Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
89. Cantikan pacarku


__ADS_3

"Siapa yang belum goyang?" tanya Sindi yang baru saja datang menghampiri Steven.


"Nggak, bukan siapa-siapa," elak Steven sambil menggeleng cepat.


"Kamu darimana saja sampai pulang pagi, Stev? Dan wajahmu kusut sekali." Sindi mendekat lalu menangkup kedua pipi Steven. Wajah anak bungsunya itu terlihat muram tak bergairah, rambutnya juga acak-acakan.


"Kan Mama tahu aku mencari pacarku. Aku mau mandi dulu deh," gerutu Steven. Dia pun melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu.


Sindi segera berlari kecil mengejar. Ada Angga yang tengah duduk di meja makan sambil mengunyah roti tawar. Dia melihat kedatangan anak bungsunya.


"Kamu baru pulang, Stev? Wah, kayaknya semalam kamu menginap di tempat pacarmu, ya?" tebak Angga. "Pasti sambil ehem ehem sampai pulang pagi begini," lanjutnya sambil terkekeh.


"Jangan bilang kamu dan dia berzina, Stev?! Itu nggak baik!" tegur Sindi yang kemakan omongan Angga, padahal pria tua itu tadi hanya menebak saja.


"Apaan sih, aku ketemu dia juga nggak! Aku malah pusing tahu, nggak!" tukas Steven kesal. Dia pun langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Sindi menarik kursi, lalu duduk di samping Angga. "Coba Papa nanya kek sama Steven. Kayaknya dia banyak pikiran banget. Kasihan dia, Pa."


"Kenapa nggak Mama saja? Kan Mama ibunya."


"Papa 'kan juga ayahnya." Sindi membalikkan perkataan Angga.


"Memangnya kenapa Mama menyuruh Papa? Bukannya kalau apa-apa tentang Steven Mama yang maju duluan, ya?"


"Iya, sih. Tapi Mama takut. Kelihatannya Steven sedang marah, dia 'kan kalau marah suka teriak-teriak dan kuping Mama jadi sakit."


"Papa juga sakit mendengarnya. Tapi ya sudah deh, berhubung Papa ini suami yang baik sama istri dan sayang anak ... jadi Papa turutin. Asal habis sarapan kita bercinta, ya?"


Awalnya Sindi senang mendengar Angga menuruti permintaan, tetapi kata-katanya diakhiri itu langsung merubah moodnya.


"Papa sudah deh, kenapa mikirin bercinta mulu? Ini masih pagi dan lagian Papa itu lemah!"


"Papa sudah beli obat kuat, Ma. Katanya semalam Mama kepengen."


Sindi berdecak kesal. "Tapi masalahnya waktunya nggak tepat, Pa. Papa nggak kasihan memangnya sama Steven? Dia kelihatan frustasi itu!" geramnya dengan emosi yang memuncak. Sindi tak habis pikir dengan Angga, pria itu semakin tua malah semakin tak bisa diajak diskusi.


"Dih, kok jadi Mama yang marah-marah? Ya sudah sih, nanti Papa ke kamar Steven." Angga mengerucutkan bibirnya, lantas melanjutkan sarapan.


*


*


Seusai sarapan, Angga berjalan menuju kamar Steven sembari membawa nampan yang berisi segelas susu dan sandwich. Lantas dia pun menurunkan handle pintu dan melebarkannya.


"Stev, ngapain kamu?!" Angga terbelalak, dia begitu terkejut saat melihat Steven tengah duduk di kasur sembari menciumi bra. Pria tampan itu sama kagetnya, dia sampai terperanjat dan cepat-cepat menyembunyikan kacamata kain itu dibalik bantal.


"Papa kenapa nggak ketuk pintu dulu? Nggak sopan banget!" Steven mendengkus kesal, tetapi tampak jelas wajahnya itu begitu panik bercampur malu.

__ADS_1


"Ah iya, maafkan Papa. Sebentar ...." Angga keluar lagi dari kamar itu lalu menutup pintu, kemudian mengetuk pintu tersebut.


Tok ... tok ... tok.


Angga seakan mengulang saat dimana dia datang, supaya anaknya itu tak marah.


"Boleh Papa masuk, Stev?" tanya Angga.


"Dih, ya kalau sudah masuk mah, masuk saja, Pa! Kenapa harus mengulang?" Steven justru makin kesal dengan tingkah Angga. Perlahan pria tua itu membuka pintunya lagi lalu masuk ke dalam sana sambil cengengesan.


"Ya biar kamu nggak marah, Stev. Lagian kamu tuh dari kemarin marah-marah mulu. Nanti darah tinggi lho." Angga menaruh nampan itu di atas nakas, kemudian duduk di samping Steven.


"Gimana aku nggak marah, Pa. Sedangkan pacarku nggak ada kabar," keluh Steven. Wajahnya yang sempat masam itu langsung berubah menjadi sendu.


"Kemarin sore itu kamu jadi nggak ke tempatnya? Kok bisa nggak ketemu?"


