
Citra mengikuti Steven bukan tanpa alasan, itu disebabkan dia merasa penasaran pada seseorang yang bernama Safira. Bagaimana orangnya dan bagaimana pula interaksi di antara Steven dan perempuan itu.
Mau bertanya pada Steven rasanya akan percuma, pria itu pasti tak akan jujur sepenuhnya.
Namun, di dalam perjalanan itu Citra yang sesekali menatap pada jendela mobil dikejutkan oleh seorang pria paruh baya yang tengah duduk selonjoran di aspal, kaki kiri pria itu terlihat berlumuran darah.
Citra yang merasa kasihan langsung berteriak pada sopir taksi untuk memberhentikan mobilnya.
"Hentikan mobilnya, Pak!" titah Citra.
"Katanya suruh ngejar mobil depan, Nona?" tanya sopir itu yang ragu untuk berhenti sebab takut jika ketinggalan mobil hitam Steven.
"Nggak apa-apa, berhenti saja." Citra mengurungkan niatnya untuk mengejar Steven, sebab baginya—menolong seseorang jauh lebih penting sekarang.
Setelah mobilnya berhenti, Citra langsung turun menghampiri pria itu dan tak lama banyak beberapa orang yang menghampirinya juga.
"Bapak ... Ah maksudku Kakek, Kakek kenapa bisa begini? Kok bisa luka?" Citra berjongkok lalu melihat kaki kiri pria yang memakai celana bahan hitam itu. Ternyata lecet dan bukan hanya kaki saja—melainkan kedua sikunya juga yang berdarah.
Pria yang Citra panggil Kakek itu lantas menaikkan dagu dan pandangan mereka pun langsung bertemu. Citra terlihat sedikit kaget saat memandangi wajahnya.
Meskipun memang sudah banyak kerutan, tetapi tak dipungkiri jika pria tua itu benar-benar tampan. Dan saat diteliti lebih dalam, ternyata sekilas dia mirip seperti Steven. Hanya saja ini versi tuanya.
"Bapak Ganteng banget." Citra langsung meralat panggilan kakeknya, sebab menurutnya—dipanggil Bapak juga dia masih pantas.
"Iya, Nona. Opa tadi keserempet motor." Pria itu justru memanggil dirinya sendiri opa, sadar diri jika dia berbicara pada bocah yang mungkin seumuran dengan cucunya.
"Nona tolong bantu Bapak ini, kasihan dia." Seorang pria asing berbicara pada Citra, tetapi gadis itu justru sejak tadi tak berkedip menatap pria yang terluka itu. Kedua pipinya terlihat merona. "Nona! Nona bisa tolong nggak?!"
Tepukan pelan pada bahu kiri Citra sontak membuatnya tersentak kaget, dia pun langsung tersadar akan niat awalnya turun dari mobil. Yakni untuk membantu pria itu.
Citra mengangguk cepat. "Bisa, Bapak Ganteng ayok ikut denganku." Citra langsung berdiri, lalu membukakan pintu belakang mobil taksi. Kemudian beberapa warga yang sempat meriung membantu pria tua itu untuk masuk ke dalam mobil.
Kini mobil taksi itu menuju rumah sakit terdekat.
*
*
__ADS_1
"Nona, terima kasih telah membantu Opa," ujar pria itu saat duduk di kursi roda. Kaki dan lengannya sudah mendapatkan perban oleh dokter.
"Sama-sama, Pak." Citra tersenyum, dia mendorong kursi roda itu sampai keluar dari rumah sakit hingga menuju parkiran.
"Opa nggak usah ikut Nona lagi, Opa mau naik taksi saja." Pria itu menggelengkan kepalanya ketika melihat Citra sudah membukakan pintu untuk dirinya masuk. Mobil itu adalah taksi online yang sengaja Citra pesankan untuk mereka pulang bersama.
"Nggak apa-apa, kita bereng lagi." Citra tersenyum. Kemudian sopir taksi itu membantu pria tersebut untuk masuk ke dalam mobil, kursi rodanya dilipat dan ditaruh ke dalam bagasi.
Pria itu pun langsung memberitahu alamat rumahnya pada sang sopir.
