
"Memang kenapa, Pak?" tanya Fira penasaran. Dilihat Steven sejak tadi diam saja.
"Nggak." Steven menggeleng cepat. "Boleh aku pinjam hapemu? Aku mau telepon Gugun."
"Apa Bapak mau meminta Pak Gugun untuk datang ke sini?" tebak Fira.
"Iya."
"Bu Sindi melarang siapa pun datang untuk berkunjung. Kecuali saya, Bu Sindi sendiri dan Pak Angga. Selain itu katanya nggak boleh," jelas Fira. Ya, benar. Dia tahu itu semua karena Sindi sendiri yang memberitahunya.
"Memangnya kenapa?" Kening Steven mengerenyit.
"Kemarin ... ada dua orang pria yang mencoba untuk membunuh Bapak dengan cara ingin menyuntikkan racun. Mereka sepertinya menyamar sebagai perawat."
"Dua orang pria?" Kening Steven mengerenyit. "Siapa mereka?"
"Saya nggak tahu." Fira menggeleng. "Soalnya sampai sekarang pihak polisi belum berhasil menemukannya. Tapi katanya setelah Bapak sadar ... mereka akan tanya-tanya. Eemm ... maaf sebelumnya, mungkin saja pertanyaan saya bisa membantu. Apa Bapak mencurigai seseorang? Apa Bapak selama ini punya musuh?"
Steven terdiam, tetapi seketika wajah Tegar dan Tian ada di dalam otaknya.
'Apa mungkin dua pria yang gila harta itu? Tapi menurutku sih iya, karena setahuku ... aku nggak punya musuh,' batin Steven.
"Coba telepon pihak polisi, bilang dia suruh datang ke sini. Aku akan bicara dengannya," kata Steven.
"Baik, Pak." Fira mengangguk, kemudian dia pun mengambil ponselnya pada saku jas dan menghubungi polisi.
Ting~
Ting~
Ting~
__ADS_1
Setelah panggilan itu usai, ada tiga chat masuk sekaligus di ponselnya. Fira membuka salah satunya dan seketika matanya membulat. Kemudian selang beberapa detik, ada sebuah panggilan masuk. Cepat-cepat dia pun mematikannya.
"Kamu kenapa, Fir? Kok kayak kaget gitu?" tanya Steven yang tampak heran dengan sikap Fira. Gadis itu seperti terkejut tetapi entah apa sebabnya.
"Ini masalah kerjaan, Pak. Saya lupa untuk merevisi materi untuk meeting nanti siang." Fira tersenyum menatap Steven sembari menaruh ponselnya ke dalam saku jas. "Saya ke kantor dulu deh, ya. Walau bosnya sakit ... tapi sekertarisnya harus tetap masuk 'kan, Pak?" tanyanya dengan suara lembut dan agak manja. Sesekali dia pun mengelus punggung tangan Steven.
"Iya, kamu harus tetap masuk." Steven mengangguk pelan. "Sementara kamu dan Dika handle dulu pekerjaanku ya, Fir. Sampai aku benar-benar sembuh."
"Iya, tentu saja." Fira mengangguk cepat. "Oh ya, saya lupa ingin mengatakan kalau kata Bu Sindi ... pernikahan kita akan dipercepat, Pak. Kita akan segera menikah." Fira perlahan bangun dan secara tiba-tiba mengecup pipi kiri Steven.
Cup~
Sontak—pria itu langsung terbelalak dan seketika wajahnya bersemu merah. Dia merona karena telah dicium oleh Fira.
Di sisi lain, lebih tepatnya di depan pintu kamar. Ada Citra yang tengah berdiri menatap mereka berdua dibalik kaca yang berada di pintu.
Entah sejak kapan dia berada di sana, tetapi yang jelas—dia menyaksikan apa yang telah terjadi. Sebuah kecupan yang terlihat begitu mesra dan seketika membuat dadanya sesak.
Namun melihat raut wajahnya yang tampak merona, Citra bisa menyimpulkan sebuah kenyataan besar bahwa pria itu memang menyukai Fira. Ekspresi dimana dia dicium oleh gadis itu dibanding saat Citra yang mencium—sungguh berbeda.
Citra masih ingat betapa risihnya Steven saat mendapatkan kecupan darinya, tetapi tidak dengan Fira.
'Apa Om lebih suka dicium Safira dibanding dicium olehku? Padahal aku ini istri Om. Safira bukan siapa-siapa ....' Derayan air mata itu sudah tak bisa terhitung karena sangking banyaknya. Mengalir membasahi pipi. Meskipun berkali-kali dia menyekanya, tetapi tetap saja kembali mengalir.