"Dia pergi dari apartemen, Pa. Dan yang buat aku kesal adalah .... ini semua gara-gara Gugun!" Steven mengepalkan kedua tangannya di atas paha.


"Gugun lagi? Kenapa dengannya?" Kening Angga mengerenyit.


"Gugun membawa kabur pacarku!"


Mata Angga seketika terbelalak, dia kaget mendengar apa yang anaknya itu katakan. "Dibawa kabur? Kok bisa? Kamu sudah lapor polisi belum?"


"Sudah, hari ini mereka sedang mencari Gugun. Tapi aku takut, Pa." Kepala Steven perlahan menyandar pada tembok, wajahnya mendongak ke atas seraya menatap langit-langit kamar.


"Takut Gugun menikahinya. Aku nggak mau, aku nggak rela. Dia hanya milikku." Steven menggeleng cepat.


"Memangnya Gugun suka padanya? Dan alasan Gugun membawa kabur itu apa?"


Steven menggeleng samar. "Nggak tahu. Tapi awalnya 'kan pacarku itu marah gara-gara melihatku bersama Fira, niatku ingin datang menemui dan menjelaskan semuanya supaya dia nggak salah paham. Tapi Gugun malah ikut-ikutan dan sekarang dia malah membawanya kabur. Aku benci padanya, Pa!"


"Kamu benci sama pacarmu?" tanya Angga.


"Bukan, sama Gugun!"


"Kamu sudah telepon Gugun?"


"Nomorku diblokir."


"Tapi kok kamu bisa tahu Gugun membawa pacarmu pergi, memang kamu lihat sendiri?"


"Pas aku telepon dia ... ada pacarku di sana. Tapi Gugun nggak memperbolehkanku untuk bicara."


"Ya sudah, nanti Papa akan sewa anak buah untuk mencari keberadaan Gugun. Itu keluarganya sudah tahu belum kalau dia dibawa kabur Gugun? Pasti Papanya marah besar."


"Dia yatim piatu. Keluarganya hanya dua omnya saja. Tapi mereka jahat."

__ADS_1


"Jahatnya gimana?"


"Jahat, pengennya merotin duitnya doang."


"Kasihan sekali, terus selama ini dia tinggal di mana?"


"Di apartemenku."


"Satu atap denganmu?"


Steven menggeleng cepat. "Nggak, kita tetanggaan."


"Oh, terus awal ketemu gimana? Kok kamu bisa suka padanya?"


"Eeemm itu ...." Steven mengusap tengkuknya dan mulai mencari ide untuk dijadikan alasan. "Ketemunya nggak sengaja pas makan siang di restoran."


"Oh, kamu mengajaknya kenalan?"


Steven mengangguk.


"Cinta pada pandangan pertama berarti. Manis sekali kamu, Stev. Terus dia langsung terima pas kamu nembak?"


"Iya dong, Pa. Kan aku ganteng." Steven tersenyum dengan penuh kebanggaan sambil mengkhayalkan wajah Citra, ketika dia tengah memuji ketampanannya.


Angga terkekeh dan perlahan mengelus rambut Steven. "Eh ngomong-ngomong ... tadi behaa siapa yang kamu ciumin? Kayaknya bagus."


"Itu punya pacarku. Aku menemukannya di apartemen dan aku bawa."


"Coba Papa lihat." Tangan Angga sudah menyentuh bantal yang Steven sembunyikan kacamata di bawahnya, tetapi dengan cepat Steven menyingkirkan tangan Angga.


"Enak saja, nggak boleh! Itu milikku. Papa lihat saja punya Mama."


"Punya Mama bosen, Stev. Dan sepertinya lebih bagus punya pacarmu."


"Dih, Papa! Jangan!" Steven menepis kasar tangan Angga yang lagi-lagi nakal ingin membuka bantal. Terlihat pria tua itu tengah terkekeh. "Papa nggak boleh mesum sama pacarku. Papa sudah tua dan keriput. Aku nggak suka!" tegas Steven marah.


"Orang mau lihat doang masa dibilang mesum, aneh kamu!β€œ


"Sama saja, itu nggak boleh! Awas saja kalau Papa genit pas ketemu dengannya!" ancam Steven.


Angga menggeleng cepat. "Nggak akan. Kan dia calon menantu. Oh iya, kamu belum beritahu Papa nama dan ada fotonya nggak? Papa mau lihat dong, bagaimana orangnya. Lebih cantikan mana dengan Dedek Gemes Papa."


"Cantikan pacarku pasti. Namanya Citra, Pa." Steven menoleh ke arah nakas, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel.


...Bukannya mereka satu orang, ya?πŸ€”...


...Sebab dulu ya, Guys. Nanti kalau votenya nambah, aku up lagi. Soalnya yang ngasih vote dikit, yang ngelike apalagi πŸ₯² aku nggak semangat πŸ₯ΊπŸ€§...

__ADS_1


__ADS_2