
"Jadi, maksudnya kamu mau pelet dia?" Mbah Yahya mengambil foto tersebut lalu menatap wajah Steven. Keningnya seketika mengerenyit, wajahnya seperti familiar dalam ingatannya.
Fira mengangguk cepat. "Iya, Mbah. Kalau bisa, pelet dia hari ini juga. Aku mau dia langsung jatuh cinta padaku," kata Fira dengan girang.
"Apa hari apes dia?" Mbah Yahya mengambil selembar kertas, lalu menatap nama dan tanggal lahir Steven. 'Steven Prasetyo?'
"Hari apes itu apa, Mbah?" tanya Nurul.
"Mungkin dia mengalami kesialan. Contohnya seperti kecelakaan atau apa."
"Oh, iya, Pak Steven sekitar 2 Minggu yang lalu mengalami penusukan di dadanya. Apa itu juga bisa, Mbah?" tanya Fira.
"Hari apa itu?" tanya Mbah Yahya. Lantas dia pun memutar kepalanya untuk mengambil nyiru di atas meja, kemudian meletakkan di depannya. Di atas nyiru itu ada alat-alat yang dia gunakan untuk prakteknya.
Yakni, bunga kamboja di atas piring, jantung pisang, tali pocong, tanah kuburan, Rajah, benang, kawat, boneka santet. Kalajengking di dalam toples. Paku, keris, pecahan beling dan sobekan kain kafan.
"Kalau nggak salah hari Minggu, Mbah," jawab Fira.
"Oke. Kita mulai sekarang prakteknya. Kamu siap?"
Fira mengangguk cepat. "Sangat siap."
"Mbah akan kirimkan sesuatu yang akan membuatnya tergila-gila padamu. Siapa nama lengkapku?"
"Safira Ayunda."
Mbah Yahya mengangguk. Lantas dia pun mengangkat kendi seraya memejamkan. Mulutnya langsung berkumat-kumit membacakan mantra, lalu setelah beberapa menit dia pun menenggak air di dalam kendi.
Tidak dia minum, tetapi hanya berkumur dan tak lama dia pun menyemburkannya di depan wajah Fira.
Byur!!
Sontak—mata Fira terbelalak kala mendapatkan perlakuan yang menurutnya menjijikkan itu. Segera dia pun mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa Mbah menyemburku? Jorok sekali!" berang Fira marah.
"Sssttt ...." Nurul mendesis seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibir Fira. Dia pun berbisik. "Diam, Fir. Itu Mbah Yahya sedang beraksi."
__ADS_1
Fira mengepalkan kedua tangannya, wajahnya langsung cemberut tetapi dia langsung diam sambil menatap Mbah Yahya yang masih sibuk kumat Kamit membaca mantra dan menaburi bunga di atas menyan.
Nama lengkap Steven, tanggal lahir, bulan beserta tahun. Juga dengan hari sialnya yang kebetulan bertepatan dengan hari ini. Momennya begitu pas sekali untuk mengirimkan sihir kepada pria itu supaya dia mampu terperangkap dalam peletnya Fira.
Namun, penerawangan Mbah Yahya yang hendak mengirimkan pelet itu terjeda lantaran dia melihat Steven tengah beradu mulut dengan seorang pria tua yang dia panggil Papa.
Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja ilmu yang kini Mbah Yahya kirimkan gagal fokus karena melihat wajah pria tua itu.
Di seberang sana, Angga dan Steven tengah beradu mulut. Entah apa yang dibahas, tetapi mereka dengan urat sekali dalam berbicara. Apa lagi Steven.
'Angga? Apa dia Angga?' batin Mbah Yahya. Lantas, dia pun membuka matanya dan seketika, proses pemeletan itu dia akhiri.
"Maaf, siapa Papanya Steven?" tanya Mbah Yahya.
"Om Angga," jawab Fira.
"Anggara Prasetyo?" tebak Mbah Yahya. Fira dan Nurul mengangguk cepat.
Mbah Yahya terdiam beberapa saat, lalu dia pun meletakkan foto Steven di atas amplop yang berisi uang tunai 10 juta itu. Kemudian, menggeserkannya ke arah Fira.
"Mohon maaf, Fir. Mbah nggak bisa membantu mu," ucapnya dengan berat hati.
"Iya, tapi Mbah nggak bisa meneruskannya. Sebaiknya kamu dan Mamamu pulang."
"Nggak bisanya kenapa, Mbah? Aku tadi habis disembur lho."
"Karena Papanya Steven adalah Angga."
"Kenapa dengan Om Angga?"
"Dia teman kuliah Mbah."
