
"Kalau menjaga kenapa harus menikah? Dan ada Gugun juga, Om." Steven menoleh sebentar pada Gugun yang tengah ikut mendengarkannya. Pria itu diam tanpa kata, seperti Harun. "Memangnya Gugun nggak mau menjaga anak Om? Kalau memang dia nggak mau, aku bisa. Tapi nggak perlu menikahinya."
"Tapi kalau dia nggak menikah, dia nggak akan punya masa depan, Stev. Dia nggak akan bisa kuliah dan meneruskan perusahaan Om."
"Kok begitu?" Kening Steven mengerenyit heran. "Bukannya di mana-mana menikah diumur muda itu bisa dikatakan nggak punya masa depan, ya? Aku sering dengar istilah seperti itu, Om."
Danu menggeleng. "Nggak, masalah yang dialami dia nggak akan sama seperti istilah itu."
"Lalu, alasannya apa?"
"Semua ini karena harta warisan. Kamu 'kan tahu sendiri Om-omnya Citra seperti apa, Om nggak yakin kalau dia akan sayang sama Citra. Dan Om sudah membuat surat wasiat, tapi harta warisan itu bisa dimiliki Citra hanya tunggu dia genap 20 tahun," jelas Danu panjang lebar.
"Oh, begitu. Jadi aku menikah hanya untuk menyelamatkan harta warisan?"
"Iya, dan Om mau kita menspakati sebuah perjanjian."
"Perjanjian apa?"
Danu menatap ke arah Harun, lalu mengerjapkan matanya seolah memberikan isyarat. Pria berkacamata itu langsung berdiri kemudian memberikan map coklat pada Steven.
"Apa ini?" Kening Steven mengerenyit menatap map di tangannya.
"Buka dan baca," titah Danu.
Steven langsung membuka dan membaca isi di dalamnya, seketika matanya membulat.
"Aku menikahinya tapi dilarang menyentuhnya? Apalagi sampai hamil. Lalu, untuk apa aku menikah, Om?" Steven tampak protes dengan isi surat tersebut yang seakan tak masuk di akal sehatnya.
"Kamu bacanya semua, jangan setengah-setengah."
Steven kembali membacanya lalu kembali pula membulatkan matanya sambil menggeleng. "Ini sama saja mempermainkan pernikahan, Om. Anak Om juga nggak bakal setuju."
__ADS_1
"Jangan beritahu dia, simpan rahasia ini hanya kita berempat saja yang tahu."
"Tapi kalau misalkan salah satu dari kami ada yang jatuh cinta bagaimana? Atau aku khilaf? Menikah 'kan nggak sembarangan, Om. Dan aku juga pria normal." Steven terlihat resah dan gelisah. Keputusan menikah tentu bukan perkara sepele, ini menyangkut perasaan dan kehidupan pribadinya.
"Itu nggak akan terjadi, Stev. Kalau anak Om yang jatuh cinta padamu itu nggak masalah, tapi kalau kamu Om rasa nggak mungkin."
"Nggak mungkinnya?" Alis mata Steven bertaut.
"Ya nggak mungkin, kamu 'kan sering bilang kalau anak Om bukan tipemu. Kamu juga sering bilang kalau susah jatuh cinta semenjak jomblo. Iya, kan?"
Ya, apa yang dikatakan Danu benar. Steven pernah mengatakan hal itu demi menolak pernikahan yang Danu inginkan saat setelah melihat foto Citra.
"Kalau tentang khilafnya bagaimana?" Steven terdiam sesaat. "Ya namanya suami istri ... meskipun nggak saling cinta tapi khilaf pasti bisa 'kan, Om?"
"Itu nggak akan terjadi kalau kamu dan dia menjaga jarak. Dan Om yakin ... kamu punya iman yang kuat, kamu nggak mungkin melakukan hal itu."
"Sekuat-kuatnya iman seseorang, pasti ada kalanya goyah, Om."
"Itu nggak akan terjadi." Danu terlihat begitu yakin, tanpa memikirkan ke depannya.
