
Mata Steven seketika panas, juga dengan dada dan telurnya. Rahang di wajahnya begitu mengeras.
Namun, dia tampak menahan emosi. Supaya tak mengeluarkan kata-kata kasar.
"Kenapa harus sama Papa?" tanya Steven dengan ketus.
"Waktu itu aku pernah ketemu Papa di depan makam. Terus dia ngajakin aku beli es krim, jadi aku mau pergi beli es krim lagi sekarang sama dia, Om," jelas Citra dengan lembut.
"Nggak boleh! Sama aku saja belinya!" tegasnya tanpa menerima bantahan. Dia menarik pinggang Citra lalu mengajaknya keluar rumah.
Di halaman rumah sudah terparkir rapih sebuah mobil Toyota Sienta berwarna putih. Kendaraan roda empat itu multi guna (multi purpose vehicle/MPV) dengan pintu geser berkapasitas tujuh penumpang. Mobil tersebut adalah mobil hadiah dari Rizky dan Nella.
Baru hari ini mobil itu diantar dan Steven memutuskan untuk langsung memakainya . Tentu dengan Jarwo yang menyetir.
"Selamat pagi, Nona, Pak Steven," sapa Jarwo ramah sembari menggeserkan pintu mobil. Untuk Steven dan Citra masuk.
"Pagi," jawab Steven singkat.
"Om ... aku mau pergi beli es krimnya sama Papa," pinta Citra sekali lagi. Tetapi Steven tak menggubris, dia menarik lengannya untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi.
Namun, baru saja dia hendak masuk ke dalam mobil. Entah datangnya dari mana, tiba-tiba Angga masuk ke dalam mobilnya. Duduk di kursi depan di samping Jarwo.
"Papa ngapain masuk mobil? Tanpa permisi lagi!" protes Steven marah. Dia pun menuju pintu depan, lalu membukanya. Tepat posisi Angga berada. "Turun."
"Tadi Papa dengar Dedek Gemes minta beli es krim sama Papa. Ya jadi Papa ikut dong, kamu ini gimana, sih?" Angga memutar bola matanya dengan malas.
"Papa salah dengar, sekarang turun, aku mau anterin Citra ke kampus lalu pergi ke kantor." Steven menarik lengan Angga, tetapi segera ditepis oleh papanya.
"Enak saja salah dengar, kamu kira Papa budeg? Papa tadi ada di pos satpam, dan suara Dedek Gemes cukup keras."
"Tapi aku nggak mau Papa ikut! Sekarang turun!" tekan Steven yang mulai emosi. Darahnya mendidih.
"Kalau kamu nggak mau ikut ya sudah, kamu langsung saja pergi ke kantor. Noh! Minta diantar Bejo." Angga menunjuk Bejo yang sedang bersiul, bercengkrama dengan Kevin.
Steven menarik lengan Citra, mengajaknya keluar dari mobil. Kemudian menuju mobilnya Angga. Namun saat hendak masuk, pintunya dihalangi oleh Angga.
"Kenapa kamu bawa Dedek Gemes? Kan dia sudah bilang kalau mau beli es krim sama Papa, Stev?!"
"Nggak boleh!" tegas Steven. Dia mendorong Angga untuk menjauh dari mobil itu. Berusaha mengajak Citra untuk masuk ke dalam, tetapi gadis itu menahan tubuhnya.
"Aku mau pergi beli es krimnya sama Papa, Om. Sebentar saja, aku kepengen."
"Kamu kok tega sih ngomong kayak gitu? Aku suamimu lho, Cit. Masa kamu mau pergi dengan pria lain, daripada sama aku?"
__ADS_1
"Kamu nggak usah lebay deh, Stev. Papa ini mertuanya. Masa dibilang orang lain. Biarkan saja kenapa, sih?" Angga menimpali.
Steven menoleh ke arah Angga, wajahnya tampak merah padam. Kesal, marah dan sedih sudah menyatu menjadi satu.
"Biarkan biarkan, memang aku nggak tahu Papa? Papa itu ganjen!"
"Ganjen apanya sih? Memang selama kamu tinggal disini ada Papa godain Citra?"
"Ada!"
"Kapan?"
"Pokoknya ada dan sering. Papa juga selalu mencuri-curi kesempatan supaya bisa merangkulnya, memeluknya. Memang aku nggak tahu?"
"Jangan fitnah kamu! Kalau pun Papa ingin memeluk dan merangkul itu 'kan sebagai Papa mertua. Wajar!"
"Nggak ada wajar, Papa itu mesum dan berotak kotor!"
"Enak saja mesum, Papa nggak mesum. Yang mesum justru kamu, Stev!" berang Angga sambil melotot.
