Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
161. Pengais bungsu


__ADS_3

Dono mengerem mobil tepat di depan gerbang rumah Angga. Namun, baru saja dia hendak mengklakson mobil. Niatnya mungkin ingin memberitahu temannya untuk membuka gerbang. Tiba-tiba Kevin terbang menghampiri mobil, lalu mematuk jendela kanannya.


"Kenapa si Kevin?" tanya Angga yang sejak tadi duduk seorang diri di kursi belakang. Sebelum Dono menurunkan kaca, Angga lebih dulu membuka pintu dan turun.


"Papa! Om Bejo pingsan!" seru Kevin memberitahu. Sontak—mata Angga terbelalak, begitu pun dengan Dono.


Pria berbadan gempal itu langsung turun dari mobil. Merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci gerbang. Baik dia atau pun Bejo, mereka sama-sama memegang kunci gerbang dan rumah. Sengaja, untuk berjaga-jaga.


"Astaghfirullah, Bejo!" seru Angga yang berlari menghampiri Bejo yang masih terkapar. Dia terkejut melihat wajah pria itu agak membiru. Cepat-cepat Angga berjongkok, lalu menyentuh pergelangan tangan Bejo. Mengecek denyut nadinya. Ternyata masih ada. "Don! Cepat angkat dan kita bawa ke rumah sakit!" titahnya cepat pada Dono.


Pria berbadan gempal itu bersusah payah mengangkat tubuh Bejo. Meskipun memang dia kurus, tetapi tetap saja berat.


"Bapak tolong bantu dong, kok diam saja? Bejo berat," pintanya.


"Ish! Bejo sama tubuhmu saja lebih besar kau, Don. Payah sekali!" Angga menggerutu, tetapi dia membantunya hingga akhirnya mereka berhasil memasukkan pria itu ke dalam mobil.


Dono mengemudi dengan kecepatan full. Angga duduk di kursi belakang bersama Bejo, sambil mengimbangi tubuhnya supaya tak terjatuh.


Kevin juga ikut, dia berdiri di bahu kanan Angga.


"Kok bisa si Bejo pingsan? Kenapa dia, Vin?" tanyanya ke arah Kevin. Burung itu menggelengkan kepala.


"Tidak tahu."


"Kamu bangun, Jo! Jangan pingsan! Ingat punya istri dua!" Angga menggoyangkan kedua lengan Bejo dengan wajah khawatir. Entah mengapa dia merasa takut, takut jika pria itu kenapa-kenapa.


*


*


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai ke rumah sakit terdekat. Bejo langsung di bawa ke UGD.


Angga, Kevin dan Dono duduk di kursi panjang, menunggu di depan ruangan itu.


Kedatangan Angga yang pulang lebih dulu daripada Sindi sebenarnya karena ingin bertemu Kevin.


Entah mengapa dia terus memikirkan burung itu sejak semalam. Bahkan sampai tak bisa tidur, ingin pulang tapi tak bisa. Cucunya Arjuna ingin tidur bersamanya.


Angga mengingat saat di mana Steven marah-marah ditelepon lantaran tak setuju dengan dirinya membeli Kevin. Dia jadi takut jika Kevin kenapa-kenapa meskipun dia sudah menitipkannya kepada Bejo. Namun sekarang, Bejolah yang justru kenapa-kenapa.


Tak berselang lama, pintu ruangan UGD itu dibuka. Seorang suster menghampiri mereka sambil memegang ponsel di tangannya yang terdengar berdering.


"Bagaimana keadaan Bejo, Sus?" tanya Angga seraya berdiri bersama Dono.

__ADS_1


"Masih diperiksa dokter, Pak. Ini tolong Bapak angkat, sepertinya dari keluarganya." Suster memberikan benda pipih itu ke tangan Angga. Tertera nama 'Istri Tua' pada layarnya.


Angga langsung mengambil, lalu mengusap layar dan menempelkannya ke telinga kanan.


"Hallo, Daddy." Terdengar suara bocah laki-laki dari seberang sana. "Dad, aku minta uang untuk bayar SPP, bulan kemarin belum dibayar sama bulan ini. Mommy juga mau minta uang belanja dua juta Minggu ini. Aku mau makan ayam, sudah lama nggak makan ayam."


Agak gatal rasanya telinga Angga saat mendengar anaknya Bejo memanggil dengan sebutan Daddy. Tidak masalah, sih, hanya saja menurutnya itu terlalu keren.


"Maaf, Nak. Aku Angga, bukan Daddymu," jawab Angga.


"Eh, Opa Angga bosnya Daddy, ya?" Tampaknya bocah itu tahu Angga, mungkin Bejo yang memberitahunya.


"Iya. Di mana Mamamu? Boleh Opa bicara dengannya?" Dalam kondisi seperti ini, bagi Angga pihak keluarga Bejo musti tahu. Takutnya ada apa-apa. Dia juga tak mau disalahkan.


