Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
253. Citra melahirkan


__ADS_3

Mobil yang melaju itu seketika terhenti lantaran mendadak arus kendaraan padat merayap hingga menumbulkan kemacetan. Kanan kiri, depan belakang, semuanya kendaraan roda empat. Mobil Steven terhimpit di tengah-tengah.


"Aa, sakit banget perutku, A." Citra menangis menahan ngilu sambil meremmas lengan Steven. Perutnya teramat sakit, begitu pun dengan inti tubuhnya.


"Pak, di depan ada apa? Kok macet?" Tian bertanya pada sopir taksi yang berada di samping mobilnya.


"Saya kurang tahu, Pak."


"Percepat mobilnya, Om! Citra mau melahirkan!" teriak Steven.


"Macet, Stev. Susah," jawab Tian. "Sebentar, Om cari bantuan dulu." Gegas dia pun turun dari mobil. Lalu berlari entah ke mana.


"Aa aku nggak kuat banget, A. Pengen ... eeeeuuughhh!" Citra tak kuat rasanya ingin mengejan. Keringat pada seluruh wajahnya kini mengalir deras, seluruh tubuhnya bergetar. Steven bahkan dapat merasakan pahanya basah terkena rembesan darah.


"Tahan, Sayang. Kita akan cari pertolongan." Steven membuka pintu mobil, lalu turun. Juna yang melihatnya ikut turun.


"Kita naik motor saja bagaimana?" Tian berlari tergesa-gesa menghampiri mereka. Wajahnya sama paniknya seperti Steven.


"Motor siapa? Naik apa saja nggak masalah, yang penting kita harus cepat ke rumah sakit," ujar Steven seraya menciumi rambut istrinya.


"Ayok ikut Om." Tian langsung mengendong Juna, kemudian berlari. Begitu pun dengan Steven yang mengekorinya dari belakang.


Mereka berhenti pada sebuah pangkalan ojek yang letaknya tak jauh dari kemacetan itu. Ada dua orang tukang ojeg yang memakai motor metik.


"Ayok naik, Stev. Om sudah bayar," titah Tian seraya membantu Steven naik ke salah satu ojek yang menggunakan motor Yamaha NMAX. Dia juga memakaikan helm untuk keduanya supaya aman.


"Juna mau ikut Om Steven sama Tante Citra, Om," rengek Juna.


"Kamu ikut sama Om, Jun," jawab Tian, lalu menatap tukang ojek. "Bawa ke Rumah Sakit Harapan, Pak."


"Iya, Pak." Ojek itu mengangguk, setelah memakai helm dia pun langsung ngebut membawa Steven dan Citra.


Tian dan Juna menyusul, mereka dengan ojek satunya. Selang 15 menit saja, akhirnya mereka sampai ke rumah sakit yang dituju.


Steven langsung berlari masuk ke dalam, kedatangannya berbarengan dengan rombongan keluarga Angga. Hanya saja tidak dengan keluarga burung, sebab tak mungkin juga mereka dibawa.


Bukan hanya Angga, Sindi dan Nissa saja. Tetapi Sofyan dan Maya pun ikut dengan membawa anak mereka yang paling kecil.


Steven membawa Citra sampai masuk ke dalam ruang bersalin. Angga dan Sindi pun ikut masuk juga. Dilihat wajah Citra sudah sangat pucat, dia juga sejak tadi menangis tak henti-henti.

__ADS_1


"Dokter, tolong istriku! Dia mau melahirkan!" pinta Steven seraya membaringkan tubuh Citra secara perlahan pada tempat tidur.


Seorang Dokter wanita berkacamata yang tengah mencuci tangan pada wastafel kecil bergegas memakai sarung tangan, lalu masker dan juga memanggil Suster untuk mendampinginya.


"Hanya dua orang yang boleh menemani pasien, silahkan salah satunya keluar," ujar Dokter itu seraya mengecek detak jantung Citra dengan stetoskop, Suster yang berada di sampingnya mengecek tensi darah.


"Papa keluar sana!" usir Sindi menatap Angga.


"Mama saja yang keluar," jawab Angga.


"Lho, kok Mama? Papa dong. Mama mau temenin Citra, sambil membacakan do'a."


"Do'a apa? Papa saja yang bacakan."


"Nggak mau." Sindi menggeleng. "Mama saja. Mama mau lihat si kembar."


"Papa juga mau lihat."


"Kalian kok malah berdebat?!" omel Steven. Telinganya terasa berdengung mendengar perdebatan suami istri itu. "Cepat keluar saja dua-duanya, kasihan Citra."


