
"Pa! Kan aku bilang mau kelapa muda, kok Papa malah belanja? Itu lagi rumah-rumahan buat apa?" Steven mendengkus kesal saat tiba-tiba Angga meminta Bejo untuk menghentikan mobilnya, di depan sebuah toko peralatan burung.
Angga membeli Glodok atau rumah burung untuk bertelur, berikut dengan sarangnya. Dia juga membeli sangkar burung yang lebih besar, jauh lebih luas ketimbang sangkar yang dihuni Kevin saat ini.
"Ini bukan rumah-rumahan, tapi tempat untuk bertelor burung. Sebentar lagi Papa punya cucu dari Kevin."
Angga menunjuk apa yang dimaksud. Pelayan toko itu tengah membungkus barang belanjaan lalu Bejo memasukkannya ke dalam mobil.
"Si Kevin itu jantan, mana mungkin bisa bertelor. Ada-ada aja Papa ini." Bibir Steven mengeriting, segera dia pun masuk ke dalam mobil saat melihat Angga masuk setelah membayar belanjaan.
"Yang bertelor si Janet, tapi 'kan benihnya dari Kevin."
Meskipun dia sendiri belum yakin kalau Kevin sudah kawin atau belum akibat obat per*ngsang, namun dia mengantisipasi. Siapa tahu mereka memang benar sudah belah duren tanpa sepengetahuannya.
Dan kata Ahmad, burung kawin memerlukan tempat yang cukup luas. Itu juga alasan mengapa Angga membeli sangkar yang lebih besar.
"Janet siapa?"
"Istrinya Kevin. Oh, kamu belum tahu, ya? Ketinggalan berita berarti."
"Si Janet burung juga?" Kening Steven mengerenyit.
"Ya iyalah. Kamu pikir si Kevin menikah sama manusia? Gimana caranya coba bercintanya? Kalau pun Kevin mau, dia pengennya sama Citra."
"Dih, mimpi!" Steven memutar bola matanya dengan malas.
*
*
Setelah menempuh beberapa menit dan mencari-cari di mana pohon kelapa, akhirnya Bejo menghentikan mobil Angga tepat di pinggir jalan, di depan sebuah rumah yang ada pohon kelapa besar di sampingnya.
"Itu pasti ada yang punya, Jo." Angga menyembulkan kepala di jendela mobil lalu menengadah, menatap beberapa buah kelapa di atas sana. Warnanya hijau muda terang.
"Iyalah, Pak. Tapi izin dulu. Masa mau nyuri, nggak mungkin, kan?" Bejo terkekeh lalu menoleh ke arah Steven. Bibirnya sudah menganga hendak bertanya pada pria itu, dia ingin berapa biji. Namun Steven sudah keburu turun dari mobil.
Segera Bejo pun ikut turun, lalu disusul Angga.
"Permisi, Pak!" Angga melangkah menghampiri seorang pria yang memakai koko dan sarung, sedang duduk di bale. "Apa Bapak memilik pohon kelapa ini?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Iya, kenapa ya, Pak?" Pria itu lantas berdiri.
"Apa ada yang masih muda? Aku mau beli untuk anakku."
"Semuanya muda, Pak." Pria itu melangkah mendekati pohon kelapa yang sudah ada Steven yang berdiri sambil berkacak pinggang. Bersama Bejo di sampingnya.
"Mau berapa kamu, Stev?" tanya Angga menghampiri anaknya. Pria yang memakai sarung itu mengambil galah.
"Mau dua. Untukku dan Citra. Tapi aku mau Papa yang ambil."
Pria bersarung itu memberikan kayu panjang itu ke tangan Angga.
"Dih, jangan pakai kayu, Pa. Aku maunya Papa ngambil langsung pakai tangan." Steven mencegah Angga yang hendak mengangkat galah itu.
"Mana nyampe, kamu pikir tangan Papa panjang? Tuyul dong."
"Maksudnya Papa manjat, terus ambil."
Angga terbelalak. "Kamu gila? Mana bisa Papa manjat."
"Bisa, dulu aku sering lihat Papa ikut lomba Agustusan. Papa panjat pinang."
Benar, sekitar 3 tahun yang lalu ada lomba Agustusan. Dan pihak RT meminta Angga secara langsung untuk mengikuti lomba. Sebab sedari dulu, pria tua itu tak pernah ikut melakukan kegiatan masyarakat. Padahal pengangguran.
