
Rama terbelalak, segera dia pun merebut ponsel yang kini tengah diketik-ketik layarnya oleh Mbah Yahya.
"Daddy gila, ya? Ngapain minta foto bugil?" tanyanya marah.
"Ya mungkin kalau lihat foto bugilnya Nissa burungmu bisa bangun, Ram."
"Tapi itu sama saja menjatuhkan harga diri, nanti Om Angga sama Nissa mengira aku pria mesum, Dad!" gerutu Rama.
"Ya biarkan saja, lebih baik dikatain pria mesum daripada pria nggak normal."
"Tapi aku nggak mau! Malu! Lebih baik aku jomblo saja seumur hidup, nggak usah nikah."
"Ya jangan begitu dong, kamu musti menikah. Nissa pasti mau kok sama kamu, Daddy yakin. Mangkanya kenalan dulu nanti, ya? Dan jangan buat kecewa," saran Mbah Yahya membujuk. Wajah anaknya itu sudah cemberut dan menggeleng tak yakin.
Memang, selama ini Rama mempunyai penyakit impoten, atau dalam artian yang lebih mudah yakni lemah syahwat. Burungnya sulit untuk berdiri, dan kalau pun berdiri, itu hanya sebentar saja.
Rama sendiri sudah berkonsultasi ke dokter ahlinya dan menjalani terapi selama 3 tahun. Namun sampai sekarang, belum ada hasil.
Mbah Yahya sendiri sudah mencoba menyembuhkan dengan pengobatan secara tradisional. Tetapi tetap saja, Rama sulit mengalami ejakulasi.
Rama pria yang normal, dia juga dulu mempunyai kekasih dan tentunya menyukai lawan jenis. Sayangnya penyakitnya itulah yang membuatnya jauh dengan jodoh.
Jika diingat akan pengalaman pahitnya dimasa lalu, alasan istrinya meninggal dunia karena serangan jantung adalah disebabkan dia menerima telepon dari seseorang, yang mengatakan kalau Rama bukan pria normal dan tidak akan bisa memiliki keturunan alias mandul.
Wanita itu merasa terguncang, dan merasa kecewa sebab Rama sendiri tak cerita tentang penyakitnya itu. Kemudian Tuhan berkehendak lain, dia justru mengalami serangan jantung pada saat itu juga dan langsung meninggal dunia.
Rama benar-benar merasa bersalah sekali, dan menggerutuki dirinya sendiri yang seperti itu. Namun mau bagaimana lagi? Dia merasa sudah lelah dan capek dengan keadaan.
Ingin pasrah pun sepertinya sulit. Sebab dia juga terkadang merasa iri pada teman-temannya yang sudah berumah tangga dan memiliki keturunan.
Sedangkan dirinya, jangankan keturunan, memuaskan istri pun sepertinya tidak bisa.
"Eh, kamu juga kayaknya nggak pernah nonton bok*p, ya? Sekali-sekali nonton mangkanya. Siapa tahu dengan begitu birahimu menggebu dan burungmu yang loyo itu langsung tegak berdiri kayak tiang listrik."
Saran dari Daddynya itu benar-benar diluar nalar, Rama hanya bisa menarik sebelah sudut bibirnya ke atas.
"Nih, coba lihat dulu." Mbah Yahya memperlihatkan sebuah video dewasa pria dan wanita yang tanpa sehelai benang. Tengah bercinta di hutan, dipinggir danau.
__ADS_1
Namun bukannya melihat, Rama justru menutup layarnya.
"Apaan sih, Dad. Dosa tahu lihat begituan," omel Rama.
"Ya nggak apa-apa, mungkin saja nanti kamu sembuh kalau sering melihatnya."
"Nggak mau. Udah ah, aku mau pulang saja. Puyeng lama-lama denger ocehan Daddy." Rama sudah berdiri, namun tangannya itu langsung ditarik oleh Mbah Yahya. Membawanya menuju ranjang.
"Kamu pokoknya jangan pulang sebelum Nissa menjenguk! Dia bilang mau kesini, hargai dong, Ram," pinta Mbah Yahya sedikit kesal.
Rama menghela napasnya dengan berat. "Ya sudah, aku tunggu sampai besok. Tapi kalau sampai besok dia nggak datang ... aku mau pulang saja ya, Dad. Lagian, aku juga banyak pesanan perhiasan yang belum diukir."
"Iya, Nissa pasti datang," ujar Mbah Yahya dengan yakin sambil menatap anaknya yang baru saja berbaring di atas ranjang. 'Aku harus cari dokter yang paling mahal, yang bisa menyembuhkan Rama. Nissa sangat cocok dengannya, aku juga mau jadi besannya Angga.'
***
Ceklek~
Pintu kamar inap Tian dibuka oleh Sindi yang ternyata datang bersama Citra. Gadis itu langsung terbelalak kala melihat keadaan Tian, apalagi pria itu belum sadarkan diri.
"Lho, Om Tian kenapa? Kok bisa begini?" Kakinya melangkah cepat menghampiri Tian, lalu membungkuk seraya memeluk tubuhnya sebentar.