Ingin rasanya dia masuk ke dalam sana dan mengatakan hal yang memang niat awalnya datang, tetapi sayangnya itu semua tak bisa terjadi.
Saat baru datang, dua orang pria bertubuh besar menghadangnya tepat di depan pintu. Tak memperbolehkannya masuk bahkan kini keduanya mencekal lengan Citra. Gadis lugu itu seolah dipandang menjadi orang jahat.
"Nona dilarang masuk ke dalam!" tegas pria itu.
"Kenapa memangnya?" tanya Citra yang tampak heran bercampur sedih.
__ADS_1
"Hanya pihak keluarga saja yang boleh menjengkuk Pak Steven," katanya dan perlahan Citra pun menatap ke arah kaca pintu dan saat itulah kejadian mengecupan terjadi. "Hanya Bu Sindi, Pak Angga dan Nona Fira saja yang boleh menjengkuk Pak Steven, Nona." Pria itu mempertegas ucapannya dan lagi-lagi membuat Citra ingat akan posisinya.
Tak berharga, tak berguna dan bahkan tak diinginkan.
'Jadi ... meskipun aku istrinya, tapi aku bukan keluarganya?'
Sakit! Sakit sekali rasanya. Ngilu sampai ulu hati. Sepertinya sekarang, tak ada gunanya lagi Citra bertanya akan siapa yang dipilih oleh Steven, karena dari kenyataan itu dia sudah tahu.
Mungkin inilah waktunya, waktu dimana rasa sabar dan penantian itu habis. Pada akhirnya Citra menyerah, menyerah dan mencoba merelakan Steven untuk wanita idamannya.
'Aku kira rasanya nggak bakal sesakit ini. Ternyata begitu sakit ....' Citra menyentuh dadanya sembari mengatur napasnya yang terasa sesak. Seluruh tubuhnya terguncang. 'Om Ganteng, aku ... aku nggak kuat. Aku menyerah. Karena sampai detik ini ... nggak ada sedikit pun rasa cinta dihati Om untukku.'
'Apakah memang aku ini nggak pantas Om cintai? Apakah gadis oon yang nggak tahu apa-apa dan nggak bisa apa-apa memang harus disakiti?'
'Sakit, Om. Sakit sekali rasanya. Kenapa Om sejahat ini padaku? Padahal aku begitu mencintai Om melebihi apa pun.'
'Mulai detik ini ... aku akan merelakan Om untuk Safira. Aku nggak akan pernah menganggu hidup Om lagi. Semoga Om bahagia. Bahagia bersama wanita idaman Om.'
Melihat Fira hendak keluar kamar, Citra pun lebih dulu pergi dari sana. Dia berlari sekencang-kencangnya. Membawa pergi air mata dan rasa kecewa di hatinya.
Salah satu pria berbadan besar itu mengambil sebuah buket bunga mawar yang baru saja Citra jatuhnya. Memang sejak awal datang gadis itu terus mengenggamnya.
"Widih ... dapet bunga dari siapa tuh, Wo?" tanya Angga yang baru saja datang. Dia dan Sindi habis pergi melaksanakan salat duha, tetapi dia yang selesai lebih dulu. "Ternyata muka seram juga ada, ya, penggemarmu," tambahnya lagi sambil tertawa mengejek.
"Bukan dari penggemar saya, Pak," jawab Jarwo sambil menggelengkan kepala. "Tapi bunga ini dari seorang gadis yang mau menjengkuk Pak Steven."
"Gadis yang menjenguk Steven? Siapa?" Angga hendak mengambil bunga tersebut, tetapi urung dilakukan sebab mengingat ucapan Sindi waktu itu. Yang mengatakan kalau ada bunga yang diracun. "Coba bawa bunga itu ke laboratorium, dicek dulu siapa tahu ada racunnya. Kalau nggak ada berikan padaku."
"Iya." Jarwo mengangguk paham, hanya berselang beberapa menit dia pergi—kini dia pun kembali. Lantas memberikan bunga itu pada Angga yang sudah duduk di kursi. "Nggak ada racunnya kata Dokter, Pak. Aman."
"Oke." Angga langsung merogoh ke dalam buket bunga mawar merah itu. Entah sedang apa, tetapi dia mencari-cari sesuatu dan akhirnya ketemu. Sebuah kartu ucapan dengan bentuk hati yang bertuliskan.....
__ADS_1
...Apa tulisannya? 🤔😭...