
"Om Bejo tidak ngantuk?" tanya Kevin seraya menatap Bejo yang tengah duduk di kursi panjang, tepat di depannya.
Bejo langsung menguap, namun cepat-cepat dia pun menutup mulutnya dengan tangan.
"Ya ngantuk, cuma 'kan aku biasa tidur malam." Bejo menyahut.
"Lebih baik Om Bejo tidur saja di situ."
"Memang kenapa?"
"Daripada ngantuk."
"Kalau kamu mau tidur ya tinggal tidur saja, Vin. Aku nggak akan berisik." Bejo mengambil sebungkus rokok dan korek di dalam kantong celananya, lalu mengambil sebatang dan menyalakannya dengan korek. Perlahan dia pun menyesap ujungnya, lalu menghembuskan asap itu hingga menggempul di udara.
"Om mau saya buatkan kopi?" tawar Kevin.
"Nggak usah. Kamu tidur saja." Bejo menggeleng.
Kevin menoleh ke arah Glodok. Tempat untuk bertelur itu terdengar sepi. Janet yang berada di dalam juga tak bersuara.
Merasa penasaran—Kevin pun melangkah ke sana, lalu masuk ke dalam lubangnya. Dilihat Janet tengah memejamkan mata sambil duduk di atas sarang burung berbahan serabut kelapa.
Tanpa berbicara, Kevin dengan lancangnya naik ke atas punggung Janet.
Sontak burung betina itu langsung membuka matanya secara paksa, kaget akan tidurnya yang diganggu.
"Kevin! Apa yang kamu ...." Ucapan Janet menggantung kala paruhnya menekan pada serabut kelapa akibat dorongan paruh Kevin yang menekan kepalanya. Bokong burung jantan itu langsung bergerak-gerak, mencari-cari inti tubuh Janet. Dan setelah ketemu dia pun langsung melakukan penyatuan.
Kedua kalinya burung itu kawin, tanpa sepengetahuan siapa pun.
Bejo yang masih di sana bukannya memperhatikan mereka—dia justru melamun. Namun memang aman juga ada rumah-rumah itu di dalam kandang, jadi bisa untuk acara kawin Kevin dan tidak perlu pergi bersembunyi.
*
*
Di kamar Angga.
Pertahanan pria tua itu sampai 30 menit. Miliknya akhirnya membuncah, untungnya Sindi telah berhasil keluar juga.
Napas keduanya langsung terengah-engah, namun yang terlihat begitu capek adalah Angga.
"Langsung ronde kedua, Pa," pinta Sindi.
"Mana bisa, Ma. Burung Papa kecil." Angga menarik tubuhnya yang sejak tadi menindih Sindi, lalu merebahkannya di samping sambil mengatur napas. Dia pun mengusap wajah yang berkeringat berkali-kali.
"Ya sudah, istirahat dulu."
__ADS_1
"Iya." Angga mengangguk lalu perlahan memejamkan mata. Dan tak lama kemudian dia pun mendengkur.
Sindi yang tengah membersihkan inti tubuhnya dengan tissue langsung berdecak sebal, kala mendengar suara dengkuran halus milik Angga. Bisa dipastikan jika pria tua itu sudah berada di alam mimpi.
"Ck! Bukannya dia yang bilang akan membuatku lemas tak berdaya, ya? Kok dia yang kelihatan tak berdaya sekarang." Bibir Sindi mengeriting, lalu melengos sambil beranjak dari kasur. Perlahan kakinya melangkah menuju kamar mandi.
*
*
Kembali ke kamar Steven.
Pria tampan itu mendessah kuat kala melepasannya keluar dengan sempurna. Namun Citra masih lincah bergoyang di atas tubuhnya. Mereka sudah berpindah di atas kasur sekarang.
"Cit, kamu udah keluar belum? Udahan dulu, ya, bercintanya," ucap Steven dengan dada yang naik turun. Perlahan punggung tangannya mengusap keringat di dahi, yang bercucuran begitu deras.
"Udah Om, daritadi. Tapi kenapa berhenti? Sekalian ronde kedua saja." Citra belum berhenti, dia masih lincah di atas sana.
"Malam ini satu ronde saja. Besok baru lanjut."
"Kenapa?"
"Aku ngantuk, kamu juga kayaknya capek." Steven berbohong. Aslinya dia yang merasa capek. Akibat tubuhnya belum sembuh total. Namun malu untuk berkata jujur, takut dibilang lemah.
Dengan penuh kelembutan dia pun menjatuhkan Citra di sampingnya, lalu melepaskan miliknya yang sudah mengecil.
