
Di rumah Angga.
Pria tua itu melangkahkan kakinya menuju halaman rumah. Ingin melihat Kevin dan anak istrinya tengah makan siang.
"Udah besar ya, Vin, sekarang anak-anakmu," ujar Angga sembari duduk di kursi pos satpam. Burung-burung itu makan di bawah dengan jagung dan kuaci.
Janet menyuapi anak-anaknya yang berusia 5 bulan lebih. Sudah berbulu banyak dan tumbuh cukup besar. Hanya saja bicara mereka masih gagap. Tetapi sudah mampu berkicau layaknya burung.
"Iya, Pa!" Kevin mengangguk. Kemudian terbang menghampiri Angga dan duduk di atas pangkuannya. "Papa belum kasih nama untuk kedua anak saya. Saya susah panggil mereka," keluhnya.
"Papa masih bingung sama jenis kelamin mereka. Menurutmu bagaimana?" Angga memperhatikan kedua anak Kevin yang tengah disuapi Janet pisang lewat paruhnya. Terlihat lahap sekali mereka dan begitu rukun.
"Menurut saya mereka jantan dan betina," jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Yang mana jantan dan yang mana betina?" tanya Angga bingung.
"Yang jambulnya terlihat lebih panjang jantan, Pa!" jawab Kevin kemudian mengibaskan sayapnya menghampiri anaknya. Lalu merangkul salah satu anaknya. Mungkin yang dia maksud tadi adalah itu.
Angga memperhatikan jambul kuningnya. Memanglah lebih panjang dari burung yang satunya.
"Oh. Tapi tadinya Papa mau tanya si Tian dulu. Benar atau nggaknya mereka jantan dan betina. Mungkin dia tahu." Angga tampak ragu.
"Coba Papa telepon."
Angga mengangguk, lantas mengambil ponselnya di dalam kantong celana dan langsung menghubungi menantunya dengan via video call.
Agak lama panggilan berlangsung, sampai akhirnya dijawab.
"Halo, Ti," ucap Angga. Terlihat dari layar ponsel, pria itu berada di dalam ruang kerja. Duduk di kursi.
"Halo, Pa. Tumben Papa video call, ada apa?" tanya Tian sambil tersenyum.
"Kamu kerja hari ini?"
"Iya. Ini baru istirahat mau makan siang."
"Kirain nggak kerja."
"Memangnya ada apa, Pa?"
"Ini, si Kevin sama Janet nanyain mulu nama untuk anak mereka. Tapi Papa sendiri bingung sama jenis kelamin mereka apa, Ti."
"Coba aku mau lihat anak mereka. Kameranya pindahkan ke arah mereka bisa nggak, Pa?"
"Bisa." Angga memencet layar untuk memindahkan angel kamera itu supaya mengarah ke depan. Dan sekarang, Tian dapat melihat dengan jelas.
"Ukuran badannya sama ya, Pa. Nggak ada beda," ujar Tian yang memperhatikan.
__ADS_1
"Iya. Itu yang Papa bingungkan."
"Cek matanya saja, Pa. Yang jantan itu warna matanya lebih gelap warna hitam dan ekornya lebih panjang," jelas Tian.
Angga berdiri dari duduknya, kemudian berjongkok mendekati kedua burung itu dan memperhatikannya sesuai apa yang Tian katakan.
Yang Kevin beritahu tentang jambulnya lebih panjang memiliki bola mata hitam pekat. Tetapi yang satunya, area sekitar mata berwarna merah ati. Sepertinya benar apa yang Kevin katakan, mereka jantan dan betina.
"Bagaimana, Pa? Sudah kelihatan jenis kelaminnya belum?" tanya Tian. "Kalau masih ragu nanti pulang kerja aku ke rumah Papa."
"Sudah kelihatan. Mereka jantan dan betina, Ti."
"Jadi namanya siapa?" tanya Kevin.
"Romeo sama Juliet saja bagaimana?" ujar Angga asal. Nama sepasang itu juga biar nanti dia tak perlu mencarikan mereka jodoh lagi. Sebab mudah-mudahan saja berjodoh.
"Namanya susah, Pa!" tolak Kevin tak setuju. Kepalanya menggeleng.
"Susah bagaimana?"
"Saya menyebutkan namanya susah. Yang lain saja, yang gampang."
"Katanya mau dicarikan nama, kok kamu protes, sih?" gerutu Angga.
"Namanya Kajol sama Shahrukh Khan saja, Pa!" Sindi tiba-tiba saja datang menghampiri dan langsung menyahuti apa yang tengah suaminya itu bahas.
"Boleh aku kasih saran nama, Pa?" tanya Tian yang masih dalam sambungan telepon.
"Lho, Papa lagi teleponan sama Tian?" Sindi menatap ke arah layar. Menantunya itu langsung melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Iya." Angga mengangguk. "Kamu kasih saran apa? Tapi yang bagus, ya?"
"Berhubung mereka lahirnya bareng, seperti layaknya anak kembar, lebih baik nama depannya sama saja. Bagaimana kalau Luna dan Luki? Atau Rena dan Reno?" saran Tian. "Namanya simple dan mudah diingat, Pa."
