
Segera Nissa pun berbalik badan, lalu berlari dari sana lantaran panik dan malu sendiri.
"Wow, burung Om Tian gede banget! Tapi kok ada bulunya, Om?" Juna menatap takjub seraya berjongkok. Tian langsung menutup benda keramatnya itu dengan kedua tangan.
Dilihat wajahnya sudah sangat merah. Sakit di bokongnya tak seberapa, tapi malunya yang amat luar biasa. Kalau saja saat ini dia bisa menghilang, Tian akan memilih untuk menghilang.
Juna pun berdiri mendekati Tian, lalu meraih lengannya. Ingin membantunya untuk berdiri.
"Nggak usah, Jun. Om bisa sendiri, tolong ambilkan handuk saja," pinta Tian seraya menunjuk handuk putih pada gantungan. Juna langsung berdiri, lalu naik ke atas kloset untuk meraihnya. Setelah itu memberikan pada Tian.
Namun, bocah itu tetap ingin membantu meskipun Tian menolak. Saat dirinya sudah menutupi tubuh bagian bawah dan susah payah hendak menarik tubuhnya untuk berdiri, Juna meraih lengan kanan Tian dan menaruhnya ke pundak. Supaya pria itu mempunyai pegangan selain tembok.
"Maaf ya, Jun. Om pasti berat," ucap Tian tak enak hati. Langkahnya tertatih-tatih keluar kamar mandi lalu menuju tempat tidur.
"Nggak apa-apa, aku 'kan kuat Om." Juna mengantar pria itu sampai berbaring di atas kasur. Lalu perlahan dia pun menarikkan selimut sampai perut. Parsel buah yang dia bawa ditaruh di atas nakas.
Kepala Juna menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Nissa yang baru sadar sudah tak ada.
"Di mana Mami?" gumamnya. "Sebentar, ya, Om," pamit Juna. Tian hanya mengangguk. Bocah itu melangkah keluar dari kamar, dan ternyata sang Mami berada di samping pintu. Tengah berdiri sambil menempelkan punggungnya di tembok.
Wajah wanita itu tampak merah padam, jantungnya berdebar dan dadanya terlihat naik turun. Nissa capek karena berlari tadi, ditambah dia juga syok.
Memang, Nissa sudah pernah melihat barang pria milik suaminya. Namun tetap saja, jika itu milik orang lain terlihat aneh dan malu rasanya.
"Mami kok ada di sini? Ayok masuk, Mi. Juna mau sarapan sama Om Tian," pinta Juna.
"Kamu saja berdua, ya, Mami nggak ikut." Nissa memberikan kantong plastik yang berisi bubur dan susu di tangannya.
"Kenapa? Mami 'kan belum sarapan?"
"Mami kenyang, kamu saja. Mami tunggu di mobil, ya, kalau kamu sudah selesai menjengkuk Om Tian ... kamu keluar."
"Dih, masa Mami nggak jengkuk Om Tian? Aku doang?"
"Tadi 'kan Mami udah ketemu dia."
__ADS_1
"Tapi cuma sebentar. Ayok masuk dong, jangan begini. Kasihan Om Tiannya." Juna menarik lengan Nissa secara paksa. Lalu membawanya masuk ke dalam.
Tian langsung mengalihkan pandangannya, tak berani menatap Nissa. Begitu pun dengan Nissa. Wajah dua orang itu sama-sama merona.
"Nis, aku minta maaf, ya." Setiap kali bertemu Nissa, permintaan maaf adalah hal yang selalu terucap di bibirnya untuk pertama kali.
Dan lagi-lagi, Tian menjadi pria yang tak ada harga diri di depan wanita idamannya itu. Bukannya terpesona, Nissa pasti sangat ilfiil padanya.
"Kamu nggak salah apa-apa kok," jawab Nissa seraya duduk. Lalu membuka beberapa penutup cup bubur dan menaruhnya di atas meja.
"Tolong apa yang kamu lihat tadi lupakan saja, Nis. Tadi benar-benar kecelakaan, aku terpeleset dan aku juga nggak tahu kalau kamu dan Juna akan datang ke rumahku. Kejadian tadi terasa begitu cepat," jelas Tian panjang lebar. Perasaan berkecamuk. Kesal, sedih bercampur malu, telah menumpuk menjadi satu. 'Baru juga semalam aku melihat senyuman yang aku rindukan, tapi sekarang semuanya seolah hancur. Memalukan sekali, mana Juna juga lihat,' batinnya pilu.
"Iya." Nissa mengangguk samar.
Juna menatap Tian, lalu berbalik menatap Nissa. Kedua manusia itu saling menjaga pandangan.
"Om Tian sama Mami kenapa, sih? Masa cuma masalah tadi kalian marahan?"
"Om nggak marah." Tian menggeleng cepat.
"Seneng!" seru Tian dengan anggukan cepat. "Banget malah. Eh, tapi ... kamu kok sama Mami bisa tahu Om pulang?" Tian mencoba menepis semua rasa malunya, dan menganggap semua yang telah terjadi tidak pernah terjadi. Dia tak mau kecanggungannya kepada Nissa membuat Juna berpikir yang tidak-tidak. Tian teramat bahagia sebenarnya, melihat mereka datang untuk menjenguk.
