Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
269. Happy Wedding


__ADS_3

"Eeemm ... itu karena ...." Tian terdiam sejenak, untuk memutar ide. Memberikan sebuah alasan yang menurutnya masuk akal dan mampu diterima oleh Juna. "Karena Papi lagi pengen."


Mata Nissa sontak terbelalak, kemudian mengenggam pergelangan tangan suaminya sambil menggeleng cepat. 'Apa yang Tian katakan? Harusnya dia jangan cerita masalah ini, Juna masih terlalu kecil untuk tahu.'


"Pengen gimana maksudnya?" tanya Juna yang masih tampak belum paham. Dengan jawaban yang keluar dari mulut Tian.


"Ya lagi pengen nyusu. Kamu tahu 'kan, Jun, Papi itu yatim piatu. Ibu Papi meninggal saat Papi lahir ke dunia. Jadi Papi belum pernah merasakan bagaimana rasanya menyusu. Dan setelah menikah ... nggak ada salahnya dong, kalau Papi nyusu sama istri Papi?"


Nissa langsung bernapas lega. Sebelumnya dia sempat berpikir Tian akan bercerita tentang orang yang akan berhubungan badan.


"Tapi 'kan nggak ada airnya, Pi."


"Nggak ada airnya juga nggak apa-apa. Buat mainan aja dimulut. Nggak masalah juga, kan?"


"Tapi nggak ada manfaatnya dong kalau kayak gitu? Kan ASI buat masa pertumbuhan, sedangkan Mami sudah nggak ada ASI dan Papi juga sudah dewasa."


"Kata siapa nggak ada manfaat? Justru itu banyak manfaatnya, Jun."


"Contohnya?" Alis mata Juna bertaut.


"Supaya Papi awet muda. Kamu mau 'kan, Papi awet muda?" Tian pernah membaca artikel tentang hal semacam itu pada google. Meskipun dia sendiri ragu itu benar atau tidak, tetapi semoga saja dengan begitu Juna percaya padanya.


"Masa, sih?"


"Iya. Masa Papi bohong sama kamu? Ini buktinya, supaya kamu percaya." Tian mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu mengetik tulisan 'manfaat suami menyusu pada istri sebelum tidur' kemudian muncul lah sebuah artikel. Dan ponselnya segera diberikan pada Juna, supaya bocah itu membacanya sendiri.


"Eh bener ternyata," kata Juna yang tampak takjub saat membaca urutan manfaat tentang hal yang mereka bahas. Benar, yakni tentang awet muda.


"Bener, kan? Papi nggak mungkin bohong sama kamu, Sayang." Tian mengambil kembali ponselnya, lalu mengelus pipi kiri bocah itu.


"Iya." Juna mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah, sekarang 'kan sudah tahu, jadi kamu bisa lanjutkan tidurnya."


Juna menggeser tubuhnya untuk lebih dekat kepada Tian, lalu segera dia peluk tubuhnya. "Iya, Juna mau tidur. Papi sama Mami juga, ya?"


"Iya." Tian mengelus rambut kepala Juna, lalu mencium keningnya. Bocah itu sudah memejamkan mata.


"Besok kalau Papi mau menyusu sama Mami Juna izinkan. Tapi nggak usah pergi ke mana-mana. Mau dipijitin sama Mami juga nggak usah pergi. Juna mau kita selalu bareng-bareng, Pi," pinta Juna pelan.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Tian tersenyum dengan mata yang memandangi Nissa. Istrinya itu membalas senyumannya, kemudian menarik selimut untuk ketiganya dan perlahan memejamkan mata. 'Terus, kalau Papi mau kencingin Mami gimana, Jun? Masa di depan kamu?' batin Tian. Dia menghela napas dengan berat, lalu ikut memejamkan mata. 'Gatot deh, padahal tanggung banget. Lagi enak-enaknya.'


***


Keesokan harinya.


Fira menghentikan langkahnya saat tiba di kantor Rizky, sebab dia melihat Hersa tengah berjalan menuju ke arahnya. Yang kebetulan berdiri tepat pada pintu masuk gedung pencakar langit itu.


"Pagi Pak Hersa," sapa Fira ramah sambil tersenyum.


"Pagi, Fir." Hersa mengangguk. Lantas melangkah masuk ke dalam sana. Fira pun segera mengejar. Mengekorinya.