"Oh ya, bagaimana kejadiannya Bapak bisa keserempet motor? Dan Bapak sedang apa tadinya?" tanya Citra yang duduk disebelah pria itu. Entah mengapa dia menjadi begitu penasaran dan rasanya ingin mengenal lebih dalam pria itu. Padahal, mereka baru pertama kali bertemu. Tetapi ada rasa nyaman tersendiri saat duduk bersamanya.
"Nona panggil Opa saja. Opa ini sudah tua soalnya."
"Memang umurnya berapa?"
"67 tahun."
"Oh benarkah?" Citra menutupi bibirnya, sebab merasa terkejut sekaligus tak menyangka. "Aku kira Opa masih 50 tahun. Opa juga sangat ganteng."
"Baru kali ini seorang kakek-kakek dipuji sama anak kecil." Pria itu langsung bergelak tawa, lucu dengan tingkah Citra meskipun terlihat agak lebay.
"Mobil Opa mogok dijalan tadi, terus dipinggir jalan Opa telepon asisten Opa. Tapi belum sempat diangkat ... hapenya malah dijambret," jelas pria itu.
Citra terdiam beberapa saat, dia tadi sempat melihat memang ada mobil di tempat kejadian. Hanya saja dia tak tahu jika mobil itu milik pria itu.
"Tapi syukurlah Opa nggak kenapa-kenapa. Oh ya, kita belum kenalan, namaku Citra. Opa siapa?" Citra mengulurkan tangannya lalu segera disambut hangat oleh pria itu.
"Anggara, panggil saja Angga."
"Nama Opa keren, sama seperti orangnya."
"Namamu juga cantik, sama seperti orangnya." Angga tersenyum lalu mengelus rambut Citra sebentar. "Ah maaf kalau nggak sopan." Segera dia pun menarik tangannya.
"Nggak apa-apa." Citra tersenyum manis.
"Kadang tuh, ya. Opa kalau lihat seorang gadis jadi ingat sama anak Opa, Cit."
__ADS_1
"Opa masih punya anak gadis?"
"Bukan, tapi menantu. Opa sedang mencari menantu untuk anak bungsu Opa, dia sudah tua tapi belum nikah. Dijodohkan belum ada kepastian, suruh cari sendiri sama saja. Nggak dapat."
"Memang anak Opa umur berapa sampai sudah dibilang tua?"
"Berapa ya ...." Angga menggaruk rambut kepalanya sembari mengingat-ingat, dia sendiri kadang lupa pada umur anaknya. "Ya mungkin sudah 30 lebihlah. Kamu sendiri sudah nikah atau belum?"
"Aku—“
"Sudah sampai, Pak," sela sang sopir saat menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah mewah berwarna cream. Dia pun langsung turun dan disusul oleh Citra.
Satpam depan rumah itu segera membuka gerbang lalu menghampiri Angga yang sudah duduk di kursi roda.
"Bapak kenapa? Kok bisa begini?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Nanti aku ceritakan." Angga menoleh pada Citra yang tengah berdiri memandangi rumah itu. Seketika dia mengingat rumah Danu dan rasanya rindu ingin ke sana. "Ayok masuk, Cit. Opa akan kenalkan kamu sama istri Opa," ajaknya.
Tak lama terdengar suara deringan panggilan masuk pada ponsel Citra dan itu dari Steven.
"Aku pulang dulu ya, Opa. Opa semoga cepat sembuh." Citra mencium punggung tangan pria itu lalu tersenyum. Belum sempat Angga menjawab, Citra sudah keburu pergi menaiki mobil.
"Halo, Om," ucap Citra saat panggilan itu diangkat.
"Kamu lagi apa?" tanya Steven dengan suara lembut dan agak mendayu-dayu.
"Lagi apa?" Citra mengulang kata itu sebab menurutnya aneh. Tidak biasanya Steven bertanya seperti itu.
"Maksudnya kamu pasti baru selesai mengikuti kelas pertama, kan? Terus sekarang kamu lagi apa?"
"Oh, aku lagi ada di kantin, jajan," jawabnya berbohong.
"Nanti malam kita menginap di hotel ya, Cit. Aku sudah pesan kamar," ucap Steven.
"Ngapain menginap di hotel, Om? Memangnya apartemen Om kenapa?"
"Nggak apa-apa, sesekali kita menginap di hotel."
__ADS_1
...Nggak kenapa-kenapa atau ada apa-apa 😏...