
"Pak Steven, maaf ...," ujar Ajis yang tiba-tiba berdiri di depan pintu. Steven terperanjat dengan kedua mata yang melebar sempurna, cepat-cepat dia pun menyembunyikan benda itu ke belakang tubuhnya. Wajahnya tampak merona karena malu.
"Ada apa? Kok masuk tanpa permisi dulu? Nggak sopan kamu!" bentak Steven. Sejujurnya ada rasa kesal di hati sebab Ajis telah mengganggunya. Padahal tadi dia terlihat begitu asyik menghirup aroma kacamata itu sambil mengkhayalkan agar-agar milik Citra.
"Maaf kalau saya nggak sopan. Tapi saya hanya ingin memberitahu jika Nona Citra memang sudah nggak tinggal di sini lagi sejak kemarin, Pak," jawab Ajis yang mana membuat mata Steven seketika melotot.
"Nggak tinggal di sini? Lalu ke mana dia, Jis?" Jantung Steven tiba-tiba berdebar kencang. Entah mengapa dia merasa takut.
Ajis menggeleng cepat. "Saya nggak tahu. Terakhir ketemu saat saya mengantar dia pergi ke rumah sakit ingin menjenguk Bapak."
"Kapan itu?"
"Kemarin."
'Berarti benar Citra melihat aku dan Fira. Terus dia marah. Tapi ... kenapa harus bercerai segala? Padahal kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik-baik,' batin Steven.
"Kenapa kamu nggak mencegah pas dia mau pergi, Jis? Harusnya kamu cegah dong!" gerutu Steven marah. Mendadak dia merasa jengkel.
__ADS_1
"Kan saya sudah bilang, saya terakhir ketemu pas saya antar dia ke rumah sakit. Setelah itu saya pulang dan Nona Citra nggak datang ke sini lagi, Pak," jelas Ajis memberitahu.
"Apa pas ke rumah sakit dia juga membawa koper?"
"Nggak, dia cuma bawa buket bunga. Kalau barang-barang Nona Citra itu diambil oleh Pak Gugun. Kemarin malam dia datang."
"Kamu kenapa nggak mencegahnya? Harusnya jangan memperbolehkannya masuk!"
"Dia bilang itu disuruh Bapak."
"Itu bukan aku yang menyuruh!" tegas Steven emosi. "Harusnya kamu hubungi aku dulu sebelumnya mengizinkan Gugun membawa pakaian Citra. Kamu ini nggak becus sekali, Jis!" Steven mendudukkan bokongnya di atas kasur. Dia pun perlahan menjambak rambutnya dengan frustasi.
Ajis tidak salah dalam hal ini, tetapi hanya dia yang mampu Steven salahkan demi meluapkan emosi.
"Terus kenapa nomor Citra nggak aktif?" tanya Steven.
Aneh sekali dia, kenapa bertanya pada Ajis?
__ADS_1
"Saya nggak tahu."
"Harusnya kemarin itu kamu ikuti dia sampai bertemu denganku! Jangan pulang begitu saja!" teriak Steven marah.
"Maaf, Pak. Saya hanya menghargai dia. Nona bilang ada urusan dengan Bapak. Mangkanya saya disuruh langsung pulang."
"Urusan apa? Kamu tahu itu?"
"Nggak, tapi Nona Citra sempat nangis di mobil pas kita berangkat. Kayaknya dia sedih gara-gara Bapak nggak mengenalkannya kepada orang tua Bapak. Lagian Bapak juga ... kenapa Nona Citra nggak dikenalkan? Kasihan, Pak. Dia jadi ngerasa nggak dihargai."
"Kenapa kamu nyalahin aku?" Steven menunjuk wajahnya sendiri yang tampak merah. Rahangnya terlihat mengeras dan matanya melotot. "Aku punya alasan kenapa aku nggak mengenalkannya dan itu bukan urusanmu!" teriak Steven. Suaranya yang amat menggelegar itu sontak membuat Ajis terperanjat.
Steven membuang napasnya kasar, lalu perlahan dia pun berdiri sambil memasukkan bra merah yang masih dia pegang pada saku dalam jas, kemudian berlari keluar apartemen.
Ajis tampak heran dengan Steven. Aneh, mengapa pria itu pergi sambil membawa kacamata kain. Dia juga heran mengapa dirinya yang disalahkan.
'Kok Pak Steven bawa-bawa behaa? Apa itu behaa punya Nona Citra, ya? Tapi buat apa dibawa-bawa?' batinnya. Ajis menutup pintu kamar Citra, kemudian melangkah keluar dari apartemen.
__ADS_1
...Buat jimat kayaknya, Om 🤣...