Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
355. Mereka membawa kabur si kembar


__ADS_3

Setelah turun dari taksi dan membayar, Aulia berlari menuju mall yang diberitahukan Abi.


Sebagai seorang istri, tentu Aulia merasa khawatir dengan kondisi suaminya. Apalagi terakhir dia dengar jika Abi mengatakan dirinya terjebak di toilet.


"Pak, tolong suamiku. Dia mengatakan kalau dia terjebak di toilet," pinta Aulia dengan napas yang tersengal-sengal.


Dia berbicara dengan dua orang satpam yang berdiri di pintu masuk. Aulia juga menunjukkan foto Abi di ponsel.


Dua pria berseragam hitam itu langsung menatap ke arah layar, memerhatikan wajah Abi.


"Kamu tunggu di sini, biar aku saja," ucap salah seorang satpam yang berucap kepada temannya. Dan temannya itu langsung mengangguk. "Mari, Nona, saya bantu," ucapnya lagi kepada Aulia. Kemudian melangkah lebih dulu masuk ke dalam.


Aulia mengangguk dan berlari menyusulnya. "Suamiku bilang dia ada di toilet pria, Pak."


"Oke. Tapi kenapa bisa terjebak? Apa kekunci di dalam?" tanya satpam itu.


Mereka berdua pun langsung naik eskalator ke lantai dua. Mall besar itu memiliki 9 lantai dan masing-masing memiliki toilet umum, jadi sepertinya mereka tak akan mudah mencari keberadaan Abi.


"Suamiku bilang kena diare awalnya. Tapi aku khawatir dia pingsan di toilet, Pak," lirih Aulia dengan sedih.


*


Beberapa menit hingga sampai sejam. Akhirnya mereka dapat menemukan Abi pada toilet pria yang berada di lantai 5. Satpam itu beserta beberapa cleaning servise mendobrak pintu, karena memang terkunci di dalam.


Setelah dilihat, kondisinya benar-benar memprihatinkan, bahkan beberapa orang itu sampai mual-mual karena begitu bau pisang goreng milik Abi.


"Cebokin dulu suami Anda, Nona, saya akan telepon ambulan," titah satpam yang tengah menutup hidung. Kemudian melangkah menjauh untuk melakukan panggilan.


"Mas saja sekalian cebokin, kasihan suamiku." Aulia berbicara sambil menatap dua dua orang cleaning servise yang masuk untuk membersihkan kloset. Siapa saja yang mau, sebab dia sendiri tidak mau.


Dua cleaning servise itu memakai masker, salah satu dari mereka juga langsung menyemprotkan pengharum ruangan.


"Nona saja, Nona 'kan istrinya," sahut salah satu cleaning servise itu. Dia menatap Aulia yang tengah menutup hidungnya sendiri.

__ADS_1


"Nanti saya bayar deh, 5 juta. Ayok cepat!" titah Aulia.


Kedua pria itu saling memandang, lalu menatap kembali ke arah Aulia.


"Dua orang 5 juta ya, Nona, soalnya saya nggak mau kalau cebokin sendiri. Mual." Salah satu dari mereka ingin melakukan negosiasi.


"Nggak masalah. Cepat kerjakan sebelum petugas ambulan datang!" titah Aulia. Kemudian melangkah menjauh dari toilet, sebab perutnya tak tahan sekali seperti ingin muntah. 'Eek Mas Abi bau banget, sih, kayak bang*ke,' gerutunya dalam hati.


*


*


Ceklek~


Setelah menunggu sekitar 30 menit di depan ruang IGD, akhirnya dokter yang memeriksa Abi keluar juga. Dia seorang pria berkacamata.


"Bagaimana keadaan suamiku, Dok? Kenapa dia?" tanya Aulia seraya berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak begitu khawatir.


"Pak Abimana mengalami dehidrasi berat, Nona, akibat diare. Kondisinya sangat kritis hingga dia tidak sadarkan diri."


"Diare yang dialami Pak Abimana saat akut. Ini dikarenakan dia mengkonsumsi obat pencahar yang terlalu berlebihan," jelas Dokter itu.


"Obat pencahar?!" Kening Aulia tampak mengernyit. "Obat pencahar itu bukannya obat untuk mengatasi sembelit, ya?"


"Benar." Dokter itu mengangguk. "Mungkin sebelumnya Pak Abimana mengalami sembelit, mangkanya minum obat pencahar. Tapi salahnya disini Pak Abimana mengkonsumsi obat yang memiliki dosis tinggi, itu tidak baik untuk kesehatan. Bisa merusak usus."


