
"Biarkan saja kalau Juna mau menginap, Pak," ucap Dono yang ikut menyahut. "Nanti biar mereka bertiga tidur di sana sama Della juga."
"Terus kamunya gimana, Don?" tanya Angga seraya menoleh ke arah Dono.
"Saya tidur di kamar sebelah. Atau di sofa." Dono menepuk sofa yang dia duduki. "Eh, apa Bapak mau ikut menginap juga? Bapak bisa tidur di kamar sebelah, Pak."
"Kalau Juna menginap pasti aku harus menginap. Masa si Juna ditinggal sendirian di sini. Nanti merepotkan."
"Enak saja merepotkan." Juna menimpali dengan wajah yang langsung cemberut. "Nggaklah Opa. Juna 'kan udah gede. Bisa makan sendiri, mandi sendiri, kencing sendiri dan berak sendiri."
"Juna nggak akan merepotkan, Pak." Della membuka suara. Perlahan dia mengelus rambut kepala Juna. "Lagian, saya juga kangen banget mendengar suara anak kecil dan bayi. Adanya Juna dan Silvi mengobati semua kerinduan saya, Pak."
Angga menatap kembali ke arah Della dan Juna. "Syukur deh kalau kamu dan Dono nggak merasa direpotkan. Tapi kalau ada apa-apa nanti malam ... kamu kabari aku, ya?"
"Iya, Pak." Della mengangguk cepat.
"Kamu nggak boleh berisik dan terus menganggu Silvi, ya! Apalagi kalau dia ngantuk mau tidur. Kalau mau cium sekedarnya saja, jangan berlebihan. Kasihan dia, masih kecil," tegur Angga kepada cucunya.
"Iya." Juna mengangguk paham. "Juna ngerti kok. Udah sana Opa pulang, tengokin si Jordan. Nanti burungnya difoto dan kirim ke hapenya Om Dono atau Tante Della, ya! Juna mau lihat soalnya."
Angga mengangguk. Dia lantas mendekat untuk mengecup pipi Juna. Lalu mengambil lima lembar uang berwarna merah untuk diberikan kepada Della. "Ini buat si Juna jajan, Del."
"Nggak usah, Pak. Biarin." Della menggeleng. Menolaknya. "Saya ada uang kok kalau buat si Juna jajan."
"Dia kalau jajan maunya yang banyak. Anaknya rakus. Udah terima saja." Angga menaruh uang tersebut di atas kasur sebab belum diterima. Kemudian kakinya melangkah keluar kamar dan menghampiri Dono lagi. "Kamu antarkan aku pulang dulu, Don. Nanti habis itu kamu pulang lagi ke sini. Tungguin Juna saja sambil istirahat momong anak barumu."
"Saya nggak perlu jaga rumah Bapak malam ini? Nanti si Bejo sendirian dong."
"Biarkan saja."
__ADS_1
"Opa! Nanti kalau Om Dono ke sini lagi ... sambil bawa baju ganti, ya. Terus, belikan Dedek Silvi mainan. Tapi pakai uang tabungan Juna yang ada di Mami!" pinta Juna setengah berteriak. Takutnya Angga tak mendengar.
"Iya." Angga mengangguk. Kemudian melangkah keluar dari rumah sederhana itu bersama Dono dan masuk ke dalam mobil. 'Enak banget si Nissa dan Tian. Bisa indehoy nonstop. Bisa-bisa mereka pada encok nih pagi-paginya,' batin Angga seraya terkekeh geli.
Mobil miliknya pun langsung melaju pergi dengan Dono yang mengemudi.
Tak lama, terdengar suara dering panggilan masuk ponsel milik Angga. Pria tua itu langsung mengambil benda pipih itu pada kantong celana, dan ternyata pihak polisi yang menelepon.
"Halo, semalam sore Pak Angga," sapa pria dari seberang sana.
"Sore, Pak," jawab Angga.
"Saya ingin memberitahu kalau sampai sekarang ... Nona Safira belum berhasil ditemukan, Pak. Dia seperti hilang entah kemana," jelas Pak Polisi memberitahu.
"Kok bisa?"
"Iya. Apa Bapak masih ingin memenjarakannya? Atau pencarian kami dihentikan saja? Soalnya sudah mau semingguan. Tapi belum ada tanda-tanda keberadaannya. Padahal kami dan para anggota sudah menyebar ke berbagai kota."
***
Di kamar hotel.
