Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
226. Mau jenguk Om Tian


__ADS_3

"Kok Om nggak jawab? Mami 'kan bilang terima kasih," tegur Juna. Ucapan bocah itu sontak buatnya sadar sebab sejak tadi terus memandangi kecantikan wanita itu.


"Oh ya, sama-sama, Nis." Tian langsung mengulas senyum, lalu menatap kepada Angga yang sejak tadi menatapnya. Wajah pria tua itu tampak masam sekali. "Selamat malam Pak Angga, terima kasih Bapak telah menjengkukku."


"Siapa juga yang menjengkukmu?" ketus Angga. Lalu perlahan mengangkat tubuh Juna seraya mengendongnya.


"Opa, Juna nggak mau digendong. Juna mau duduk di sebelah Om Tian."


"Kita pulang, ini sudah malam. Kamu juga tadi sempat ketiduran."


"Juna 'kan sudah bilang sama Oma, kalau Juna mau menginap, Opa," rengek Juna.


"Nggak ada tempat tidur di sini, Jun."


"Itu di tempat Om Tian, kan dia lagi tiduran di kasur."


"Ya itu 'kan buat dia, masa kamu tidur sama dia?"


"Nggak apa-apa. Kayaknya muat, minta geseran sedikit saja sama Om Tian." Juna memperhatikan tempat tidur Tian. Tadi saat dirinya naik untuk memeluk saja kasur itu muat, otomatis untuk tidur bersama juga muat.


"Kamu nggak usah mengada-ngada, Jun. Ngapain tidur sama Om Tian? Dia bukan siapa-siapa kamu. Lagian, dia juga sedang sakit." Angga tampak emosi, wajahnya memerah. Namun meski begitu, dia berusaha berucap selembut mungkin. Masih mencoba membujuknya.


"Tapi dia 'kan temannya Mami. Dan Juna juga mau kok jadi teman Om Tian."


"Mami dan Om Tian sudah nggak berteman. Sudah, ya, kita pulang saja, Opa ngantuk."


Angga sudah melangkah sembari merangkul bahu Nissa, tapi kaki Juna sejak tadi tak bisa diam. Merosot ingin turun.


"Opa, Juna mau menginap. Semalam saja. Kok Opa jahat, nggak ngizinin Juna?" rengek Juna sedih. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Di samping itu, Tian sejak tadi diam saja dan hanya melihat.


"Om Tiannya butuh istirahat. Kalau kamu menginap nanti malah dianya kesulitan. Tidurnya juga nggak bebas pas ada kamu, sempit. Kamu mau memangnya, nanti nendang perut Om Tian? Kan lagi luka itu," jelas Angga yang masih berusaha sabar. Juna merengut namun matanya terus menatap Tian.


"Ya sudah deh kalau nggak boleh, asal besok Juna ke sini lagi ya, Mi?" pintanya pada Nissa. Wanita itu mengangguk.


"Iya, nanti ke sini." Yang menjawab Angga.

__ADS_1


"Dadah Om Tian! Semoga cepat sembuh." Juna melambaikan tangannya sambil tersenyum, saat tubuhnya dibawa Angga melangkah menuju pintu.


"Dadah! Hati-hati." Tian tersenyum dan ikut melambai, sampai akhirnya tiga orang itu menghilang dari kamar inapnya.


Mendadak, Tian merasa hatinya keruh. Keruh lantaran sikap Angga yang begitu acuh dan dingin.


Padahal sebelumnya, saat pertama kali bertemu untuk menjual Kevin, pria itu cukup ramah. Tapi sekarang, sikapnya itu sungguh jauh berbeda.


'Apa Pak Angga juga sudah tahu, siapa aku? Ah pasti iya. Si Steven pasti cerita padanya betapa jahatnya aku dulu.' Tian mengusap pelan wajahnya yang berkeringat, lalu menatap langit-langit kamar. Entah mengapa mendadak dia teringat Citra, ada rasa kerinduan di dalam hatinya. 'Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Citra? Aku sudah lama sekali aku nggak bertemu dengannya. Aku dengar ... dia sedang hamil. Berarti sebentar lagi aku jadi Opa dong, ya?'


***


Keesokan harinya.


Nissa mengerjapkan matanya secara perlahan, lalu menarik tubuhnya hingga duduk. Dilihat Juna tengah menyisir rambutnya di depan cermin meja rias, dia sudah memakai seragam dan tercium aroma wangi.


"Jun, kamu sudah mandi? Tumben pagi-pagi?" Nissa menatap jam weker yang menunjukkan pukul 5.30. Biasanya Juna mandi kalau disuruh. Setiap sholat Subuh saja dia tak pernah mandi dengan alasan dingin.


"Iya, Mi." Juna memutar tubuhnya, sekarang duduk menghadap Nissa. "Tadi Juna sholat sekalian mandi, mau bangunin Mami katanya Mami lagi datang bulan. Nggak boleh sholat."


