Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
193. Saya juga juga mau ikut!


__ADS_3

Sepulang dari restoran, Nissa mampir ke rumah Angga untuk menjemput Juna. Niatnya ingin langsung pulang, tapi bocah berusia 6 tahun itu masih asyik bermain bola bersama Kevin, di halaman rumah.


Juna menendang bola ke arah Kevin, dan Kevin pun membalasnya. Saling menendang bolak balik. Janet juga ada di sana, namun hanya jadi penonton saja.


"Jun, sudah mainnya, ayok pulang." Nissa melangkah menghampiri anaknya.


"Sebentar lagi, Mi." Juna berancang-ancang mundur beberapa langkah, kemudian segera berlari dan menendang bola. Kevin pun langsung terbang demi menghindari benturannya. "Ah kamu malah terbang, Vin! Kata aku juga nggak boleh terbang! Curang namanya!" celoteh Juna marah.


Saat awal mengajak main bola, Juna sudah mengatakan Kevin untuk tidak boleh terbang. Awalnya burung Kakatua itu menurut, namun sekarang tidak.


Itu disebabkan dirinya sudah lelah. Juna menendang bola terlalu kencang dan sering mengenai tubuh Kevin. Hingga membuatnya jatuh.


"Badan saya sakit, kena bola," jawab Kevin. "Udahan mainnya, saya capek mau istirahat." Burung itu pun lantas mengibaskan sayapnya, lalu terbang menuju sangkar. Janet yang melihatnya ikut terbang.


"Ah cemen kamu, cuma segitu saja capek!" gerutu Juna sambil berkacak pinggang.


"Udah ayok pulang. Lagian kamu kenapa ngajak main burung? Kenapa nggak sama Opa saja?" tanya Nissa.


"Nggak mau, sama Opa bosen."


Saat Juna baru datang, bertepatan sekali dengan Angga yang tengah memandikan Kevin dan Janet. Juna sendiri baru tahu jika Opanya itu mempunyai burung yang bisa bicara.


Dan ketika sudah kenal, dia malah mengajak Kevin terus bermain. Bukan hanya bola, tapi layangan, lompat tali dan kelereng. Dia mengajarkan permainan itu dan Kevin langsung bisa.


"Mau pulang sekarang, Nis?" tanya Angga yang baru saja keluar dari rumah lalu menghampiri mereka berdua. Nissa mengelus rambut kepala anaknya. "Menginap saja malam ini, Papa mau tidur sama Juna."


"Aku sama Juna mau pergi nonton, Pa."


"Nonton apa?"


"Bioskop."


"Wah, Papa ikut, ya," pinta Angga.


Nissa menggeleng. "Jangan, aku perginya sama temanku."


"Katanya tadi sama Juna?"


"Iya, bertiga maksudnya."


"Temanmu laki-laki apa perempuan? Oh, apa mungkin dia pacarmu?"


"Nggak, dia teman SMAku. Kami hanya berteman dan sekarang dia jadi managerku."


"Jadi laki-laki?"


Nissa mengangguk.


"Sudah punya istri belum?"


"Aku nggak tahu."

__ADS_1


"Harusnya tanya, dia punya istri atau belum. Siapa tahu sudah punya."


"Tapi kami hanya berteman, Pa. Nggak lebih."


"Papa tahu. Tapi kalau pakai acara nonton segala ya kamu harus tahu statusnya dong. Kalau sudah punya, jangan mau. Nanti istrinya marah," tegur Angga.


Dia tak mau jika nantinya anak perempuan semata wayangnya itu dianggap perusak rumah tangga orang. Selain tidak baik, dulu rumah tangga Nissa juga rusak karena orang ketiga. Jadi jangan sampai itu dilakukan oleh anaknya.


"Iya juga, ya, aku lupa tanya."


"Ya sudah nanti tanya, kalau dia sudah punya istri, mending perginya sama Papa saja." Angga mengelus rambut panjang anaknya. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Kamu juga kalau mau dekat sama laki-laki harus tahu statusnya. Ya syukur-syukur sih bisa dapat perjaka."


***


Malam hari, tepat jam 6 malam. Tian tengah berdiri di depan cermin besar di kamarnya sambil menyemprotkan minyak wangi.


Dia mengenakan celana jeans berwarna hitam, kaos putih pendek dengan kemeja kotak-kotak berwarna hitam biru. Pergelangan tangannya mengenakan arloji, rambutnya pun diberi sentuhan minyak.


Terlihat begitu keren sekali pria itu, benar-benar niat ingin malam mingguan.