"Luna sama Luki saja, Pa. Itu lebih bagus." Yang menjawab Kevin. "Lun ... Luna ... Luk ... Luki ...," ujarnya mengetes. Kemudian mengangguk-ngangguk.
"Ya sudah, Luna dan Luki saja. Terima kasih sarannya, Ti," ujar Angga.
"Sama-sama. Ya sudah ya, Pa. Aku mau makan dulu."
"Iya." Angga memutuskan panggilan. Kemudian tak lama Dono membukakan gerbang sebab ada mobil Nissa yang hendak masuk.
Tit! Tit!
Kelakson itu berbunyi. Setelah terparkir rapih pada halaman, pintu depan di samping kemudi itu dibuka. Turunlah Juna dan langsung menghamburkan pelukan kepada Angga.
"Opa!! Juna kangen!" serunya sambil tersenyum ceria.
__ADS_1
"Opa juga kangen. Opa kira kamu nggak bakal main lagi ke sini karena sudah ada Papi baru, Jun?" tebak Angga sembari mengelus rambut cucunya. Lalu tersenyum saat Nissa mendekat, kemudian mencium punggung tangannya dan punggung tangan Sindi.
"Assalamualaikum," ucap Nissa.
"Walaikum salam," jawab Angga dan Sindi.
"Mana mungkin Juna seperti itu? Juna justru ke sini karena kangen sama Opa, Oma, Tante Citra dan Dedek Upin Ipin." Juna merelai pelukannya, lalu mencium pipi kiri Angga.
"Sama Om Steven nggak kangen?" tanya Sindi.
"Kangen juga. Tadi lupa disebut," kekehnya. Kemudian dia beralih memeluk tubuh Sindi. Tetapi matanya memperhatikan empat burung Kakaktua. "Wah, sudah gede, Oma, anaknya Kevin. Apa sudah punya nama?" Juna melepaskan pelukan itu, kemudian berjongkok didekat kedua anak Kevin. Perlahan dia mengelusnya jambul keduanya dengan kedua tangan.
"Itu baru dikasih nama mereka. Luna sama Luki, Jun," jawab Angga.
"Mereka jantan sama betina?"
"Iya." Angga mengangguk.
"Kenapa nggak Mail sama Meimei saja? Lebih bagus itu, Opa," saran Juna.
"Jangan! Jelek!" Yang menyahut Kevin.
"Bagus tahu, Vin. Kan si kembar anaknya Om Steven saja aku kasih nama Upin Ipin."
"Tapi saya tidak mau!" Kevin menggeleng.
"Opa, namanya ganti saja. Meimei sama Mail, ya?" pinta Juna menatap Angga dengan raut memohon.
"Si Kevinnya nggak mau. Biarkan saja, jangan dipaksa, Jun."
"Ah Kevin nggak seru. Sama kayak Om Steven. Tiap dikasih saran nama sama Juna nggak pernah dipakai!" gerutu Juna marah. Dia berdiri sambil bersedekap. Bibirnya mengerucut. "Dedek kembar udah bagus-bagus namanya Upin Ipin, tapi malah diganti Vano sama Varo. Terus sekarang ... Juna ngasih saran nama Mail sama Meimei nggak didengar juga. Malah maunya Luna sama Luki. Kan jelek!" tegasnya dengan penuh kekesalan.
"Udah, biarkan saja, Jun." Nissa mengelus rambut anaknya. "Om Steven sama Kevin kan Ayah dari anak mereka, jadi terserah mereka mau ngasih nama apa. Kita yang menyarankan nggak boleh marah dong, kalau namanya nggak dipakai."
"Tapi Juna kesel, Mi!" Juna mencebik bibir sambil membuang muka. "Juna 'kan pengen ngasih nama buat bayi yang baru lahir, tapi kok nggak pernah dipakai? Masa Juna harus punya anak dulu, baru ngasih nama buat bayi?"
"Nanti saja kalau kamu punya adik, Jun," saran Sindi. "Kamu yang kasih nama. Bagaimana?"
"Maminya saja belum dikencingin Papi, Mana bisa Juna punya adik?!" Menatap pada Sindi. Kemudian berlari menuju pintu utama rumah Angga.
"Nanti malam Mamimu dikencingin Papi Tian!" teriak Angga. Tetapi cucunya itu sudah masuk ke dalam sana. Sindi pun berlari menyusul, tetapi tidak dengan Nissa sebab lengannya dicekal oleh Angga.
"Kenapa, Pa?" tanya Nissa bingung.
"Udah 4 hari menikah kamu belum dikencingin Tian juga, Nis? Apa susah karena ada Juna?" tanyanya penasaran.
...Mangakanya bantuin jagain Juna dong Opa 🤣🙏 biar anak perempuanmu puas dikencingin, eh 🤭...
__ADS_1
...Btw terimakasih yang waktu itu udah kasih saran nama untuk nama burung 🙏. Nama Luna sama Luki aja, ya, yang aku pakai. soalnya mudah diingat. Kemarin siapa ya, lupa aku pernah baca komentarnya. Yang ngasih nama Luna sama Luki 🤔...