Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
362. Biar dia ngerasain


__ADS_3

"Nasi uduk itu apa?" tanya Kevin bingung.


"Makanan, buat sarapan," jawab Angga.


"Oh. Tapi beli di mana?"


"Itu diseberang jalan. Sini deh." Angga berdiri lalu melangkah. Kevin pun langsung terbang mengikutinya menuju jendela. Setelah itu Angga menyibak gorden tersebut, lalu menunjuk sebuah kios berwarna merah yang ada di seberang jalan. Di sana memang ada yang menjual nasi uduk.


"Kenapa bukan Om Bejo saja yang beli? Kenapa harus saya?" tanya Kevin heran. Seumur-umur dia baru sekali membeli sesuatu, yakni kuaci. Itu juga kerena Janet yang menginginkan.


"Memangnya kenapa kalau kamu yang beli? Nggak bisa kamu?!" Angga menatap mata Kevin dengan sorotan tajam dan seketika membuatnya takut.


Dari kemarin, Kevin sudah kenyang diancam. Maka dari itu dia sampai bisa bersama Angga sekarang.


Awal Angga datang ke apartemen Steven, Angga memang sengaja ingin membawa si Kembar pergi tanpa sepengetahuan Suster Dira.

__ADS_1


Itu adalah sebuah strategi supaya Steven mau pulang ke rumah.


Dia datang bersama Sindi dan Bejo, keduanya juga menurut saja. Sebab mungkin apa yang dikatakan Angga ada benarnya.


Kalau masalah Kevin yang bisa ikut, awalnya Angga mengancam jika dirinya tidak ikut—dia akan menyuruh orang untuk menembak Janet hingga tewas.


Angga mengatakan hal itu dengan posisi Janet sudah ada di dalam sangkar.


Dari pas mereka datang ke apartemen, mereka tak sengaja ketemu Janet yang tengah makan jagung di meja pos, dan tanpa sepengetahuannya Janet langsung ditangkap lalu dimasukkan ke dalam sangkar yang memang sengaja mereka bawa.


"Bi-bisa, Pa!" sahut Kevin cepat. "Asal, Janet dan anak-anak saya dilepas dari sangkar, ya?" pintanya.


Selain Janet yang berada di sangkar, Luna dan Luki juga ada di sana. Mereka dimasukkan ke dalam ketika Kevin setuju ingin ikut dengan Angga, tentu dengan tujuan yang utama adalah membuatkan teh manis untuk Sindi yang hamil muda.


"Nggak boleh, nanti yang ada kalian malah kabur!" tolak Angga menegaskan. "Kalian akan dilepas kalau kita sudah kumpul lagi ke rumah. Tentunya kalau Kakakmu yang keras kepala itu mau pulang," tambahnya.

__ADS_1


"Baiklah." Kevin menjawab dengan nada lesu, lantas mulai mengibaskan sayapnya.


"Jangan berani-berani buat kabur, ya, Vin, nyawa keluargamu ada ditangan Papa," ancam Angga lagi seraya membuka jendela.


"Siap, Pa." Kevin pun perlahan terbang pergi dari gedung bertingkat itu, kemudian menuju penjual nasi uduk.


"Pa, sampai kapan kita ada di sini? Mama mau pulang," ucap Sindi yang baru saja menghampiri. Kemudian duduk di sofa sambil menyentuh perutnya yang mendadak terasa kram.


Mereka sebenarnya ada disebuah apartemen, dan itu apartemen milik Citra.


Angga langsung menoleh, kemudian ikut duduk di samping istrinya. "Nanti, Ma, kalau Steven sudah pusing nyari si Kembar."


"Tapi kita jahat nggak, sih, bawa kabur si Kembar begini? Pastilah mereka pusing. Apalagi Citra yang masih menyusui." Sindi langsung memikirkan Citra dan rasanya dia tak tega.


"Steven saja jahat kok sama Papa, masa Papa nggak boleh jahat sama dia?" Angga mendengkus kesal mengingat saat dimana Steven dan Kevin pergi. "Biarkan saja, biar dia ngerasain ... nggak enaknya ditinggalin anaknya, sama halnya seperti kita kemarin, Ma," tambahnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


...Nggak boleh begitu Papa, kalian harusnya berdamai 🙈...


__ADS_2