
"Biar Pak Rama saja yang datang ke rumah deh, Pa. Aku takut Juna bangun, terus dia nyariin aku. Nanti ngambek kalau tahu aku pergi nggak bilang." Nissa mencari aman. Bocah itu sudah marah kepada Angga dan Steven, dan dia tak mau jika anak semata wayangnya juga marah kepadanya.
"Nanti Papa bujuk Juna, dia nggak akan marah kok."
"Di rumah saja, Pa. Lagian, kata Pak Ramanya nggak masalah."
"Oh begitu. Ya sudah deh," ucap Angga pasrah.
*
*
Saat sudah sampai, Angga pun mengendong Juna. Lalu membawanya ke dalam kamar. Perlahan bocah itu pun dia baringkan, lalu menaikkan selimut sampai di atas dada.
"Om Tian," gumam Juna yang masih terpejam. Tangannya menggenggam tangan Angga saat pria itu hendak menarik tubuhnya. Perlahan Angga pun duduk di kasur, di sebelahnya. "Juna sayang Om Tian."
'Lagi tidur aja manggil si Tian,' batin Angga kesal. 'Jangan-jangan si Tian pakai ilmu pelet lagi, supaya Juna lengket padanya.' Lengannya terulur, lantas mengelus puncak rambut Juna. Dilihat tangan kiri bocah itu masih menggenggam kelereng, mau diambil pun terasa susah.
"Biarkan saja, Pa. Sejak kemarin-kemarin dia kalau tidur suka pegangin kelereng," ucap Nissa.
"Tapi nanti ketelen." Angga mencoba mengambilnya lagi, meskipun terlihat agak dipaksa. Akhirnya bisa juga dan Juna tak bangun. Kelereng itu pun lantas Angga kantongi.
***
"Kamu jadi ketemu Nissa dan Juna?" tanya Mbah Yahya di ruang keluarga. Duduk di sofa sambil menonton televisi.
Dia melihat Rama lewat dengan mengenakan kemeja pendek berwarna merah maroon dan celana jeans hitam. Aromanya begitu wangi sekali, seperti memakai setengah botol parfum.
"Jadi, Dad. Ini aku mau berangkat. Assalamualaikum."
"Walaikum salam." Mbah Yahya mengekori anaknya yang keluar dari rumah. "Tunggu dulu!" Menahan Rama yang hendak masuk ke dalam mobil. Perlahan Mbah Yahya merogoh kantong celananya, lalu memberikan sekotak cincin berbentuk love.
"Mau apa?" tanya Rama bingung.
"Kamu sekalian melamar Nissa saja. Kan kalau udah diiket enak."
"Katanya aku suruh temenan dulu."
"Iya. Temenan sambil melamar juga nggak masalah." Mbah Yahya langsung menaruh kotak cincin itu ke dalam saku kemeja Rama. Sebab anaknya sejak tadi belum mengambilnya.
"Kalau Nissa menolak gimana?"
__ADS_1
"Dicoba dulu. Kamu ini pikirannya negatif mulu. Jangan begitu dong, tetap optimis."
"Ya sudah. Aku berangkat sekarang." Rama meraih punggung tangan Mbah Yahya, lalu menciumnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil.
***
Ceklek~
Pintu rumah mewah Nissa dibuka, saat Rama baru saja memencet bel. Terlihat wanita cantik itu berdiri di depannya sambil mengulas senyum.
"Assalamualaikum, Nis."
"Walaikum salam. Ayok masuk, Pak." Melebarkan pintu tersebut.
"Kok masuk? Katanya tunggu diluar?"
"Ada Papaku di dalam. Jadi nggak masalah."
"Eh, kamu Rama, kan?" Tiba-tiba Angga sudah berada di belakang Nissa. Pria tua itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Rama dan segera dia balas.
"Iya, Om. Om ini Om Angga, kan?" tebak Rama.
"Betul." Angga tersenyum dan mengangguk kecil. "Sudah lama Om baru ketemu kamu lagi. Ayok masuk ke dalam." Merangkul bahu Rama, lalu mengajaknya menuju ruang makan.
"Ini, aku tadi mampir ke restoran buat makan siang kita bersama." Rama memberikan dua kantong merah di tangannya kepada Nissa, tetapi ada salah satu yang terlihat agak besar. "Satunya ada mainan buat Juna."
"Kok merepotkan, Pak? Padahal di sini juga sudah ada makanan." Nissa menggerakkan dagunya ke arah meja. Di atas sana sudah tersaji berbagai macam makanan restoran. Tetapi bukan dia yang membelinya, melainkan Angga.