"Tante Citra, maafin Juna, ya?" Tangan Juna terulur dan menyentuh lembut lengan Citra, wajahnya tampak bersalah. "Ini semua gara-gara Juna, Tan."
"Memang apa yang kamu lakukan, Jun?" Citra menoleh dan menatap wajah sang keponakan.
"Ini semua kecelakaan, Cit." Nissa menyahut, lalu berdiri dan menghampiri Citra. Dia mengelus lembut punggung gadis itu. "Bukan kesalahan Juna. Semuanya murni kecelakaan."
"Kecelakaan apa maksudnya, Mbak?"
"Pas pulang sekolah ... Juna diculik oleh dua pria, lalu ...." Nissa menceritakan kembali tentang apa yang polisi tadi sampaikan. Citra pun memahami dan memang benar, itu semua bukanlah kesalahan Juna. "Kita berdo'a saja, semoga Ommu baik-baik saja. Dia sempat dioperasi, mungkin luka dibagian perutnya cukup dalam. Tapi sebentar lagi dia pasti bangun."
"Kalau Om Tian nggak bangun-bangun gimana, Mi? Kalau dia meninggal gimana?" tanya Juna sedih. Dia masih berpikir kalau apa yang Tian alami adalah kesalahannya.
"Jangan bilang seperti itu, kata Mami juga berdo'a," tegur Nissa.
Juna pun turun dari kursi, lalu menaruh kantong plastik buah apel di atas nakas dan melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" Pertanyaan Nissa membuat langkah kaki bocah itu terhenti, dia pun berbalik badan.
"Kata Mami, Juna suruh berdo'a. Jadi Juna mau berdo'a ke masjid."
"Maksudnya kamu mau sholat?"
Juna mengangguk cepat. "Iya, kata Opa ... do'a yang cepat dikabulkan itu kalau kita melakukannya setelah sholat. Kebetulan Juna belum sholat Ashar, Mi." Tangan kecilnya menunjuk jam dinding di atas pintu, yang menunjukkan pukul 4 sore.
Sejak umur 4 tahun, Juna sudah diajari Nissa sholat dan ngaji. Dan bukan hanya dia saja, tapi Angga, Sindi dan Steven pun pernah mengajarinya.
Tentunya ilmu agama itu sangat bagus jika diajari sedari dini, bukan? Ilmunya pun akan cepat tertangkap.
"Oh, ya sudah. Ayok Mami antar, tapi di mushola sini saja." Nissa melangkah mendekatinya.
"Jangan antar doang, Mami juga harusnya ikut sholat dan do'ain Om Tian."
"Mami lagi datang bulan, Jun."
"Memang datang bulan nggak boleh sholat?"
"Iya." Nissa mengangguk.
"Memangnya kenapa? Dan datang bulan itu apa?" tanya Juna bingung.
"Kamu sama Tante saja sholatnya." Citra mengajak, dia melangkah menghampiri. "Tante tahu mushola di sini."
"Tante nggak lagi datang bulan memangnya?"
"Nggak." Citra menggeleng.
"Udah ayok, kita sholat bareng." Sindi ikut-ikutan. Dia berdiri lalu mengajak pergi menantu dan cucunya. Selain memang belum sholat Ashar, Sindi juga tak mungkin membiarkan mereka pergi hanya berdua. Juna habis diculik, sedangkan Citra sedang hamil. Kalau kenapa-kenapa dia bisa mendapatkan kemarahan ektra dari Steven.
Sekarang Nissa saja yang duduk menunggu di sana, sambil menatap Tian dari ranjang.
'Kata Steven ... kamu orang jahat, Ti. Tapi kok kamu malah menyelamatkan Juna sampai ditusuk begitu. Kenapa, Ti? Aku jadi bingung,' batin Nissa. Ada perasaan tak enak di dalam hatinya.
Seusai sholat, Juna pun duduk bersila, lalu mengangkat kedua telapak tangannya sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Ya Allah, tolong sembuhkan Om Tian. Kenapa dia nggak bangun-bangun juga? Padahal kata Dokter ... operasinya lancar. Tolong bangunkan Om Tian ya Allah, Juna takut kalau Om Tian meninggal seperti ikan cupaangnya Juna." Mendadak Juna teringat akan ikan cupaangnya yang mati akibat diadu tadi siang. Dia juga teringat saat dimana Tian dan salah satu penculik berantem, bisa saja Tian akan meninggal gara-gara itu. "Juna juga mau ... Mami dan Om Tian baikan. Kasihanilah Om Tian ya Allah. Dia anak yatim piatu dan hanya tinggal seorang diri di rumah. Juna kasihan, apalagi Om Tian kere. Nanti kalau dia sakit terus ... dia makannya gimana? Nggak bisa kerja dong. Allahummagh firlii wa liwaa lidhayya warkham humaa kamaa rabbayaa nii shoghiroon, amin." Juna mengusap wajahnya saat sudah mengakhiri do'a.
...Ayok Aminin Guys, kalau masih mau Om Tian hidup 🤣 walau hidupnya nggak berguna ðŸ¤...