Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
234. Kamu rayu dia


__ADS_3

"Jangan!" tekan Kevin dengan mata yang melebar. "Kamu jahat namanya, Jun. Itu 'kan anakku. Masa kamu makan?!"


"Iya, nggak boleh, Jun," tegur Angga. "Telurnya Janet itu nggak boleh dimakan, Kevin dan Janet bikinnya susah."


"Memangnya caranya gimana?"


"Sama kaya manusia."


"Oh. Tapi di sekolah banyak orang yang jual telur puyuh. Katanya itu dari burung juga, Opa."


"Iya, tapi 'kan beda jenis burungnya. Kalau burung puyuh memang telurnya untuk dikonsumsi. Tapi kalau telur burung Kakatua ... itu harus dirawat, biar menetas dan jadi burung," jelas Angga lembut.


"Nanti akan ada bayi Kakatua dong, Opa?"


"Iya." Angga mengangguk.


"Wah, makin rame dong nanti." Juna tersenyum dengan wajah ceria. "Juna jadi nggak sabar, tapi nanti mirip Kevin nggak kira-kira ya, Opa?" Menatap ke arah Kevin, lalu mengelus jambulnya.


"Pasti mirip, kan dia Bapaknya," jawab Angga, kemudian menatap Kevin. "Kamu balik lagi ke sangkar sana, temenin Janet. Nanti besok Papa cek telurnya."


"Iya. Janet juga bilang lapar, mau makan kangkung," ujar Kevin.


"Sudah bilang sama Bibi?"


"Sudah." Kevin perlahan mengibaskan sayapnya. "Selamat malam Papa, Kakak Steven, Juna," ujarnya. Yang menjawab hanya Angga dan Kevin saja. Steven tak memerdulikannya.


"Malam."


Setelah itu, Kevin lantas terbang keluar dari rumah.


***


Mata sejak tadi terpejam, tubuh sejak tadi berbaring dengan tertutup selimut. Tetapi entah mengapa Nissa belum bisa tidur juga.


Bayangan tentang burung Tian seolah menari-nari di dalam otaknya. Sungguh, ini sangat menganggu. Padahal, sejak tadi siang Nissa mencoba untuk melupakan.


Perlahan Nissa membuka matanya, lalu menarik tubuhnya hingga duduk. Dilihat Juna sudah terlelap dari tidurnya sambil memeluk guling.


Mendekat, kemudian membungkuk seraya mengecup kening Juna dengan penuh kasih sayang.


"Kalau lagi tidur begini kamu alim ya, Jun. Tapi kalau sudah bangun benar-benar nggak bisa diam. Apalagi mulutmu, pinter banget ngomong," gumam Nissa sambil tersenyum. "Tapi Mami seneng, akhir-akhir ini Mami lihat kamu seperti bahagia. Mami juga ikut bahagia, Sayang." Lengannya terulur menuju rambut kepala Juna, kemudian mengelusnya.


"Daripada nggak bisa tidur dan memikirkan hal-hal yang tidak-tidak, mending aku cek laporan keuangan. Tapi mau buat teh hijau dulu deh." Nissa menyibakkan selimut, lalu menjatuhkan kedua kakinya di lantai seraya melangkah.

__ADS_1


Namun, baru saja selangkah hendak beranjak, ponselnya tiba-tiba saja berdering panggilan masuk dari nomor baru.


Nissa duduk kembali seraya mengangkat sambungan telepon. "Halo."


"Halo, selamat malam. Apa ini Nissa?" tanya pria dari seberang sana.


"Iya. Ini siapa?"


"Aku Rama. Maaf, apa aku menganggumu, Nis?"


"Nggak. Ada apa ya, Pak?"


"Besok siang aku mau mengajakmu makan di restoran sama Juna. Mau nggak kamu?"


"Nanti aku tanya Juna dulu, ya, Pak."


"Iya. Besok kabari aku dan jangan lupa save nomorku ya, Nis."


"Iya, Pak."


"Selamat malam, Nis. Salam buat Juna."


"Malam juga, Pak." Nissa tersenyum, lalu mematikan sambungan telepon. Setelah itu dia pun menaruh benda pipih tersebut di atas nakas.


"Nis, kamu belum tidur?" tanya Angga yang baru saja melangkah menghampiri. Keluarnya Nissa dari kamar bertepatan dengan keluarnya pria itu dari kamarnya sendiri.


Nissa menatap sang Papa. Dilihat wajah dan leher Angga berkeringat, napasnya juga terdengar tersendat-sendat.


"Papa habis ngapain? Kok keringetan?"


"Biasa lah, Nis, Mamamu. Udah tua tapi kalau nggak digoyang semalam saja suka ngambek." Bohong, aslinya Angga lah yang minta duluan.