"Tapi besok setelah sholat subuh kita bercinta lagi, ya, Om. Kayaknya malam ini aku masih kurang."
"Iya, besok lanjut lagi."
"Tapi Om yang mimpin, ya, gantian."
"Oke." Steven mengelus pipi kiri Citra yang merona.
***
Keesokan harinya.
"Kamu pakai baju ini, Cit," ucap Steven seraya memberikan kaos berwarna merah lengan panjang di tangannya kepada Citra. Saat mereka berdua telah selesai mandi bersama.
"Om beliin aku kaos baru?"
"Iya, ayok pakai."
Citra mengambilnya, lalu memakai kaos lengan panjang itu. Namun, keningnya seketika mengerenyit kala melihat kaos itu ada sebuah gambar di depan. Gambar itu ternyata foto wajah Steven yang tengah tersenyum.
"Ini kok ada fotonya Om? Beli di mana?"
__ADS_1
"Pesan online aku, Cit. Sengaja biar couplelan kita." Steven mengambil kaos yang satunya, yang masih ada di dalam lemari. Lalu memakainya juga, kaosnya itu ada gambar wajah Citra yang tengah tersenyum juga.
"Apa nggak kelihatan alay, Om? Aku 'kan mau kuliah."
"Masa alay? Ini bagus." Steven mengusap kaosnya pada bagian perut. "Dan lagian ini 'kan hari Sabtu, libur kuliah dong kamu berarti. Aku kebetulan mau mengajakmu jalan-jalan."
"Tapi aku ada kerja kelompok sama temanku, Om. Nanti jam 10 pagi." Setelah berpakaian Citra duduk di kursi meja rias, lalu mulai mengolesi wajahnya dengan rangkaian produk skincare.
"Kerja kelompoknya di mana? Aku ikut, ya?" Steven berdiri di depan Citra, lalu pelan-pelan menyisir rambut panjang itu.
"Di restoran Mbak Nissa. Om jangan ikut, kalau mau, antar aku saja. Tapi antar doang."
"Kenapa nggak boleh ikut?"
"Akunya nggak enak sama teman-teman. Masa bawa suami? Mereka saja belum menikah."
"Ada cowoknya nggak?"
"Ada, si David. Om tahu David, kan?"
"Yang mana?" Kening Steven mengerenyit. Nama itu rasanya pernah diucapkan Citra, namun dia tak tahu David siapa.
Citra mengambil ponselnya, lalu menunjuk foto profil WhatsApp milik David kepada Steven.
"Kamu sampai punya kontaknya? Deket kamu sama dia?" Wajah Steven tampak merengut, dada dan telurnya seketika panas.
"Dih, dia 'kan memang temanku."
"Kenal kapan? Satu kelas denganmu?"
"Kok kenal kapan? Si David 'kan temanku sejak aku SMA. Dia temannya Lusi dan Rosa juga, tapi paling dekat sama Udin."
Mata Steven terbelalak kala mendengar nama Udin. "Ah, kalau begitu aku ikut saja. Siapa tahu dia genit sama kamu, Cit."
"Dia mah nggak genit. Lagian aku juga sama teman cewekku yang lain. Bertiga jadinya."
"Nggak apa-apa, aku ikut saja."
"Eemm ...." Citra terdiam, lalu mengolesi lipstik berwarna pink di bibirnya. Dia tampak bingung. Selain memang tidak enak kepada teman-temannya, di sana juga ada Sisil. Takutnya Steven melarangnya untuk berteman dengan gadis itu. "Memangnya pekerjaan di kantor Om nggak ada? Katanya Om banyak kerjaan. Sampai lembur, kan?" Citra membahas hal yang lain, supaya Steven tak jadi ikut.
***
Sementara itu, di depan Restoran Nissa, terparkir rapih mobil putih milik Tian.
Pria itu datang ke sana atas paksaan dari istri tercintanya, yang memintanya untuk mendekati Kakaknya Steven demi menguras harta. Awalnya Tian menentang keras, namun lagi-lagi hatinya luluh lantaran terus dirayu.
"Kok Mas bengong? Ayok masuk!" titah Fira saat melihat suaminya melamun sambil menatap pintu kaca restoran. Pikiran pria itu seakan melayang, dia memikirkan hutang yang berserakan di mana-mana.
__ADS_1
Tian tersentak, lalu menoleh ke arah istrinya. "Orangnya seperti apa? Dan namanya siapa? Masa aku mendekati Mbaknya Steven tanpa tahu nama dan wajahnya?"
...Orangnya cantik, baik dan intinya ga matre kaya binimu, Om 🤭🤣...