Fira duduk di kasur, dia hanya memperhatikan suaminya yang sejak tadi membereskan rambut sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin.


"Apa Mas dandannya nggak terlalu berlebihan, ya?" tanya Fira.


"Berlebihan gimana? Kan aku kalau jalan sama kamu memang begini." Tian membalik tubuhnya, menatap Fira.


"Tapi terlalu keren dan ganteng, Mas."


"Tapi Mas jangan sampai kepincut sama Mbak Nissa."


"Kenapa memangnya?"


"Ya jangan, kan niat Mas hanya untuk menguras harta. Pokoknya malam ini Mas harus nembak dia."


"Iya, nanti aku tembak. Tapi kalau setelah pacaran dia minta cium bagaimana? Aku kasih jangan?" Sengaja Tian bertanya seperti itu, penasaran saja dengan jawabannya.


"Nggak apa-apa. Asal cium doang, jangan sampai berhubungan badan."


Tian terbelalak. Kaget dengan jawaban Fira, namun dia geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir saja.


'Baru ketemu aku wanita kayak kamu, Fir. Meminta suaminya selingkuh dan mengizinkannya untuk mencium wanita lain. Apa sedikit saja nggak ada rasa cemburu di hatimu? Sakit hati gitu? Apa selama ini hanya aku saja yang mencintai? Tapi kamu nggak?' batin Tian. Mendadak hatinya terasa sakit, kecewa juga mendengar jawaban Fira yang sangat tak memuaskan.


"Kok Mas bengong, sudah sana berangkat." Fira berdiri lalu menghamburkan pelukan. Dia juga mengecup pipi kiri suaminya. "Kalau bisa, habis jadian Mas langsung minta dibeliin mobil, ya? Biar nanti mobil itu bisa dijual dan uangnya aku pakai."


'Uang lagi saja.' Tian menghela napasnya dengan berat.


*


*


"Halo, Nis, kamu sudah siap belum? Aku otewe sekarang," ucap Tian saat panggilan teleponnya diangkat oleh seberang sana. Dia tengah mengemudi sekarang.

__ADS_1


"Sudah, tapi sebelumnya aku mau nanya dulu. Kamu ini punya istri atau nggak?"


"Nggak, Nis."


"Duda? Apa masih perjaka?"


"Duda."


"Bener?"


"Iya, bener. Ngapain aku bohong."


"Awas, ya, kalau bohong. Aku nggak mau jadi pelakor soalnya."


"Nggak kok, kamu nggak akan jadi pelakor."


"Ya sudah, nanti aku kirim alamatnya ke kamu."


"Iya." Tian menutup panggilan telepon, lalu tak lama ada notifikasi chat masuk dari Nissa. Dia mengirimkan sebuah alamat.


Tian pun bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan full, sudah tak sabar ingin bertemu Nissa dan memberikan buket bunga yang sempat dia beli tadi.


Sekitar 30 menit, mobil Tian berhenti di sebuah gerbang rumah mewah. Namun, Tian baru sadar jika posisinya saat ini di rumah Angga.


Dia sendiri tak tahu di mana rumah Nissa, dan baru tadi dikirim alamatnya.


"Apa si Nissa selama ini tinggal bersama Pak Angga?" gumam Tian, lalu dia pun memundurkan mobil, takut ketahuan. "Gawat kalau sampai Pak Angga tahu, apalagi si lemes Kevin. Bisa-bisa dia membocorkan semua aibku dan aku gagal jadi papa tirinya Juna." Jantung Tian mendadak berdebar kencang.


*


"Mbak Nissa mau kemana? Cantik sekali?" tanya Kevin yang berada di dalam sangkar.


Dia melihat Nissa mengenakan dress selutut lengan panjang, kotak-kotak berwarna hitam putih. Banyak kancing pada bajunya. Dari dada sampai ujung dress. Rambutnya dikuncir rapih dan begitu wangi.


Sedangkan Juna, bocah laki-laki itu memakai kemeja yang sama persis warnanya dengan Nissa. Celana jeans panjang berwarna putih dan sepatu berwarna putih juga.


"Mau nonton, Vin. Kamu mau ikut?" Yang menjawab Juna.


"Nonton apa?"


"Nonton film."


"Seperti nonton tv?"


"Iya, tapi besar layarnya. Mau ikut nggak?" ajaknya.


"Mau!" seru Kevin sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Saya juga mau ikut!" Janet yang juga berada di dalam sangkar ikut menyahut.


...Om Tian, kagak jadi bertiga. Tapi berlima sama duo burung 🤣...

__ADS_1


__ADS_2