
"Om Ganteng!" seru Citra kaget. Dia lantas berdiri.
"Kurang ajar sekali kau, Gun! Sudah pernah kuperingatkan untuk jangan dekati Citra tapi kau justru mendekatinya!" teriaknya marah. Api cemburu itu berkobar pada bola matanya.
"Saya cuma ingin menyapa, memang salah? Bapak juga jangan terlalu posesif, ya! Dan jangan pernah membatasi saya untuk bertemu dengan Nona Citra!" tegas Gugun yang sama marahnya. Dia berdiri dan mata mereka pun saling sengit beradu pandang.
Sejujurnya, ada rasa kerinduan yang teramat dalam di hati Gugun untuk Citra. Dia ingin mengobrol dengan gadis itu, namun rasanya sulit. Selalu saja ada yang menghalangi.
"Terserah aku! Citra itu istriku! Kau nggak berhak, Gun!"
"Saya berhak! Karena sampai kapan pun Nona Citra akan menjadi Nona saya!" Gugun menepuk dadanya.
Kata Nona itu terdengar ambigu, Steven tak paham maksudnya. Namun dibalik itu semua, amarahnya makin menggebu. Dia pun mendorong tubuh Gugun dengan kuat, hingga punggungnya menempel tembok.
Tangan kanan Steven mengepal kuat. "Ini peringatan yang terakhir! Jangan pernah kau Menyapa atau mengajak Citra mengobrol. Kalau itu sampai terjadi ... aku—"
"Aku apa?" sela Gugun cepat. Sudut bibirnya terangkat sebelah. Menatap remeh Steven. "Saya nggak takut sama Bapak!" tegasnya lalu mendorong dada Steven.
Setelah itu Gugun berlari keluar dari cafe. Namun Steven justru menyusulnya, dia merasa tak terima dengan ucapan Gugun dan sikapnya yang terlihat tidak takut dengan ancamannya.
Kalau begitu, bisa saja pria itu kapan saja akan merebut Citra darinya. Itulah hal yang saat ini terpikirkan.
"Astaga! Mereka seperti anak kecil!" seru Jarwo dengan mata membulat. Dia melihat Steven dan Gugun tengah adu jotos di depan halaman cafe. Segera dia pun berlari menghampiri mereka, akan memisahkan perkelahian di antara ke duanya.
Citra hanya menghela napasnya dengan berat sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Benar memang seperti anak kecil, bahkan sepertinya sedang merebutkan mainan.
'Aku kira ... setelah masalah di kantor polisi ... Om Ganteng dan Om Gugun bisa berdamai dan bisa seperti dulu lagi. Tapi kenapa justru mereka makin menjadi?' batin Citra.
"Pak! Hentikan!" teriak Jarwo kencang, seraya menarik lengan Steven hingga tubuhnya yang semula berada di atas perut Gugun kiri berdiri.
Bugh!!
Gugun yang baru saja bangun langsung memberikan bogem mentahnya kepada Steven secara tiba-tiba.
"Kurang ajar sekali kau!" teriak Steven murka, dia menepis tangan Jarwo. Lalu menghampiri Gugun dan memulai perkelahiannya lagi.
Bugh!!
Satu tonjokan dari Steven kembali melayang di pipi kiri Gugun. Wajah pria itu sampai biru-biru, begitu pun dengan Steven. Bahkan sudut bibir Steven mengeluarkan darah segar akibat bogeman dari Gugun tadi.
"Kalau kalian masih berkelahi, aku nggak mau kenal kalian lagi!" ancam Citra kesal.
Mereka yang tengah mencekik satu sama lain itu langsung melepaskan diri masing-masing. Kemudian membenarkan jas dan rambutnya yang berantakan. Setelahnya mereka menundukkan kepala kala melihat Citra merengut dengan wajah merah.
__ADS_1
"Om Gugun dan aku bertemu nggak sengaja, Om. Jadi nggak usah marah apalagi main tangan," jelas Citra. "Kami juga hanya ngobrol sebentar."
Setelah itu Citra menyebrang jalan, meninggalkan mereka.
"Ini belum selesai, awas saja kau, Gun!" ancam Steven sambil menunjuk wajah Gugun. Kemudian dia berlari menyusul Citra yang sudah masuk duluan ke dalam gerbang.
"Siapa takut!" balas Gugun.
***
Sementara itu di rumah Angga.
Pria tua itu langsung bergegas keluar rumah bersama Kevin saat setelah menerima telepon dari Ali.
Dua pria yang diperintahkan untuk mencari burung Kakatua betina mengatakan kalau sekarang mereka berada di depan rumah Angga, tentu dengan membawa Kakatua betina.