Nissa mengerjapkan matanya secara perlahan kala merasakan perutnya begitu lapar. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih enam ronde, dia dan Tian sama-sama tepar di atas kasur.
"Astaghfirullah! Sudah mau Isya!" seru Nissa yang tampak terkejut kala melihat jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 19.00. Bola matanya itu seperti hendak keluar.
Mendengar suara Nissa yang memekik cukup keras, Tian yang tengah tidur sambil memeluknya itu langsung membuka mata.
"Ada apa, Yang? Kok teriak-teriak?" tanya Tian sambil mengucek kedua matanya yang terasa rabun. Seluruh nyawanya terasa belum sepenuhnya kumpul.
__ADS_1
"Ayok kita pulang, Yang. Ini sudah malam. Sepertinya kita tidur terlalu lama." Nissa menyingkirkan tangan Tian pada perutnya. Perlahan dia pun bangkit. Tetapi seketika seluruh tubuhnya begitu sakit, berikut dengan inti tubuhnya yang terasa perih seperti lecet. "Sss ...," desisnya seraya menyentuh miliknya.
Tian perlahan duduk dan meraih ponselnya di atas nakas. Ada sebuah chat masuk dari Angga. Seketika dia pun tersenyum dengan mata yang berbinar setelah membaca isi pesan itu.
"Wah, si Juna katanya mau menginap di rumah Pak Dono, Yang. Kata Papa kita boleh menginap sampai malam di hotel," ucap Tian yang memberitahu isi chat dari Angga.
"Juna menginap di rumah Pak Dono?!" Kening Nissa mengerenyit. Dia merasa heran, sebab tak biasanya Juna ingin menginap ke rumah orang lain, selain dari keluarganya. "Kok bisa, Yang? Apa sama Papa juga?"
"Nggak tahu. Ini aku tanya Papa dulu deh." Tian segera menghubungi Angga via telepon dan tak lama panggilan itu diangkat oleh seberang sana. "Halo, Pa."
"Iya. Udah puas kamu sama Nissa?" tanya Angga sambil cekikikan.
Wajah Tian dan Nissa langsung bersemu merah. Mereka berdua mendengar apa yang Angga katakan sebab memang panggilan itu dispeaker.
"Ini, aku mau tanya, kok Juna tumben mau menginap di rumah Pak Dono. Memangnya ada apa ya, Pa?" tanya Nissa sambil mengusap wajahnya. Tian mendekat dan langsung mengecup bibir.
"Ini semua karena anak barunya si Dono, Nis. Tadi pagi Papa mengantarkan dia dan istrinya ke panti asuhan untuk mengadopsi bayi. Terus mereka mengambil bayi perempuan, tapi anehnya wajahnya mirip Tian," jelas Angga memberitahu.
"Mirip aku?" Tian berbicara. "Kok bisa, Pa?"
"Papa juga nggak tahu. Apa mungkin perasaan Papa sama Juna saja kali, ya."
"Tapi hubungannya sama bayi itu apa?" tanya Nissa kembali.
"Si Juna kepengen main terus sama dia. Diajak pulang nggak mau. Semenjak di rumah Dono dia jilatin terus pipinya. Bener-bener tu anak. Kamu ngidam apa, sih, Nis? Kok bisa Juna doyan jilat-jilat pipi bayi?" tanya Angga setengah mengomel.
"Aku dulu ngidam es lilin. Sama suka jilatin ...." Nissa menggantung ucapannya saat sadar ada Tian yang bersamanya. Malu rasanya kalau jujur. "Pokoknya ngidam es lilin aja yang aku ingat, Pa," jawabnya berbohong. "Tapi memangnya nggak apa-apa, si Juna menginap di sana? Apa perlu aku dan Tian bujuk dia supaya pulang?"
"Nggak apa-apa kata si Dono Kasino Indro. Eh, maksudnya si Dono dan Della. Kalian nggak perlu ke sana. Besok saja ke sananya. Nanti sekalian jemput si Juna."
__ADS_1
"Papa ada foto bayinya Pak Dono nggak?" tanya Tian yang entah mengapa dia menjadi sangat penasaran. Ingin melihat wajah bayi yang Angga maksud. "Yang katanya mirip aku. Kok aku jadi penasaran, ya? Kenapa bisa mirip?"
...Kan benih Papi, wajar mirip 🤣 Pada ingat nggak pas bikinnya di mana? 🤠Kalau masih ingat sih aku terharu, ya 😆...