
"Nggak musti, yang penting cantik, bahenol dan berwarna pink," jawabnya.
"Apanya yang pink?" tanya wanita yang dipanggil Mami itu.
"Itunya, Mi."
"Yang bawah?"
"Iya. Soalnya banyak yang komplen klien kita, katanya cewek yang kita punya itunya item. Jadi mereka pada kecewa, Mi."
"Kalau berbulu gimana?"
"Nggak masalah. Kan bisa dicukur."
"Mesti dilihat dulu berarti, pink atau nggaknya. Memangnya klien kita berani bayar berapa?"
"Pasarannya 15 juta. Usahakan umurnya dibawah 30, Mi."
"Oke. Mami akan cari wanita seperti itu," katanya kemudian menutup panggilan.
Setelah 30 menit berkendara, akhirnya dia pun sampai pada tujuan yakni rumah mewahnya. Berwarna pink terang.
Mobil putih mengkilapnya itu terparkir rapih di depan sana dan dia langsung turun.
"Selamat siang, Mi!" sapa seorang pria berbadan besar dan berkulit hitam yang berlari menghampiri, bersama temannya yang memiliki tubuh yang mirip.
"Siang." Mami itu tersenyum tipis. "Ambilkan belanjaanku di bagasi belakang, ya?"
"Oke." Kedua pria itu mengangguk. Kemudian melangkah menuju bagasi belakang mobil.
Perlahan mereka membuka, dan sontak saja kedua bola matanya itu terbelalak kala melihat Fira tengah berbaring di sana. Dia lantas turun dari bagasi dan langsung merapihkan pakaiannya.
"Nona siapa?"
Pertanyaan dari pria itu membuat langkah Mami yang menuju pintu utama rumahnya terhenti. Lantas berbalik badan dan mendekat ke sana.
"Maaf, Pak. Aku—" Ucapan Fira terhenti lantaran Mami berteriak.
"Astaga! Kamu menghancurkan barang-barangku!" sergah Mami yang tampak panik dan marah, saat melihat dua paper bag belanjaan itu penyok di bagasi. Mungkin itu akibat tubuh Fira menimpanya.
Segera, Mami pun mengambil dua paper bag. Kemudian mengambil isi di dalamnya. Salah satunya adalah sepaket teko dan gelas berbahan emas. Hampir semuanya pecah kecuali satu gelas.
__ADS_1
Sedangkan isi paper bag yang kedua adalah blazer. Tetapi itu aman, tidak ada kerusakan.
"Kamu harus mengganti rugi! Teko dan gelas ini puluhan juta tahu, nggak!" teriaknya marah seraya meraih tangan kiri Fira dan meremmasnya. Kukunya yang panjang-panjang itu seakan mencakar kulit wanita itu.
"Maaf, Bu. Aku nggak tahu kalau—"
"Aku nggak butuh maaf!" sentaknya cepat. "Ganti rugi sekarang! Teko dan gelas ini seharga 20 juta!"
Mata Fira mendelik. Uang segitu mana mungkin dia punya. Setiap gajian dia selalu menghamburkannya, tidak ada yang ditabung.
"Aku nggak ada uang segitu, Bu."
"Sekarang masuk ke dalam mobilku! Aku akan membawamu ke kantor polisi!" ancamnya seraya menarik lengan Fira. Pintu belakang mobilnya sudah dibuka oleh salah satu pria berbadan besar itu.
Fira langsung menggeleng, kemudian menurunkan tubuhnya untuk bersujud di kaki Mami guna memohon ampun.
Niat dia masuk ke dalam bagasi adalah untuk menghindari polisi. Kalau Mami itu membawanya ke sana berarti sama saja dia akan tertangkap.
"Maafkan aku, Bu. Tolong jangan bawa aku ke kantor polisi. Aku akan menuruti permintaan Ibu atau jadi pembantu di rumah Ibu, untuk membayar teko itu." Selain itu, Fira juga ingat kalau sekarang sudah tidak punya tempat tinggal karena diusir oleh Angga.
Mami menarik lengan Fira, membuat wanita itu berdiri kembali. Setelah itu dia pun memperhatikan seluruh tubuhnya.
"Siapa namamu?"
"Fira."
"Aku akan memaafkanmu, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Kamu harus ikut aku ke Samarinda."
"Samarinda?" Kening Fira mengerenyit. "Mau ngapain ke Samarinda, Bu?"
"Kerja."
"Kerja apa?"