"Sekali-kali Juna bangun sendiri, Juna 'kan sudah dewasa, Mi." Alasan. Juna bangun lantaran ingin cepat-cepat ke rumah sakit menemui Tian. Dia juga sampai memasang alarm di iPadnya.


"Oh, sudah dewasa, ya? Tapi kok masih suka ngambek?" Nissa berdiri, lalu meraih ikat rambut untuk menguncir rambut panjangnya.


"Ngambek mah nggak mengenal usia kali, Mi. Om Steven yang sudah tua saja masih suka ngambek."


"Kata Mami 'kan Om Steven belum tua. Kamu kalau ketahuan dia marah lho, nanti."


"Ah bodo amat. Memang kenyataannya tua. Juna pernah lihat di rambutnya ada uban."


"Uban mah nggak tua nggak muda. Pasti ada saja."


"Ah Mami belain mulu Om Steven, Juna 'kan lagi marahan sama dia." Juna mendengkus seraya memutar bola matanya dengan malas. "Ayok sekarang Mami mandi terus dandan yang cantik, habis itu kita ke rumah sakit."


"Mau ngapain pagi-pagi ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Mau jenguk Om Tian. Juna mau sarapan bareng sama dia."


"Ya sudah, kamu bilang dulu sana sama Opa. Izin."


"Jangan kasih tahu Opa, apalagi Om Steven. Nanti mereka nggak mengizinkan. Mereka 'kan nggak suka sama Om Tian."


Nissa melangkah mendekat, lalu membenarkan dasi Juna yang terlihat miring. "Kamu bukannya kemarin-kemarin seperti nggak suka sama Om Tian, ya? Kok sekarang kayak berubah? Kenapa?" Kening Nissa mengerenyit. Merasa heran dengan sikap Juna yang mendadak menjadi berubah hangat terhadap pria itu.


"Memang Juna pernah ngomong kayak gitu?"


"Nggak tahu sih, tapi sikapmu 'kan dulu seperti nggak suka padanya."


"Juna nggak suka karena takut Om Tian adalah laki-laki jahat, Mi. Jahatin Mami, nyakitin Mami. Kata Kevin juga dia tukang bohong. Tapi kemarin ... Om Tian sudah jujur sama Juna. Kalau dia memang laki-laki kere, nggak punya apa-apa. Dia juga bilang suka sama Mami, tapi katanya Juna suruh tenang ... karena Om Tian nggak akan menyakiti Mami," jelas Juna panjang lebar.


"Terus kamu percaya?"


"Sejuah ini Juna percaya. Karena 'kan memang Om Tian kere—"


"Kerenya nggak usah diucapin terus kek, Jun. Nggak enak didengar," sela Nissa cepat.


"Ya memang itu kenyataan. Om Tian memang kere dan dia juga nggak nyakitin Mami. Malah dia nolongin Juna. Kalau dia jahat ... Om Tian nggak bakal nolongin Juna 'kan, Mi?" tanya Juna menatap serius Nissa. Kejadian penusukan yang Tian alami, seperti membekas di hati bocah itu. Membuatnya yakin, jika Tian bukanlah orang jahat seperti apa yang Steven katakan. "Sampai rela ditusuk. Papi belum tentu melakukan itu. Jangankan menyelamatkan Juna pas diculik, Juna sakit saja minta ketemu dia nggak mau." Pembicaraan Juna merambat ke arah papinya, dan mengingat akan dia yang tak pernah ada waktu.


"Bukan nggak mau, kan Papimu bilang dia sibuk." Nissa sempat menelepon saat Juna sakit, namun sang mantan suami memang mengatakan kalau dia sibuk di kantor.


"Itu alasan, Juna tahu kok. Kan memang selama ini Papi nggak sayang sama Juna, nggak sayang Mami. Kalau tahu begini Mami mending dulunya menikah saja sama Om Tian, jangan sama Papi yang kurang ajar!"


"Sssttt!" desis Nissa seraya mengelus bibir Juna. Kalau sudah membasah Papinya, Juna pasti emosi. "Jangan bilang begitu. Mami tahu kamu benci sama Papi, tapi walau bagaimanapun dia itu Papimu. Tanpa dia nggak bakal ada kamu," tegurnya.


"Ya nggak apa-apa. Lebih baik Juna nggak ada daripada Mami disakiti. Mami juga nggak akan dikencingi Papi nantinya." Juna memeluk tubuh Nissa, air matanya menetes.


"Dikencingi?" Alis mata Nissa bertaut. Dia tampak heran. "Papi nggak pernah kencingi Mami, Jun."


"Mami nggak usah bohong. Kalau Mami nggak dikencingi Juna pasti nggak bakal ada di dunia ini, Mi."


...Wah ... si Juna keknya musti disembur Mbah Yahya nih. Sepertinya dia kena peletnya Om Tian. Dari kemarin otaknya isinya Tian Tian terus 🤣...

__ADS_1


__ADS_2