Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
197. Perempuan idamanku sejak dulu


__ADS_3

"Tergantung berapa banyak bibit yang kita ternak. Tapi ... modal nikah untuk siapa? Bukannya kamu sudah nikah lagi, ya, belum lama?" tanya Thomi.


"Iya, tapi aku mau nambah."


"Maksudmu mau poligami?"


"Kalau bisa sih, mau." Siapa juga yang tidak mau punya istri lebih dari satu. Namun mengingat isi dompet, rasanya itu tak mungkin terjadi.


"Bangun! Nggak usah mimpi!" Thomi terkekeh geli. "Kamu saja lagi krisis ekonomi, pakai acara mau poligami. Lagian, siapa juga yang mau jadi istri keduamu? Nanti yang ada kamu ditinggal sama istri pertama baru nyesel!" tukas Thomi sambil bergelak tawa.


"Aku sebenarnya lagi suka sama wanita lain, Thom. Namanya Nissa, teman SMAku dulu."


"CLBK maksudmu?"


"Dia bukan mantanku. Hanya teman biasa, tapi aku mengaguminya sejak dulu. Dan kemarin ... aku nggak sengaja ketemu pas dia sudah jadi janda. Kayaknya ... aku mau jadi suaminya."


"Dianya mau nggak jadi istrimu?"


"Nggak tahu. Kayaknya dia nggak suka sama aku deh. Terus ... dia juga punya trauma, dia bilang nggak mau menikah lagi. Disamping itu juga ... anaknya yang laki-laki pengennya Maminya deket sama orang yang berduit. Aku sendiri kere, Thom," keluhnya sedih.


Awalnya memang ingin bertanya masalah modal usaha. Namun, lantaran banyaknya masalah dalam hidup—tanpa disadari Tian lagi-lagi curhat.


"Lha, ya susah dong. Emaknya aja nggak mau, ditambah anaknya mau yang berduit. Kamu mending mundur teratur saja, Ti. Berat itu," saran Thomi.


"Aku nggak mau, Thom." Tian menggeleng cepat. "Malah aku merasa tertantang. Aku pengen memiliki mereka. Pengen jadi satu keluarga. Dulu, aku nggak bisa dapat perawannya ... masa pas jandanya juga nggak dapat, sih? Ya jangan dong."


"Tapi masalahnya kamunya nggak punya modal untuk memikat dia dan anaknya. Dan selain itu, kamu masih punya bini. Itu nanti binimu mau ditaruh di mana?"


"Aku capek sama biniku yang sekarang. Dihidupnya hanya uang uang saja. Nggak ada yang lain." Tian mengacak rambutnya frustasi. "Aku sekarang banyak hutang juga gara-gara dia. Kalau minta apa-apa musti diturutin dan kalau nggak diturutin ... dia malah ngambek dan minta pulang ke rumah orang tuanya."


"Ya pulangkan saja. Lemah banget jadi cowok. Itu bini udah nggak bener, Ti. Masa nggak ngerti posisi suaminya yang lagi jatuh? Aku nih, ya, kalau punya bini model begitu ... sudah aku ceraikan!" Selain menjadi jasa pinjaman modal, Thomi juga seorang pengusaha dan menjadi salah satu rekan bisnis Tian. Tentu dia juga tahu kalau kantor Tian sudah gulung tikar.


"Tapi aku cinta sama dia. Dan dia juga sedang hamil. Kasihan dong, masa jadi janda."


"Sekarang aku tanya, kamu lebih cinta sama binimu apa Nissa?"


"Kayaknya dua-duanya."


"Ah payah kamu!" Thomi tampak geram. "Pilih salah satu saja, jadi enak. Mana yang bisa kamu perjuangan dan mana yang kamu lepaskan."

__ADS_1


"Aduh, Thom. Bingung aku." Tian menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Ah ya sudah deh kalau bingung. Lebih baik besok kita ketemu saja, nanti aku juga akan kasih tahu tentang cara menernak lele berikut dengan modalnya."


"Iya, kita ketemu di restoran saja, ya. Aku kebetulan jadi manager di sana."


"Oke."


Setelah mematikan sambungan telepon, Tian pun mengemudi dan berlalu pergi dari rumah Angga.


'Jika saja Fira nggak lagi hamil, mungkin aku bisa melepaskannya. Dan memperjuangkan Nissa. Ah tapi ... belum tentu juga Nissanya mau sama aku. Apa kabar dengan Pak Angga, Citra dan Perjaka Tua Steven? Kalau mereka tahu pasti aku makin terlihat buruk dimata Nissa. Makin terlihat nggak cocok.' Tian menonjok stir mobilnya. Merasa kesal pada keadaan. 'Aku menyesal banget kayaknya, kenapa hidupku bisa berantakan seperti ini? Dulu semuanya aku punya tapi sekarang ... cinta saja berasa aku ngemis. Ngemis pada istriku sendiri. Sampai rela mendekati wanita lain demi menguras harta.' Napas Tian terdengar terengah-engah.


