Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
317. Yang penting bahagia


__ADS_3

"Kado kok ngamen, ada-ada saja kamu," kekeh Sofyan. "Mana segala dicat."


"Nggak apa-apa Pakde, yang penting bahagia."


"Kita ngobrol sebentar." Sofyan merangkul bahu Pak Polisi. Kemudian mengajaknya melangkah agak menjauh dan setelah itu mulai mengobrol. "Izinkan saja mereka ngamen sebentar, Ton. Kasihan Juna."


"Diperaturan 'kan emang nggak boleh, Yan. Kamu ini gimana, sih?" Pak Polisi mendengkus kesal.


"Aku tahu. Tapi kasihan dia. Kamu tahu nggak, dia itu baru punya Papi baru. Itu yang dia panggil Papi adalah Papi barunya." Sofyan menatap Tian dan Juna sebentar. "Dulunya Juna sempat depresi hingga sempat ingin bunuh diri, karena dia kehilangan sosok Papinya. Kamu memangnya mau, dia bunuh diri beneran gara-gara ngambek nggak boleh ngamen?" Sofyan kembali mengelabuinya.


"Memangnya Papi kandung Juna ke mana?"


"Meninggal dunia."


"Innalilahi. Tapi masa sih, cuma gara-gara ngambek Juna sampai pengen bunuh diri segala? Dan anak kecil itu mana mungkin depresi, Yan," ucapnya menggeleng tak percaya.


"Depresi itu dialami bukan hanya kepada orang dewasa saja, tapi anak kecil juga bisa, Ton," jelasnya memberitahu. "Udah izinkan saja, kalau nggak sambil kamu awasi juga nggak apa-apa."


Pak Polisi itu langsung terdiam. Akan tetapi dia seperti memikirkan apa yang temannya itu katakan. Ada rasa iba juga sebenarnya di dalam hati, saat mengetahui sepenggal kisah hidup Juna meskipun apa yang diceritakan Sofyan tak semuanya benar.


Sofyan berlari menuju mobilnya, lalu membuka pintu dan mengambil sebuah paper bag berukuran sedang. Setelah itu dia menghampirinya lagi sambil memberikan paper bag tersebut.


"Nih buat kamu, Itung-itung hadiah. Tapi aku minta izinkan Juna dan Papinya ngamen. Hanya sehari doang ini kok," ucapnya yang masih membujuk.


"Apa ini?" Pak Polisi membuka paper bag tersebut, lalu mengambil kardus di dalamnya. Namun sontak—dia terbelalak lantaran melihat itu adalah serabi mainan. "Dih, ngapain kamu ngasih beginian padaku?"


"Tadinya itu buat temanku, istrinya habis melahirkan. Kasihan dia, akhir-akhir ini melamun terus karena nggak bisa bercinta. Jadi aku berikan itu kepadanya," jelas Sofyan. Kali ini dia jujur, memang niatnya membeli untuk temannya. Tapi tidak ada salahnya memberikan itu kepada Hartono supaya hatinya luluh. "Kamu tahu 'kan fungsinya?"


"Tahu. Tapi kenapa kamu malah ngasihnya ke aku sekarang?"


"Kamu kayaknya lebih membutuhkan. Dan bukannya seorang polisi itu jarang ada waktu bersama keluarga, ya? Apalagi bercinta sama istri. Pasti kamu membutuhkannya. Jadi ambil saja."


Pak Polisi itu memperhatikan benda tersebut. Entah mengapa dia justru merasa tergiur dan penasaran ingin mencobanya.


"Daripada jajan diluar, kasihan istrimu, Ton," tambah Sofyan. "Adikku saja memakainya, katanya enak kayak serabi sungguhan."


"Ya sudah, aku terima deh. Terima kasih, ya?" Pak Polisi memasukkan kembali kardus itu ke dalam paper bag.

__ADS_1


"Sama-sama. Tapi jangan ditilang, ya, mereka?" pinta Sofyan.


"Iya." Pak Polisi mengangguk. Kemudian melangkah menghampiri Tian, Juna dan teman-temannya. "Kalian boleh melanjutkan acara ngamennya. Tapi sampai jam 5 saja, ya? Biar saya bisa sambil mengawasi." Pak Polisi itu menatap arlojinya.


"Hore!!" Juna, Atta dan Baim langsung bersorak riang gembira.


Juna langsung minta turun dari gendongan Tian dan berlari menghamburkan pelukannya kepada Sofyan. "Terima kasih Pakde, Juna sayang Pakde banyak-banyak."


"Pakde juga sayang Juna. Tapi janji sama Pakde, hanya hari ini saja kamu ngamen, ya? Karena manusia itu jauh lebih mulia memberi daripada meminta," jelas Sofyan sambil mengelus rambut Silver Juna.


