
"Namanya juga cinta, Al."
Melihat mobil Gugun hendak keluar gerbang, mereka pun cepat-cepat berlari masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang tersebut.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya seluruh mahasiswa dan mahasiswi itu keluar dari gedung pencakar langit. Aldi bergegas menepuk-nepuk kasar punggung Ali sebab temannya itu sejak tadi tidur di kursi kemudi.
"Bangun! Kita beraksi sekarang, Al!" ujar Aldi agak keras sehingga membuat temannya itu mengerjapkan matanya.
"Itu bukan orangnya?" Aldi menunjuk pada seorang gadis berambut pendek yang tengah berjalan bergandengan tangan dengan temannya keluar gerbang. Lalu tak lama keduanya masuk ke dalam sebuah mobil putih, sepertinya itu adalah sebuah taksi online.
"Iya, dia Sisil!" seru Ali seraya mengulas iler pada pipi kirinya. Segera dia pun menyalakan mesin mobil, lalu menancapkan gasnya dengan kecepatan full. Mengejar mobil yang melaju di depannya.
"Ayok susul mobil itu dan hadang di tengah jalan, Al!" perintah Aldi. Dia tampak gemas pada temannya yang sejak tadi mobilnya tak kunjung menyusul mobil di depan.
"Kamu nggak lihat banyak mobil di mana-mana? Nanti yang ada banyak korban kecelakaan!" gerutu Ali.
Ya, benar. Suasana pada jalan raya itu begitu padat kendaraan. Tetapi untungnya tidak macet.
Hampir sudah satu jam mobil yang Ali kendarai itu terus melaju dan berada di bagian belakang mobil putih, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah Mall. Dan mereka sendiri tak sadar jika saat ini sudah berada di Jakarta.
Cepat-cepat mereka pun turun dari mobil saat melihat dua gadis itu lebih dulu turun dan melangkah masuk ke dalam pintu kaca mall.
"Aku masuk dulu, takut kehilangan jejak. Kamu nanti menyusul dan membawa peralatan kita, ya?" pinta Aldi, lalu segera dia pun berlari masuk ke dalam Mall.
Ali membuka bagasi mobilnya, dia pun segera menyambar sebuah tas ransel berwarna hitam. Kemudian segera dia pakai sembari berlari masuk ke dalam sana.
***
Di rumah Angga.
"Uueekk ... Uuueekk!" Steven memuntahkan isi di dalam perutnya yang hanya air ke dalam bak wastafel. Sudah sakit kepala, sekarang mual dan perutnya seperti diremas-remas. Ada rasa nyeri juga pada ulu hati.
__ADS_1
Wajar juga dia mengalami hal itu, sebab kurang tidur dan makan kadang sehari sekali. Bahkan pernah juga tak makan sama sekali.
Dia pun membasuh bibir dan wajahnya. Lalu menatap ke arah cermin. Wajahnya yang tampan terlihat begitu pucat dan muram tanpa cahaya. Perlahan dia pun menyentuh dahinya sendiri dengan punggung tangan. Dan terasa panas.
"Sepertinya aku sakit gara-gara menahan rindu," ujar Steven dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Dia berjalan tertatih-tatih keluar kamar mandi menuju tempat tidur. Lantas, Steven pun berbaring sembari ngambil bra yang berada di dalam saku jas. Benda itu memang selalu dia bawa kemana pun.
Benda itu dia meletakkan ke wajahnya, lalu perlahan memejamkan mata.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggil namanya. Dari suaranya sih Steven tahu itu Sindi.
"Buka saja, Ma. Nggak dikunci!" jawab Steven setengah berteriak, cepat-cepat dia pun menaruh behaa itu ke bawah bantai. Tetapi matanya masih terpejam.
Ceklek~
Pintu itu dibuka dan tak lama terdengar suara derap langkah yang menghampirinya.
Steven langsung membuka matanya secara paksa kala mendengar apa yang Sindi ucapkan. Entah mengapa rasa sakit yang dia rasakan tadi seketika sirna begitu saja.
