Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
303. Aku mau kamu yang di atas


__ADS_3

Di kantor Tian.


Pria itu baru saja keluar dari ruang meeting, kemudian melangkah menuju ruangannya. Belum sempat dia menyentuh gagang pintu, tiba-tiba ponselnya berdering kencang.


Cepat-cepat Tian mengambilnya pada saku dalam jas, takut jika penting. Dan ternyata Angga lah yang meneleponnya.


"Halo, Pa. Selamat siang," sapa Tian saat baru saja menempelkan benda pipih ke telinga kanan.


"Siang. Kamu lagi apa sekarang?"


"Aku baru selesai meeting. Ini rencana mau makan siang."


"Kamu sudah diberitahu Nissa yang akan datang ke kantor? Apa kamu yang meminta makan siang bareng sama dia?" tanya Angga.


"Aku nggak tahu. Memangnya Nissa mau ke sini?" Tian memang tak tahu apa-apa. Dan Nissa pun tak memberitahu kalau dia akan datang untuk mengajaknya makan siang bareng.


"Iya. Dia mau mengajakmu makan siang bareng. Oh ya, Ti. Sebaiknya kamu pulang setengah hari saja, terus ajak Nissa ke hotel."


"Lho, memang kenapa? Nissa mau berbulan madu?"


"Menghabiskan waktu berdua saja sampai sore. Lumayan 'kan. Nanti malam takutnya kamu nggak bisa goyang, kalau Juna kepengen pulang dan tidur bareng lagi."


"Memangnya Nissa ke kantorku sendirian? Nggak bareng Juna?" tanya Tian penasaran. Baru mendengar kata 'goyang' saja miliknya tiba-tiba mengeras.


"Juna lagi sama Papa. Papa sengaja menghabiskan waktunya, supaya kamu dan Nissa bisa bersenang-senang. Kurang baik apa coba Papa sama kamu."


Tian langsung mengulum senyum dengan kedua pipi yang tampak merona. Jantungnya pun ikut berdebar kencang. "Terima kasih ya, Pa. Aku akan izin sama Pak Rizky dulu, kalau aku mau pulang setengah hari."


"Oke. Papa tunggu hasilnya, ya."


"Hasil apa?"


"Anak dong. Papa juga kepengen dapat cucu dari kamu dan Nissa."


"Itu pasti, terima kasih sekali lagi. Papa sangat baik." Tian langsung berjingkrak-jingkrak masuk ke dalam ruangannya.


"Sama-sama."


Seusai mematikan sambungan telepon, Tian langsung cepat-cepat menelepon Rizky. Tak sabar rasanya dia ingin meminta izin.


"Halo Pak Rizky, selamat siang," sapa Tian saat panggilan itu diangkat dari seberang sana. "Maaf aku menganggu waktu istirahat Bapak."


"Siang. Jangan panggil aku Bapak lagi dong, Om. Aku 'kan suaminya keponakan Tante Nissa. Jadi keponakan Om juga."


"Maaf, maksud Om, Rizky. Nggak enak kayaknya, Om memanggil atasan sendiri hanya dengan nama, Riz."


"Nggak masalah kok. Ada apa ya, Om?"


"Ini. Tadinya Om mau pulang setengah hari boleh nggak? Ada meeting sih sekali lagi nanti sore. Tapi kayaknya Ahmad sendirian juga bisa, Riz," pinta Tian.


"Pulang setengah hari Om mau apa memangnya? Ada urusan penting?"


"Menurut Om sih penting. Bahkan sangat penting. Rencananya Om mau mengajak Tantemu ke hotel, menghabiskan waktu bersamanya mumpung ada kesempatan. Kamu pasti mengertilah maksud Om. Selama ini Om kucing-kucingan mulu sama Juna, Riz."


"Oh gitu. Boleh aja Om. Tapi nanti malam cek email saja, ada yang musti Om periksa."


"Iya, nanti Om periksa. Terima kasih ya, Riz."

