Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
262. Doyan kawin


__ADS_3

Malam hari.


"Aa kok belum tidur?" tanya Citra seraya mengelus rambut kepala Steven. Suaminya itu tengah berbaring di sampingnya, memperhatikan Citra yang sejak tadi menyusui Varo sambil duduk selonjoran.


"Nungguin Varo selesai nyusu."


"Mau apa memangnya? Gendong? Tapi biasanya kalau nyusu dia tidur, A."


"Aku nggak mau gendong dia. Tapi mau gantian nyusu."


"Aa jangan nyusu dulu lah, ASIku belum keluar banyak. Kan Aa tahu si kembar dibantu susu formula."


"Mangkanya Bapaknya itu suruh nyusu, biar ASInya lancar." Steven meraih tangan kanan Citra, lalu mengecup punggung tangannya.


"Kata siapa? Dokter nggak bilang kaya gitu sama aku."


"Aku lihat digoogle. Oh ya, Cit, aku mau dipanggil Papi sama si kembar. Kamu Mami."


"Nggak Ayah sama Bunda saja, A? Aku lebih suka di panggil Bunda sama si kembar. Seperti aku dulu, manggil orang tuaku."


"Kalau kamu maunya dipanggil itu, ya sudah nggak apa-apa. Ayah Bunda juga bagus." Steven tersenyum. Menyetujui permintaan Citra.


"Oke. Sekarang berarti aku panggil Aa dengan sebutan Ayah dong. Terus Aa memanggilku dengan sebutan Bunda."


"Jangan, panggil Aa masih tetep. Manggil Ayah Bundanya kalau lagi mengobrol sama si kembar saja."


"Oh. Oke deh." Citra tersenyum, lalu membelai pipi gembul Varo. Bayi mungil itu masih semangat menyesap puncak dada sang Bunda.


"Oh ya, Cit, kamu setuju nggak ... kalau misalkan Om Tian nikah sama Mbak Nissa?" tanya Steven, meminta pendapat sebelum dua orang itu benar-benar menikah.


"Memang di agama boleh, Omku menikah dengan Kakak kandung Aa Ganteng?"


"Kata Papa sih boleh. Kan nggak ada ikatan darah juga."


"Tapi nanti aku manggil Om Tian siapa? Om atau Kakak?"


"Panggilan mah nggak usah diubah juga nggak masalah," jawab Steven. "Oh ya, Om Tian itu sebenarnya duda berapa kali, Cit?"


Dulu, Steven pernah mendengar dari Danu, kalau Tian sering sekali gagal dalam rumah tangga. Sering yang dimaksud itu berarti tidak hanya sekali, dan itulah yang tiba-tiba menjadi pertanyaan di otak Steven.


"Yang aku tahu hanya tiga kali, A. Itu juga kata almarhum Ayah dulu. Eh, kalau dihitung dengan Safira, berarti empat."


Mata Steven terbelalak. Terkejut dengan apa yang Citra ucapkan. "Ternyata bukan cuma doyan main perempuan, ya, tapi Om Tian doyan kawin juga."

__ADS_1


"Iya, dulu Om Tian genit banget. Mata keranjang."


"Itu dulu dia dan tiga istrinya cerai karena apa? Apa nggak kuat karena diselingkuhi?"


"Diselingkuhi siapa? Om Tian yang berselingkuh?"


"Iya." Steven mengangguk.


"Yang dua meninggal, tapi kalau yang satu katanya kabur ke Arab, terus nggak pulang-pulang."


"Jadi TKW atau gimana?"


"Nggak tahu aku, A. Tahunya cuma kabur doang."


"Terus, yang dua itu meninggalnya kenapa? Diracun sama Om Tian?" Steven menebak asal, mengingat jika Tian memang bukanlah orang baik.


Citra menggeleng. "Bukan, kalau yang satu kesetrum, kalau yang satunya lagi kena kutil."


"Kutil?" Kening Steven mengerenyit. "Memang kutil mematikan, ya?"


"Nggak tahu, tapi pas istrinya Om Tian kutilnya membesar, A. Udah coba dioperasi, tapi pas udah hilang malah tumbuh lagi."


"Kok bisa?"


"Nggak ngerti aku juga."


"Katanya sih di bokong."


"Baru denger aku penyakit kutil mematikan. Terus, Om Tian sendiri kutilan nggak?"


"Nggak tahu aku."


'Aku harus tanya besok, siapa tahu Om Tian juga kutilan. Kasihan Juna dan Mbak Nissa nanti, kalau tahu Om Tian kutilan terus meninggal,' batin Steven.


***


Keesokan harinya di kantor Steven.


Ceklek~


Pintu ruangan CEO itu dibuka oleh Tian, setelah sebelumnya dia mengetuk. Kakinya melangkah maju, menghampiri Steven di kursi kerjanya.