"Suamiku nggak mengalami sembelit setahuku, Dok. Dan dia itu kalau berak selalu lancar." Aulia tentu tahu bagaimana aktivitas keseharian Abi. Pria itu memang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah mengalami masalah diperut. Entah magh, diare atau sembelit.


"Kalau mengenai itu saya tidak mengerti, Nona. Nanti setelah sadar ... Nona bisa tanya langsung ke Pak Abimana, biar semuanya jelas, ya?" ucap Dokter itu. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya.


Aulia langsung duduk lagi ke kursi panjang sambil menyeka keringat di dahinya. Dia pun terdiam dan mulai memikirkan dengan kondisi yang saat ini dialami sang suami.


'Aneh banget. Seumur-umur aku kenal sama Mas Abi ... dia kalau sakit apa-apa pasti langsung menghubungi aku dulu, sebelum kukasih saran untuk minum obat. Tapi ini kok dia tiba-tiba langsung minum obat pencahar?!' batinnya bingung dan masih berpikir. Dia merasa ada yang janggal.

__ADS_1


Namun, entah mengapa dia jadi memikirkan Tian dan Juna. Sebab mereka berdua orang yang dari pagi bersama suaminya.


"Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan mereka?" gumamnya menerka-nerka. Kemudian mengangguk cepat. "Benar, buktinya saat Mas Abi berak-berak di toilet mereka nggak ada untuk dimintai tolong."


Aulia langsung berdiri saat bayangannya tertuju pada Tian. "Ini pasti kerjaan Mas Tian, dia yang mengerjai Mas Abi. Aku harus membuat perhitungan padanya." Kedua tangannya itu mengepal kuat, Aulia berlari keluar dari rumah sakit. "Jahat sekali dia, dengan teganya menyakiti suamiku untuk kedua kalinya!" geramnya marah.


***


Sementara itu di tempat berbeda.


Steven dan Citra baru saja sampai di apartemen. Mereka pun lantas masuk bersama ke dalam sana seraya berucap, "Assalamualaikum."


"Walaikum salam." Suster Dira menyahut sembari berlari keluar dari kamarnya. "Pak ini gawat, Pak!" serunya dengan panik.


"Gawat?! Gawat kenapa?!" Steven dan Citra berucap bersama. Keduanya tampak sama-sama berwajah khawatir.


"Tadi pagi Pak Angga dan Bu Sindi datang, mereka datang pas banget saat saya menerima paket dari kurir. Terus mereka langsung maksa buat masuk ke dalam, padahal sudah saya larang," tutur Suster Dira panjang lebar.


Steven sontak membulatkan matanya. Dia lantas berlari masuk ke dalam kamar suster Dira, tapi tak menemukan di mana si kembar.


"Varo! Vano!" pekik Steven. Setelah itu, dia beralih masuk ke dalam kamarnya. Tapi seketika dia pun terbelalak, lantaran si kembar juga tak ada di kamarnya. "Di mana Vano dan Varo, Sus?" Steven keluar lagi untuk menemui Suster Dira dan Citra.


"Mereka membawa kabur si kembar, Pak," jawab Suster Dira.


"Apa?!" Ketiga kali. Mata Steven melebar. "Dibawa kabur ke mana, Sus? Kok bisa?"


"Saya nggak tau. Tadi sore mereka perginya, tanpa sepengetahuan saya yang saat itu sedang membuat susu di dapur. Saya sudah telepon Bapak, tapi nggak Bapak ...." Ucapan Suster Dira menggantung begitu saja sebab Steven sudah berlalu pergi sambil menarik Citra untuk ikut bersamanya.


Keduanya pun menuju pos satpam terlebih dahulu, sebelum pergi dari apartemen.


"Ajis! Kenapa kau mengizinkan Papa dan Mamaku masuk ke apartemen!" teriaknya murka. Tentunya, pria itu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi.


Pria bernama Ajis yang tengah menyesap kopi itu langsung tersendak. Segera, dia pun berdiri dan menaruh gelas plastik yang masih terisi kopi itu di atas meja. "Maafkan saya, Pak, tapi Pak Angga memaksa. Dia juga mengancam saya akan dilaporkan polisi, jika melarang seorang Kakek yang ingin bertemu cucunya."

__ADS_1


...Bener juga, sih, Om. Udahlah Om, biarin aja, ayok sekarang balik lagi ke rumah Papa Angga 🤣...


__ADS_2