Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
79. Salam cinta dari Citra


__ADS_3

Setelah berhasil membawa Gugun pergi, Jarwo dan temannya itu balik lagi. Keduanya pun lantas mencekal pergelangan tangan Harun.


"Lepaskan dia!" tekan Steven saat kedua pria itu hendak menarik Harun.


"Tapi, Pak. Dia—"


"Biarkan dia di sini!" sergah Steven. Dia masih penasaran dengan alasan kedatangan Harun ke sini, sebab dulu dia pernah ingin bertemu tapi pria itu tak bisa lantaran padatnya jadwal.


"Bapak jangan macam-macam! Apa lagi sampai memukul Pak Steven!" ancam Jarwo sambil menuding jari telunjuknya ke depan wajah Harun. Setelah itu dia dan temannya melepaskan tangan Harun lalu melangkah pergi.


"Apa kedatanganmu juga ada hubungannya dengan gugatan perceraian?" tanya Steven sambil mengelus pipinya yang terasa kebas.


"Iya, Pak. Boleh saya duduk?" Harun melihat ke arah kursi kecil.


"Silahkan, duduk saja."


Harun mengangguk dan segera duduk di sana. "Saya di sini menjadi pengacara Nona Citra, Pak. Dan kemarin sore saya bertemu dengannya. Saya diminta untuk mengurus perceraiannya dengan Bapak," jelas Harun dengan tenang.


"Apa Citra mengatakan sesuatu selain apa yang dikatakan Gugun tadi?" Steven sungguh penasaran dan masih tak menyangka, jika Citra bisa senekat ini sampai ingin bercerai. Kalau hanya karena dirinya bukan menantu idaman, Steven tentu ingat jika gadis itu sedang berusaha untuk menjadi menantu idaman Mamanya. Itu juga alasan mengapa Citra mau kursus masak.


"Dia bilang kalau dia sakit hati sama Bapak. Karena Bapak nggak mau mengenalkannya dengan orang tua Bapak. Dan dia juga sudah tahu kalau Bapak dan Nona Fira punya niat untuk menikah."


Penjelasan Harun sontak membuat Steven terbelalak, dia tampak kaget mendengarnya.


"Tahu dari mana dia?"


Steven sangat menutup rapat masalah itu. Tetapi aneh sekali, kenapa Citra bisa tahu—pikirnya.


Namun, sebuah rahasia kalau terus ditutup-tutupi suatu saat pasti akan terbongkar. Apa lagi niat Steven secara tidak langsung adalah jahat. Jahat karena ingin bercerai dengan Citra lalu langsung menikah dengan Fira, atau menikahi Fira tanpa sepengetahuan Citra.


Ya, salah satu itu adalah niat Steven.


Harun menggeleng. "Saya nggak tahu, Pak. Nona Citra hanya mengatakan hal itu saja."


"Tapi kok kamu bisa menyetujuinya, sih? Kan aku menikahi Citra sampai dia genap 20. Itu sekitar tiga bulan atau empat bulan lagi kalau nggak salah. Iya, kan?"


"Itu memang benar. Tapi intinya mau tiga bulan atau sekarang ... kalian juga tetap bercerai 'kan, Pak? Jadi untuk apa menundanya." Harun manatap Steven dengan serius. "Ya ... bisa saja sih kalau memang kalian ingin mempertahankan rumah tangga, tapi kata Nona Citra juga ... Bapak nggak bisa mencintainya."


"Kan kamu juga tahu alasan itu karena Ayah, Run. Janjiku pada Ayah sangat berat."

__ADS_1


"Iya, saya tahu. Tapi itu hanya perjanjian di atas kertas. Kalian menikah sah di mata hukum dan agama. Dan kalau semisalkan Bapak melanggar janji itu ... janji itu akan batal."


"Maksudnya batal?"


"Ya batal, Pak Danu pernah bilang begitu kepada saya."


"Maksudnya? Dan kapan kamu dan Ayah bicara? Apa dimimpi?" Entah mengapa hal yang dikatakan Harun mengingatkan Steven dengan mimpinya. Perkataan itu hampir sama dengan apa yang Danu katakan.


"Itu saat beliau meminta saya membuatkan kontrak pernikahan. Dia berpesan pada saya ... kalau Bapak melanggar poin-poin penting dalam perjanjian itu, itu berarti semuanya batal."


Mata Steven seketika mendelik. "Melanggar? Maksudmu dengan menyentuh Citra?"


"Ya, saya juga sudah tahu kalau Bapak dan Nona Citra sudah melakukan hubungan badan."


"Dari siapa? Citra?"


Harun mengangguk cepat. "Ya."


"Apa Gugun juga tahu?"


"Saya nggak tahu kalau masalah itu, kemarin saya hanya berbicara berdua dengan Nona Citra saja."


Steven langsung termenung. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi pikirannya terlalu ruwet untuk dijelaskan.