Nissa menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. "Dih Papa tega ngomong kaya gitu di depanku. Apa nggak mengerti perasaanku?" Wajahnya mendadak masam. Merasa kesal mendengar apa yang Angga ucapkan. "Setahun lho aku, Pa. Kalau kepengen 'kan nggak ada lawan."


"Ah, maaf-maaf, Sayang, bukan Papa bermaksud menyakitimu." Angga mengusap rambut kepala Nissa, lalu menampar bibirnya sendiri. "Papa kalau ngomong memang suka nyeplos, biasa ngomong sama Steven dan Sofyan nggak pakai filter, jadi suka lupa."


"Ya harusnya jangan dong. Ah aku mau ngambek deh, besok mau pulang sama Juna." Nissa melengos, lalu melangkah turun ke arah tangga. Angga segera menyusulnya hingga wanita itu menuju dapur.


"Papa minta maaf, Sayang. Besok-besok nggak akan kaya gitu," pinta Angga pelan. Lalu menarik kursi dapur dan duduk di sana. Anaknya itu tengah mengambil cangkir di dalam rak kayu. "Oh ya, Nis. Papa mau ngobrol dong sama kamu. Buatkan Papa teh juga."


"Ngobrol apa? Ini 'kan sudah malam," tanya Nissa tanpa menoleh.


"Ini penting tentang Juna."

__ADS_1


Setelah membuat dua cangkir teh hijau dan meletakkan di atas meja, Nissa pun perlahan menarik kursi di samping Angga. Lalu duduk.


"Ini tehnya buat Papa nggak kamu kasih gula, kan?" Angga menunjuk cangkir di depannya.


"Iya." Nissa mengangguk.


"Oh ya, Nis. Tadi sore 'kan Papa sempat mengobrol sama Juna. Katanya ... dia mau punya Papi baru," ucap Angga. Sontak Nissa membulatkan matanya dengan lebar, dia tampak terkejut sekaligus heran.


"Masa sih, Pa? Bagaimana dia ngomongnya?"


"Ya cuma ngomong mau punya Papi baru saja. Eemm ... kamu sendiri, bagaimana?" Perlahan Angga mengenggam tangan Nissa. Tangan lembut wanita itu terasa hangat sekali.


"Aku nggak tahu." Nissa menggeleng. "Tapi Juna nggak ngomong sama aku lho, Pa."


"Mungkin belum. Tapi pasti nanti juga ngomong. Oh ya, Papa dengar dari Juna ... katanya kamu ketemu Om Yahya dan Rama anaknya, ya? Menurutmu, bagaimana si Rama?"


"Bagaimana gimana maksudnya?" Nissa menatap Angga dengan kening yang mengerenyit. Tak paham dengan arah pembicaraan sang Papa.


"Dia masuk kriteria kamu nggak? Dia itu duda perjaka, Nis. Istrinya meninggal sebulan yang lalu karena serangan jantung. Dan kata Mbah Yahya ... Rama suka sama kamu."


Nissa langsung terkekeh, kala mendengar kalimat belakang yang Angga ucapkan. "Suka padaku? Papa ini ngarang. Masa dia suka? Kan aku dan Pak Rama nggak kenal. Kenalnya juga baru tadi pagi."


"Dia bilang begitu, tapi malu ngomongnya."


"Aku nggak percaya, Pa. Sudah ah, aku mau ke kamar dulu." Nissa berdiri, lalu mengangkat piring kecil penyangga cangkir.


"Tunggu, Nis!" Angga mencekal pergelangan tangan Nissa saat sang anak hendak melangkah. Wanita itu pun menoleh. "Mulai besok dan seterusnya, Papa nggak mau kamu dan Juna bertemu dengan Tian. Papa nggak suka padanya, Nis. Dia bukan pria baik-baik, Papa nggak mau kamu sampai jatuh hati pada pria yang tidak tepat."


"Aku dan Tian hanya berteman, Pa. Aku juga nggak suka sama dia."


"Iya, sekarang nggak suka. Tapi nggak tahu nanti. Mangkanya jangan sering ketemu. Nomornya juga diblokir saja," saran Angga.


"Tapi Junanya bagaimana? Juna yang terus merengek minta ketemu. Besok saja dia bilang mau sarapan dengan Tian."


"Kamu rayu dia."


"Papa saja. Kan Papa yang lebih pinter merayu."


"Ya sudah, nanti Papa rayu Juna." Perlahan Angga melepaskan tangan Nissa, lalu membiarkan putrinya itu melangkah menjauh meninggalkannya. 'Semoga saja apa yang Juna katakan memang sebuah gosip yang tidak benar. Aku berharap Nissa bersama Rama saja, jangan dengan Tian. Pria itu nggak cocok bersanding dengan anakku.'


Angga mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu menelepon Mbah Yahya. Tak berselang lama panggilan itu pun diangkat dari seberang sana.


...Om Tian udah berubah Opa 😟🤧...

__ADS_1


__ADS_2