"Ya sudah, sekarang lagi saja, Pa."
"Papa nggak mau!" tolak Angga sambil menggelengkan kepala. "Nanti encok Papa kumat."
"Nggak akan. Lagian ngapain pusing, obat Papa banyak di rumah. Ayok dong cepat ambil. Aku haus tahu, Pa!" rengek Steven sambil menggoyangkan lengan Angga.
"Bejo saja yang ambilin deh."
"Nggak mau. Maunya Papa."
"Dih, Stev. Nggak usah aneh-aneh deh. Kamu itu udah tua, sebentar lagi jadi Ayah. Masa minta-minta seperti anak kecil?"
"Sekali-sekali boleh lah, Pa. Kan aku bontotnya Papa," pinta Steven manja.
"Saya ambil tangga dulu, Pak." Pria bersarung itu melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Papa nggak mau, ah. Takut jatoh juga. Bahaya tahu." Angga kembali menolak. Dia tak mau ambil resiko dan kalau encoknya kumat dia pasti tidak bisa belah duren nanti malam. Padahal, dia sudah membelikan Sindi gaun malam yang seksi dan memintanya untuk memakainya nanti malam.
"Nggak bakal jatoh, aku yang pegang tangganya." Steven langsung memegang tangga kayu saat pria bersarung itu meletakkan di badan pohon. "Ayoklah, Pa, masa Papa nggak kasihan sama aku? Aku mencretkan gara-gara Papa juga. Papa harus tanggung jawab sekarang."
Angga terdiam, lalu menatap Steven. Asli dia tidak mau menuruti. Namun melihat wajahnya yang tampak memelas, Angga jadi tak tega.
Dengan berat hati dia pun naik ke atas tangan. Naik terus sampai ujung hingga tangan dan kakinya memeluk badan pohon.
"Kalau encok Papa kumat kamu nggak boleh bercinta nanti malam sama Citra, awas saja kamu, ya!" ancam Angga. Perlahan tubuhnya beringsut naik, memanjat pohon yang cukup tinggi itu.
Steven menengadah dan memperlihatkan Angga dengan penuh antusias. Akhirnya pria tua itu berhasil mencapai puncak.
Tangan Angga meraih satu biji kepala, lalu memutarnya supaya terlepas dari pohon. Namun, bukannya terlepas, justru sesuatu yang di samping kepala itu yang terlepas. Sebuah sarang tawon yang cukup besar, kemudian jatuh tepat di dekat Steven.
Pria tampan itu membulatkan matanya, saat beberapa tawon itu keluar dari sarangnya lalu berkumpul menjadi satu di depan wajahnya.
"Papa! Itu makhluk apaan?!" teriak Steven panik. Namun dia pun langsung berlari kala beberapa tawon itu terbang menyerangnya.
"Pa! Tolong!" Steven berteriak kencang. Kakinya berlari cepat, berlalu pergi dari rumah itu.
"Jo! Susul Steven! Kenapa kau malah diam saja?" teriak Angga marah. Dia masih di atas pohon dan berusaha mengambil kelapa. Memang sejak tadi Bejo bengong melihat Steven.
Bejo pun mengangguk. "Iya, Pak." Segera dia masuk ke dalam mobil, lalu mengendarainya dan menyusul Steven.
Setelah berhasil mengambil satu biji kepala itu, Angga perlahan turun. Lalu menepuk-nepuk baju dan celannya yang kotor.
"Bapak kok nggak bilang ada sarang tawonnya? Kasihan anakku." Angga mengomel pada pria bersarung yang terlihat tidak tahu apa-apa itu.
"Maaf, tapi saya nggak tahu, Pak."
Demi menghindari sengatan tawon, Steven sampai masuk ke dalam sebuah rumah yang entah rumah siapa itu. Namun yang jelas rumah itu sepi dan pintunya terbuka lebar.
Cepat-cepat Steven menutup pintu itu dengan kasar, lalu perlahan menempelkan punggungnya di pintu. Dia mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tubuhnya terasa capek habis lari maraton.
"Akhirnya aku selamat," gumam Steven sambil meraup kasar wajahnya yang berkeringat.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang menghampirinya. Entah siapa itu, asalnya dari dapur. Namun, Steven mengendus aroma ketek yang maha dahsyat.
"Siapa itu?" tanyanya.
__ADS_1
...Wah, Om Steven kena apes lagi 🤣...