
Tak berselang lama. Minuman pesanan mereka pun datang. Tersaji di atas meja. Baru lah setelah itu Steven memulai obrolan.
"Sebenarnya, aku ingin membuat perjanjian pranikah untuk Mbak Nissa dan Om Tian, Pa," ucap Steven memberitahu.
Mendengar itu, Harun langsung mengambil laptopnya yang berada dalam tas. Benda itu memang selalu dia bawa, sebab menurutnya sangatlah penting.
"Ini berarti kamu setuju, kalau Nissa dan Tian menikah?" tanya Angga dengan bola mata berbinar.
"Iya." Steven mengangguk.
"Alhamdulillah. Akhirnya terbuka juga pintu hati kamu, memberikan kesempatan." Angga menyentuh bahu Steven, lalu mengelusnya dengan lembut. Dia langsung membayangkan bagaimana ekspresi wajah Juna nanti, saat mengetahui semuanya. Pastinya dia sangat bahagia.
"Iya. Tapi ini adalah kesempatan pertama dan terakhir. Aku rencananya mau buat dua surat perjanjian, yaitu pranikah dan perjanjian di antara aku dan Om Tian," jelas Steven.
"Oke, baik, Pak. Sebutkan apa saja perjanjian pranikahnya," ucap Harun seraya mengetik keyboard laptopnya.
"Poin pertama Om Tian nggak boleh memakai uang Mbak Nissa. Untuk hal apa pun, entah kebutuhan mendesak atau makan," ujar Steven. "Tapi sebaliknya, kalau Mbak Nissa yang membutuhkan uang Om Tian, Om Tian tidak boleh melarang. Dia harus memberikan apa pun yang Mbak Nissa butuhkan begitu pun pada Juna."
"Itu sudah jadi dua poin ya, Pak. Poin ketiganya apa?" tanya Harun.
"Kalau misalkan pernikahan mereka berakhir—"
"Dih, mereka jangan sampai bercerai dong, Stev," sela Angga cepat. Wajahnya tampak tak setuju dengan apa yang Steven katakan. "Papa mau pernikahan Nissa yang sekarang adalah pernikahan yang terakhir."
"Iya, aku tahu. Kan ini cuma misalkan."
"Misalkan juga nggak boleh."
"Namanya perjanjian ya begitu, Pa. Aku bikin surat perjanjian ini juga supaya dia mikir dan nggak akan bercerai dengan Mbak Nissa," jelas Steven.
"Ya sudah, coba lanjutkan."
"Kalau misalkan mereka bercerai. Om Tian harus memberikan harta gono-gini sebesar 100%."
"Kalau 100% sepertinya itu terlalu berat, Pak," ujar Harun.
"Nggak masalah. Malah itu yang aku inginkan," kata Steven.
"Harta gono-gini itu 'kan harta milik bersama, ya? Selama mereka menikah," ujar Angga. "Berarti kalau harta yang Tian miliki hanya saat dia menikah, dia nggak akan punya apa-apa dong kalau sudah bercerai. Kolor juga nggak punya."
"Sebelum menikah Om Tian pasti punya kolor lah, Pa."
"Tapi Tian 'kan kere, Stev. Banyak hutangnya kata Kevin juga."
"Ya tapi masa kolor doang nggak punya. Pasti punya lah, Pa."
__ADS_1
"Namanya orang kere mah, apa lagi banyak hutang, pasti apa yang dia punya dia jual. Sama halnya seperti kolor."
"Ya sudah, sih, kenapa jadi bahas kolor?" Steven mendengkus dengan mimik wajah kesal. "Mau dia pakai kolor atau nggak bodo amat, urusan dia."
"Kasihan burungnya kedinginan."
"Kan ada sempaak, Pa."
"Iya, sih."
"Terus poin keempat apa, Pak?" tanya Harun.
"Papa ada tambahan nggak?" tanya Steven menatap kepada Angga.
"Kalau Tian berselingkuh, burungnya dipotong," jawab Angga.
Harun langsung bergidik ngeri. "Kalau masalah ancaman seperti itu nggak boleh ditulis dalam perjanjian pranikah, Pak," katanya memberitahu. "Kalau mau, perjanjian tertulis antara Pak Steven dan Pak Tian saja."
"Ya sudah, itu saja."
"Berarti poin keempat udah nggak ada untuk perjanjian pranikah?"
"Iya." Angga mengangguk.
Harun mengangguk, kemudian kembali mengetik-ngetik keyboard. "Ngomong-ngomong nanti yang motong burungnya siapa?" tanyanya seraya menatap ke arah Angga dan Steven.
"Tapi kalau tentang memotong burung terdengar ekstrim sih, Pa. Mending jangan," saran Steven.
