
"Wah, serius, kamu? Aku mau, Thom," ujar Tian dengan penuh antusias.
"Iya, nanti besok aku tanyain lagi deh. Kebetulan dia sama aku ada meeting bersama di kantorku."
"Bener, Thom, nanti ditanyain? Terima kasih, lho. Kamu baik banget sama aku." Wajah Tian langsung bersemu merah. Dia tampak begitu senang, padahal itu juga belum tentu rezekinya atau bukan.
"Ah kamu kayak sama siapa saja. Kita 'kan temenan dari pas kuliah deket banget, cuma kamunya saja yang kadang sombong sekarang." Thomi mengerucutkan bibirnya.
"Aku nggak sombong, aku kemarin-kemarin memang sibuk sana sini, mencari hutang, Thom."
Memang, selama Tian menikah dengan Fira, setiap Thomi mengajaknya pergi atau sekedar nongkrong di cafe, dia selalu menolak. Dan Fira sendiri tak pernah mengizinkan Tian untuk pergi bersama teman-temannya, katanya tidak ada gunanya. Padahal, dia sendiri sering berfoya-foya bersama teman-temannya di mall. Tapi Tian tak pernah melarangnya.
"Terus itu, kamu butuh pengacara untuk ngurus perceraianmu, nggak? Mending adikku saja yang mengurusnya." Kebetulan, adiknya Thomi juga seorang pengacara.
"Nggak, Thom." Tian menggeleng. "Aku mau ngurus sendiri saja, besok aku mau pergi ke pengadilan." Bukan menolak, alasan kuat Tian adalah uang.
Tentunya, meminta jasa pengacara harus dibayar juga. Untuk sekarang, Tian ingin hidup hemat dan fokus membayar hutang-hutangnya satu persatu biar cepat lunas.
Hidup akan jauh lebih tentram jika tak punya hutang.
"Ya sudah deh, kalau begitu aku pulang dulu ya, Ti. Ini sudah malam." Thomi meraih secangkir kopi yang sengaja dia diamkan terlebih dahulu supaya tidak terlalu panas saat diminum. Lalu perlahan dia menyesapnya hingga habis dan tersisa ampasnya saja.
"Kamu hati-hati, ya, terima kasih sekali lagi. Aku tunggu kabar baiknya besok." Tian segera berdiri saat melihat Thomi berdiri. Lantas mereka pun keluar dari rumah itu.
"Iya, Ti. Pasti." Thomi mengangguk cepat.
***
Di rumah Angga.
Steven membuka pintu kamarnya, lalu melangkah masuk mendekati Citra yang tengah duduk di kursi, di depan meja belajar. Gadis itu begitu fokus pada laptop, sampai suaminya memeluk pun dia kaget.
"Akkh!" Citra tersentak, lantas menggeliat kala tengkuknya terasa geli lantaran mendapatkan sentuhan lidah dari suaminya. "Ah geli, Om."
"Geli-geli enak, kan?" Steven menghentikan aktivitasnya, kedua tangannya pun perlahan meremmas dada. "Lagian, kamu ngapain sih? Dari sehabis makan malam sibuk mulu sama laptop?"
"Ngecek tugasku yang mau dikirim, Om. Takut ada yang salah."
"Mau aku bantu?" Kedua tangan Steven sudah menyusup ke dalam baju tidur, lalu menarik bra yang dipakai Citra ke atas hingga agar-agar itu dapat terasa kekenyalannya.
"Ah, nggak usah," desah Citra dengan tubuh yang sudah meremang. "Ini sudah selesai."
Steven langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menegakkan tubuhnya. "Bagus deh kalau sudah selesai, sekarang waktunya kamu bertugas denganku. Ayok ganti baju, pakai baju yang Mama belikan tadi siang. Aku mau lihat kamu pakai buntut, Cit."
Gegas Steven melucuti seluruh pakaiannya, lalu naik ke atas kasur. Seolah sudah siap ingin mengajak tempur malam ini dan melihat istrinya tampil seksi.
__ADS_1
Citra berdiri, dia agak terkejut melihat tubuh polos Steven. Cepat-cepat dia pun menutupi si Elang yang sudah tegak berdiri dengan selimut.
"Sebelum bercinta dan aku pakai lingerie berbuntut, aku mau Om belikan aku kerak telor dulu. Aku kepengen." Citra mengelus perut buncitnya.
Dia kepengen gara-gara tadi sempat chatting dengan Sisil, lalu gadis itu mengatakan kalau dia sedang makan kerak telor.
Alhasil, Citra membayangkan dan menginginkan sekarang.
"Bercinta saja dulu, baru beli kerak telor, Cit."
Citra menggeleng cepat. "Nggak mau, aku kepengen kerak telor dulu. Kerak telornya pakai telor bebek, Om."
Steven mengulurkan tangannya ke arah nakas, dia mengambil ponselnya dan langsung membuka aplikasi food online.
"Telornya berapa?" tanya Steven seraya menatap Citra.
"Aku maunya Om yang beli langsung, jangan online," rengek Citra seraya duduk di samping Steven, lalu mengecup pipi kirinya.
"Kenapa memangnya?"
"Aku pengennya Om beli langsung, Om yang beli dari orang yang jual."
"Tapi itu ribet dan pasti lama. Makan waktu, Cit," protes Steven yang tampak enggan untuk membelikannya. "Nanti kita bercintanya keburu malam, kan besok kamu mau kuliah."
"Aku kuliah masuk siang besok, jadi aman."
"Kalau bercinta dulu pasti lama, Om 'kan suka nambah. Nanti akunya juga nggak fokus." Citra menarik cepat tangannya, bibirnya mengerucut. "Memangnya Om mau, aku bercinta sambil membayangkan makan kerak telor? Nggak menghayati dong, rasanya nggak enak nanti."
