
"Om punya ...." Tian mengantung ucapannya. Bingung untuk menjawab apa, sebab memang sekarang dia tak punya apa-apa. Namun kalau jujur, itu sama saja menjatuhkan harga diri menurutnya. Dan bisa saja bocah itu melarang hubungan yang sama sekali belum terjalin itu. "Om punya perusahaan, Om seorang CEO."
"Kata Mami, Om kerja jadi manager di restoran."
"Iya, tapi cuma mau cari pengalaman saja, Jun."
"Oh. Besaran mana sama kantornya Om Steven?"
"Sama."
"Besok ajak aku ke kantor Om, ya? Aku mau lihat."
Tian menelan saliva. Bagaimana bisa dia mengajaknya ke kantor, sedangkan kantor dia sendiri sudah disita oleh bank?
"Tapi besok 'kan bukan hari kerja. Kalau bukan hari kerja ... nggak boleh ke kantor, Jun," jawab Tian berasalan.
"Masa nggak boleh. Kantor itu 'kan milik Om. Papiku saja hari libur masih sering bolak balik ke kantornya."
"Nanti saja deh, Senin, ya?"
"Ya sudah. Terus, selain kantor, Om punya apa lagi?"
"Punya—"
"Lho, kok kalian ngobrol? Kenapa nggak nonton film?" sela Nissa yang baru saja datang. Kedatangannya itu langsung membuat Tian bernapas lega. Sungguh, dia tadi sempat tertekan.
"Nonton kok, Mi. Juna hanya mengobrol sama Om Tian sebentar." Juna langsung menatap ke arah depan dan kembali menonton.
*
*
"Ti, terima kasih, ya, dan maaf kalau Juna merepotkanmu," ucap Nissa saat mobil Tian berhenti di depan gerbang rumah Angga. Wanita itu memutuskan untuk menginap, karena Juna juga menginginkannya.
"Harusnya aku yang berterima kasih, karena sudah diizinkan ikut," jawab Tian dengan wajah yang bersemu merah.
Juna membuka pintu, lalu Janet segera keluar. Sedangkan Kevin memilih memeluk perut Tian terlebih dahulu.
"Hati-hati Om Hidung Belang!" serunya, lalu terbang keluar.
"Ya sudah, aku mau masuk dulu. Kamu hati-hati, ya?" Salah satu kaki Nissa sudah turun, namun lengan kirinya langsung dicekal oleh Tian.
__ADS_1
"Aku mau bicara dulu sebentar denganmu, Nis," pintanya.
Nissa mengangguk, lalu dia menatap Tian.
"Tapi berdua saja boleh nggak?" Tian menatap ke arah Juna, bocah laki-laki itu sedang menggenggam tangan Maminya.
"Jun, kamu masuk dulu, ya, nanti Mami nyusul." Nissa mengelus rambut anaknya.
"Memang Om Tian mau ngomong apa, Mi? Juna juga mau tahu," kata Juna penasaran.
"Ini obrolan orang dewasa, kamu nggak boleh tahu. Sudah sana masuk dulu," rayu Nissa.
"Tapi awas, ya, kalau Om Tian macem-macem!" ancam Juna. Matanya melotot lalu turun dari mobil. Bocah itu hanya masuk ke dalam gerbang, tidak ke dalam rumah. Menunggu Nissa.
"Maafin Juna, ya, Ti. Dia memang kadang posesif anaknya."
"Nggak apa-apa. Itu tandanya dia sayang sama kamu." Tian menjulurkan tangannya ke belakang, untuk meraih buket bunga. Sebelum Nissa datang, dia memindahkan bunga itu ke sana. "Aku tadi sekalian mampir beli bunga untukmu, Nis. Tapi lupa baru dikasih sekarang."
"Untukku?" Nissa menatap buket bunga mawar yang tampak cantik itu. Namun belum dia ambil.
"Iya, untukmu."
"Dalam rangka apa? Aku nggak lagi ulang tahun dan memenangkan sesuatu." Nissa mengambilnya lalu meraba bunga itu.
"Maksudnya?" Nissa tak paham. Keningnya mengerenyit.
"Maksudku pacar, Nis. Kamu punya pacar nggak?"
"Oh. Kalau pacar nggak punya aku, aku juga nggak mau pacaran."
"Kok nggak mau? Kenapa?" Belum juga Tian nembak, tapi jawabannya itu langsung membuat kecewa
"Ya buat apa pacaran, nambah dosa saja. Lagian umurku sudah bukan ABG. Apalagi sudah punya anak. Malu kayaknya."