"Kenapa? Kasihan kamu sama Tian?" tanya Angga.
"Bukan kasihan. Tapi nanti perkaranya melebar apa lagi kalau Papa yang memotongnya."
"Nggak apa-apa. Kan kata kamu supaya Tian takut."
"Ya sudah, masukan ke poin pertama," titah Steven pada Harun. Pria berkacamata itu mengangguk patuh. "Poin kedua, kalau Om Tian menampar, mencekik atau sampai membanting Mbak Nissa dan Juna, dia langsung masuk ke penjara. Dipidanakan."
"Intinya KDRT ya, Pak," ujar Harun. Lalu kembali mengetik.
"Poin ketiga ini. Apa namanya ...." Angga menggaruk kepalanya, mengingat-ingat sebuah perjanjian yang diminta Juna untuk Tian. Meskipun memang saat itu mereka sudah berjanji dengan sebuah jari kelingking, mungkin akan lebih baik janji itu dicantumkan ke dalam isi perjanjian. Supaya Tian tak melanggarnya. "Setelah Tian jadi Papi baru Juna, semua aktivitasnya harus dilakukan secara bersama-sama dengan Juna. Yaitu setiap hari makan bareng, tidur bareng, main bareng, mandi bareng, sampai berak bareng."
Mata Harun dan Steven sontak melotot. Kaget dengan apa yang Angga ucapkan.
"Perjanjian apa itu? Lebay banget sih, Pa. Lagian jorok. Kenapa berak pakai dibawa-bawa segala?" omel Steven.
"Itu permintaan Juna, saat dia sakit. Sudah ditulis saja," titah Angga menatap Harun. "Lagian, Papa juga nggak yakin si Juna mau berak bareng Tian. Kan susah juga, satu kloset joinan."
__ADS_1
Steven hanya menghela napas. Sedangkan Harun terkekeh dan geleng-geleng kepala. Isi perjanjian yang mereka buat benar-benar konyol menurutnya.
"Apa ada lagi, Pak?" tanyanya setelah mengetik.
"Kayaknya mungkin cukup—"
"Sekalian itu, Stev. Si Tian suruh ajarin anak-anak Kevin. Mereka belum lancar bicara, masih gagap," ucap Angga.
"Kalau itu mah tinggal Papa suruh langsung saja, nggak usah pakai perjanjian," saran Steven.
"Coba lidahnya digosok pakai emas, Pak, biar lancar ngomong. Keponakan saya begitu," usul Harun.
"Itu 'kan manusia, Run. Yang Papaku bahas ini anaknya burung yang bernama Kevin," jelas Steven.
"Oh. Kirain Kevin itu nama orang, nggak tahunya burung."
"Iya. Oh ya, usahakan dua perjanjian itu masing-masing ada dua, ya, terus besok sudah jadi," ujar Steven.
"Baik, Pak." Harun mengangguk.
Setelah pembahasan itu selesai, mereka pun menyelesaikan acara minum kopinya sambil mengobrol bebas. Barulah setelah habis mereka melangkah bersama-sama pergi dari kantin.
"Stev, Om ingin bicara denganmu," ucap Tian saat melihat Steven dan Harun menghentikan langkahnya di depan kamar inap Citra. Pengacara Harun sudah pamit pergi tadi.
"Bicara apa?" tanya Steven dengan tatapan sinis.
"Tian mau menjelaskan pertemuannya dengan mantan istrinya, Stev." Nissa berbicara. Wanita itu berdiri di samping Tian sejak tadi.
"Nggak perlu. Aku mau besok Om Tian ke kantorku saja, ada hal yang perlu kita urus," ucap Steven lalu melangkah masuk ke dalam kamar inap Citra.
Sontak Tian tercengang mendengar apa yang Steven katakan. Jantungnya juga mendadak berdebar kencang. 'Apa jangan-jangan Steven memintaku untuk menjauhi Nissa dan Juna? Padahal aku juga sekalian mau minta restu lagi padanya,' batinnya.
"Si Juna ke mana, Nis? Nggak ikut?" tanya Angga.
"Dia di rumah Kak Sofyan, lagi main sama Johan," jawab Nissa.
"Oh begitu. Terus kalian ke sini mau lihat si kembar?"
"Iya. Udah lihat sih tadi. Cuma kayaknya aku mau pulang deh, Pa. Mau ke restoran."
"Aku antar, Nis," ucap Tian.
"Papa juga ikut kalian, ya, Papa sekalian mau pulang. Mau nengok si Kevin, kasihan dia dari kemarin Papa tinggal."
"Ayok," ajak Nissa. Ke tiganya pun pamit pulang dulu ke dalam kamar inap Citra, barulah setelah itu pergi bersama.
__ADS_1
...Luluh juga akhirnya Om Steven 😂...