Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
153. Apa dia mau cari masalah?


__ADS_3

Bukannya menjawab, Steven justru terkejut melihat kehadiran lelaki di depannya. Udin tentunya masuk daftar musuh Steven, mungkin peringkat pertama.


Jika diingat, lelaki bau itu pernah meminta izin mengajak Citra untuk pergi bersama. Sudah pasti, kalau dia suka pada istrinya.


Merasa mual dan jijik, Steven pun membungkam mulut dan hidungnya sendiri. Kemudian menarik Citra seraya mendekapnya.


Dia mengajak gadis itu pergi dari sana sembari mengelus perutnya. Kemudian berkata,


"Amit-amit."


Langkah kaki mereka begitu cepat hingga tak menunggu waktu yang lama keduanya sampai di depan kelas. Citra sendiri bingung, mengapa Steven tiba-tiba menarik tubuhnya dan membawanya pergi begitu saja tanpa pamit kepada teman-temannya.


"Citra, kamu cinta nggak sama aku?" tanya Steven seraya menangkup kedua pipi istrinya. Kening gadis itu mengerenyit.


"Cinta, Om. Kenapa memangnya?"


"Mulai sekarang jauhi Udin," pinta Steven. "Kalau semisalnya kamu bertemu dengannya nggak sengaja ... ucapkan 'amit-amit' sambil mengelus perut."


Sindi pernah memberitahu Steven untuk selalu mengatakan amit-amit jika melihat sesuatu yang sadis dan melihat seseorang yang menurutnya aneh. Dan menurut Steven, Udin masuk kategori.


"Memangnya kenapa? Amit-amit itu bukannya kayak jijik gitu ya, Om?"


"Iya. Aku nggak mau nantinya anak kita mirip Udin. Ah jangan sampai." Steven menggeleng cepat, lalu membungkuk seraya mencium perut rata istrinya.


"Kok bisa mirip Udin? Kan dia anak Om."


"Dia pasti mirip denganku, Cit."


"Terus kenapa tadi bilang mirip Udin?"


"Ya berjaga-jaga saja. Aku juga kata Mama. Orang hamil, baik ibu atau ayahnya ... harus bilang amit-amit. Kamu menurut saja. Itu demi kebaikan anak kita, Cit."


Citra tak mengerti dan rasanya tak masuk akal dengan apa yang Steven katakan. Namun dia mengangguk dan mengiyakannya. Menurut jauh lebih baik. Dia juga tak mau berdebat.


"Sekarang masuk kelas. Jangan genit sama cowok lain. Nanti akunya marah." Steven mengelus pipi Citra, lalu mengecup kening dan bibirnya sekilas.


"Iya, Om."


"Pulangnya aku jemput, kalau nggak nanti sama Jarwo. Aku ke kantor dulu ya, Cit. Kamu jangan jajan sembarangan dan hati-hati kalau jalan. Takut terpeleset."


"Iya, Om. Om juga hati-hati."


Steven memeluk Citra, kembali dia mengecup bibirnya. Kemudian setelah itu barulah dia melangkah pergi. Citra segera masuk ke dalam ruang kelas.


'Apa besok aku bilang saja sama Pak Adam, ya, untuk memindahkan Udin supaya nggak kuliah di sini lagi. Aku benci banget sama dia,' batin Steven.


Langkah Steven terhenti di depan parkiran, Jarwo segera membukakan pintu mobil untuknya masuk.

__ADS_1


"Bapak di sini saja sambil mengawasi Citra."


"Mengawasi bagaimana, Pak?" tanya Jarwo bingung.


"Mengawasi dia pas kuliah, jam istirahat, pokoknya ada di sini sampai pulang."


"Oh, oke. Tapi kenapa harus diawasi? Ada apa dengan Nona Citra?"


"Nggak ada apa-apa. Aku cuma khawatir saja." Steven mengetik layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman. Dia menghubungi asistennya.


"Oh, karena Nona Citra sedang hamil, ya?" tebaknya.


"Iya. Itu yang pertama. Tapi yang kedua aku takut dia digoda laki-laki lain, Pak."


"Nanti saya akan awasi dan jamin Nona Citra nggak akan diganggu, Pak."


"Itu bagus. Pokoknya jangan sampai ada yang menggoda Citra. Apalagi yang bernama Udin dekil dan Arya yang sok ganteng."


"Udin dekil dan Arya yang sok ganteng?" Kening Jarwo mengerenyit. Nama itu tentu asing di telinga. "Mereka yang mana?"


"Si Udin yang tadi menyapaku. Yang bau, dekil, berdaki, bergigi kuning, berkawat dan berjigong."


Jarwo meringis geli mendengar ciri-ciri. "Oke, kalau Arya yang sok ganteng itu bagaimana orangnya?"