"Sebentar lagi kamu akan ketemu calon istri, Vin. Calon menantu Papa juga tentunya!" seru Angga dengan riang gembira.
Dia berniat mengawinkan Kevin sebab menurutnya, dengan Kevin mempunyai pendamping—itu akan mengamankannya dari kejahatan Steven. Pria itu juga nantinya tidak lagi cemburu dengan burung.
"Saya tidak mau, Pa!" tolak Kevin sambil menggeleng.
Sejak kemarin Angga mengobrol masalah burung betina kepadanya, namun burung pintar itu menolak untuk dinikahkan.
"Jangan bilang nggak mau, kan belum lihat betinanya. Kalau cantik kamu pasti langsung nyosor," kata Angga.
Burung itu berwarna putih dengan jambul kuning. Mirip Kevin hanya saja agak kecil dan matanya berwarna merah maroon.
"Sore Pak, perkenalkan ini Ahmad. Dia pemilik burung Kakatua itu," ucap Ali mengenalkan pria tersebut.
Pria yang bernama Ahmad itu mengulurkan tangannya ke arah Angga dan langsung disambut hangat.
"Beneran dia betina?" tanya Angga sambil menunjuk burung Kakatua di dalam sangkar.
"Benar, Pak." Ahmad mengangguk. "Bapak ini mau membelinya atau bagaimana?"
"Iya. Mau aku kawinkan dengan burungku." Angga mengelus bulu Kevin. Burung itu berdiri di bahunya.
"Ya sudah, beli saja, Pak. Kebetulan saya juga butuh uang."
"Mau dijual berapa?"
"30 juta, tapi boleh nego."
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Angga seraya membuka pintu sangkar burung. Tangannya terulur masuk ke dalam sana, ingin berkenalan dengan burung itu. Namun sayangnya burung itu memilih memundurkan langkah, sepertinya dia tak mau bersentuhan dengan Angga.
"Dia malu-malu, Pak. Namanya juga cewek," kata Ahmad sambil terkekeh melihat burungnya. "Namanya Janet, Pak."
"Berapa umurnya?"
"5 tahun."
"Dih, masih muda banget. Kayaknya kasihan kalau bunting. Nikah dibawah umur dong."
"Memang burung Bapak usia berapa?" Ahmad mengelus jambul Kevin. Burung itu tampak menurut. Memang dia paling suka dielus-elus.
"Dua puluh atau berapa ya, lupa aku." Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah tua berarti."
"Enak saja! Saya muda!" seru Kevin yang terlihat tak terima. Dia bahkan langsung mematuk tangan Ahmad dengan kuat. "Yang tua itu Kakak Steven!"
Ahmad segera menarik tangannya. "Bapak punya satu burung jantan lagi? Coba lihat yang namanya Steven."
"Burungku hanya Kevin. Kalau Steven itu anakku."
"Oh. Manusia?"
"Iyalah. Masa istriku melahirkan burung. Ada-ada saja kamu." Angga geleng-geleng kepala sambil terkekeh. Mungkin kalau Steven tahu, pasti dia marah karena sudah disamakan.
Mereka pun beralih di depan teras dan duduk. Supaya enak mengobrolnya sambil melakukan negosiasi.
"Jangan mahal-mahal kalau mau jual. Takutnya aku dimarahi istriku," ucap Angga.
"Bapak maunya berapa?" tanya Ahmad.
"2 juta."
"Dih, terlalu murah." Ahmad menggeleng cepat. "25 juta deh, tapi nggak boleh nawar lagi. Saya butuh uang untuk istri yang mau melahirkan, Pak."
"Ada apa ini?" tanya Sindi yang baru saja menghampiri mereka. Dia tampak heran melihat ada orang asing yang membawa burung mirip seperti Kevin.
Melihat ada Sindi—Kevin pun segera terbang mendekatinya. Lalu berdiri di pundak kiri sambil menempelkan kepalanya ke rambut Sindi.
"Papa mau ngadu Kevin? Untuk apa? Dosa tahu ngaduin binatang." Mungkin yang dimaksud Sindi adalah seperti ngadu ayam jago.
"Bukan ngadu, Ma." Angga mnggeleng cepat. "Tapi Papa mau kawinin Kevin. Yang di dalam sana burung betina." Angga menunjuk burung yang masih di dalam sangkar.
__ADS_1
"Saya tidak mau kawin Tante!" tolak Kevin dengan gelengan kepala. "Saya tidak mau!"
...Kenapa nggak mau, Vin? Kawin enak lho, Kakakmu aja ketagihan noh tiap malem 🤣🤣...