"Mommy! Ini bosnya Daddy mau bicara!" Bocah laki-laki itu memekik, seperti memanggil ibunya. Tak lama kemudian suara wanita terdengar dari seberang sana.


"Halo, Pak, ini Pak Angga?"


"Iya. Aku hanya ingin memberitahumu kalau Bejo masuk rumah sakit, dia pingsan."


"Apa?!" pekik wanita itu terkejut. "Kok bisa pingsan? Kenapa, Pak?"


"Aku nggak tahu, dia tiba-tiba saja pingsan. Tapi kamu tenang saja, ya, dan berdo'a semoga suamimu baik-baik saja."


"Mas Bejo di bawa ke rumah sakit mana, Pak? Saya akan segera ke sana."


"Rumah Sakit Harapan."


"Sama-sama." Angga mematikan sambungan telepon. Namun, tak berselang lama ponsel itu kembali berdering. Panggilan masuk dari 'Istri Muda' tertera pada layar. Angga membuang napasnya kasar, lalu mengangkatnya.


"Sayang ... mana uangnya? Kok belum ditransfer juga? Aku mau beli skincare, popok buat Silvi juga habis. Aku sekalian mau belanja bulanan."


"Maaf, aku Angga, bukan sayangmu," ujar Angga.


"Bapak ngambil hape suami saya?"


"Mana ada aku mengambil. Aku bosnya." Angga mendengkus kesal. "Bejo masuk ke rumah sakit, dia pingsan."


"Astaghfirullah. Kok bisa Ayank Bejo masuk rumah sakit? Kenapa, Pak?"


Angga berdecak. "Kan aku sudah bilang, dia pingsan."


"Di bawa ke rumah sakit mana, Pak? Saya akan segera ke sana."

__ADS_1


"Rumah Sakit Harapan."


"Oke, terima kasih."


Setelah mematikan sambungan telepon, pintu ruang UGD itu dibuka oleh seorang dokter pria berkacamata. Angga yang melihatnya pun segera berdiri lalu menghampiri seraya mengantongi ponsel Bejo.


Dono juga ikut berdiri dan menghampiri.


"Bagaimana keadaan Bejo, Dok? Dia masih hidup, kan?"


"Masih hidup, tapi kondisinya kritis, Pak."


Mata Angga dan Dono sontak terbelalak.


"Kritis?!" seru Angga dengan keterkejutannya. "Tapi kenapa dengannya, Dok? Apa Bejo punya penyakit serius?"


Dokter itu menggeleng. "Nggak, Pak. Pak Bejo ini keracunan."


"Keracunan?"


"Iya. Saya sempat memeriksa air liurnya, ternyata dia habis makan buah apel merah. Dia keracunan karena itu," papar Dokter tersebut.


"Apa buahnya busuk?"


"Bukan busuk, tapi ada racunnya," jelasnya. "Seseorang sepertinya ada yang menaruh racun cair pada buah itu, tapi saya merasa heran. Soalnya racun itu sebenarnya dikhususkan untuk hewan, Pak." Dokter itu terdiam beberapa saat, seperti mengingat-ngingat.


"Ah burung!" lanjutnya. Pandangan mata Dokter langsung tertuju pada Kevin yang masih berdiri di bahu Angga. "Itu racun burung. Pak Bejo keracunan racun burung."


Mata Angga dan Dono kembali terbelalak.


"Om Bejo makan apel! Apel dari Kakak Steven!" seru Kevin tiba-tiba. Dia seolah memberitahu.


Degh!


Jantung Angga langsung berdegup kencang.


Kedua tangannya mengepal kuat. Dadanya bergemuruh dan emosinya langsung naik ke ubun-ubun. Segera dia mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu menelepon Steven.


'Kurang ajar sekali Steven, berani-beraninya dia ingin membunuh adik angkatnya! Aku harus beri dia pelajaran!' Angga menyeru dalam hati. Merasa tak terima dengan apa yang telah anak bungsunya perbuat. Ah, ralat. Sekarang Steven mungkin sudah menjadi pengais bungsu.


"Tapi kenapa Bejo bisa kritis, Dok? Itu 'kan racun buat burung, dia 'kan manusia. Memang bisa, ya, sampai keracunan begitu? Kan kita dan burung beda jenis," tanya Dono. Dia tampak penasaran.


"Racun itu memang dikhususkan untuk burung, tapi itu juga jenis racun, Pak. Dan ada zat berbahaya yang terkandung di dalam sana. Apalagi Pak Bejo mengkonsumsi buah itu dalam keadaan perut kosong, jadi racunnya cepat menyerap ke dalam tubuh," jelas Dokter itu. Kemudian masuk kembali ke dalam ruang UGD.

__ADS_1


"Datang ke Rumah Sakit Harapan sekarang juga, Stev!" perintah Angga dengan nada tinggi, saat panggilan teleponnya diangkat oleh Steven.


...Opa Angga murka 😱 keknya bentar lagi akan ada yang dicoret dari KK 🤭...


__ADS_2