"Ya tahu dong, kan kemarin aku sudah ngomong kalau mau menjengkuk Om Tian lagi. Tadi pagi kita ke rumah sakit iya, kan, Mi?" Juna menoleh ke arah Nissa meminta sahutan. Wanita itu pun hanya menyahuti dengan anggukan kepala. "Terus kata dokter Om Tian sudah pulang. Padahal, Om 'kan masih sakit. Kok pulang sih, Om?" Juna mendekat dengan wajah sedih. Lalu duduk di atas kasur di samping Tian. Perlahan dia pun menyentuh perut pria itu.
"Om sudah sembuh kok." Tian tersenyum lalu mengusap rambut kepala Juna. "Kamu nggak sekolah? Ini sudah siang, kan?" Melirikkan matanya ke arah nakas. Jam wekernya menunjukkan pukul 8.
"Aku libur, Om, hari ini. Gurunya rapat. Oh ya, Om sudah sarapan belum? Aku bawa bubur." Juna menjatuhkan kakinya, lalu melangkah ke arah Nissa untuk mengambil dua bubur yang sudah sang Mami siapkan. Kemudian dia menghampiri Tian lagi, lalu duduk di atas kasur di sampingnya.
"Om sudah sarapan tadi, Jun, buburnya buat kamu saja," tolak Tian dengan halus.
"Dih, kok sudah sarapan? Padahal aku dan Mami sengaja belum sarapan karena ingin sarapan bareng." Juna merengut sedih, menatap bubur yang sudah dingin di tangannya.
Tian pelan-pelan meraih tubuhnya untuk duduk, lalu mengambil satu mangkuk di tangan Juna.
"Beneran ini satunya buat Om?" Sejujurnya Tian kenyang karena tadi habis sarapan dengan Ahmad, namun tak enak kalau menolak. Dia merasa kasihan dan tak tega melihat wajah sedih Juna. Jarang-jarang juga dia bisa sarapan bersama mereka.
__ADS_1
"Katanya tadi udah sarapan?" Juna manatap Tian penuh arti.
"Om hanya sarapan susu kok tadi," jawabnya berbohong. "Ayok kita sarapan bareng," ajak Tian lalu menyendokkan bubur itu dan melahapnya ke dalam mulut. Nissa juga ikut sarapan di sofa.
"Lho, kok kamu diam saja? Kenapa nggak ikut sarapan juga?" Tian menatap heran Juna yang tengah memperhatikannya makan. Tapi dilihat bocah itu menelan ludah. "Apa mau Om suapi?" tawarnya. Dan seketika bola mata Juna langsung berbinar.
"Sini makan sama Mami. Kamu pasti mau disuapi," titah Nissa. Sudah hafal betul dia, kalau Juna memperhatikan orang makan dengan ekspresi begitu ujung-ujungnya pasti minta disuapi.
"Juna mau disuapi Om Tian, Mi," pinta Juna pelan.
"Jangan, Om Tian lagi sakit." Nissa berdiri lalu menghampiri Juna. Dia sempat melihat Tian mengunyah sambil meringis dan menyentuh perut.
"Nggak apa-apa, Nis. Biar aku yang suapi Juna." Tian menahan lengan Juna yang hendak ditarik oleh Nissa. Dia pun meraih mangkuk bocah itu lalu menyendok bubur. Juna langsung membuka mulut ketika suapan itu hendak mendarat. Kemudian mengunyahnya dengan cepat.
Wajah Juna tampak merona, kepalanya pun ikut bergoyang ke kanan-kiri. Tampaknya dia senang, disuapi Tian.
"Beli di mana ini kamu buburnya? Rasanya enak, Jun," ucap Tian seraya menyuapi Juna lagi.
"Di tempat langganan Mami, Om. Di sana memang buburnya enak." Juna mendekat, lalu memeluk tubuh Tian. "Nanti setelah Om sembuh, kita ke sana ya, Om. Makan bubur di sana."
"Oke."
"Oh ya, Om. Kemarin aku 'kan main kelereng sama temanku. Pakai kelereng dari Om. Aku menang terus tahu, kelerengku jadi banyak sekarang di rumah," celoteh Juna sambil mengunyah.
"Wah benarkah? Kamu hebat berarti. Nanti coba sekali-kali main kelereng sama Om, ya?"
"Om memangnya bisa main kelereng?"
"Bisa dong. Masa nggak bisa."
Nissa tersenyum. Lalu memundurkan tubuhnya dan duduk kembali di sofa, dia pun melanjutkan sarapannya sembari memperhatikan mereka berdua yang tengah berinteraksi.
Keduanya terlihat begitu akrab, seperti sudah lama saling mengenal. Nissa dapat merasakan kehangatan di dalam dada, saat melihat senyuman bahagia yang terpancar jelas di wajah Juna.
...Udah cocok noh, Mbak, mereka jadi Ayah dan anak 🤣...
__ADS_1