__ADS_1


"Sama-sama. Om mau aku kasih obat kuat nggak? Nanti aku belikan."


"Ngga usah, Riz, terima kasih. Nanti yang ada Tantemu yang kualahan, Om kasihan sama dia."


"Perkasa juga Om ternyata. He he." Rizky terkekeh. "Oke deh. Aku tunggu sepupu baru dari Om, ya."


"Iya."


Tok ... Tok ... Tok.


Mendengar suara ketukan pintu dari luar, Tian langsung mematikan sambungan telepon. Cepat-cepat dia pun membuka pintu dan ternyata Nissa lah yang ada di depan sana.


"Siang, Yang, aku ...." Nissa menggantung ucapannya sebab secara tiba-tiba Tian mengecup bibirnya. Lalu melummatnya sebentar.


"Siang juga, Sayang," jawab Tian lalu merangkul bahu Nissa. Dilihat wajah wanita itu langsung merona. "Ayok, kita pergi sekarang," ajaknya lantas menutup pintu dan melangkah bersama masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


"Mau ke mana, Yang? Aku bawa makan siang nih buatmu. Kita makan siang bareng."


"Kita makan siangnya di hotel saja, biar enak. Habis makan bisa langsung kencing," jawab Tian lalu mengetik ponselnya untuk mengirim pesan kepada sang sekertaris. Takut Ahmad mencarinya.


"Hotel? Mau apa, Yang?" Nissa berpura-pura. Malu rasanya kalau dia langsung menanggapi tentang hal itu. 'Apa Papa sudah bicara sama Tian? Dan dia mau?' batinnya dengan jantung yang berdebar.


"Tadi aku ditelepon Papa. Katanya kita harus menghabiskan waktu berdua mumpung ada kesempatan. Nggak apa-apa, kan, kita bercinta siang bolong, Yang?"


"Nggak apa-apa," jawab Nissa malu-malu. Tian langsung mencium pipi kanannya dan meraba sebentar kedua dada sintal itu.


"Aku jadi haus nih pengen nyusu. Ah nggak sabar aku, Yang." Wajah Tian langsung merona. Nissa hanya tersenyum. Malu untuk mengungkapkan.


'Aku juga udah nggak sabar ingin merasakannya. Bibirmu nikmat, Yang,' batin Nissa.


***


Setelah memarkirkan mobilnya pada area khusus, Tian dan Nissa melangkah bersama masuk ke dalam sana. Kemudian berhenti di depan resepsionis.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berambut pendek sambil tersenyum menatap keduanya.


"Siang. Saya ingin memesan kamar hotel untuk semalam, Bu. Ini kartu identitas saya." Tian memberikan KTP-nya, yang dia ambil dari dompet.


"Sebentar ya, Pak. Saya cek kamar yang kosong." Wanita tersebut mengambil benda itu, kemudian menatap layar komputernya.


"Papi Tian!"


Terdengar suara bocah yang memanggil dari belakang, ternyata dia adalah Baim yang melangkah bersama Papanya. Papa Baim seperti seumuran dengan Rizky.


Tian dan Nissa langsung berbalik badan.


"Eh Baim. Kamu di sini juga?" tanya Tian dengan ramah. Baim dan Papanya langsung menghentikan langkah.


"Iya, Pi. Eh maaf, maksudnya Om Tian. Baim jadi ikut-ikutan Juna, nih," kekeh Baim lalu menatap ke arah Papanya. "Pa, kenalkan dia Papi barunya Juna. Orangnya jago berantem lho."


"Masa sih? Salam kenal, Pak." Pria berjas di samping Baim langsung mengulurkan tangannya ke arah Tian dan segera Tian sambut. "Namaku Burhan, Papanya Baim."


"Aku Tian, Papinya Juna. Dan ini Maminya Juna, Nissa namanya." Tian merangkul bahu istrinya.


"Aku sudah kenal kalau Bu Nissa mah," jawab Burhan sambil tersenyum menatap Nissa.