"Apa aku boleh minta waktu?" pinta Steven sembari menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Sakitnya bukan karena penyakit, tetapi pusing.


"Minta waktu untuk apa?"


"Aku bingung. Aku takut salah mengambil keputusan."


Harun tampak manggut-manggut. "Sekarang saya tanya, apa Bapak sudah mencintai Nona Citra?"


Steven menggeleng samar. "Aku nggak tahu, sepertinya belum."


"Kalau dengan Nona Fira? Apa Bapak mencintainya?"


"Aku juga nggak tahu. Tapi ...."


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Semua orang pasti punya kriteria wanita idaman 'kan, Run. Sama halnya denganku. Dan aku melihat ... kriteria idamanku ada didiri Fira."


"Kalau begitu kenapa harus bingung? Lepaskan saja Nona Citra. Toh, dia bukan wanita idaman Bapak, kan?"


"Tapi aku nggak bisa melepaskannya, Run. Rasanya berat." Steven menggeleng cepat.


"Alasannya?"


"Aku merasa takut, takut dengan nasibnya nanti. Kamu 'kan tahu bagaimana om-omnya Citra. Mereka semua jahat, aku takut Citra kenapa-kenapa."


"Kalau masalah itu Bapak nggak usah khawatir. Tentang harta warisan sudah aman, asalkan jangan ada yang tahu kalau kalian bercerai sebelum Nona Citra berumur 20 tahun. Dan ada Pak Gugun juga ... dia bersedia melindungi Nona Citra sampai kapan pun."


"Sampai kapan pun?" Dada Steven seketika sesak. Entah mengapa diakhir kata-kata itu seolah membuat hatinya tersindir. "Maksudnya sampai kapan pun itu apa? Apa Gugun akan menikahi Citra setelah aku bercerai dengannya?"


Steven menggeleng cepat. 'Nggak! Aku nggak rela kalau Citra menikah lagi, apalagi dengan Gugun. Itu nggak boleh!'


"Kalau itu saya juga nggak tahu, Pak. Eeemm ... oke, saya akan memberikan Bapak waktu beberapa hari. Saya sarankan Bapak sholat istikharah saja, mungkin dengan begitu Bapak bisa menentukan pilihan." Harun perlahan berdiri lalu membenarkan jasnya yang terlipat. "Tapi saya juga nggak jamin, ya. Kalau Bapak memilih Nona Citra ... dia akan kembali dengan Bapak."


"Kenapa? Kenapa begitu?" Mata Steven seketika berkaca-kaca. Rasanya sedih sekali mendengar hal itu.


"Seseorang yang sudah sakit hati bisa memaafkan, tapi sampai kapan pun rasa sakit itu akan selalu ada, Pak. Dan itu yang membuat saya ragu, ragu jika Nona Citra akan memberikan Bapak kesempatan," jelas Harun, lalu dia pun merogoh saku dalam jasnya dan memberikan sebuah amplop kecil ke tangan Steven. "Ini dari Nona Citra, Pak. Kalau begitu saya permisi, semoga Bapak cepat sembuh," katanya dan setelah itu dia pun melangkah keluar dari kamar.


Steven cepat-cepat merobek ujung amplop untuk mengambil kertasnya, setelah itu dia pun membuka lipatannya. Di dalam kertas itu adalah sebuah tulisan tangan, dan tulisannya itu mirip dengan tulisan pada kartu ucapan buket bunga.


Tidak terlalu bagus, tetapi cukup jelas untuk dibaca.


...Om Ganteng. Maafkan aku, ya, kalau selama ini aku selalu merepotkan, menyebalkan dan selalu membuat Om marah....


...Jujur ... semua itu aku lakukan bukan sengaja kok Om. Aku berani bersumpah....


...Aku harap Om tanda tangan surat dari Om Gugun, ya. Dan Om jangan berpikir aku ini marah. Aku nggak marah kok sama Om....


...Aku melakukan hal itu karena memang menurutku itu yang terbaik. Aku ingin melihat Om bahagia, selalu tersenyum hingga lesung pipi Om terlihat. Karena dengan begitu Om akan tambah ganteng. Sangat sangat ganteng....


...Dan dengan kita berpisah ... Om juga nggak akan merasa terbebani lagi. Aku sudah ngomong sama Ayah kemarin, meminta izin padanya dan aku yakin dia mengizinkan. Karena dia juga sayang sama Om dan mau Om bahagia....


...Sepertinya apa yang pernah Om katakan dulu, Om ingin menikah lagi setelah kita bercerai, kan? Mungkin setelah ini semua keinginan Om akan terkabul, karena sudah ada Safira di sisi Om....


...Terima kasih untuk segalanya, untuk momen kita selama satu bulan lebih. Om sudah menjadi suami yang terbaik di dunia ini. Tapi maaf ... kalau aku belum bisa menjadi istri yang terbaik....

__ADS_1


...Salam cinta dari Citra....


Percaya deh, Citra pas nulis surat itu pasti sambil nangis 😭


__ADS_2