Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
259. Kehangatan sebuah keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya di rumah Nurul.


"Fir, antar Mama ke rumah sakit, yuk!" ajak Nurul seraya melebarkan pintu kamar Fira yang memang sudah terbuka sedikit.


Wanita itu sejak pagi hanya tidur-tiduran sambil bermain ponsel di kamar. Tidak ada kegiatan di hari libur.


"Mau ngapain? Mama sakit?" tanyanya seraya menoleh ke arah pintu. Lalu memperhatikan Nurul yang tampak jauh lebih rapih dan cantik, ada tali tas selempang yang menempel pada bahu kirinya.


"Jenguk anaknya Steven, katanya si Citra sudah lahiran."


"Dih ngapain jengkuk, nggak penting banget!" Fira memutar bola matanya dengan malas, lalu mengulirkan layar ponselnya. Melihat beberapa postingan teman-temannya yang tengah liburan bersama suami.


"Jangan begitu, Fir. Walau bagaimanapun Mamanya Steven itu temen Mama."


"Ya kalau mau jengkuk, Mama saja sana. Nggak usah ajak aku," ketusnya.


"Masa kamu tega biarin Mama jengkuk sendirian? Nggak enak dong."


"Tapi aku malu ketemu Pak Angga. Nanti kalau dia nyindir aku gimana?"


"Nyindir apa? Memang kamu punya salah sama dia? Kan nggak. Kamu cuma mantan calon menantunya."


"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku malu. Aku juga benci sama Citra. Gara-gara dia masa depanku berantakan."


"Mama juga benci sama dia, tapi kita lihatnya Bu Sindi dong. Kalau kita nggak datang nggak enak. Selama ini Bu Sindi masih baik sama Mama." Nurul melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menarik lengan sang anak hingga membuat tubuhnya bangkit untuk duduk. "Masa Mama pergi sendirian, kamu tega banget. Mama kesepian tahu."


"Kataku juga Mama cari suami lagi! Yang kaya, biar nggak kesepian!" oceh Fira kesal.


"Udah jangan banyak bicara kamu, Mama tunggu diluar. Kalau kamu nggak mau nemenin, Mama ngambek!" ancam Nurul lantas keluar kamar.


Akhirnya, setelah dibujuk Fira mau juga. Walau sebenarnya pergi tidak sepenuh hati.


"Bagaimana misimu untuk mendekati bosmu? Udah ditahap mana sekarang?" tanya Nurul seraya menoleh.


Sekarang dia dan Fira tengah duduk di kursi belakang mobil taksi. Mobil itu melaju menuju rumah sakit.


"Besok aku akan menjebaknya." Fira tersenyum licik.


"Menjebak gimana?"


"Ada lah pokoknya. Mama nggak musti tahu." Fira tersenyum licik.

__ADS_1


"Jangan berbuat yang aneh-aneh, Fir. Kamu 'kan baru lahiran."


"Nggak aneh kok."


"Tapi ngomong-ngomong, bosmu itu jomblo, kan?"


"Udah punya istri dan dua anak."


Mata Nurul terbelalak. "Lho, udah berumah tangga rupanya. Mama kira masih single."


"Aku nggak permasalahin sih, Ma. Mau dia suami orang juga. Yang penting ganteng, tajir dan nggak terlalu tua."


"Tapi sama yang duda jauh lebih aman, Fir. Takutnya bininya marah."


"Dia nggak bakal marah, selagi nggak tahu, Ma."


*


*


Selang 30 menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mobil taksi itu berhenti di sisi jalan dan keduanya langsung turun setelah membayar ongkos.


"Ma, aku mau beli air minum dulu di restoran, ya. Nanti aku nyusul," pinta Fira seraya mencekal lengan Nurul. Sang Mama menghentikan langkahnya, lalu menoleh.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Mama tunggu di kamar inap Citra. Nanti kamu chat saja kalau sudah dari restoran."


"Iya." Fira mengangguk, lantas berjalan cepat menyebrang jalan menuju restoran.


Saat dia masuk ke dalam sana, Fira langsung menatap sekeliling. Mencari-cari keberadaan Tian dan Nissa.


'Mana Mas Tian dan Mbak Nissa? Aku salah lihat nggak sih, tadi?' batinnya.


Pandangan mata Fira akhirnya terjatuh pada meja yang berada di dekat kasir. Ternyata benar, ada Tian dan Nissa di sana.


Tian tengah menoel hidung mancung Nissa sambil terkekeh. Dilihat wanita itu juga sama terkekehnya. Sepertinya mereka sedang bercanda, dan tampak jelas jika keduanya begitu akrab.


'Ada hubungan apa mereka berdua? Apa jangan-jangan pacaran?' batin Fira penasaran.