"Dia orangnya ...." Steven menggantung ucapannya. Bingung untuk menyebutkan ciri-ciri Arya. Bisa saja sih dia bilang tinggi dan putih. Tetapi dia tak mau. Itu seperti memujinya. "Bapak nanti pasti tahu sendiri. Awasi saja Citra intinya."


"Tentu saja, nggak perlu khawatir. Nanti aku transfer. Aku mau ke kantor dulu sekarang." Steven menatap sebuah mobil hitam yang baru saja masuk ke dalam gerbang, kemudian seorang pria keluar dari sana. Dia adalah Dika, asistennya.


"Iya, Bapak hati-hati," ucap Jarwo. Steven hanya mengangguk kecil.


***


Citra menghentikan langkahnya saat hendak melangkah menuju kursi. Tempat biasa dia duduk. Namun, kursi itu diduduki oleh seseorang.


'Itu 'kan kursiku?'


Seorang gadis berambut pendek yang duduk di kursi itu lantas mengangkat wajahnya, sebab sejak tadi terus menunduk menatap layar ponsel. Pandangan mata mereka pun bertemu dan seketika bola mata keduanya berbinar.


Berdiri, lalu dengan cepat memeluk tubuh Citra yang jaraknya memang dekat. Perlahan kedua tangannya mengelus punggung.


"Citra, aku kangen banget sama kamu," ucapnya terdengar tulus.


"Aku juga kangen. Tapi kok kamu bisa ada di sini, Sil?" tanya Citra seraya melepaskan pelukan. Gadis yang duduk di kursinya itu ternyata adalah Sisil.


"Aku dari kemarin sudah pindah kuliah di sini, Cit."


"Benarkah? Kenapa? Apa karena sangking rindunya sama aku sampai kamu mau pindah?" tanya Citra dengan pede. Sungguh begitu bahagia, terpancar jelas di wajahnya.

__ADS_1


Sisil terkekeh. "Aku memang rindu banget sama kamu. Tapi alasan aku pindah bukan karena itu, Cit."


Citra merengut lesu. "Lalu?"


"Pas hari Minggu, ada musibah. Kampusku kebakaran."


Mata Citra terbelalak. Dia terkejut. "Innalilahi. Serius kamu? Kok bisa kebakaran?" tanyanya penasaran.


"Iya. Ayok kita duduk. Nanti aku ceritakan." Sisil mengajak Citra untuk duduk di kursi bekas bokongnya, lalu dia pun menarik kursi kosong yang berada di sebelah. Mendekatkannya kemudian duduk di sana.


Sebelum masuk, mereka pun berbincang.


***


Di kantor Steven.


"Pak, kata resepsionis depan ada orang yang mencari Bapak," ucap Dika seraya menutup panggilan telepon. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.


Dia mengatakan hal itu pada saat dirinya dan Steven telah menyelesaikan meeting. Kakinya melangkah mengikuti sang bos yang masuk ke dalam ruangannya.


"Siapa?" tanyanya seraya membuka semua kancing jas, kemudian duduk di kursi putar sambil menyandar.


"Namanya Tian Siregar. Beliau menunggu sejak Bapak meeting katanya."


Kening Steven mengerenyit. Heran rasanya, tumben sekali Tian mencarinya sampai datang ke kantor. Seumur-umur, sepertinya baru kali ini pria itu datang.


'Mau ngapain Om Tian mencariku sampai datang ke kantor? Apa dia mau cari masalah denganku?' batinnya.


"Bagaimana, Pak? Boleh atau nggak dia menemui Bapak?" tanya Dika.


"Boleh. Tapi aku minta seorang satpam untuk mendampinginya."


"Kenapa memangnya, Pak? Apa dia orang jahat?"


"Bisa dibilang begitu. Tapi aku penasaran ingin tahu apa maksud kedatangan." Steven mengambil ponselnya, lalu mencoba menelepon Citra. Namun sayang tak diangkat. 'Padahal baru beberapa jam, tapi aku udah kangen. Ah, rasanya aku pengen pensiun deh. Biar bisa bersama Citra setiap hari,' batinnya seraya membelai foto Citra pada layar ponsel.


Setelah beberapa menit saat Dika menghubungi penjaga resepsionis, pintu ruangan Steven pun diketuk dari luar


Tok ... tok ... tok.


Dia melangkah, lantas membukakan pintu tersebut.


"Pagi, Stev," sapa Tian dengan ramah seraya melangkah masuk bersama seorang satpam. Steven menatapnya, keningnya mengerenyit kala pandangannya tertuju pada sebuah map coklat yang berada di tangannya.


"Mau apa Om ke sini?" tanya Steven tanpa basa-basi. Suaranya terdengar ketus.


...Mau pinjem duit, Om 🤣...

__ADS_1


__ADS_2