'Tapi, bukannya menguras harta ... aku malah ingin memilikinya. Menjadi suaminya dan menjadi tulang punggungnya. Aku mencintai Nissa, sangat mencintainya. Dia perempuan idamanku sejak dulu.' Tak terasa, air mata Tian meleleh membasahi kedua pipinya. Mengalir begitu deras.


Tian segera mematikan mesin mobilnya, sebab penglihatannya buram akibat air mata. Cepat-cepat dia pun mengusapnya.


Ternyata, mobilnya itu berhenti di sebuah tempat pemakaman umum. Dan itu adalah makam di mana Danu di kuburkan.


Tian pun segera turun, entah mengapa dia jadi rindu ingin bertemu dengan pria yang sudah tiada beberapa bulan yang lalu itu.


"Eh, Pak Tian Siregar, ya?" tanya seorang pria berpeci putih. Dia adalah penjaga makam di sana. Dia menghentikan langkah Tian yang hendak masuk ke dalam pagar. "Bapak mau apa malam-malam ke makam?"


"Aku mau ziarah ke makam Kakakku, Pak."


"Lha, kenapa? Memang ada aturannya?" Kening Tian bertaut.


"Iya. Setiap hari boleh berziarah. Tapi pada jam 6 pagi sampai 6 malam. Selain itu nggak boleh."


"Sebentar saja. Aku mau kirim do'a, aku sudah lama nggak menengok makam Kakakku. Aku kangen."


"Nggak bisa, Pak. Maaf." Pria itu mengulurkan tangannya ke dada Tian. "Besok saja Bapak ke sininya. Tapi jangan malam. Ini sudah peraturannya, Pak."


"Ah ya sudah deh." Tian menghela napasnya dengan gusar. Lalu melangkah pergi dari sana.


***


Di rumah Angga.


"Aduh, cucu Opa yang ganteng baru pulang," ucap Angga sumringah. Saat melihat Juna dan Nissa melangkah menuju ruang keluarga. Dia tengah duduk di sofa seorang diri sambil menonton televisi.

__ADS_1


Juna langsung memeluknya, lalu mengecup pipi kiri Angga.


"Opa kok belum tidur?"


"Opa nungguin kamu. Kan katanya kamu mau menginap. Oh ya, bagaimana tadi nontonnya? Seru nggak?"


"Seru!" Juna mengangkat kedua tangannya ke atas naik turun. "Apa Opa tahu ... Kevin sama Janet juga aku ajak, lho." Juna segera duduk di atas pangkuan Angga, lalu mengenggam tangannya.


"Benarkah? Memang boleh?"


"Boleh."


"Mami ke kamar dulu, ya, mau pipis." Nissa mengusap rambut Juna. "Kamu kalau mau tidur sama Opa nggak apa-apa. Tapi nanti ke kamar Mami dulu, ganti baju terus gosok gigi."


"Biar Papa yang gantikan baju dan mengajaknya gosok gigi, Nis," ucap Angga seraya tersenyum menatap Nissa. "Kamu istirahat saja. Papa tahu kamu pasti capek." Mengelus lembut lengan anaknya.


"Iya. Aku titip Juna, Pa. Kalau rewel ketuk saja pintunya. Aku mau tidur di kamar tamu paling ujung saja."


"Memang kenapa?"


"Kalau di kamar tamu yang di dekat kamar Steven ... nanti terdengar suara mereka malem-malem." Lebih tepatnya suara Citra dan Steven yang tengah mendeesah. Bukan tidak suka, hanya saja risih mendengarnya jika itu beneran terjadi.


"Dih, kamar Steven kedap suara. Nggak mungkinlah sampai terdengar." Angga mengerti maksud Nissa. "Lagian ... mereka juga lagi keluar dan nggak pulang katanya."


"Keluar ke mana?"


"Si Steven noh gila. Ngajak malam mingguan Citra di hotel. Katanya mau bercinta sambil melihat bintang lagi."


"Ah ada-ada saja." Nissa terkekeh lalu geleng kepala, dia pun melangkah menaiki anak tangga.


"Bercinta itu apa, Opa?" tanya Juna polos.


"Bercinta itu pacaran."


"Pacaran itu apa?" Kening Juna mengerenyit.


"Ya pacaran. Nanti juga kamu tahu kalau sudah gede. Untuk sekarang ... kamu nggak perlu tahu."


"Kenapa? Kan Juna juga udah gede sekarang."

__ADS_1


"Masih kecil kamu." Angga mencium kening Juna yang berkeringat. "Oh ya, Opa mau tanya dong. Tadi teman Mamimu itu gimana orangnya? Baik nggak? Terus ganteng nggak? Kamu dijajanin apa saja sama dia?"


...Ayok, Jun, bongkar semua yang kamu tahu ke Opamu 🤣...


__ADS_2