Steven menghela napasnya dengan kasar. Malas sebenarnya, namun untuk menolak pun rasanya tak tega. "Ya sudah deh aku belikan. Tapi kamu di rumah saja, ya, nungguin. Nggak usah ikut."
Steven beranjak dari kasur, lalu memakai kembali stelan kaos pendeknya yang berwarna putih.
"Iya, aku tungguin di sini."
"Asal, pas pulang, kamu harus sudah ganti baju, ya? Terus, nanti kalau bercinta kamu yang goyang di atas."
Citra mengangguk cepat. "Siap, Om."
Steven membungkuk, lalu menyibak baju tidur Citra ke atas. "Nyusu dulu sebentar, sebelum berangkat."
Pria itu langsung menyesap salah satu puncak dada dan memainkannya. Namun itu hanya sebentar, sebab Citra segera mendorong tubuhnya. Takut nantinya Steven malah melakukan lebih.
"Sudah, Om. Cukup segitu dulu. Lanjutnya nanti kalau pulang beli kerak telor." Membereskan baju, lalu mengusap perutnya.
Steven mengerucutkan bibirnya, kesal sebenarnya. Tapi mau bagaimana? Pada akhirnya dia pun pasrah. Kakinya melangkah keluar dari kamar. Menuruti permintaan Citra.
__ADS_1
'Ah dasar Mahmud, kepengennya nggak bisa entar-entar. Nggak tahu apa Elangku sudah tegang begini. Udah siap goyang.' Steven meraba miliknya dibalik celana. Keras sekali dia.
"Om Steven mau ke mana?" panggil Juna setengah berteriak, saat melihat Steven lewat di depan ruang tamu dengan wajah lesu.
Juna duduk di samping Angga, tengah menonton film horor di laptop.
"Kamu kok belum pulang ke rumah? Kan besok sekolah." Steven menghentikan langkahnya, lalu menatap Juna sambil menyingkirkan tangannya yang sempat memegang si Elang.
"Memang, apa masalahnya? Seragam Juna sudah ada di sini buat besok. Dan Opa minta Juna menginap lagi." Juna turun dari sofa, lalu mendekati Steven. "Om mau ke mana?"
"Om mau keluar sebentar."
"Mau apa? Juna ikut."
"Mau beli kerak telor, nggak usah ikut, sebentar doang." Steven berlalu pergi. Namun justru Juna berlari mengejarnya, begitu pun dengan Angga. Sampai mereka tiba di halaman rumah.
"Papa pengen juga dong, Stev. Tolong belikan," ucap Angga.
"Juna juga pengen, belikan, Om," pinta Juna memelas.
Pria tampan itu berdecak kesal. Padahal dia sekarang pergi saja dengan penuh keterpaksaan. Tapi mereka malah minta dibelikan juga, makin kesal lah dia.
Steven ingin membelinya buru-buru, supaya cepat pulang dan bercinta dengan Citra. Tapi kalau belinya banyak, pasti akan memakan waktu. Bercintanya diundur dan cukup lama, sedangkan sekarang saja dia sudah tak tahan.
"Kok jadi kalian ikut-ikutan pengen, sih? Aku mau beli buat Citra doang," gerutu Steven. "Lagian, aku belinya buru-buru. Ada tugas penting."
Jarwo yang berada di pos satpam langsung berlari menghampiri ketika melihat Steven berdiri di mobilnya. Segera dia pun masuk ke dalam, sebab mengerti kalau Steven pasti ingin keluar dan tanggung jawabnya adalah menyetir untuk Steven.
"Aku ikut, Om," rengek Juna seraya memeluk tubuh Steven. Namun sang Om segera melepaskannya.
"Kamu ikutnya nanti saja, sekarang Om sibuk. Jangan buat Om marah. Nanti Om bisa keluar tanduk." Steven langsung masuk begitu saja ke dalam mobil, tanpa memikirkan keinginan keponakannya itu. Kemudian, mobilnya melaju keluar dari gerbang.
Mata Juna berkaca-kaca memandangi mobil, dia tampaknya sedih karena tidak diizinkan ikut. Angga yang melihatnya langsung memanggil Bejo, memintanya untuk mengantarkan mereka mengejar Steven. Ikut membeli kerak telor.
"Nggak usah sedih, Juna 'kan beli kerak telornya sama Opa," ucap Angga seraya mengelus pipi kiri Juna. Mereka sudah duduk di kursi belakang mobil dan terlihat sejak tadi bocah itu cemberut.
"Om Steven pelit, masa Juna ikut saja nggak boleh. Itu tega namanya!" geramnya sambil memeluk Angga. Kedua tangannya meremmas kaos, tampak jelas jika bocah itu kesal pada sikap Steven yang menolaknya.
"Mungkin Om Steven memang sedang buru-buru, Sayang." Angga berusaha menenangkan.
Memang, Juna tipekal anak yang suka ingin ikut kepada siapa pun, asalkan orang yang dia kenal. Selain itu, dia juga anaknya banyak bertanya.
Angga dapat memaklumi akan hal itu, sebab Juna sendiri selama ini kekurangan kasih sayang dari seorang Ayah.
"Buru-buru apa? Kan cuma beli kerak telor. Pokoknya besok Juna mau Opa marahi Om Steven. Kalau bisa, sekalian disunat saja. Kayak Juna waktu itu, biar Om Steven nangis, Opa." Juna langsung membayangkan ketika burungnya disunat 5 bulan yang lalu. Rasa sakit itu masih membekas dan dia juga memang sempat menangis.
__ADS_1
"Om Steven sudah sunat, Jun. Masa sunat lagi? Buntung dong."
...Biarin Opa, biar nggak minta jatah mulu tiap malem 🤣🤣...