Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
370. Khawatir


__ADS_3

Tubuh Angga seketika bergetar hebat kala tangannya merasakan basah menyentuh kepala belakang Steven. Ada darah yang keluar dari sana dan itu cukup banyak.


"Astaghfirullah! Kenapa dengannya, Pak?" Seorang satpam datang menghampiri. Dia satpam gedung sekolah SD itu yang tadi sempat pergi untuk ngopi di warung sebelah.


"Tolong bantu Opaku, Pak! Bantu bawa Om Steven ke dalam mobil!" seru Juna. Dia yang melihat tangan Angga berlumuran darah tentu ikut panik juga, merasa takut jika Omnya kenapa-kenapa.


"Ayok, Pak." Segera, pria berseragam hitam itu berjongkok. Kemudian meraih tubuh Steven untuk dia angkat, Angga pun langsung berdiri dan mereka dengan susah payah akhirnya bisa memasukkan Steven ke dalam mobilnya.


Steven dimasukkan ke dalam mobil pada kursi belakang, Angga juga ikut masuk untuk menemani. Sedangkan satpam duduk dikursi kemudi.


"Ayok kita ikut masuk, Dan!" Mendengar suara kendaraan roda empat itu hendak melaju, Juna langsung menarik tangan kecil Jordan, lantas membawanya masuk bersama ke dalam mobil dan duduk dikursi di samping kemudi.


"Kita ke rumah sakit terdekat sini, cepat ya, Pak!" perintah Angga dengan penuh kecemasan.


"Baik, Pak." Satpam itu mengangguk dan tak lama mobil yang dia kemudikan itu melaju pergi dengan penuh kecepatan.


'Ya Allah, lindungi Steven. Semoga dia baik-baik saja,' batin Angga. Dia menatap sendu wajah Steven yang terlihat pucat, bola matanya tampak berkaca-kaca.


*


*


*

__ADS_1


30 menit berlalu. Akhirnya mobil yang mereka tunggani sampai tujuan.


Kedatangan mereka di rumah sakit bertepatan sekali dengan Sofyan dan Maya yang keluar dari sana. Mereka baru selesai mengunjungi dokter kandungan.


"Lho, Pa, kenapa dengan Steven?" tanya Sofyan dengan bola mata yang melebar sempurna. Dia tentu merasa kaget saat melihat adik bungsunya itu terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Beberapa perawat di sana tengah mendorongnya, kemudian membawanya menuju ruang UGD.


"Steven jatuh, Yan," jawab Angga sambil menangis. Dia langsung berlari dengan mengandeng tangan Jordan dan Juna, menyusul Steven.


Sofyan dan Maya pun akhirnya kembali lagi masuk ke rumah sakit, menghampiri mereka semua yang telah berdiri di ruang UGD. Steven sudah dimasukkan ke dalam sana.


"Jatuh dari mana si Steven, Pa? Kok sampai berdarah gitu?" Sofyan mendekat ke arah Angga, lalu merangkul bahunya.


"Jatuh dari pohon mangga, Yan. Kepalanya terbentur batu," jawab Angga yang masih menangis.


"Ngapain si Steven naik pohon mangga, Pa? Nggak ada kerjaan amat itu anak," gerutu Sofyan sambil mengusap keringat pada dahinya.


"Itu Papa yang nyuruh, Yan. Karena Mama sendiri meminta mangga langsung metik dari pohon dan Steven lah yang metik," jelas Angga. Suaranya terdengar bergetar, begitu pun dengan jantungnya yang berdebar kencang. Takut jika hal buruk terjadi pada Steven, apalagi melihat darah pada kepalanya yang cukup banyak.


"Memangnya nggak ada galah? Kenapa nggak pakai galah saja, Pa?" Sofyan menarik Angga untuk duduk bersama di kursi panjang di samping Juna, Maya dan Jordan. Setelah itu dia mengusap-usap bahunya. Mencoba untuk menenangkan.


"Kalau ada galah Om Steven nggak akan manjat Pakde." Juna yang menyahut. Dia lantas berdiri dan mendekat ke arah Sofyan ketika baru saja pria itu menoleh. "Tapi sebenarnya yang salah itu Jordan. Karena dia rewel minta mangga juga, harusnya Om Steven sudah turun dan nggak bakal jatuh kayak gini," tambahnya sambil menatap Jordan. Secara tidak langsung, dia menyalahkan Jordan yang membuat semua ini sampai terjadi.


"Enak saja salah Joldan!" Tentunya, bocah berusia dua tahun setengah itu tidak mau disalahkan. Karena memang menurutnya dia tidak salah. "Kamu uga salah, Jun!" tunjuknya ke arah Juna. "Kenapa kamu ngelalang Om Even ngambil mangga untuk Joldan?! Halusnya bialkan saja, bial nanti Om Even cepat tulun!"

__ADS_1


"Lho kok aku sih?" Juna menunjuk wajahnya sendiri dengan kening yang tampak mengernyit. "Jelas-jelas kamu—"


"Kalian berdua nggak salah!" potong Angga cepat. Sudah pusing memikirkan keadaan Steven, sekarang ditambah mendengar percekcokan dua cucunya. Makin panas saja kepalanya sekarang. "Berhenti menyalahkan, karena di sini Opa yang salah! Bukan kalian!" tambahnya setengah membentak.


Juna dan Jordan yang mendengarnya sontak terperanjat. Jordan langsung memeluk tubuh Maya, begitu pun dengan Juna yang ikut memeluknya. Seolah meminta perlindungan kepada Budenya.


Sofyan pun menghela napas, lalu menoleh kepada istrinya seraya mengusap puncak rambut. "May, kamu ke kantin atau ke cafe saja untuk beli es krim. Ajak juga Juna dan Jordan." Sengaja dia berkata seperti itu, supaya istrinya mengajak Jordan dan Juna pergi dari sana. Tentunya demi menenangkan suasana saat ini juga. Dia merasa kasihan pada Angga yang terlihat terpukul atas semua yang telah terjadi.


"Iya, Yang." Maya mengangguk. "Ayok kita beli es krim anak-anak," ajaknya. Dia pun berdiri, lantas mengendong tubuh Jordan. Setelah itu meraih tangan Juna dan mereka pun melangkah pergi dari sana.


"Papa sekarang tenang dulu, banyak-banyak istighfar," tegur Sofyan yang masih melihat Angga menangis. "Lagian ... Steven juga bukan sekali kecelakaan. Apalagi jatuh seperti ini, kan dia sudah sering. Pasti nggak apa-apa kok."


"Karena sering itulah yang membuat Papa khawatir, Yan," jawab Angga sambil sesenggukan. Perlahan dia pun mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Khawatirnya kenapa? Bukannya berarti Steven udah kebal?"


"Mending kebal. Kalau misalkan dia gegar otak atau mati gimana, Yan?" Angga menatap Sofyan dengan wajah murung dan penuh ketakutan. Dan entah mengapa, ucapan Steven yang membawa-bawa anaknya yang menjadi yatim karena dia jatuh dari pohon jadi tergiang-ngiang ditelinga. Tentunya, hal tersebut tidak boleh sampai terjadi.


Seperti apa yang pernah Steven katakan, Citra terlalu muda jika harus menjadi janda.


"Nggak mungkin." Sofyan menggeleng cepat tak percaya. "Masa selebay itu, kan cuma jatuh di pohon. Paling kena jahit doang sedikit dia, Pa."


...Ga ada yang mau ngasih vote atau bunga gitu, biar semangat 😌...

__ADS_1


__ADS_2