Mata Fira terbelalak. "Teman kuliah? Tapi ... apa urusannya kalau dia teman kuliah? Kan hanya teman dan lagian Mbah juga sekarang lagi kerja. Jangan pikirkan masalah itu."
"Mbah bilang nggak bisa ya, nggak bisa, Fir!" tegas Mbah Yahya. "Angga itu teman kuliah Mbah dan kita sangat dekat. Dia juga orang yang baik. Mbah nggak mau mencelakai seseorang yang dia sayangi."
Fira berdecak kesal. Apa yang Mbah Yahya katakan sungguh membuatnya emosi. "Mbah itu dukun, ngapain memikirkan masalah pertemanan. Dan lagian ... kalian juga sudah tua. Om Angga juga belum tentu ingat sama Mbah!" gerutu Fira dengan penuh kekesalan. "Sekarang cepat kirimkan Pak Steven pelet! Aku mau dia tergila-gila padaku!" tekannya.
__ADS_1
"Itu nggak akan terjadi!" tegas Mbah Yahya sambil melototi Fira. "Kamu mending sekarang pulang, tapi jangan mencoba-coba untuk menganggu rumah tangga Steven. Jangan juga mencari dukun lain untuk memeletnya. Mbah akan pantau kamu, kalau itu semua terjadi ... Mbah yang akan kirim santet untukmu!" ancamnya sambil menodongkan sebuah keris di depan wajah Fira.
Kedua perempuan itu sontak terperanjat dengan mata yang membulat. Seketika bulu kuduk Fira merinding, begitu pun dengan Nurul.
Sepertinya, rencananya gagal. Sudah sangat jelas di sini kalau Mbah Yahya tak mau membantunya.
"Ayok kita pulang, Fir." Nurul menarik lengan Fira seraya berdiri. Kemudian, mereka pun melangkah menuju pintu.
"Kalau kalian mau kaya ... kerja, bukan mau mengeret harta orang lain! Camkan itu!" pekik Mbah Yahya sebelum Fira dan Nurul menghilang dari balik pintu.
Kedua perempuan itu melangkah keluar dari rumah praktek itu dengan wajah kecewa. Apa lagi Fira, dia juga begitu jengkel. Sudah disembur tapi gagal.
"Mama bagaimana, sih? Kok Mama nggak cerita kalau Mbah Yahya temannya Om Angga?" geram Fira marah.
"Mana Mama tahu, Fir."
"Terus sekarang bagaimana dong? Sudah nggak jadi melet, dia justru mau mengirimku santet! Gila banget!" Fira mendengkus kesal seraya menghentakkan kakinya kasar. Dia mau memaki rasanya, tapi bingung harus pada siapa.
"Kita pikirkan rencana lain. Sebaiknya kita pulang dulu." Nurul mengelus bahu Fira, mencoba menenangkan perasaan anaknya. "Eh, tunggu sebentar. Mama mau balik lagi mengambil amplop. Tadi lupa diambil." Nurul langsung berlari masuk lagi ke dalam gerbang. Rasanya sayang kalau meninggalkan uang 10 juta itu, tentunya dia tak mau rugi.
Fira bersedekap seraya mengerucutkan bibirnya. Lalu dia pun menoleh ke kanan dan kiri pada jalan raya. Mencari-cari mobil taksi.
Namun, secara tiba-tiba, seseorang dari belakang membungkam mulutnya. Sontak Fira terbelalak, lalu tak lama dia pun memejamkan mata.
Melihat Fira sudah jatuh pingsan, seseorang dengan temannya itu segera membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan kendaraan roda empat itu dengan kencang meninggalkan tempat itu.
...****************...
Ternyata, waktu yang terasa panjang itu akhirnya bisa terlewati. Matahari sudah berganti bulan dan ini adalah momen yang dinanti-nanti oleh Steven.
Pria tampan yang sejak tadi duduk seorang diri di kursi pelaminan itu langsung menghampiri Angga. Papanya itu tengah makan pisang bersama Kevin di kursi di depannya.
"Pa, ini 'kan sudah malam. Aku udahan jadi rajanya, ya? Terus aku mau pergi ke kamar, ketemu Citra," ujar Steven meminta izin. Wajahnya tampak merona sekali dan hatinya berbunga-bunga. Rasanya dia begitu tak sabar ingin bertemu Citra di dalam kamar dan menghabiskan malam pengantinnya.
"Tunggu Mamamu datang dulu, Stev," jawab Angga sambil mengunyah.
"Nunggu Mama lama, aku nyusul saja ke sana. Takutnya Citra juga sudah kangen sama aku, Pa."
__ADS_1
...Idih, kangen katanya 🤣 situ yang kangen kali. dasar tua-tua keladi 🤭...