"Pak, Pak Rizky datang ke kantor nggak hari ini?" tanyanya penasaran.


Sedari kemarin-kemarin, rencana yang ingin menjebak bosnya itu urung terjadi lantaran pria itu tidak ada di kantor. Padahal, Fira sendiri sudah menyiapkan strategi untuk bisa menggaet supaya pria itu menjadi miliknya.


"Sepertinya hari ini nggak."


"Kenapa?"


"Tante mertuanya nikahan. Dia ikut sibuk. Memang kenapa, Fir? Kamu dari kemarin nanyain mulu Pak Rizky? Kan proposal penting sudah dia tanda tangani semua," tanya Hersa heran. Kakinya melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Begitu pun dengan Fira.


"Iya, nggak masalah sih. Ya sudah, sekarang masuk ke ruanganmu saja. Kerja."


"Iya." Fira mengangguk. Setelah lift itu terbuka di lantai atas, dia lantas keluar lebih dulu, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan.


Ceklek~


Pintu itu baru saja dibuka, tetapi tiba-tiba ponselnya yang berada di tas jinjing berdering dengan kencang. Cepat-cepat Fira menutup pintu, lalu menuju meja kerjanya dan duduk di kursi putar.


Ponsel yang berada di dalam tas itu segera dia ambil, lalu menatap nama 'Anya' pada layar. Kening Fira mengerenyit, merasa heran pada temannya yang menelepon dihari biasa. Sebab biasanya paling kalau hari libur saja, untuk mengajaknya berbelanja di mall.


"Halo, Nya," ucap Fira saat sudah mengangkat panggilan itu.


"Kamu sudah tahu belum, Pak Tian menikah lagi, Fir?"


Entah itu sebuah pertanyaan atau pemberitahuan, tetapi bola mata Fira tampak membeliak. Dia kaget mendengarnya.


"Menikah? Sama siapa?" Harusnya, Fira tak usah kaget seperti ini. Karena dia sendiri pernah bertemu Tian dan pria itu mengatakan ingin menikahi Nissa. Tetapi tetap saja, dia merasa kaget dan tak percaya. Juga tak ikhlas, jika benar pria itu menikah dengan Nissa.

__ADS_1


"Sama Mbak Nissa, pemilik restoran. Kamu tahu dia pasti."


"Di mana menikahnya?" Fira langsung berdiri dan menjinjing tas.


"Di gedung hotel. Ini aku lagi kondangan. Kebetulan suamiku diundang sama dia."


"Sama Mas Tian?"


"Iya."


"Kirimkan alamat hotelnya padaku. Aku akan segera ke sana."


"Mau ngapain kamu ke sini? Mau kondangan?"


"Ya ...," jawabnya sambil membuang napasnya dengan berat.


"Aku akan kirim kepadamu, Fir."


Panggilan itu langsung diputuskan oleh Anya, dan tak berselang lama dia mengirimkan lokasi di mana pesta pernikahan itu digelar.


Fira menatap ponselnya sambil menggerakkan gigi. Hotel itu adalah salah satu hotel ternama yang ada di Jakarta. Rasanya sungguh tak ikhlas.


"Aku akan menggagalkan pernikahan mereka!" Fira langsung berlari pergi keluar dari ruangannya, lalu masuk ke dalam lift. "Enak saja mereka menikah, mana di hotel lagi. Sejak dulu ... cita-citaku ingin menikah di hotel, entah dengan siapa pun, asalkan tampan dan kaya. Tapi ... kenapa justru Mbak Nissa dan Citra yang menikah di tempat seperti itu? Ini nggak adil! Harusnya aku yang menikah di tempat mewah! Bukan mereka!" berangnya murka. Fira menonjok-nonjok besi lift dengan penuh emosi.


***


Tiga puluh menit, akhirnya taksi yang dia tumpangi berhenti di depan gedung hotel berbintang lima. Lokasinya sesuai dengan lokasi yang Anya berikan.


Ada dekorasi indah di depan pintu masuk, yang bertuliskan nama


...'Happy Wedding'...


...'Tian Siregar & Nissa Arianna Prasetyo'...



Fira menghentakkan sepatu high heelsnya, lalu menuju pintu masuk yang sudah ada empat penjaga di depan sana.


...Mau ngapain sih, Fir 🤪 mau digagalin juga udah halal kali mereka 🤣...

__ADS_1


__ADS_2