"Papa yang mesum!" Steven ikut-ikutan melolot.
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kalian berdua sama-sama mesum!" teriak seseorang yang baru saja datang. Dia adalah Sindi.
Dilihat kedua pria berbeda generasi saling melayangkan pandangan dengan sengit. Mereka sama-sama emosi, tetapi yang lebih dominan adalah Steven. Sebab wajah merahnya tampak jelas.
Saat Citra mengatakan ingin membeli es krim bersama Angga, dia langsung berpikir kalau Steven pasti akan murka. Dan ternyata memang benar. Itu juga alasannya datang, supaya merelai perdebatan di antara ayah dan anak itu.
Sindi tahu, bagaimana hati keduanya. Dua-duanya memang menyukai Citra. Dan tentu itu akan membuat peperangan di antara keduanya.
"Kalian nggak usah berantem, mending pergi bertiga saja beli es krimnya biar adil," ujar Sindi yang menengahi. Dia tak berpihak pada siapa pun, yang terpenting ngidam menantunya terlaksana.
"Papa nggak keberatan," ujar Angga.
"Aku yang keberatan!" protes Steven.
"Kamu nggak apa-apa 'kan kalau belinya bertiga. Papa dan Steven, Cit?" Sindi meminta pendapat pada Citra. Wajah gadis itu tampak merah, matanya berkaca-kaca. Tangan kirinya menyentuh perut.
"Nggak apa-apa, yang penting ada Papa," jawab Citra pelan.
__ADS_1
Api di dalam dada Steven langsung berkobar, begitu panas sekali dia mendengar jawaban itu.
"Nggak usah diperpanjang. Supaya nggak buang-buang waktu. Katanya kamu juga mau ke kantor, kan? Ada meeting nggak?" Sindi bertanya pada Steven. Dia mengelus dada anaknya. Seolah mengerti jika ada sesuatu yang pastinya mengganjal di dalam sana.
Steven membuang napasnya kasar. Apa yang dikatakan Sindi ada benarnya, sepertinya dia harus pasrah meskipun hati tak ikhlas.
"Ya sudah, tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Sindi dan Angga berbarengan.
"Papa dilarang ngomong."
"Maksudnya?" Kening Sindi mengerenyit.
"Selama diperjalanan Papa dilarang ngomong, apalagi sama Citra. Kan Mama tahu Papa genit." Steven tak mau, jika nantinya omongan Angga membuatnya tambah emosi.
"Ya sudah, nggak masalah." Sindi langsung menatap Angga. "Papa diam saja nanti sampai membeli es krim, habis itu pulang. Nggak usah ikut Citra dan Steven ke kampus atau kantor."
"Ini nggak adil namanya, Ma. Masa Papa harus puasa ngomong? Lebay banget si Steven." Angga manatap sengit Steven. Ingin rasanya dia sembur wajah Steven yang menyebalkan itu.
"Puasa ngomongnya sebentar ini kok, nggak selamanya. Sudah sana kalian berangkat. Kasihan Citra, udah ngiler banget tuh." Sindi menarik lengan Citra, kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobil baru.
Steven dan Angga melangkah malas menuju mobil itu, kemudian ikut masuk.
"Jangan berantem, kasihan sama ibu hamil," tegur Sindi. Dia tersenyum dan mengelus puncak rambut Citra, gadis itu kembali mencium punggung tangannya. "Kalau mereka berbuat ulah. Telepon Mama, nanti Mama datang dan bawa gunting."
"Gunting buat apa, Ma?" tanya Citra bingung.
"Buat potong burung mereka."
Angga dan Steven langsung terkesiap, keduanya secara bersamaan menyentuh rudalnya masing-masing.
Di dalam perjalanan, Steven menatap Angga dari kaca depan mobil. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling diam.
Namun, Steven gagal fokus pada penampilan Angga. Pria tua itu memakai kaos putih pendek dan kolor pendek. Tidak ada yang salah, hanya saja kolornya berwarna hijau dan itu mengingat Steven pada kado yang dia berikan.
"Kenapa Papa memberikanku kado kolor?" tanya Steven. Dia mau protes sekarang juga.
Angga diam saja, tak menjawab pertanyaan Steven.
"Memang nggak ada, ya, barang lain selain kolor? Dan kenapa Papa juga pakai kolor ijo sekarang?" tanya Steven lagi. Tetapi Angga masih tak menjawab, dia hanya menatapnya dari kaca dengan bibir bertaut. "Kenapa Papa diam saja? Papa dengar nggak sih aku ngomong?!" geramnya marah.
...Lha, gimana sih, Om, kan situ yang minta Opa nggak boleh ngomong 🙄...
__ADS_1