Kini, manik matanya menyorot ke arah Sindi dan seketika keningnya mengerenyit.
"Di mana pacarku, Ma?" tanyanya seraya duduk. Mungkin menurut Steven, Sindi datang dengan membawa Citra. Padahal tidak, wanita itu hanya menghampirinya lalu memberikan ponselnya ke tangan Steven.
"Maksud Mama ini, di hape Mama. Apa benar dia pacarmu?" Sindi menunjuk layar ponselnya. Dan segera mata Steven menatap ke sana.
Itu adalah sebuah foto candid yang diambil dari angel atas. Foto seorang gadis yang hanya dari samping saja, dia tengah berada di toko baju dan suasananya seperti mall.
Steven langsung mencubit foto pada layar ponsel itu, memperbesar supaya lebih yakin. Dan ternyata setelah dilihat dengan seksama benar, itu Citra. Tetapi ada yang aneh, sebab rambut gadis itu pendek.
"Mama dapat foto ini dari mana? Apa Mama bertemu Citra?" tanya Steven dengan penuh antusias menatap Sindi, dia juga mengulum senyum.
__ADS_1
"Iya, tadi Mama pas ke mall bareng teman Mama, Mama nggak sengaja lihat dia. Tapi posisinya dia di lantai paling bawah, Mama di atas. Jadi nggak bisa manggil, Stev."
Sindi tadi sempat mencoba turun untuk menghampiri Citra. Tetapi jaraknya yang cukup jauh itu membuatnya tak berhasil menemuinya. Padahal, Sindi juga ingin bertanya mengapa dirinya susah ditemui oleh anaknya. Kalau dibawa kabur, masa iya dia tidak bisa lari? Kan sama-sama Jakarta. Itulah yang terbesit dalam otak Sindi saat dia tak sengaja melihat Citra.
"Mama pulang kapan? Tadi?" Steven langsung berdiri.
Sindi mengangguk. "Iya, baru tadi. Dan Mama sempat mencari dia juga pas di lantai bawah, tapi nggak ketemu."
"Itu di mall mana, Ma? Apa masih Jakarta?"
"Jakarta Pusat, di Mall Grand Indonesia. Eh, kamu mau ke mana?" Sindi langsung mencekal lengan Steven saat anaknya itu baru melangkah hendak pergi.
"Aku mau menemui pacarku."
"Tapi kayaknya dia bukan si Citra deh, Stev." Sindi menggeleng.
"Aku yakin dia Citra, Ma."
"Kalau dia Citra terus kenapa dia nggak lari? Katanya dibawa kabur Gugun. Dia juga masih ada di Jakarta, Stev. Tapi kenapa susah untuk menemuimu?" tanya Sindi bingung. Keningnya mengerenyit.
"Nggak perlu memikirkan hal itu, Ma. Sekarang aku harus berhasil menemuinya dulu." Steven menepis tangan Sindi, lalu gegas dia pun berlari keluar dari kamarnya.
Sindi masih berdiri membeku. Dia pernah muda dan pacaran, tetapi rasanya aneh saja dengan hubungan Steven dan Citra.
"Katanya mereka berdua pacaran. Terus Citra marah karena cemburu. Tapi Gugun membawanya kabur hingga Steven nggak bisa menemuinya." Sindi bermonolog, mencoba menerka-nerka tentang hubungan Steven. "Kalau memang dia dibawa kabur Gugun, tapi kenapa nggak lari saja?"
Sindi duduk di atas kasur, lalu menatap lurus ke depan. "Apa mungkin sebenarnya Citra itu nggak dibawa kabur, ya? Tapi memang ingin kabur dan dibantu oleh Gugun."
"Apa mungkin ... gara-gara dia cemburu, rasa cintanya pada Steven memudar, terus dia sekarang malah memilih bersama Gugun?"
"Kalau memang iya ... kasihan Steven dong. Dia di sini seperti orang gila mencari-carinya ke mana-mana. Sedangkan Citra seperti nggak peduli padanya."
__ADS_1
...Belum gila, Ma. Tapi bentar lagi bakal gila kayaknya 🤣...