"Om sama Tante ke hotel mau apa? Dan di mana Juna?" tanya Baim penasaran. Dia menatap sekeliling. Mencari-cari keberadaan temannya.

__ADS_1


"Juna lagi pergi sama Opanya. Om dan Tante lagi ada urusan di hotel," jawab Tian.


"Urusan apa, Om?"


"Kamu nggak usah kepo, Im," tegur Burhan lalu mengandeng tangan anaknya. "Kalau begitu aku dan Baim permisi ya, Pak, Bu. Selamat siang."


"Siang." Tian dan Nissa menjawab secara bersamaan. Baim pun melambaikan tangannya ke arah Tian saat langkahnya menuju pintu keluar.


"Menurut Papa, Papinya Juna sama Maminya Juna mau ngapain di hotel?" tanya Baim penasaran.


"Kan Papa bilang, nggak usah kepo. Mau ngapain aja terserah mereka dong."


"Iya, sih." Baim mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Pulang dari sini Baim mau beli layangan kayak Juna, Pa. Mau main layangan bareng."


"Iya. Nanti beli."


*


*


"Ini kuncinya, Pak." Wanita penjaga resepsionis memberikan card sistem ke arah Tian. Pria itu pun menoleh dan langsung menerimanya. "Kamar nomor 190 lantai 3."


"Oke. Terima kasih, Bu."


"Sama-sama."


Tian langsung mengajak Nissa melangkah cepat, masuk ke dalam lift. Sudah tak sabar rasanya ingin buka baju.


*


*


Setelah masuk ke dalam kamar hotel, menutup pintu dan menguncinya, tanpa aba-aba Tian langsung melepaskan jas, berikut dengan kemeja dan celana bahannya.


"Kok lepas baju, Yang?" tanya Nissa yang heran melihat suaminya. Dia baru saja duduk di sofa dan hendak membuka rantang susun.


"Lho, kan kita ke hotel mau bercinta. Ya pasti buka baju dong. Masa bercinta nggak buka baju?" kekeh Tian seraya melangkah mendekat. Hanya tinggal kantong menyannya saja yang Tian sisakan. Rencananya dia akan membukanya kalau sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Kan kita mau makan siang dulu, Yang."


"Makan siangnya nanti dulu. Takutnya habis makan mual, soalnya 'kan kita pasti bakal goyang heboh. Kan sayang nasinya kalau keluar lagi." Tian menarik lengan Nissa hingga wanita itu berdiri.


"Tapi nanti lemes dong kalau nggak makan dulu. Mana ada tenaga kamu, Yang."


"Ada dong pasti. Kita lakukan satu ronde dulu, habis itu makan. Baru lanjut lagi." Tian membungkukkan badannya untuk meraih tubuh Nissa. Lantas dia menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau mandi dulu, Yang?" Nissa mengalungkan kedua tangannya pada leher Tian. Perlahan bibir suaminya mendarat pada pipi kanan dan kiri.


Cup! Cup!


"Iya. Biar seger. Aku juga kepengen kita bercinta di bathtub lagi. Kecanduan aku kayaknya." Pelan-pelan Tian menurunkan tubuh Nissa, lalu mulai melucuti satu persatu pakaiannya. "Tapi kali ini, aku mau kamu yang di atas, bisa nggak? Kayaknya aku mau ngerasain aja kamu yang mimpin, Yang," pinta Tian dengan rengekan sedikit manja.


"Bisa. Tapi nanti kamu jangan kaget, ya?"


"Kaget kenapa?" tanya Tian penasaran.


"Ya pokoknya jangan kaget aja. Nanti juga tahu sendiri," jawab Nissa sambil tersenyum malu-malu. Wajah suami istri itu sama-sama merona.

__ADS_1


...Wah ... wah ... romannya mau goyang ngebor nih Mbak Nissa 🤣🤣...


...Vote dan hadiahnya ditunggu, ya 😉...


__ADS_2