
Tian perlahan duduk di kursi plastik sambil mengusap kasar wajahnya. Beberapa kali dan sudah cukup lama pintu rumah itu diketuk, akan tetapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
'Bagaimana ini?! Bu Andin dan Bu Wiwik nggak mau membantuku. Ditambah Bu Della melarangku untuk melakukan tes DNA. Aku yakin sekali Silvi itu anakku dan aku juga ingin merawatnya,' batin Tian gusar.
30 menit kemudian, seseorang datang dengan memakai motor matic berwarna hitam. Kendaraan roda dua itu terparkir di halaman rumah dan saat orang tersebut membuka helm, ternyata dia adalah Dono.
Tian langsung berdiri dan tersenyum menatap pria itu, yang melangkah menghampirinya.
"Pagi Pak Dono," sapa Tian dengan ramah.
"Pagi, Pak," sahutnya. "Kata istri saya, Bapak ingin mengambil Silvi. Apa benar?" tanya Dono. Wajahnya tampak seperti mencemaskan sesuatu.
"Iya, Pak. Boleh kita ngobrol sebentar?" tawarnya. Menurut Tian, mungkin Dono yang sebagai sesama pria akan lebih memahaminya. Jadi tidak ada salahnya mengobrol dengan pria itu.
Dono mengangguk, lalu duduk di kursi kosong. Tian juga duduk kembali di kursinya.
Tian memperlihatkan layar ponselnya yang sudah ada foto Tina. Kembali, dia akan bercerita. "Ini foto anakku, yang diberi nama Tina. Masalah ini muncul awalnya dari mantan istriku yang bernama Fira, Pak. Dia menipuku. Dia mengatakan kalau Tina sudah meninggal, padahal ternyata dia dibuang di panti asuhan. Dan aku yakin ... Silvi adalah Tina," jelasnya.
"Bapak tahu dari mana kalau Tina itu adalah Silvi? Mungkin saja salah, Pak." Dono memandangi layar ponsel itu tangan yang mendadak terasa dingin dan berkeringat.
"Foto ini dari dukun beranaknya, Pak. Dan Bapak juga bisa lihat sendiri kalau dia begitu mirip dengan Silvi. Tolong izinkan aku untuk melakukan tes DNA, untuk memastikannya," pinta Tian dengan raut memohon. Bola matanya tampak berkaca-kaca. "Tolong, Pak, jangan buat aku seolah-olah menjadi Ayah yang nggak berguna di dunia ini. Anakku terlantar di depan panti dan aku baru tau sekarang. Aku juga nggak mau ... setelah besar Silvi nggak mengenali aku sebagai Ayahnya. Dan menganggap aku tidak menyayanginya." Tian perlahan meraih tangan Dono, lalu menggenggamnya dengan erat dengan masih memohon.
"Tapi, Pak, Silvi itu sudah menjadi anak saya dan Della. Kami mengadopsinya secara resmi dan kami sangat menyayanginya," ucap Dono pilu. Sama halnya seperti Tian, dia juga ingin merawat Silvi dan menjadi Ayah yang baik untuknya. "Saya akan mengizinkan Bapak untuk melakukan tes DNA dengan Silvi, tapi tolong ... jangan ambil dia dari kami. Kami sudah beberapa kali gagal mengadopsi anak, masa Bapak dengan teganya menggagalkan lagi?"
__ADS_1
"Aku bukan mau menggagalkan, tapi 'kan aku juga Ayah kandung Silvi, aku yang lebih berhak merawatnya."
"Biar kami saja yang merawat Silvi. Tolong jangan ambil dia dari kami." Dono menggelengkan kepalanya, sekarang kedua tangannya itu menangkup dengan memohon. "Saya dan Della sudah 18 tahun lamanya menunggu momongan, Pak. Dan Della sempat mengalami depresi akibat kehilangan anak angkat yang kami adopsi. Saya nggak mau, kalau sampai Della depresi lagi, kasihan dia, Pak. Dari dulu dia selalu dicemooh oleh keluarga dan tetangga karena dianggap mandul, tolong Bapak mengerti perasaannya. Dia pasti sangat terluka."
Tian langsung terdiam. Rasanya dia sudah kehabisan kata-kata lantaran bingung harus bagaimana. Dono sama seperti Della, yang sama-sama tak ingin menyerahkan Silvi.
Mungkin bisa saja Tian mengambilnya secara paksa jika semua bukti itu sudah ada. Akan tetapi Tian tak tega jika Della akan mengalami depresi seperti apa yang dikatakan Dono. Tian tentu mempunyai seorang istri juga, bagaimana jika hal itu terjadi oleh Nissa? Pasti dia ikut terpukul.