"Kamu nggak perlu beritahu siapa pun tentang pernikahanmu. Ini hanya sebentar, sampai Citra genap 20 tahun dan kamu bisa melepaskannya. Kamu nggak akan terbebani lagi, Stev. Terbebani atas permintaan orang yang sudah tiada," kata Danu dan tak lama dia pun menangis. "Bukannya kamu selalu bilang kalau Om sudah kamu anggap sebagai Ayahmu? Kamu juga pernah bilang kalau apa pun yang Om minta padamu ... kamu pasti bisa melakukannya, kan? Hanya ini ... hanya ini satu-satunya permintaan Om padamu, Stev. Tolong Om sebelum Om tiada." Dada Danu mendadak terasa sesak, memang kalau terlalu lama menangis dia sering merasakan hal seperti itu.
Air mata Danu yang baru saja mengalir kini semakin deras hingga membuat bantal pada kepalanya basah. Dada Steven seketika ngilu, dia ikut merasakan kesedihan itu. Dan dia juga memang pernah mengatakan apa yang Danu katakan tadi. Yakni memenuhi permintaan Danu.
"Om mohon padamu ... tolong menikahlah dengan Citra, putri Om, setelah dia lulus SMA. Om yakin ... kamu bisa menjadi suami yang baik untuknya." Kali ini Danu bukan hanya memohon saja, tetapi lebih tepatnya meminta belas kasih.
Steven yang sejak tadi diam itu lantas menegakkan punggungnya, lalu perlahan membuang napas kasar seraya menjawab. "Baiklah, aku akan menikahi Citra, Om."
Dalam hatinya, semoga dia tak mengambil keputusan yang salah.
"Terima kasih. Kamu memang pria yang baik, Om beruntung mengenalmu." Danu tersenyum lebar dan perlahan menyeka air mata di pipi. Dia merasakan dadanya yang sempat sesak kini langsung lega, napasnya yang tersendat kini kembali lancar.
__ADS_1
Harun tersenyum mendengarkan jawaban Steven, lantas dia pun memberikan pulpen pada Steven.
Steven tak ingin berdebat dan memberikan alasan lagi untuk bisa menolak. Kepalanya terasa pening dan pada akhirnya dengan penuh keraguan dia pun menandatangani.
"Sekali lagi terima kasih, Stev. Om sayang padamu," ujar Danu pelan.
"Aku juga sayang sama Om." Steven tersenyum simpul.
...(Flashback Off)...
"Harusnya aku nggak usah menyetujui perjanjian itu, dan yang terpenting harusnya aku nggak usah mau menikahi Citra!" pekik Steven dengan lantang, dia mengatur napasnya naik turun. Dadanya terasa sesak begitu pun dengan sesuatu di dalam celananya yang terasa panas.
"Tapi ... tubuh Citra sangat indah. Apa lagi dadanya yang montok itu." Seketika Steven terbayang akan dua benda kenyal yang tampak menggiurkan itu. "Izinkan aku menyentuh Citra, Ayah. Sekali saja ...," mohon Steven bermonolog. Dia bak orang gila yang bicara sendiri, bahkan kini kedua tangannya menangkup.
"Aku bisa gila lama-lama kalau terus begini Ayah. Setidaknya aku boleh merasakannya sekali. Kalau nanti nggak enak, aku nggak akan melakukannya lagi. Tapi kalau enak ... beri aku bonus sekali, dua kali, tiga kali, empat kali dan berkali-kali. Ah ... pasti enak sekali." Steven merogoh miliknya yang terasa mengeras di dalam celana, dia mengenggam lalu mengusapnya maju mundur.
Tiba-tiba terdengar suara deringan ponselnya. Amat nyaring hingga kegilaan yang tengah Steven lakukan itu terhenti. Pria itu langsung menarik tangannya dan mengusap wajah. Setelah itu dia pun mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Ajis penjaga depan apartemennya.
"Halo."
"Pak Steven, saya melihat Nona Citra pergi naik mobil bersama seorang laki-laki."
Mata Steven seketika membulat, dia pun langsung berdiri dan keluar dari kamar.
"Laki-laki? Siapa itu? Apa Arya?" Dada Steven langsung terasa panas, lalu naik ke ubun-ubun. Tangan kirinya mengepal kuat.
"Arya siapa? Saya nggak tahu itu. Tapi yang jelas ... orangnya seperti seumuran Bapak, hanya lebih tua dia sedikit," jelas Ajis.
"Seumuran denganku, lebih tua sedikit?" Steven mengulang perkataan itu sambil berlari keluar dari apartemen dan masuk ke dalam lift. "Apa kamu mengikutinya sekarang?"
...###...
__ADS_1
...Author mau promo novel lagi nih, siapa tahu ada yang berkenan mau mampir. ceritanya nggak kalah seru lho....