Setelah melihat Nissa meninggalkan Tian dari sana, Fira pun melangkah menghampiri Tian yang sudah duduk di kursi. Sepertinya Nissa pergi menuju toilet.


"Mas ngapain ada di sini bareng Mbak Nissa?" tanya Fira tanpa basa basi.

__ADS_1


Tian yang tengah berbicara pada pelayan restoran itu menoleh ke arahnya. Setelah memesan dan membiarkan pelayan itu pergi, barulah dia menjawab, "Ini restoran, kalau nggak makan, paling minum."


"Iya, aku tahu. Tapi ada hubungan apa antara Mas dan Mbak Nissa? Apa kalian pacaran?"


Pertanyaan yang Fira lontarkan bertepatan dengan Steven yang baru saja melangkah menuju kasir, hendak membayar makanan yang dia beli secara take away. Tetapi baik Fira atau pun Tian, keduanya tidak mengetahui keberadaan Steven.


"Dia calon istriku."


Mata Fira sontak membulat sempurna. Kaget mendengar jawaban mantan suaminya. "Apa Mas gila? Mas mau menikah dengan Mbak Nissa?"


"Gilanya kenapa? Dan apa urusannya denganmu? Kita sudah resmi bercerai, kan?"


"Nggak ada urusan. Tapi kenapa harus dengan Mbak Nissa? Dan, apa Mbak Nissanya mau sama, Mas?"


"Katanya nggak ada urusan. Kok kamu tanya-tanya?" Tian menatap aneh Fira dengan kening yang mengerenyit. "Udah pergi sana. Aku nggak mau nanti Nissa cemburu dan berpikir yang tidak-tidak tentang kita," usirnya. Meski begitu, setiap perkataannya terdengar lembut dan bernada rendah. Tidak seperti Fira yang sudah memakai urat.


"Tapi aku nggak rela kalau Mas dan Mbak Nissa menikah! Enak saja!" berang Fira emosi. Fira tidak mau kalau sampai Tian yang lebih dulu bahagia ketimbang dirinya. Tidak ikhlas sekali rasanya.


"Apaan sih kamu, Fir. Itu hak aku, ya, mau menikah sama siapa pun. Kamu juga mau menikah dengan siapa saja silahkan."


"Tapi jangan dengan Mbak Nissa dong, Mas. Masa dulu pas aku minta Mas ngeret hartanya Mas nggak mau, sedangkan sekarang Mas mau menikahinya!" Fira menggertakkan giginya dengan emosi. "Oh, atau mungkin Mas mau menguras hartanya seorang diri. Biar aku nggak kebagian begitu?"


"Jaga bicaramu, Fir!" sentak Tian seraya mengebrak meja. Baru sekarang, pria itu berbicara dengan nada tinggi pada Fira. Sebab itu sudah menyangkut harga diri. Fira secara langsung menghinanya.


Kalau memang tuduhan itu benar sih tidak masalah, tapi ini sangatlah tidak benar.


"Aku nggak pernah berpikir seperti itu! Apa yang aku lakukan saat ini adalah bentuk kalau aku mencintainya dengan sungguh-sungguh!" tegas Tian.


"Tapi aku nggak percaya. Aku dan Mbak Nissa beda jauh. Dari segi umur aku lebih muda, jadi nggak mungkin Mas bisa semudah itu melupakan aku dan mencintai Mbak Nissa. Selain itu dia juga janda, punya anak satu. Memang Mas sudi, mengurus anak tiri?" tanya Fira dengan dagu yang terangkat.


Tian mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa bergemuruh. "Jangankan mengurus, Juna minta nyawaku saja aku kasih. Aku sangat menyayanginya."


"Alah, aku nggak percaya. Mas pasti berbohong."


"Mau percaya atau nggak juga terserah. Yang penting aku sudah jujur. Aku ini sayang sama Nissa dan Juna tanpa embel-embel apa pun. Yang aku lihat dari mereka adalah kehangatan sebuah keluarga." Tian menatap lurus dengan pandangan kosong. Tetapi bola matanya tampak berkaca-kaca.


'Kehangatan sebuah keluarga?' batin Steven yang sejak tadi berdiri mematung di tempatnya. Dia mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


"Aku juga mau, Fir, mempunyai istri yang benar-benar mencintaiku. Selain itu, aku lahir tanpa sosok orang tua. Aku nggak pernah merasakan indahnya kasih sayang dari orang tua. Dan aku merasa tak rela, jika anak selucu dan sepintar Juna ... kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Baik Nissa atau pun Juna. Mereka berhak bahagia. Dan tugasku di sini hanya membahagiakannya, bukan untuk menyakiti keduanya," tambah Tian.


...Kira-kira meleleh ga, ya, hati Om Steven, Guys? 🥺...

__ADS_1


__ADS_2