"Eemm ... bagaimana kalau Bapak mengadopsi anak lain saja? Atau bayi lain?" usul Tian.
Sejujurnya dia kesal, namun dia berusaha menyikapinya dengan kepala dingin dan sabar. Dia juga ingat dengan pesan Angga untuk mencari solusi, jangan sampai ribut.
"Nggak bisa segampang itu, Pak. Silvi sudah menjadi bagian dari hidup kami dan pastinya Della nggak akan mau," jawab Dono menolaknya.
"Kalau begitu Bapak buat anak saja yang rajin," usul Tian yang sudah terasa pusing di kepala.
"Berarti Bapak dan Bu Della sudah periksa ke Dokter, ya? Terus ... yang bermasalah di sini Bapaknya atau Bu Della?" tanya Tian.
"Dari hasil pemeriksaan, istri saya yang mandul, Pak."
Tian memijat dahinya. "Kata Dokter, Bu Della nggak bisa hamil berarti? Apa wanita mandul sama sekali nggak bisa hamil?"
"Bisa kalau melakukan bayi tabung, tapi masalahnya kami sudah dua kali gagal."
__ADS_1
"Kalau misalkan Bu Della hamil ... Bapak dan Bu Della bersedia memberikan Silvi kepadaku, kan?"
"Saya dan Della saja nggak yakin kalau kami bisa punya anak, Pak." Bukan maksud pesimis, hanya saja karena selalu gagal—Dono jadi selalu berpikir negatif duluan. 18 tahun menikah bukanlah waktu yang singkat.
Berbagai macam promil mereka sudah coba bukan hanya bayi tabung. Akan tetapi hasilnya selalu zonk.
"Jangan bilang begitu, Pak. Siapa tahu saja ada mukjizat dari Allah," jawab Tian. Dia pun duduk terdiam mencari ide. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian dia lantas berkata, "Bagaimana kalau besok ... Bu Della dibawa ke dokter spesialis kandungan. Aku akan mencari dokter yang paling hebat di sini dan membiayai semua pengobatan sampai Bu Della dapat hamil. Tapi Bapak juga harus rajin kencingin dia. Dan setelah hamil ... Bapak dan Bu Della harus berjanji untuk menyerahkan Silvi kepadaku. Bagaimana?" Tian mencoba mencari solusi untuk kebaikan mereka bersama. Mungkin bersabar sedikit lagi tak ada salahnya meskipun sesungguhnya dia sendiri merasa tersiksa.
"Kalau nggak hamil, berarti Silvi tetap menjadi anak kami selamanya 'kan, Pak?" Tanya Dono memastikan.
"Bapak kok bilangnya kayak gitu?!" Tian berdecak kesal dengan dada yang naik turun . "Harusnya, Bapak tuh berharap kalau istri Bapak bisa hamil, aminkan saja siapa tahu diijabah sama Allah."
"Amin ...." Dono langsung mengusap wajahnya.
"Berarti deal, ya, begitu saja. Tapi ... jangan pernah larang aku untuk bertemu dan mengajak main Silvi. Jangan juga menolak jika aku memberikan sesuatu untuknya. Kita juga akan membuat surat perjanjian untuk kesepakatan ini." Tian mengulurkan tangannya, mengajak Dono untuk setuju dengan pendapat yang dia usulkan.
"Tes DNA dulu saja dan saya harus bicara dulu sama Della. Setuju nggaknya dia, Pak."
"Ya sudah, Bapak bicara dulu sama Bu Della. Bilang juga kalau aku akan melakukan tes DNA bersama Silvi sekarang."
Dono mengangguk, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu. Dia mengambil kunci serep yang dia punya, lalu membukanya dan masuk ke dalam rumah. Tawaran dari Tian sama sekali tak merugikannya. Malah, Dono dan Della masih bisa berusaha untuk berjuang untuk mencapai garis dua.
Tian membuang napasnya berkali-kali, lalu mengusap kasar wajahnya. "Ayah sejujurnya kepengen banget kamu tinggal sama Ayah, Nak. Tapi kamu juga sudah punya orang tua angkat dan Ayah nggak boleh egois. Do'a kan saja Mama angkatmu bisa cepat hamil, biar kamu bisa Ayah ambil tanpa menyakiti hati mereka."
__ADS_1
...Aku bantu aminkan ya, Om 🤲...
...Buat pembaca, selain bantu aminkan, boleh bantu support berupa nonton iklan, vote sama giftnya, ya! Jangan bosen buat ngasih dukungan, biar aku pun nggak bosen buat up karena itu bisa buat penyemangat 🤗...