"Nggak apa-apa. Makanan dariku untuk malam juga bisa, bisa diangetin lagi."
Nissa mengambil apa yang Rama berikan. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama." Rama tersenyum.
Nissa berlalu pergi menuju dapur. Sedangkan Angga sudah mengajak Rama duduk sama-sama di ruang makan.
"Junanya masih tidur, Om?" tanya Rama seraya menatap sekeliling ruangan itu.
"Iya. Kalau mau makan mah ayok makan saja bareng sama Nissa. Nanti Juna bisa makan nyusul bareng Om." Angga membalik piring di depan Rama, lalu menuangkan nasi di atasnya.
"Nggak usah, Om. Biar saya saja. Dan makannya tunggu Juna," tolak Rama menahan piring di tangan Angga, tetapi pria itu terlihat memaksa hingga akhirnya dilanjutkan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Nissa datang dengan membawa dua cangkir kopi di atas nampan. Niatnya tadi, dia membuat dua kopi itu untuk Angga dan Rama. Mungkin mereka ingin mengobrol sambil ditemani secangkir kopi.
"Kok buat kopi kamu, Nis? Si Rama 'kan datang mau makan," tanya Angga. Tetapi dia mengambil secangkir kopi itu, lalu berdiri.
"Aku kira Papa sama Pak Rama ingin mengobrol dulu."
"Nggak, kalian makan saja dulu. Eh tapi, jangan panggil Bapak dong. Panggilnya Mas saja, kan Rama calon suamimu," usul Angga. Dia mengelus puncak rambut Nissa sambil tersenyum, kemudian berlalu pergi menaiki anak tangga. Meninggalkan mereka berdua.
Nissa menarik kursi di depan Rama, lalu menuangkan air minum.
"Nggak apa-apa kita makan duluan, Nis? Juna bagaimana?" tanya Rama ragu. Aslinya perutnya terasa keroncongan.
"Nggak apa-apa, Pak. Ayok makan." Nissa menuangkan nasinya sedikit untuk dirinya sendiri. Sengaja, cuma untuk menemani Rama makan saja. Nanti kalau Juna bangun dia bisa makan lagi.
Pria itu makan dengan lahap, lalu melirik ke arah piring Nissa. "Oh ya, Nis. Kamu lagi sibuk apa sekarang?" tanyanya basa basi.
"Ngurus Restoran, Pak. Bapak sendiri sibuk apa?"
"Bisnis, Nis."
"Bisnis apa?"
"Aku mendesain perhiasan. Kebetulan punya 3 toko perhiasan juga sekarang."
"Oh alhamdulillah. Di mana saja? Di Jakarta apa ada?"
"Ada, ada 2 toko di Mall. Kamu mau ke sana? Nanti aku ajak."
"Nanti aku ke sana kalau senggang. Kebetulan berlian di gelangku juga ada yang hilang. Kira-kira di toko Bapak ada model buat ganti berlian nggak, ya?" Nissa menatap pergelangan tangannya. "Soalnya aku sempat cari diberbagai toko nggak ada yang sreg."
"Coba lihat." Rama mengulurkan tangannya meraih tangan Nissa, tetapi baru saja menyentuh—wanita itu langsung berdiri hingga tangan Rama terlepas oleh sendirinya.
Nissa berdiri lantaran terkejut melihat Angga turun dari anak tangga dengan tergesa-gesa sambil mengendong Juna. Dilihat mata bocah itu mendelik dan tubuhnya kejang-kejang. Sontak hal itu membuat Nissa membelalakkan mata.
"Kenapa dengan Juna, Pa?" tanya Nissa seraya berlari mengejar Angga yang sudah keluar dari rumah.
"Bejo! Cepat ke rumah sakit!" teriak Angga panik memanggil sang asisten yang tengah ngopi dengan satpam rumah Nissa. Pria itu sampai terjungkal dari duduknya sangking kagetnya. Kopinya pun ikut tumpah mengenai celana.
Gegas dia berlari menuju mobil Angga, lalu masuk ke dalam kursi kemudi dan menancapkan gasnya. Angga, Juna dan Nissa sudah duduk di kursi belakang.
"Juna, kamu kenapa, Sayang?" tanya Nissa sambil menangis. Dia menggenggam erat tangan Juna dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
Angga mencium bibir sang cucu sembari memberikan napas buatan, sebab bocah itu terlihat seperti sesak napas.
...Kasihan Juna 😰...