"Berarti kamu mau carinya calon suami? Kamu mau langsung menikah gitu?"
"Kalau bisa sih ... aku nggak mau menikah lagi."
Tian membelalakkan mata, terkejut dengan jawaban Nissa. "Lho, kenapa? Juna pasti ingin punya Papi baru."
"Untuk sekarang sih dia belum minta, tapi nggak tahu juga kalau nanti." Nissa tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu nggak kepengen menikah lagi? Kamu masih muda, Nis. Cantik dan sempurna. Siapa pun pria pasti suka sama kamu."
"Aku trauma, takut kayaknya." Seketika, air mata Nissa mengalir membasahi pipi. Namun dengan cepat dia pun mengusapnya. Tangan Tian pun ikut mengusap.
"Takut kenapa? Apa dulu suamimu selingkuh?" tanya Tian penasaran.
Nissa menggeleng. "Ah, nggak usah membahas hal itu. Jadi kamu ingin bicara apa?"
"Nggak jadi deh, besok saja." Tian mengurungkan niatnya untuk nembak. Jawaban Nissa yang tidak mau pacaran dan tidak mau menikah membuatnya ragu. Pasti dia ditolak. "Maaf kalau gara-gara pertanyaanku buat kamu sedih. Aku nggak bermaksud, Nis," ucap Tian dengan wajah bersalah.
"Nggak apa-apa. Ya sudah, aku masuk dulu. Sampai ketemu besok, ya."
"Iya, selamat malam Nissa." Tian mengulum senyum dengan wajah merona.
"Malam." Nissa turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam gerbang.
Tian menatap Nissa yang tengah bergandengan tangan bersama Juna masuk ke dalam rumah. Momen itu terlihat hangat dan manis. Ingin rasanya Tian ada di antara mereka.
"Kasihan Nissa, sepertinya suaminya dulu begitu menyakiti. Sampai buat dia trauma dan takut untuk menikah lagi." Monolog Tian sambil mengepalkan kedua tangannya, mendadak dia emosi. "Bego banget ya, itu cowok. Kok bisa wanita sesempurna Nissa disakiti? Tahu begitu mah, kamu dari dulu nikah saja sama aku, Nis!" geramnya.
"Terus, sekarang bagaimana selanjutnya? Apa aku mundur saja?" Tian terdiam sejenak, memikirkan nasib hubungannya dengan Nissa. "Ah kalau mundur kayaknya nggak mau aku, udah kepalang tanggung. Mumpung bisa deket lagi sama Nissa, kapan lagi coba."
"Tapi sekarang, aku harus punya banyak uang dulu. Biar Juna merestui dan mungkin kalau aku bisa dekat dengan Juna ... Nissa akan luluh dan membuka hatinya kembali. Lalu kita menikah dan hidup bahagia." Tian mengulum senyum sambil berkhayal. "Berarti aku harus cari usaha sampingan, jangan ngandelin gaji dari bekerja menjadi manager doang."
Tian mengambil ponselnya pada kantong celana, lalu mencari nomor kontak teman kuliahnya yang bernama Thomi. Setelah ketemu, dia pun menelepon.
"Hallo, Thom. Apa kabar?" tanya Tian saat panggilannya itu diangkat oleh seberang sana.
"Kabar baik. Ada apa nih, Ti? Tumben telepon?"
"Aku dengar dari temen-temen katanya kamu sering ngasih pinjaman buat modal usaha gitu. Boleh nggak aku pinjam buat modal? Aku mau cari usaha sampingan nih."
"Boleh, mau pinjam berapa?"
"Kalau bisa sepuluh juta. Tapi bunganya berapa? Jangan gede-gede, ya, kita 'kan teman," rayunya.
"10 persen, Ti. Memangnya kamu mau usaha sampingan apa?"
"Belum tahu juga sih, nanti aku pikirkan kalau udah ada modalnya."
"Ternak lele saja mending. Modalnya nggak perlu banyak, tapi untungnya lumayan kalau berhasil," usul Thomi.
__ADS_1
"Memang berapa Thom? Untungnya bisa buat modal nikah nggak kira-kira?"
...Bagus sih, Om, kalau punya usaha sampingan. Tapi modalnya jangan pinjem juga kali 🤣 sadar dong, situ kan udah banyak utang 🙈...