"Kerjaan di sana banyak. Tapi yang pasti gajinya gede. Sebulan kamu bisa langsung membayar ganti rugi atas apa yang telah terjadi." Sengaja Mami tak memberitahu dulu, sebab takutnya Fira menolaknya.
Bola mata Fira seketika melebar sempurna. Jika bicara tentang uang dan jumlah nominal yang besar, pastinya dia tergiur. Sekarang saja belum apa-apa dia sudah membayangkan uang beberapa lembar seratus ribuan ada di tangannya.
__ADS_1
"Sebulan gajinya 20 juta, Bu?" tanya Fira.
"Iya." Mami mengangguk cepat.
"Wah, gede banget. Lebih gede dari kerjaku menjadi sekertaris. Aku mau, Bu. Tapi di sana dikasih tempat tinggal nggak?"
"Ada kossan. Tenang saja."
"Kasurnya empuk nggak? Terus nyaman nggak?"
"Nyaman, tenang saja. Kalau begitu ayok masuk. Kamu harus tanda tangan kontrak kerja dulu sama Mami." Mami merangkul bahu Fira, kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah. Wajah wanita itu tampak berseri. Dia sungguh bahagia.
'Lebih baik aku pergi dari Jakarta saja. Mungkin memang jodohku ada di Samarinda. Pria di sana pasti ganteng-ganteng juga, kan, nggak kalah dengan yang di Jakarta. Aku akan mencari yang ganteng dan kaya seperti Pak Steven. Nanti setelah menjadi istri orang kaya aku akan pulang ke Jakarta untuk membeli rumahnya Om Angga. Memangnya cuma dia, yang bisa mengambil rumahku. Aku juga bisa kali, ngambil rumahnya!' batinnya sambil tersenyum licik. Ada sebuah dendam di dalam dada, setelah apa yang telah Angga perbuat padanya.
Fira duduk di sofa ruang tamu. Menunggu Mami yang sempat pamit karena ingin ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Tak berselang lama, dia pun kembali dengan membawa selembar kertas dan pulpen. Kemudian meletakkannya di atas meja di depan Fira.
"Cepat tanda tangan disini, Fir." Mami menunjuk tempat untuk tanda tangan di atas materai. Fira yang tengah membaca surat kontrak kerja itu langsung dihalangi oleh Mami. "Cepat ditandatangani, sebelum Mami berubah pikiran dan menyeretmu ke penjara!" ancamnya.
Fira langsung tersentak. Karena takut, dia tidak berpikir panjang dan langsung tanda tangan. Padahal, kontrak kerja itu adalah bukti kalau seumur hidup dia dengan suka rela menjual diri. Tanpa paksaan tentunya.
Namun dengan catatan, Mami berhak atas dirinya.
Mami tersenyum puas. Mimpi apa semalam dia dengan mudahnya mencari wanita untuk tambahan. Pundi-pundi uang akan segera dia dapatkan. 'Nggak apa-apa deh rugi 20 juta diawal. Yang penting dapat wanita yang bagus. Fira akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Pasti banyak lelaki hidung belang yang mau dengannya,' batinnya.
"Kita berangkat ke Samarinda besok, Fir." Mami mengambil kertas itu. Lalu melipatnya menjadi dua. "Kamu tinggal di mana? Biar Mami antar kamu pulang. Nanti besok subuh-subuh kita langsung berangkat."
"Aku nggak punya rumah, Bu. Aku baru saja diusir."
"Oh, kasihan sekali. Tapi kamu masih punya orang tua, kan?"
"Nggak." Fira menggelengkan kepalanya. "Aku yatim piatu." Dengan entengnya dia berkata demikian, padahal Nurul masih hidup di rumah sakit meskipun keadaannya lemah.
"Ya sudah, tidur saja di sini malam ini. Mami punya banyak kamar tamu. Kamu tinggal pilih saja."
"Seriusan?" Bola mata Fira langsung berbinar. Mami mengangguk cepat.
"Ayok, Mami antar ke kamar. Kamu sepertinya capek ingin istirahat," ajaknya seraya merangkul bahu Fira saat wanita itu berdiri. Keduanya langsung melangkah bersama menaiki anak tangga. 'Dilihat dari kulitnya sih kayaknya bagus. Tapi sekarang aku harus pastikan dulu itunya si Fira pink atau tidak. Jangan sampai pas sudah bawa dia aku malah menyesal,' batinnya.
...Nggak bakal nyesel, Mi. Fira mah memang cocok jadi kupu-kupu malam dah 🤣 daripada pelakor 😂...
__ADS_1