Pria berlesung pipi itu itu memakai stelan jas berwarna biru nevi. Niatnya datang ke kantor bukan ingin bekerja, tetapi ingin bertemu dengan Tian.

__ADS_1


"Pagi, Stev," sapa Tian dengan sopan seraya tersenyum.


"Pagi. Duduk, Om." Steven menggerakkan dagunya ke arah kursi kosong yang berada di meja kerjanya. Sang Om mengangguk, lalu menarik kursi tersebut dan duduk.


Sebuah map coklat yang sudah berada di atas meja sejak tadi digeserkan oleh Steven, untuk lebih dekat ke arah Tian.


"Ini apa, Stev?" tanya Tian bingung.


"Buka dan baca saja, Om."


Tian mengangguk, perlahan dia pun membuka map coklat itu. Lalu membacanya, ada dua lembar kertas.


"Surat perjanjian?!" kata Tian saat mengetahui, tetapi bola matanya sontak membulat kala melihat beberapa poin yang tertera di sana. Susah payah dia pun menelan ludah. 'Kalau selingkuh burungku dipotong, dan yang memotongnya Pak Angga? Sadis bener. Tapi siapa yang mau selingkuh? Aku nggak akan selingkuh,' batinnya. Poin itu yang menurutnya begitu ekstrim. Sebab menyangkut antara hidup dan mati.


"Apa Om kaget dan merasa takut dengan isinya?" tebak Steven sambil tersenyum miring.


"Kaget sih iya, tapi kalau takut nggak. Soalnya Om nggak berniat ingin selingkuh atau melakukan KDRT." Tian mengangkat wajahnya, lalu menatap serius ke arah Steven. "Alasan kamu membuat surat perjanjian dan pranikah ini apa, Stev? Apa ini tandanya Om sudah mendapatkan restu darimu?" tanyanya dengan penuh harap, wajah Tian seketika ceria.


"Iya. Tapi jangan sampai Om mengecewakanku," jawab Steven dengan datar.


Bola mata Tian sontak berbinar, refleks dia pun bangkit, lalu menghampiri Steven untuk memeluknya. "Terima kasih, Stev. Kamu memang menantu keponakan yang paling baik dan tampan sedunia. Om menyayangimu," ujarnya dengan penuh kebahagiaan.


Steven langsung mendorong tubuh pria itu, lalu mengusap tubuhnya yang sempat bersentuhan. "Nggak usah lebay, cepat tanda tangan. Dan minta kepada Mbak Nissa untuk menandatangani perjanjian pranikahnya."


"Iya." Tian mengangguk cepat. Dia mengambil bolpoin di atas meja, lalu menandatangani dua lembar kertas tersebut. Steven juga memberikan dua lembar lagi yang isinya sama.


Sebab nanti Steven akan menyimpan selembar surat perjanjian di antara keduanya, sedangkan Tian dua surat. Yakni perjanjian di antara keduanya dan perjanjian pranikah, lalu Nissa surat perjanjian pranikah.


"Kalau hari ini Om mau langsung menikahi Mbakmu boleh nggak, Stev?" tanya Tian yang tampak sudah tak sabar.


"Tanya dulu sama Papa dan Mamaku. Sama Mbak Nissa dan Juna juga. Soal itu terserah mereka," jawab Steven.


"Ya sudah, sekarang Om pamit ingin pulang. Terima kasih sekali lagi, Stev. Om akan membuktikan ... kalau Om sudah berubah dan akan menjadi suami serta ayah yang baik untuk Nissa dan Juna." Tian tersenyum lebar sampai deretan gigi putihnya yang terlihat rapih. Steven hanya mengangguk samar, sebagai jawaban atas apa yang Tian katakan.


Setelah itu Tian pun berlalu pergi. Langkah kakinya berjingkrak-jingkrak karena sangking senangnya. Berkali-kali dia menciumi map coklat di tangannya.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di parkiran kantor milik Steven, pria itu menyempatkan untuk bersujud syukur. Tidak ada kata yang bisa terlukiskan selain bahagia, di dalam hati. Tetapi dibalik semua yang telah terjadi, tentunya Allah berperan penting di sini.


'Alhamdulillah ya, Allah, terima kasih. Aku akan berusaha untuk menjaga amanah ini,' batin Tian.


***


Hal yang pertama Tian lakukan adalah menemui Juna. Sekarang, dia sudah berada di gedung sekolahnya. Bocah itu harus jadi orang yang pertama kali tahu tentang semua ini.

__ADS_1


'Pasti Juna seneng banget nih, aku nggak sabar lihat ekspresi wajahnya nanti,' batin Tian dengan bola mata yang berkaca-kaca. Terharu bahagia.


...Langsung minta berak bareng tuh kayaknya si Juna, Om 🤣...


__ADS_2