juga turun," titahnya sambil menatap ke kursi belakang. Jarwo turun lebih dulu, lalu menarik Fira kemudian disusul oleh Bejo.
"Pak Angga!" teriak seseorang yang baru saja turun dari mobil taksi. Dia adalah Nurul.
Wanita itu tentu tak akan tinggal diam melihat anak semata wayangnya dipenjara. Meskipun Fira anaknya menyebalkan dan kadang kurang ajar, tetapi walau bagaimana pun dia tetaplah anaknya. Hanya Fira yang Nurul punya di dunia ini.
Langkah kaki Angga yang hendak masuk ke dalam kantor polisi tiba-tiba terhenti lantaran Nurul berlutut di hadapannya.
Kedua tangannya mengatup dengan wajah yang mendongak menatap Angga.
"Saya dan Fira akan keluar dari rumah, tapi tolong jangan penjarakan Fira, Pak. Hanya Fira yang saya punya di dunia ini," pinta Nurul sambil menangis.
"Aku nggak mau masuk penjara, Om. Di dalam penjara nggak enak, aku nggak bisa makan ayam dan shopping. Tolong maafkan aku," pinta Fira dengan wajah memelas.
__ADS_1
Tubuhnya mendadak terasa bergetar saat tatapan Angga begitu tajam menyorotnya. Sungguh, dia teramat takut. Dia tak mau masuk ke dalam sana.
"Aku tahu, apa yang aku lakukan tadi adalah hal gila. Tapi itu karena aku masih mencintai Mas Tian. Tolong maafkan aku, Om. Jangan penjarakan aku," pintanya sekali lagi.
Angga tersenyum miring lalu bersedekap. "Mencintai apanya? Aku lihat disini kamu nggak mencintai Tian. Yang kamu lakukan tadi hanya ingin mempermalukannya. Aku juga dengar ... kamu sempat memfitnah Nissa merebut Tian. Aku rasa kamu sudah gila, Fir." Terkekeh, lalu melangkah masuk ke dalam kantor polisi.
Fira pun langsung diseret paksa oleh Jarwo dan Bejo. Nurul juga ikut masuk dan kembali memohon ampun pada Angga.
*
*
Sekarang, wanita itu berlutut lagi di depan Angga saat mereka sudah sampai pada 'Ruang Keluhan' ada dua polisi yang tengah makan. Masing-masing sebungkus nasi Padang.
Namun, melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba, keduanya langsung mengakhiri suapannya.
__ADS_1
"Pak Angga, saya mohon ... jangan lakukan ini. Saya tahu Bapak ini orang baik. Tolong maafkan Fira, Pak. Saya berjanji dan jamin kalau Fira nggak akan melakukan hal gila lagi pada keluarga Bapak," pinta Nurul memohon. Air matanya kembali mengalir membasahi pipi.
...Udah penjarakan si Fira aja, Opa 😆 biar jadi janda sampai tua di sana 🤣...