"Kamu saja yang keluar, Stev," ucap Angga. "Biar Papa dan Mama yang menemani Citra. Kami mau lihat si kembar."


"Kalian berdua keluar!" tegas Dokter dengan penuh tekanan. Dia menatap tajam Angga dan Sindi. Tak peduli umur mereka jauh lebih tua, sebab dia merasa kasihan pada Citra yang sudah tampak tak sabar dan terus mengejan. "Kalau kalian nggak mau keluar, biar saya yang keluar!" ancamnya sambil menunjuk pintu.


Angga dan Sindi sontak menelan ludah, lalu melangkah cepat keluar dari sana sambil berdecak kesal.


"Papa sih gara-garanya, Mama jadi nggak bisa lihat pas si kembar lahir," celoteh Sindi marah seraya menutup pintu.


"Kok nyalahin Papa?" Angga menunjuk wajahnya sendiri. "Mama lah yang salah, kan Papa di sini yang mau melihat Citra melahirkan."


"Mama, Papa, sudah!" tegur Nissa yang tengah duduk di kursi panjang, bersama Tian dan Juna yang berada di pangkuannya.


Memang, saat Citra sudah memasuki kandungan 9 bulan, mereka berdua ingin sama-sama menyaksikan. Tetapi sayangnya, ternyata hanya dua orang saja yang boleh ikut menemani.


"Kita tunggu saja disini, biarkan Steven yang menemani," tambah Nissa.


"Iya, nih, Mama sama Papa lebay." Sofyan menimpali. "Saat Maya melahirkan, kalian nggak ikut menemani tuh."


"Bukan nggak menemani, kan kamu nggak ngasih tahu Papa. Ngasih tahunya pas sudah lahiran," balas Angga dengan bibir yang mengerucut. Kemudian duduk di samping Sindi. Di depan ruang bersalin tersebut.

__ADS_1


"Iya, jangankan ngasih tahu lahiran. Kamu menikah saja kami nggak tahu. Iya, kan, Pa?" Sindi menimpali. Mengingat Sofyan yang sudah menikah 3x tapi hanya Mamanya Nella saja yang mereka tahu acara ijab kabulnya.


*


*


Kembali lagi ke ruang bersalin.


"Eeeeuuughhh!"


Citra mengejan sekuat tenaga, mengeluarkan bayinya. Tangan kanan meremmas besi ranjang, sedangkan tangan satunya meremmas lengan Steven.


Pria itu duduk di kursi kecil di sampingnya sambil terus membacakan do'a di telinga Citra, supaya memperlancar proses kelahirannya.


"Dorong lagi, Nona!" perintah Dokter yang sudah bersiap di depan sana. Didampingi Suster.


"Eeeeuuughhh!" lenguh Citra. "Sakit banget, A." Citra menoleh menatap Steven sambil menangis.


"Iya, aku tahu ini sakit, tapi kamu harus berjuang, Sayang," ucap Steven lembut seraya mengecup bibir Citra dan mengusap keringatnya.


"Tarik napas, lalu keluarkan. Kemudian dorong lagi," titahnya.


"Huh ... Huh ... Huh." Citra mengikuti saran dokter itu, menarik dan mengeluarkan napasnya perlahan. "Eeeeuuughhh!" Citra mengejan dengan kuat-kuat. Tangan kanannya yang semula meremmas besi ranjang kini refleks menjambak rambut Steven.


Pria itu sontak terbelalak. Dia pun ikut meringis kesakitan sebab cengkraman tangan Citra cukup kasar. Tarikannya itu seperti ingin memutuskan akar rambutnya.


"Aa sakit banget, ini ... Eeeeuuughhh!"


"Oe ... Oe ... Oe." Tangisan bayi seketika pecah, tandanya dia sudah lahir ke dunia. Citra berhasil melahirkan salah satu bayi kembarnya.


"Alhamdulillah," ucap Dokter di depan sana seraya mengendong bayi yang masih merah di tangannya. Lalu segera memberikan kepada suster.


"Bayinya laki-laki atau ... Aakkhhh!" Steven memekik kala rambutnya ditarik kembali oleh Citra, sebab dia merasakan mulas untuk kedua kali.


"Eeeeuuughhh!"


'Ya ampun, bisa botak rambutku. Sakit banget ya Allah.' Steven membeku dengan pasrah. Sekarang bukan hanya rambutnya yang jadi korban, tetapi bibirnya pun ikut diremmas hingga monyong.


...Sabar Om, kan situ yang bikin 🤣 jangan mau enaknya doang....

__ADS_1


...asik nih, 3 bab ya hari ini 🤭...


__ADS_2