"Iya, Pakde."


"Ya sudah sana ngamen lagi. Sudah lampu merah tuh." Sofyan menunjuk beberapa kendaraan yang berhenti. Juna melepaskan pelukan lalu menghampiri Tian lagi. "Pakde riques lagu, ya, judulnya Gali Lobang Tutup Lobang."


"Oke!" seru Juna.


Tian pun tersenyum lalu memencet ponselnya untuk memutar lagu yang Sofyan inginkan. Setelah itu, dia kembali mengajak Juna ketengah-tengah jalan dan berjoget dengan penuh semangat.


Atta juga kembali meminta uang begitu pun dengan Baim yang memvideokan momen itu. Sofyan yang melihat aksi adik ipar dan keponakannya itu sontak tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu sebab mereka sangat konyol.


Namun, hatinya terasa hangat sekali. Tentu dia juga ikut bahagia melihat Juna bahagia.


Bahkan, kedua polisi itu juga ikut memberi uang sebesar 10 ribuan masing-masing. Hartono memberitahu rekannya akan alasan Juna mengamen. Jadi mereka memutuskan untuk memakluminya.


*


*


Waktu terus bergulir begitu cepat, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 pertanda kalau acara ngamen mereka telah usai.


Sofyan sudah pergi sejak satu jam yang lalu, sedangkan dua polisi baru saja pergi.


Sekarang Juna, Tian, Baim dan Atta tengah duduk lesehan di sisi jalan. Mereka beristirahat.


"Mau langsung pulang apa bagaimana, Pak?" tanya Jarwo yang baru saja menghampiri mereka. Dia tadi pergi ke cafe untuk membelikan jus mangga, lalu membagikannya kepada mereka semua.


"Uangnya dihitung dulu saja, Pi," pinta Juna. Dia menusuk pipet pada minumannya lalu menyesap. Dia begitu haus.

__ADS_1


Tian pun langsung menghitung uang pada dus yang terisi penuh itu dengan dibantu oleh Jarwo. Kalau Baim hanya melihat saja, sedangkan Atta sejak tadi sibuk memijat kedua kaki Juna. Temannya bilang pegal-pegal.


"Wah, banyak banget, Pak. Ada 1.030.000," ucap Jarwo. Dia selesai menghitung uang yang ada di tangannya.


"Aku juga dapat 1.050.000, Pak," sahut Tian menatap uang di tangannya.


"Sehari ngamen dapat 2 juta, apalagi sebulan? Cepat kaya ya, Pak," kekeh Jarwo tak menyangka.


"Iya. Tapi sebenarnya mengamen itu pekerjaan kurang baik menurutku. Selagi kita bisa kerja lain, kenapa harus ngamen?"


"Iya, sih, bener juga." Jarwo manggut-manggut.


"Uangnya mau buat apa, Jun? Beli hape atau kita bagi empat? Eh, apa bagi lima sama Om Supir juga?" tanya Atta penasaran.


"Tadinya sih, uang itu mau aku sumbangkan ke panti asuhan. Tapi kayaknya sekarang berubah pikiran," jawab Juna.


"Kenapa?" tanya Tian.


"Juna mau belikan Dedek Silvi anting. Soalnya Juna lihat Dedek Silvi nggak pakai anting, padahal dia 'kan cewek."


"Kalau buat beli anting kayaknya kurang. Bisa aja sih, tapi kayaknya emas murah. Lebih baik uang ini disumbangkan ke panti asuhan saja, anak-anak di sana pasti sangat membutuhkan, Jun," saran Tian.


"Terus Dedek Silvinya gimana? Kan Juna kepengen beliin dia anting."


"Nanti Papi yang belikan. Tapi belinya bareng sama kamu, biar kamu yang milih."


Juna langsung tersenyum lalu perlahan berdiri. "Ya sudah deh kalau begitu. Ayok kita ke panti asuhan, terus beli emas, terus ke rumah Om Dono dan habis itu pulang."


"Kita langsung pulang saja, ini sudah sore. Ke panti dan beli emasnya besok saja, Jun. Takutnya Mami menunggu kita." Tian ikut berdiri, begitu pun dengan Atta dan Baim.


"Oke deh, Pi." Juna masuk duluan ke dalam mobil.


"Pulangnya Baim sama Atta dianterin 'kan, Om?" tanya Baim pada Tian.


"Iya, dong," jawab Tian lalu membuka pintu mobil dan masuk. "Nanti kita mampir ke mini market dulu buat beli es krim untuk kalian dan Juna, ya?"


"Asik!!" sorak mereka berdua, kemudian masuk ke dalam mobil pada kursi belakang. Jarwo juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


...Alhamdulillah ... udah ga punya utang ya, Jun 🥰...


__ADS_2